Lanjutan dari novel: Wanita Cantik Tuan Muda Dingin.
__________
Setelah melewati banyak waktu dan masalah. Raka sang CEO termuda di perusahaan Welfin telah berhasil menemukan kekasihnya dan bahkan tak menyangka jika kekasihnya itu memberikan sepasang anak kembar yang cerdas dan menggemaskan.
Namun masalah kembali datang dari istri tercinta yang memiliki Kepribadian Ganda. Karena itulah Raka mencoba menyembuhkan Sovia dan mulai belajar untuk menjadi Suami idaman untuk sang istri.
Akan tetapi seseorang mulai meneror keluarga kecilnya dan bahkan mencoba menyingkirkan satu persatu keluarga dekatnya. Hal ini karena perebutan harta waris di masa lalu di keluarga Welfin. Dapatkah Raka melindungi sang Istri dan kedua anak kembarnya, serta menyembuhkan mental Sovia?
Yuk kita simak perjuangan Raka dalam menyembuhkan Sovia dan perjuangannya menyelesaikan masalah yang silih datang berganti di keluarga kecilnya Raka.
Baca sampai selesai ya ^^
Terima kasih~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asti Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Tetap Berbeda
...[Beri like dan komen]...
...Klek!...
Pintu kamar terbuka, datanglah Dokter Frans seorang diri masuk ke dalam kamar lalu berjalan menghampiri Raka yang masih setia menunggu Istrinya sadar.
Dokter Frans nampak terkejut melihat tissu berserakan dilantai dan ditambah ia semakin terkejut melihat tampang Raka yang begitu kuatir kepada wanita yang terbaring di depannya yang memiliki Alter Ego.
Dokter Frans tak menyangka terhadap Raka yang tak takut pada istrinya yang memiliki Alter Ego, sedangkan Dokter Frans kini mulai takut setelah mendengar pertengkaran Raka dan Mira yang menggema di rumah besar itu.
Raka menoleh melihat Dokter Frans, ia segera menyuruh Dokter Frans memeriksa Mira. Terlihat Raka berdiri lalu mempersilahkan Dokter Frans memeriksa denyut nadi Mira.
Terasa denyut nadi Mira memang agak lemah. Mungkin inilah yang akan dikekwhatirkan Dokter Frans, jika Mira bisa saja melukai dirinya dan mencelakai seseorang di sekitarnya.
"Bagaimana kondisi?" Raka bertanya masih terdengar begitu cemas. Dokter Frans pun berdiri lalu mengatakan kondisi Mira. Raka agak terkejut mengetahui kondisi istrinya tak baik.
Raka pun segera kembali duduk dan langsung meraih tangan Mira lalu menggenggamnya kuat.
"Mira, bangunlah. Jangan buat kuatir." lirih Raka mencoba membangunkan Mira. Masih ada yang ingin dikatakan Raka pada wanita di depannya yang terlihat amat menyedihkan. Bahkan tangan Mira masih terasa dingin.
"Raka, biarkan dia istirahat." ucap Dokter Frans memberi saran agar Raka tak memaksa dirinya juga.
Raka menunduk, ia tau apa yang dirasakan Mira saat ini. Penderitaan masa lalu serta kehidupan suram Mira sangat membuat Raka tak tega melihat Mira sekarang.
"Ku mohon, Mira. Bangunlah, masih ada yang ingin aku katakan padamu." pinta Raka dengan suara kecil mulai terdengar melemah. Pria itu nampak menangis di dalam hatinya.
"Tenanglah, Raka." ucap Dokter Frans nampak mulai tak tega. Dokter Frans yang melihat Raka seperti itu, ia tak sangka Raka mau bersama dengan wanita itu. Raka tak mendengar ucapan Dokter Frans, ia lebih terfokus ke Mira.
Tiba-tiba, tangan yang digenggam Raka terasa bergerak. Sontak, Raka segera melihat istrinya dan ternyata wanita yang ia kuatirkan mulai sadar.
Perlahan Raka melihat mata Mira terbuka, dan seketika itupun dua pria di kamar tersebut langsung kaget melihat perubahannya.
Tentu kini bukan lagi Mira yang mengontrol dirinya, melainkan Sovia dengan dua bola mata yang berwarna coklat.
Seketika itupun Raka langsung menarik Sovia lalu memeluknya dengan erat. Sontak Sovia mulai sepenuhnya sadar ketika ia mendengar Raka terisak dalam pelukannya. Akhirnya pria muda tampan itu mengeluarkan tangisnya.
"Sayang ... kamu kenapa?"
Sovia berbicara pada Raka sambil mengelus punggung suaminya itu. Sovia nampak tak ingat dengan kejadian tadi. Sovia kebingungan dan terkejut mendengar Raka menangis dalam pelukan kali ini. Pandangan Sovia tertuju pada Dokter Frans yang berdiri terdiam di tempatnya.
"Sayang, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Sovia begitu lembut membelai rambut Raka.
"Ku mohon, ku mohon. Tetaplah bersamaku." lirih Raka mempererat pelukannya dan masih menangis. Terasa Raka tak mau melepaskan wanita yang ia peluk saat ini.
Dokter Frans menunduk lalu melihat Sovia. Ia bermaksud untuk keluar. Sovia cuma mengangguk lalu Dokter Frans pun keluar membiarkan pasutri itu bersama untuk menyelesaikan masalah mereka.
"Hai sayang, kenapa menangis." ucap Sovia mendorong tubuh Raka lalu melihat wajah suaminya yang mulai sembab. Tentu Sovia semakin terkejut melihatnya. Ini pertama kalinya ia melihat Raka menangis separah ini.
Sovia kembali tersentak sebab Raka memeluknya lagi. Sovia hanya tersenyum sambil mengelus punggung Raka.
"Ku mohon, berjanjilah padaku. Tetaplah bersamaku ...." lirih Raka terdengar mulai menyedihkan.
"Sayang, kamu kenapa? Kok bilang gitu?" Sovia kembali melihat wajah Raka sambil mengelus kedua pipi Suaminya itu. Sikap Sovia benar-benar berbeda dari Mira yang tadi membentaknya.
"Berjanjilah padaku!" ucap Raka melihat serius dua mata coklat istrinya. Sovia menghela nafas sebentar, ia merasa bingung sekarang. Sovia pun tersenyum lalu berkata dengan lembut sambil mengelus pipi kanan Raka.
"Aku janji, aku akan bersamamu selama ...." ucap Sovia terhenti akibat Raka kembali memeluknya dan malah bertambah menangis.
"Hm, sayang. Jangan buat aku kuatir. Katakan padaku, kamu kenapa?" tanya Sovia mulai penasaran.
Tak ada jawaban dari Raka. Pria muda itu masih setia memeluk Sovia. Ia mencoba menenangkan dirinya memeluk jiwa yang begitu lembut padanya.
"Mira, seharusnya kamu tak harus mengalami hal ini." batin Raka mempererat pelukannya dan membuat Sovia mulai sesak.
"Sa ... sa ... sayang, aku ... aku sesak nafas." ucap Sovia mencoba melepaskan pelukan Raka. Raka yang mendengarnya, ia langsung melepaskan pelukannya lalu menatap Sovia. Terlihat Raka mulai tenang sambil tersenyum dengan mata masih sembab.
Sovia yang melihatnya, ia pun tersenyum manis lalu memberikan kecupan pada pipi Raka untuk menenangkan Suaminya itu. Raka tersentak merasakan kecupan lembut dari Sovia. Sungguh sangat berbeda dari Mira, Sovia selalu ceria tidak seperti Mira yang selalu murung.
Ketika Sovia ingin bertanya lagi. Raka langsung mendahului bertanya.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Raka menatap serius Sovia.
"Baik, sangat baik," jawab Sovia tersenyum.
"Sayang, kamu sebenarnya kenapa? Kok bisa menangis?" lanjut Sovia bertanya dengan raut wajah mulai curiga.
Raka yang mendengarnya, ia mengepal tangannya dengan kuat. Ia sebenarnya ingin katakan langsung pada Sovia. Namun ia takut Sovia akan depresi dan menganggap dirinya tak nyata sama sekali.
"Aku hanya takut kamu sakit." jawab Raka berusaha tersenyum. Seketika, ia pun mencium kening Sovia membuat wanita itu tersipu malu.
"Aku keluar dulu. Jika kamu butuh sesuatu, panggil aku saja ya." ucap Raka membelai rambut Sovia. Sovia hanya mengangguk. Ia sungguh tak mengerti apa yang sudah terjadi.
Raka pun berdiri lalu menoleh melihat Sovia sebentar melihat dua mata yang tak lagi berwarna merah. Cara bicara Sovia yang lembut sungguh berbeda dari Mira yang kasar.
Raka pun keluar untuk menanyakan hal ini pada Dokter Frans. Ia ingin tahu kondisi selanjutnya orang yang memiliki Alter Ego atau kepribadian ganda.
Sovia yang melihat Raka sudah keluar, ia menunduk terlihat murung. Ia memikirkan apa yang sudah terjadi sebab ia tak ingat apa-apa.
"Sebenarnya, apa yang terjadi hingga dia menangis seperti itu?" Sovia bertanya pada dirinya. Seketika kedua matanya tertuju pada bekas tissu yang masih berserakan.
Sovia beranjak berdiri lalu mendekati bekas tissu tersebut. Sovia terkejut melihat bekas tissu itu mempunyai bercak merah. Sovia pun menjongkok lalu mengambil semua bekas itu lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Apa yang sudah terjadi hingga ada bekas tissu di sini?"
Setelah melihat lantai kamar bersih. Sovia pun kembali duduk di tepi ranjang dan mulai memikirkan dan mengada-ada kejadian di kamarnya.
"Aish, aku bingung sekarang. Hal ini membuatku penasaran apa yang sudah terjadi barusan." desis Sovia kesal tak dapat mengingat sesuatu.
Tiba-tiba pintu kamarnya kembali terbuka. Sovia agak terkejut melihat ke arah pintu. Pandangannya terfokus dan bingung melihat ke arah pintu di depannya.
_______
Bersambung .....
Wah apa yang dilihat Sovia?
Terima kasih dan jangan lupa like dan vote.