📢📢 WELCOME DI AREA BAWANG GORENG😭😭
Kamiya Maulida harus merelakan kebahagiaan yang selama ini ia bangun hancur, demi mewujudkan wasiat terakhir sang ibu. Tahun ke tahun ia berusaha menghapus semua kenangan indah yang makin lama nampak semakin nyata. Bahkan sosok sempurna di depan matanya tak bisa menggantikan satu nama yang tetap tersimpan apik di hati.
"Gue nggak pernah pengen lu pergi, Mi. Tapi kalo lu nggak percaya sama kebahagiaan yang gue tawarin lu boleh pergi. pergilah, gue tetep di sini. tapi jika suatu saat lu kembali, gue pastiin perasaan ini bukan buat lu lagi. gue pastiin nggak akan ada 'kita' lagi." Ardi Rahardian.
"Aku dan kamu pernah bersama, bahagia. Berada di fase dunia milik berdua, yang lain ngontrak. Karena suatu hal aku pergi, membiarkanmu merasakan ditinggal pas sayang-sayangnya. Jika kini aku kembali, bisakah kamu dan aku menjadi kita?" Kamiya Maulida.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Delapan
Miya sudah duduk di salah satu meja pojok cafe, pekerjaannya sudah selesai sejak satu jam yang lalu. Terlalu semangat untuk kembali bertemu dengan Ardi membuatnya menyelesaikan perkejaannya tiga puluh menit lebih cepat. Bahkan sebelum memulai pekerjaannya tadi, dia sempatkan memberi pesan pada petugas kasir yang mejanya dekat dengan pintu masuk supaya mempersilahkan Ardi duduk di meja pilihannya. Takut Ardi datang lebih dulu sebelum ia selesai, tapi nyatanya sekarang sudah tiga puluh menit menunggu pun lelaki itu belum terlihat.
Miya berulang kali melihat ke pintu masuk setiap kali bel yang sengaja di gantung di atas pintu itu berbunyi, menandakan ada orang masuk. Berulang kali juga ia kecewa karena ternyata bukan orang yang ia tunggu yang datang.
Makanan yang telah ia siapkan sudah dingin sejak tadi, gelas berisi air dingin pun sudah mengembun bahkan membasahi meja bundar tempatnya memangku dagu saat ini. Bosan terus bolak balik menatap pintu masuk setiap bel berbunyi, kini Miya memainkan sedotan di gelasnya. Mengaduk minuman di hadapannya untuk mengusir jenuh. Berulang kali menelpon Ardi tapi lagi-lagi nomornya masih di blokir.
“Ngeselin banget sih. Dimana-mana tuh biasanya cowok yang nungguin ceweknya. Ini malah kebalik. Udah satu jam pula. Huh….” Gerutu Miya, kini tangannya beralih memainkan mie goreng di piringnya. Hanya menggulung-gulung benda panjang kriting itu dengan garfu sambil cemberut, melihat ke sekelilingnya yang mulai sepi karena jam makan siang yang sudah hampir habis.
“Jangan-jangan Ardi sengaja nih ninggalin aku.” Batin Miya.
“Tapi ah masa iya sih? Semalam kan kita udah balikan, dia juga ngaku calon suami aku sama Bi Inah.”
“Eh tapi mungkin juga sih. Jangan-jangan ini emang semua emang rencana dia buat balas dendam. Dipikir-pikir aneh juga kan Ardi nggak marah sama sekali sama aku setelah di tinggal gitu aja. Jangan-jangan dia sengaja baik-baikin aku semalem buat ninggalin aku gitu aja, biar aku ngerasain apa yang dia alamin dulu.” Miya masih terus bermonolog dengan dirinya sendiri.
“Mbak saya boleh duduk di sini?”
Miya mengalihkan tatapannya dari piring mie goreng ke sumber suara. Sudah ada Adi, Manager rumah makan pusat yang sejak kedatangannya kemarin selalu membantunya.
“Duduk aja Mas.” Jawab Miya.
“Mbak dari tadi saya perhatikan kok makin lama makin murung aja? Makanannya juga nggak di makan? Padahal tadi baru datang sebelum rapat Mbak semangat banget loh. Sampe titip pesan segala ke kasir.”
“Panggil Miya aja Mas, nggak enak aku di panggil Mbak mulu.” Protes Miya, “yang di tunggu belum datang Mas.” Imbuh Miya.
“Mbak ada-ada aja, nggak mungkin dong kalo saya manggil atasan pake nama aja. Harusnya juga saya panggil ‘ibu’ tapi pas liat Mbak ternyata masih muda banget jadi saya panggil ‘Mbak’ aja nggak apa-apa kan?” Tutur Mas Adi.
“Ya udah deh terserah Mas aja.”
“Dimakan Mbak makan siangnya, ini udah hampir lewat jam makan siang loh Mbak. Nanti saya bil…”
“Eh jangan bilang kalo Mas juga bakal lapor sama Mas Wildan kalo aku nggak makan siang?” potong Miya sebelum lelaki yang bisa ia tebak usianya seumuran dengan Mas Wildan menyelesaikan ucapannya.
“Nah bener banget. Seratus buat Mbak Miya”
“Hish… banyak banget dah mata-matanya Mas Wildan. Jangan-jangan di setiap cabang juga ada yah? berasa kayak bocah aku tuh.” Gerutu Miya.
“Nggak setiap cabang juga sih Mbak, hanya saya saja. Oh iya… hampir lupa, mulai saat ini saya mungkin akan selalu mengikuti Mbak Miya untuk urusan kantor, Pak Wildan sudah menugaskan saya menjadi asisten pribadi Mbak Miya, membantu Mbak selama Pak Wildan tidak di sini.”
“Oke baiklah Mas Adi asisten pribadiku, anggap aja di tugas pertama dari aku. Kalo aku bilang kita lagi makan bareng mas harus iya-iya aja oke?”
Adi belum menjawab tapi Miya sudah menjawab panggilan video dan mengarahkan layar benda pipih itu ke padanya. “Siang Mas Wil… aku lagi makan siang sama mata-mata Mamas nih.”
Cukup lama keduanya bertukar kabar lewat video call, padahal baru dua hari tak bertemu tapi Mas Wildan nya itu begitu cerewet dengan segala nasihatnya.
“Iya-iya Mas… siap… Siap laksanakan Mas ku tersayang.” Ucap Miya sebelum panggilan video itu berakhir.
“Mbak tugas pertama saya sudah selesai kan? Saya bisa kembali bekerja?” tanya Adi setelah melihat jam yang sudah menunjukan setengah dua. Sudah waktunya ia kembali bekerja, menyiapkan dokumen-dokumen pendukung yang akan dipelajari Miya lebih lanjut.
“Iya Mas, makasih udah dibantuin. Mas bisa kembali kerja, tapi aku abis ini ada urusan pribadi jadi kemungkinan kerjaannya aku lanjut besok.” Jawab Miya.
“Iya Mbak. biar saya siapkan berkas-berkasnya supaya Mbak lebih mudah mempelajarinya.” Balas Adi kemudian berlalu dari sana.
Setelah kepergian Adi, Miya kembali mencoba menghubungi Ardi. Meskipun tau nomernya tadi masih di blokir tapi entahlah rasanya sudah kebiasaan kalo nunggu orang nggak datang-datang yah pengennya di telpon terus.
“Halo…”
“Halo…”
“Eh iya Hal.. halo.. aku kira masih di blokir.” Jawab Miya gugup.
“Ya udah aku blokir lagi deh.”
“Ih jangan sayang. kamu di mana? Aku nungguin dari tadi tau. Udah bukan jamuran lagi, sampe lumutan nih nungguin kamu.” gerutu Miya.
“Udah di sini dari tadi juga.”
“Di mana?”
“Tengok kanan!”
Sesuai instruksi Miya menengok ke samping kanan. Ternyata benar, Ardi duduk di sana dengan tatapan kesal.
“Kok nggak nyamperin aku sih sayang, aku nungguin dari tadi loh.” Sapa Miya saat dirinya sudah berpindah ke meja Ardi. Jarak mereka sedari tadi teryata sangat dekat, sepertinya Miya terlalu focus pada video call nya dengan mas Wildan hingga tak menyadari sosok yang ia tunggu duduk di meja sampingnya.
“Takut ganggu yang lagi video call sama Mamas tersayang.” Jawab Ardi cuek dengan penuh penekanan.
Miya menggeser kursinya, hingga tak ada jarak diantara mereka. Senyumnya kian merekah mendapati Ardi yang kesal hanya karena hal sepele.
“Daddy Ardi cemburu yah?” tanyanya sambil bersandar di bahu Ardi yang masih cuek bebek.
“Nggak. Jangan nempel-nempel, Jauh-jauh sana! sama mas mu yang tersayang aja sana!”
semuanya👍👍👍👍👍