Tama, cowok baik-baik, kalem dan jago olahraga yang jatuh cinta dengan Raina si gadis yang terkenal dengan reputasi buruknya. Suka dugem, mabok, merokok, bahkan gosipnya dia pun jadi sugar baby simpanan om-om.
Tama menghadapi banyak tantangan agar bisa bersama Raina. Teman dan keluarganya yang tak menyukai Raina, rumitnya latar belakang keluarga Raina, juga cintanya yang penuh gairah yang amat sulit dikendalikan oleh cowok itu.
Kisah mereka terajut sejak masa di bangku kuliah. Saat mereka lulus, Tama berjanji akan menikahi Raina satu tahun kemudian. Tapi dengan banyaknya pihak yang menginginkan mereka untuk berpisah, bisakah mereka bertahan? Apalagi mereka terpaksa harus berpisah demi mempersiapkan masa depan untuk bersama?
Author masih belajar, tetapi selalu berusaha memperhatikan ejaan dan penggunaan huruf kapital yang benar sehingga nyaman di baca. Silahkan mampir😂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabina nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hilang
Esok paginya, Raina terbangun saat perawat masuk ke ruangan dan mengganti infus Almira. Almira masih sepucat tadi malam, namun suhu badannya sudah mulai turun. Raina beranjak ke kamar mandi hendak membersihkan diri.
Ketika ia keluar kamar mandi, beberapa teman Almira datang dan berdiri mengitari ranjang Almira. Saat ia muncul, ocehan mereka berhenti dan suasana berubah canggung. Sarah, salah satu teman Almira, terang-terangan menatap Raina dengan pandangan tak ramah.
Tama menghampiri gadisnya, menyadari suasana tak nyaman itu.
"Kita pulang sekarang, ya?" ucap Tama. Raina mengangguk. Ia pun enggan berlama-lama di sana.
Belum sempat keduanya berjalan keluar, Sarah menghentikan mereka.
"Tam, elo bisa bantu gue ke bagian administrasi , nggak? Kan semalem elo yang bawa Mira kesini. Tadi perawatnya bilang ada formulir yang harus diisi." Sambil berkata begitu Sarah memberi tatapan tajam ke arah Raina.
Raina yang dulu pasti akan segera menantang balik Sarah, dengan menjambak rambut sialan Sarah itu atau langsung menarik Tama pergi bersamanya. Tapi Raina yang sekarang lebih tenang. Maka saat Tama memandangnya minta persetujuan, Raina mengangguk.
"Ya udah, sana. Aku bisa balik sendiri." kata Raina. Tama mengelus rambut gadisnya, lagi-lagi muncul perasaan ganjil tak mau meninggalkan Raina sendirian.
"Hati-hati, ya. Nanti aku nyusul," kata Tama.
Sarah mendengus, lalu melirik ke ranjang, memastikan apakah Almira melihat adegan itu atau tidak. Syukurlah mata sahabatnya itu terpejam, semoga dia benar-benar tidur. Jika Tama dan Raina lama-lama di sini ia yakin Almira bukannya cepat sembuh, malah tambah parah sakitnya. Sudah pun badan sakit, ditambah sakit hati pula.
Raina melangkah menuju parkiran rumah sakit dengan gontai. Perutnya menjerit minta diisi. Badannya pun terasa tak karuan rasanya. Bayangan berendam air hangat disusul sarapan nasi goreng pedas membuatnya bersenandung pelan.
Senandungnya terhenti saat dering ponselnya berbunyi. Dari Maya. Perasaan Raina mendadak tidak enak. Maya adalah tetangga Elina, yang selalu memberi kabar apapun tentang ibunya sejak Raina meninggalkan rumah. Seringnya sih, kabar buruk.
"Ada apa, May?" tanya Raina. Berdoa semoga bukan kabar buruk yang diterimanya kali ini.
"Tante Eli pingsan, Ra. Uda gue bawa ke rumah sakit. Barusan di UGD, sekarang udah di kamar rawat," kata Maya.
Raina memejamkan mata.
"Di rumah sakit mana? Kenapa baru ngabarin gue?" panik Raina. Mencoba sekuat tenaga agar airmata nya tidak luruh.
"RS Kasih Mulia. Gue juga baru sempet pegang hape. Udah buruan kesini, Lo!"
Entah keberuntungan atau bukan, Mamanya di rawat di rumah sakit yang sama. Raina memutar langkahnya, bergegas berlari menuju ruang yang dikatakan Maya tadi, lupa dengan segala keletihan dan perut laparnya.
Tanpa disadari Raina, seseorang mendengar pembicaraan itu dari belakang. Seseorang yang diam-diam mengawasi dari jauh, bahkan mengikutinya hingga ia sampai di ruangan tempat ibunya dirawat.
Hati Raina hancur melihat pemandangan di depannya. Ibunya terbaring pucat, tubuhnya terlihat ringkih dan tak berdaya. Samar ia melihat lebam keunguan di pipi kanan ibunya. Raina selalu mengingat ibunya sebagai wanita yang cantik dan ceria. Melihat kondisi ibunya yang memprihatinkan ini membuat hatinya serasa remuk.
Melihat kedatangannya, Maya memeluknya.
" Kata dokter Tante Eli kecapean. Lo tahu kan, dengan kondisinya itu dia ngga boleh kerja terlalu keras. Nggak boleh stress juga." kata Maya. Raina mengangguk.
Maya seumuran dengan dirinya, wajahnya manis dengan penampilan yang sederhana. Seperti layaknya tetangga pada umumnya, mereka tumbuh bersama dari kecil.
"Terimakasih udah jagain Mama," kata Raina dengan mata basah.
"Alah ngga usah sungkan. Cuma ini yang bisa gue lakuin buat membalas kebaikan Tante Eli ke gue. Berhubung elo udah disini, gue cabut ya. Nyokap udah nungguin gue di pasar," kata Maya sambil meraih tas nya. Maya memang bekerja membantu ibunya mengelola kios sembako milik keluarganya.
Sepeninggal Maya, Raina menjatuhkan dirinya di kursi di sebelah ranjang ibunya. Meraih jemari kurus yang tertancap jarum infus itu.
Tak berapa lama kemudian, Elina membuka mata. Ketika tatapannya bertemu dengan pandangan Raina, perempuan paruh baya itu menangis.
Entah dengan cara apapun mereka dipisahkan, akan selalu ada jalan bagi seorang anak untuk menemukan wanita yang telah melahirkannya. Elina menatap putrinya, tak sanggup mengusirnya pergi seperti biasa. Bohong kalau ia tak bahagia mendapati anaknya disini bersamanya.
Pun Raina, tak berkata apa-apa. Kedua ibu-anak itu berkomunikasi lewat tatapan mata, lewat genggaman tangan yang menghangatkan hati.
Setelah dokter visite dan menyuapi ibunya makan siang, Raina pamit pada ibunya hendak ke kantin rumah sakit. Perutnya melilit parah, mengingatkan Raina kalau ia belum menelan apapun sejak pagi hari. Meraih ponsel di tasnya, dan mengumpat lirih saat menyadari ponselnya kehabisan baterai. Dia belum mengabari Tama sama sekali.
Langkah Raina terhenti saat melihat sosok yang tak asing baginya berdiri di ambang pintu ruang tempat Mamanya di rawat. Sebelum orang itu melangkah masuk, Raina mendorongnya kasar. Menarik sosok itu agar menjauh dari ruang tempat ibunya dirawat.
"Ngapain Papa kesini? Mama sakit, apa itu masih belum cukup?" desis Raina. Saat itu keduanya berada di lorong rumah sakit yang sepi. Lorong ini berakhir di sebuah gudang peralatan kebersihan yang jarang dijangkau pengunjung.
Lelaki usia akhir 40an itu tersenyum miring melihatnya. Badannya yang tinggi nampak tak terurus. Rambutnya mulai ditumbuhi uban sehingga membuatnya terlihat lebih tua dari usia sebenarnya.
"Untung kamu disini, anak sialan. Bagi uang sama Papamu ini dong, sebelum aku bikin Mamamu lebih sakit lagi," Nathan menyeringai.
"Papa nggak pernah berubah," geleng Raina, iba.
"Kamu kan sekarang banyak duit. Jadi simpanan om-om kaya ya? Pinter emang kamu, sama-sama jalang kayak Mamamu," kekeh Nathan, senang melihat raut sakit hati di wajah Raina. Tanpa bisa ditahan lagi, Raina menampar wajah lelaki yang selalu dipanggilnya Papa ini.
"Jaga omongan Papa. Jangan pernah berani menghina Mama lagi. Papa bahkan nggak pantas nyebut nama Mama dengan mulut Papa yang kotor itu!" Raina meraung. Fatal, karena yang terjadi berikutnya adalah Nathan yang dengan buasnya membanting Raina hingga gadis itu terpelanting ke lantai. Belum cukup, Nathan menendang wajah Raina dengan sepatu kulitnya.
Raina memekik. Sebelum kelakuannya menarik perhatian orang, Nathan buru-buru merampas tas Raina.
"Kamu beruntung, ini di rumah sakit. Banyak orang. Kalau di rumah, aku bisa bikin kamu hancur tak bersisa," kata Nathan sebelum melarikan diri.
Beberapa perawat yang tak sengaja melintas segera menolong Raina yang terluka. Namun tak ada air mata sama sekali di mata gadis itu. Pelipisnya sobek, bibirnya pecah, itu sebabnya darahnya mengucur banyak sekali. Untung tak ada gigi yang tanggal.
Raina tak peduli dengan luka-luka itu. Ia sudah biasa menerimanya sejak kecil. Besok juga sembuh. Hanya keselamatan Mamanya yang menguasai pikirannya dari tadi. Ia tak akan membiarkan Nathan menganggu Mamanya lagi, dengan cara apapun.
Sementara itu, Tama panik karena tak menemukan Raina di rumah gadis itu. Sepulang dari rumah sakit tadi Tama langsung meluncur ke rumah gadis itu, hendak mengambil motornya. Namun rumah Raina terkunci rapat sama seperti saat mereka tinggalkan tadi malam.
Yang membuat Tama lebih panik lagi, gadis itu tak bisa dihubungi sama sekali. Pikiran-pikiran buruk melintas di kepalanya, dan itu sama sekali bukan pikiran yang baik.
ada kah didunia nyata lelaki seperti mas tama😁
sukurinnnn
,seru dan terlalu bagus😍
sedih bnget jdi Raina dan Tama😭
mungkin ini udah brpa x aku baca ulang.gk pernah bosan, apa kabarnya ka?buat karya tulis mu yang sebagus ini lg dong ka 🙏