Stop plagiat!!
Dan ini karya prematur, jadi jangan bandingin sama Kun.. Ini genre romance bukan detektif, jadi jangan nyari teka-teki di sini. Kalau mau mecahin teka-teki, belilah buku teka teki silang 😗
.
Jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jas Merah) -Ir. Soekarno.. atau maksudku, jangan sekali-kali merubah sejarah...
Aku seorang gadis bernama Ayu yang benar-benar mencintai sejarah romantis tentang Raja Anggara namun aku malah begitu membenci ratu yang bersamanya.
Dia pengkhianat dan tak pantas untuk raja.
Ya, itu yang sebelumnya selalu ku katakan, sebelum aku terdampar pada masa-masa berdirinya kerajaan yang di pimpin oleh Raja Anggara..
Ternyata... ini yang sebenarnya terjadi..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gerimis Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada apa dengan Belati?
Selepas di marahi Raka, aku kembali ke kamarku. Dan aku baru menyadari kalau telah kehilangan sesuatu.
Bukankah waktu itu aku mengambil sebuah buku di perpustakaan dan membawanya kembali?? Dimana aku meninggalkannya? Di kamar Raka, atau justru aku ngelindur dan bermimpi membawanya?? Padahal sebenarnya aku tak membawa apapun.
Huh! Rasanya menyebalkan sekali. Aku juga kurang tidur dan sangat mengantuk. Sebaiknya aku melanjutkan tidurku saja. Lagi pula aku tak tahu kapan pekerjaan ku di mulai.
Sembari merebahkan tubuh, aku memejamkan kedua mataku dan bernapas normal. Ku rileks-kan seluruh tubuh, namun entah kenapa perkataan Raka terus terngiang-ngiang di kepalaku.
Apakah benar aku ini tidak menepati janji? Apakah ini bagian dari pengkhianatan?? Aku tak mengerti, padahal kan tujuanku baik. Kenapa dia begitu tak suka kalau aku berada di dekatnya.
Waktu tinggal di rumahnya pun ia terus-menerus mengusirku. Memangnya aku punya salah apa padanya?? Dia melihatku seperti sebuah virus.
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu membuat kedua mataku yang terpejam lantas terbuka. Aku mengerjap meski tak langsung bangun. Aku menatap lurus ke arah pintu, namun enggan bertindak.
"Tabib baru.. apakah kau belum bangun??"
Aku terkesiap ketika mendengar suara seorang wanita yang menyapaku. Dengan tergopoh-gopoh aku segera melompat dari tempat tidur, nyaris saja membuatku terpeleset.
Ku gapai gagang besi dari pintu dan menariknya, menampakkan seorang wanita seumuran dengan ibuku -mungkin. Ia sedang menatapku sembari membawa sebuah handuk di tangannya.
"Ahaha.. aku sudah bangun, tapi tidur lagi karena mengantuk." Ujarku sambil cengengesan.
"Tidak baik untuk kesehatan jika kau tidur di pagi hari setelah bangun. Kau seorang tabib, harusnya kau mengerti itu." Ia menasehati ku.
Aku memang tabib, tapi aku benci melakukan hal-hal yang menyehatkan seperti berolahraga atau semacamnya. Jadi.. meski aku tahu itu tak baik, tapi tidur pagi itu nikmat sekali.
Ia yang melihatku terdiam segera menarik lenganku keluar dari kamar. "Ayo, kita mandi dan bersihkan diri dulu. Aku akan mengajarimu beberapa hal." Lanjutnya, membuatku menutup pintu kamar dengan gelagapan.
Aku mengikuti langkahnya. Apakah di istana ini ada kamar mandinya?? Wah!! Berarti di sini juga ada WC kan?? Mengerikan sekali selama BAB di sini, dimana aku melihat kotoranku di lahap ikan yang berada di bawah sana.
"Hmm, Bu.. apakah di sini ada kamar mandi?" Tanyaku hingga membuatnya menatap heran.
"Itu hanya untuk para bangsawan. Kita mandi di danau istana khusus wanita." Terangnya sambil sesekali menatapku.
"Lalu.. ibu bilang mau mengajariku, mengajari dalam hal apa?" Lanjutku, penuh tanda tanya.
"Sebelumnya, aku adalah tabib yang bersedia untuk menyembuhkan para prajurit. Tapi itu untuk sementara waktu, karena sebenarnya aku adalah tabib para bangsawan."
"Kenapa hanya sementara?? Lalu, sebelumnya ini pekerjaan siapa?"
Ia menghela napas panjang. "Ada seorang kakek-kakek tua yang pengabdiannya sepertimu. Dia tulus menangani luka parah para prajurit, meski bayarannya lebih rendah dari pada kami."
"Berpuluh-puluh tahun ia melakukan hal tersebut, namun pada akhirnya... Sang kakek meninggal dunia karena faktor umur."
"Pekerjaannya mengalami kekosongan selama beberapa bulan selepas meninggalnya. Jadi.. aku di perintahkan untuk menggantikannya sementara waktu."
"Tentu titah yang mulia itu mutlak dan aku tak berhak untuk menolaknya. Beruntungnya para jenderal perang pernah di obati lukanya olehmu. Makanya dia meminta penasehat raja untuk mengizinkannya mencarimu. Dan memberikan pekerjaan itu padamu." Terangnya hingga membuatku terdiam.
Kalau di film-film, pengabdian para tabib ini sangat berjasa bagi kerajaan, apalagi yang menangani prajurit perang. Seharusnya, selepas merekrut ku, aku harus berhadapan dengan raja untuk melakukan pembicaraan terbuka dan di saksikan oleh para petingginya.
Lalu dia akan memberikan titah secara terhormat padaku, kalau ia mempercayakanku sebagai bagian dari penghuni istana. Selanjutnya, aku akan memberikan penghormatan santun padanya, kalau aku akan mempertaruhkan hidup dan matiku pada pekerjaan ini.
Tapi, kenapa itu tak di lakukan?? Malah kesannya aku hanya di pertemukan oleh bawahannya saja. Seperti jenderal, dayang istana, dan sekarang para tabib sepertiku.
Tidakkah itu aneh??
"Mm, maaf atas pertanyaan ku. Tapi.. apakah belum ada siapapun yang pernah melihat atau berhadapan dengan raja?" Perkataanku membuat ibu ini mengernyit. -Gila sih! Sudah berbicara sepanjang ini, aku tak menanyakan namanya sama sekali, begitu pula sebaliknya.
"Mata kita, tak diizinkannya untuk melihatnya secara langsung. Itu sudah terjadi selama turun temurun. Raja yang menjabat, tak boleh di ketahui wajahnya oleh rakyatnya."
Aku mengerjap cepat. "Hanya rakyatnya saja?? Berarti.. para petinggi, atau keluarganya bisa melihatnya?" Sergahku cepat, merasa begitu tertarik dengan pembahasan ini.
"Tentu saja bisa." Ucapnya hingga membuatku tersenyum senang.
"Baiklah, namaku Ayu. Bolehkan aku mengetahui nama ibu?"
"Aku ibu Hartati." Sahutnya memperkenalkan diri.
Kami pun berhenti di sebuah danau tanpa semak belukar namun pagar-pagar pembatas yang terbuat dari kain goni membuat siapa saja tak segan mandi di sana. Ini benar-benar aman dan tertutup.
Terlihat sejuk dengan beberapa pepohonan yang menutupi cahaya matahari langsung. Airnya juga bening, dan sepertinya sangat dingin.
Di sana aku melihat beberapa orang wanita berpakaian dayang sedang berbaris dan melucuti baju mereka. Tempat ini begitu besar dan luas, hingga bisa di pakai untuk mandi bersama.
Di sisi sebelah selatan pun ada kumpulan tabib yang ku lihat kemarin. Aku segera berlari dan mengajak Bu Hartati menghampiri mereka.
Sembari mandi, aku banyak menanyakan perihal pengobatan dan pengalaman mereka selama bekerja merawat para bangsawan, dan penyakit bawaan apa yang mereka harus obati.
Selepas mandi, kami pun kembali dan Bu Hartati menunjukkan ku tempat di mana kami bisa mengambil tumbuhan istana dan meramu obat-obatan di sana.
Di luar dugaan, tempat ini mirip sekali dengan greenhouse. Dan lagi, berbagai jenis tumbuhan pengobatan tersedia di sini. Ada yang bertugas khusus untuk merawat dan menyiraminya. Keren sekali!!
Selesai melihat-lihat tanaman obat, aku di antarkan ke halaman pelatihan para prajurit, letaknya sangat jauh dari gedung-gedung istana yang lain. Malah sampai masuk-masuk ke dalam hutan istana.
Arena latihan di sini lebih mirip seperti outbound tapi rintangannya lebih sulit dari pada itu. Malah lebih mirip seperti tempat pelatihan militer.
Sebenarnya, dari beberapa buku sejarah yang ku baca. Para prajurit yang terluka dalam perang, di biarkan begitu saja sampai mereka mati kesakitan. Tapi dengan adanya tabib prajurit, sepertinya itu membantah cerita yang ada. Bahwasanya mereka tetap di hargai dan di obati secara manusiawi ketika terluka.
"Mm.. anu, selama menjadi tabib prajurit sementara, apakah ibu menemukan kesulitan dalam pengobatan? Sebagai tabib, kita semua sama-sama tahu, pengobatan kaum bangsawan dan prajurit tentu memiliki banyak perbedaan kan?"
"Kalau bangsawan, kemungkinan memiliki suatu penyakit yang berhubungan dengan imunitas tubuh dan jauh dari luka luar, sementara para prajurit, tentu kita akan di hadapkan dengan darah, luka robek, luka sayatan, bahkan kaki yang terpotong atau yang lebih menyeramkan lagi." Perkataanku membuat Bu Hartati tertawa masam.
"Aku pernah menjahit salah satu jenderal yang mengalami luka robek di betisnya. Dan itu sangat menyulitkan, di mana aku harus melepaskan ulang benang jahit ketika lukanya sudah sembuh." Terangnya sambil meringis.
Kenapa responnya begitu?? Jangan bilang kalau mereka semua menolak menjadi tabib prajurit, karena tingkat kesulitan pengobatannya?? Kalau di lihat dari gayanya sih, aku pasti benar. Kalau aku salah, aku akan membotaki rambutku sendiri.
"Oh, jadi jaman ini sudah menemukan metode menjahit manusia ya?"
Perkataanku membuat Bu Hartati mengerutkan dahi. "Jaman ini? Maksudnya??"
"Oh!!" Aku tersentak karena keceplosan. "Tidak tidak tidak!! Ibu salah dengar. Heheh.." aku terkekeh dengan wajah ketakutan. Dasar Ayu bodoh!!! Suka sekali keceplosan begitu.
.......
.......
.......
.......
*Agam POV
Kami menyantap makanan bersama dalam satu meja. Seperti biasa, Kun selalu memakan masakanku dengan lahap. Ada untungnya juga belajar memasak, karena selama tinggal bersama keluargaku, Kun paling suka masakan buatanku. Jadi aku banyak belajar dari ibu dan dari YouTube untuk memenuhi hasratnya itu. Sekarang, aku bisa berguna dan membuatkan makanan untuk kami semua.
Kakek memakan makanannya dengan lahap, dia seperti beradu dan berebutan dengan Kun. Ketika Kun menambah nasi, dia akan melakukan hal serupa. Dan ketika ia mengambil daging, Kun pun akan melakukan hal serupa.
Aku hanya terdiam sambil memakan sayuran dan nasi putih. Melihat mereka berebutan begitu membuat perutku seketika menjadi kenyang.
"Wah!! Ini enak!! Kau ini sempurna sekali!! Tampan, pintar, baik, sopan, dan lagi.. kau pandai memasak!!" Puji sang kakek dengan mulut yang di penuhi makanan, sementara Kun berhenti sejenak hanya untuk menatap si kakek dengan sinis.
"Terimakasih, kek. Aku senang kalau kakek menyukainya." Sahutku. "Sepertinya, selepas makan.. aku akan keluar bersama Kun."
Perkataanku membuatnya terkesiap, dan menjeda gerakannya beberapa detik sambil memandangi wajahku. "Mau kemana kalian? Kalian tak mau membantuku menempa senjata seperti kemarin?"
Kali ini Kun mendengus. "Kami mau bekerja untuk mendapatkan upah!! Bukankah kau tak mengizinkan kami makan pakai uangmu!! Membantumu pun tak mendapatkan apapun kecuali rasa kesal. Sudah pahalanya tak dapat lagi karena saya tak ikhlas!! Menyebalkan!!" Timpal Kun ketus, membuatku tersenyum kecut mendengarnya. Ada-ada saja kuntilanak ku ini.
"Heh!! Bocah kurang ajar!! Kalian membantuku karena kalian numpang tidur di sini!! Lihat betapa baiknya aku!!"
"Heh!! Tua Bangka!! Kami memberimu makanan enak dan membantumu di kala malam!! Tanpa upah!! Harusnya kau menganggap itu bayaran yang lebih bagus dari sekedar menumpang, kau kira kami tidak bayar!!" Balas Kun.
Kalau untuk berdebat, berkelahi, dan adu mulut pada orang-orang yang menjengkelkan, Kun terlihat begitu menikmatinya.
Sang kakek langsung terbatuk mendengar balasan darinya. "Aahk!! Kau membuatku tersedak daging!!" Keluhnya. Aku langsung menuangkan air minum dan memberikan pada kakek. Ia menerima dan menenggaknya dengan hati-hati.
Selepas makan, ku rasa hari ini sudah menunjukkan pukul setengah satu, atau bahkan sudah lewat. Aku melaksanakan shalat terlebih dahulu bersama Kun, baru setelahnya kami kembali ke rumah Bi Puput untuk membantu pekerjaannya. Setelah berpamitan dengan kakek Didi tentunya.
Di perjalanan, aku tak bisa banyak bercakap dengan Kun, karena beberapa orang nampak mengikuti kami hanya untuk mengagumi wajah kami.
Sesampainya di kedai, kami melakukan pekerjaan seperti tadi. Aku membantu bi Puput di dapur, sementara Kun mengantar pesanan dan meminta bayaran. Ia mirip preman pasar ketika ada bapak-bapak mabuk yang tiba-tiba datang dan enggan membayar selepas makan.
Aku terlalu sibuk di dapur dan tak bisa mengontrol emosinya. Alhasil, ia malah memukul orang-orang yang enggan membayar dengan tangkai sapu. Kalau yang perempuan, ku lihat ia menyapu wajahnya dengan sabut sapu.
"Makanya!! Kalau tak ada uang, jangan memesan makanan!! Masih jaman batu sudah mau jadi preman!! Gara-gara kalian, yang seperti itu juga ada di jaman saya!!" Bentaknya ketika orang-orang yang ia pukuli lari kocar-kacir.
Aku menghela napas panjang. Dan agaknya Bi Puput menyadari kelelahan ku. Ia menghampiriku dan duduk di dekat ku.
"Istirahat lah kalau lelah. Bibi tahu kau punya batasan, kalau yang di depan sana.. tak tahu terbuat dari apa. Dia marah-marah tanpa merasa lelah." Ujarnya seraya tertawa.
"Dia menyenangkan, aku tak lelah berada di dekatnya." Ucapku sambil ikut tertawa dan memandangi Kun.
"Kalian adik kakak yang begitu akrab. Aku jadi ingat anakku setiap melihat pemuda seperti kalian."
Aku terdiam, ketika menatap wajahnya yang mulai lirih. "Apa dia tak datang hari ini?"
"Oh, waktu kalian pergi, dia yang membantuku di sini. Lumayan lama, karena hari ini adalah hari libur katanya." Aku menganggukkan kepala mendengarnya.
"Tamunya sedang sedikit. Bibi bisa melakukannya sendiri. Kau juga sudah banyak membantu hari ini. Jadi istirahatlah, bibi akan kembali ke dapur." Ujarnya seraya beranjak dan meninggalkanku.
Yaah, tak munafik sih.. aku memang lelah dan butuh istirahat. Ternyata begini ya rasanya mencari uang sendiri.
Sembari duduk termenung, dan menyilangkan satu kaki ke atas pahaku, aku merasakan benda aneh di kantong celanaku.
Ketika aku merogohnya, ku dapati sebuah belati tiruan yang di buat oleh kakek Didi. Ku perhatikan dengan seksama ukuran, bentuk, ukiran belati serta ketajamannya benar-benar mirip dengan yang asli.
Hanya saja yang menjadi pembedanya, adalah sarung belati tersebut. Ini hanya sarung polos tanpa ada ukiran Asmaul Husna di permukaannya. Tentu saja ini lumayan rumit itu di lakukan atau di tiru, terlebih lagi ia tak pernah membaca tulisan-tulisan ini sebelumnya.
Dengan pisau dapur kecil milik Bi Puput, aku mulai mengukir sarung belati tersebut dengan hati-hati. Rasanya mirip seperti sedang membuat kaligrafi di atas kayu.
Tanpa sadar, aku mulai melantunkan Asmaul Husna seraya mengukirnya. Ku senandung kan dengan merdu dan penuh kedamaian.
Di mana pun aku berada, aku benar-benar tak bisa jika tak mengingat Allah. Hatiku seketika damai dan lelahku berganti menjadi lillah.
Sembari mengukir, tanpa sadar, aku merasakan suasana sesak di sekitarku. Aku mengernyit, kenapa tiba-tiba saja dapur ini berubah menjadi pengap dan panas.
Ketika aku mengangkat kepala dan mengedarkan pandangan, aku terkesiap kaget tatkala melihat semua pengunjung kedai telah menontonku dan memenuhi isi dapur.
Mereka menatapku dengan takjub sebagaimana aku menatap mereka dengan pandangan serupa karena terkejut.
"Kenapa kau diam? Ayo bernyanyi lagi.. kami benar-benar mencintai suaramu itu." Pinta mereka hingga membuatku tak mempu berkata-kata.
Namun di sisi lain, Kun memandangi belati yang ku buat dengan pandangan yang sedikit berbeda. Ia terbelalak begitu??
Tapi.. kenapa wajahnya harus seperti itu??
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......
dan belati itu yg akan menikam ayu sendiri