Bagi Alysia Mareana kisahnya bersama Bagas Adiputra telah luruh dan membentuk sebuah kenangan yang disebut masa lalu. Tapi siapa yang dapat mengira jika ada benang masa lalu yang belum putus dan hendak mengikat mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmakJomblo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adik Untuk William?
Hai pembaca, aku hadir!
Menit-menit terakhir sebelum pukul 24.00 WITA ku persembahkan satu episode lagi, yeay!
Senang nggak? Senang harusnya.
Oke, Selamat membaca 😉
“Mbak, bulenya dapet di mana?” tanya Mesci kepo.
Kami berjalan kearah lift untuk turun ke lantai bawah. Dari dulu aku jarang akrab dengan perempuan entah karena apa, aku hanya merasa sangat risih berada di sekitar mereka. Mungkin karena kami spesies yang sama atau mungkin juga karena ada beberapa tingkah perempuan yang tak begitu kusuka meskipun aku suka memakai heels dan make-up.
Semenjak Mesci hadir di kantor ini dua tahun lalu, aku langsung akrab dengannya ya meskipun tak sedekat sahabat-sahabat perempuan kebanyakan yang saling menginap, shopping dan curhat bareng. Kami akrab sebatas di dalam ruang lingkup kantor itu saja. sedangkan makan siang saja dapat kuhitung dengan jari karena aku lebih suka makan siang bersama Riando.
Alasanku juga tidak banyak teman perempuan karena dari dulu sudah terbiasa bersama Riando, jauh sebelum aku dan Bagas bahkan saling mengenal.
“Kenapa? Kau mau nyari bule juga?” tanyaku dengan sudut bibir yang tertarik.
Mesci itu jomblo dari lahir dan lihat yang bening putih merona sedikit aja, hatinya klepek-klepek. Giliran ada yang dekatin dia bakal kabur, Mesci itu adalah jenis perempuan yang takut laki-laki makanya dia jomblo akut.
“Rencananya gitu mbak,” cicitnya diiringi tawa.
“Belajar dulu ya, entar mbak ngasih tipsnya,” ucapku sembari mengedipkan mata.
“Siap mbak!”
Diangkatnya kedua jempol tangan saat kami baru saja tiba di lobi kantor. Aku begitu senang dengan kepribadian Mesci, perempuan itu tampak polos dan jujur. Dulu, saat pertama kali masuk sini aku benar-benar langsung tertarik dengan kepribadiannya. Aku hanya berharap suatu saat nanti perempuan itu menemukan seorang pria yang benar-benar menyayangi tanpa berniat memanfaatkan.
Oke kita tinggalkan pembahasan tentang Mesci karena kami sudah berada di depan lobi kantor.
“Ndrew!” teriakku dengan manja saat melihat siluet Bagas di belakang Mesci. Mesci tampak tersenyum canggung melihat tingkah tidak tahu Maluku. Melihat itu aku jadi punya ide untuk menjodohkan mereka berdua. Ya, setelah urusanku selesai tentunya.
Aku menghampiri bule tampan itu dan memeluknya erat. Mencoba memerankan sandiwara dengan baik, lagi pula dulu semasa Sekolah Menengah Atas, aku sering bermain teater jadi tidak susah bagiku untuk berakting. Lagi pula kenapa Bagas malah datang menghampiriku siang ini? Harusnya dia makan siang bersama anak dan mantan istrinya itu kan?
Eh siapa namanya?
Oh Ganesa.
Perempuan cantik yang telah berstatus janda satu anak, miris sekali. Bagas itu ya, sudah dapat istri cantik, sudah cape-cape mengkhianatiku dulu malah meninggalkan wanita itu dengan alasan masih mencintaiku. Heran, semudah itu Bagas bertingkah dan yang lebih aneh aku seseorang yang gagal move on setiap akan mencoba.
Kenapa aku malah jadi curhat begini sih?
“Bagas ada di belakang kamu, mohon kerja samanya Ndrew!” bisikku.
Andrew yang sepertinya mengerti langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggangku. Wajah Bagas mengetat saat melihatnya, membuat senyum miring semakin terukir di bibirku.
Ayo kita rusak pernikahan ini!
“Diam di situ Alysia Mareana Adiputra!” tekan Laki-laki itu.
“Ayo Ndrew!”
Aku memaksa Andrew untuk pergi dari sana dengan mengabaikan ucapan Bagas. Aku tidak ingin berbalik untuk memastikan ekspresinya karena aku sudah tahu pasti wajahnya sekarang.
“Alysia, hei!” Andrew mencoba menghentikan langkah.
“Ndrew bantuin sekali ini aja ngapa?”
Akhirnya lelaki itu diam.
“Aku nggak mau nangung dosa!” cicitnya.
“Aku yang berdosa Ndrew, aku! Kamu tenang aja,” tekanku.
***
Jalanan kota Jakarta cukup ramai siang ini, dengan di tambah suara kicauan burung pipit yang ada di pohon rindang yang berada di tengah badan jalan. Keadaan di dalam mobil yang dikendarai Andrew nampak begitu hening, tak ada dari kami yang membuka suara.
“Benar nggak apa-apa? Suami kamu kelihatan benar-benar emosi.”
Andrew tiba-tiba membuka suaranya.
“Biasa saja, gue yang tanggung dosanya!” sahutku.
Tak lama setelah itu kami sampai di depan restoran yang dipilih Andrew, sepertinya restoran Itali.
“Makanan Itali?” tanyaku.
“Hmm, kenapa? Nggak mau? Nggak suka?”
Andrew balas bertanya ketika menyadari ekspresi wajahku yang nampak terlihat berbeda mungkin.
“Ya, nggak kenapa-napa aja,” balasku cepat lalu memutuskan untuk turun dari mobil.
Kami berdua pun masuk ke dalam restoran dengan pandangan beberapa orang menurutku sangat membuat risih. Oh aku tahu semua ini pasti karena Andrew ada bersamaku.
Siapa sih yang tidak tergoda dengan laki-laki bule tampan seperti Andrew? Oke, aku orang pertama. Andrew itu tampan, tapi dia benar-benar bukan lelaki tipe idamanku.
“Kamu mau pesan apa, aku traktir!” ucapku spontan.
Ya itu harus, aku di sini sebagai orang yang menggunakan jasa Andrew jadi harusnya aku tahu diri meskipun belum sepenuhnya dia mengiyakan misi yang kuucapkan hari minggu kemarin.
“Veal Marsala, Lasagna dan orange juice,” ucapnya setelah melihat menu di layar lebar di depan kami.
“Oke, aku samaan kamu aja. Kita duduk di sana yuk!”
Aku menunjuk kursi bagian tengah yang nampak kosong dan setelah memesan pada pelayan kami pun mengambil duduk di sana.
Kami benar-benar makan dengan sangat menikmati, obrolan ringan tentang pengalaman dan kisah percintaan Andrew dengan beberapa perempuan Indonesia membuatku perutku sakit karena banyak tertawa. Ceritanya ternyata sangat menggelikan.
“Suami kamu nggak nelpon?” tanyanya tiba-tiba.
“Ponselku sengaja ku matikan,” jawab sembari menyengir.
“Benar-benar menjalan misi ya?”
“Kau tahu jawabannya Andrew,” sahutku sembari mengedipkan mata.
***
Tepat pukul 10 malam, aku sampai di depan rumah. Seharian ini cukup banyak pekerjaanku, kepala redaksi mempercayakanku untuk menggarap novel dari seorang penulis terkenal. Jadi setelah pulang makan siang bersama Andrew aku kembali kerja bagai kuda. Ya, begitulah kalau kita masih menjadi karyawan dan bukan bos. Dulu aku sempat bercita-cita menjadi seorang bos tapi sepertinya itu hanya akan menjadi cita-cita.
Rumah tampak gelap tak ada satupu lampu yang dinyalakan. Ada apa? Apa Bagas belum pulang? Ya, dia pasti pergi suatu tempat untuk menenangkan diri. Hari ini aku membuat emosinya naik.
“Re aku rindu kamu.”
Sebuah suara tiba-tiba terdengar, aku tersentak.
Dalam kegelapan aku mencoba meraih saklar lampu.
Setelah bunyi trak setelah aku menekan saklar, aku hanya mampu melongo. Dalam penglihatanku aku dapat melihat Bagas yang sudah terkapar dengan wajah yang nampak memerah.
“Re, aku cinta kamu!” racaunya lagi.
Kali ini kesimpulanku bahwa laki-laki itu sedang mabuk. Laki-laki itu merangkak dan meraih kakiku dalam pelukannya.
“Bagas hentikan, kau sedang mabuk,” ucapku lalu mencoba melepaskan pelukan laki-laki itu yang terlalu posesif.
“Aku membencimu,” ucapnya merajuk secara tiba-tiba.
Aku tertawa dalam hati melihat tingkahnya itu.
Bagas Adiputra sangat lucu dan menyebalkan di saat yang bersamaan.
Tanpa aba-aba laki-laki itu berdiri dan menghampiriku dan mendorongku hingga terjerembab bersama di atas sofa ruang tamu.
Astaga apa lagi yang ingin dilakukan laki-laki ini?
“Akan ku buat kau tak bisa meninggalkanku, akan kubuat adik William di sini!” tuturnya sembari menyentuh perutku.
Aku sontak memelototkan mata.
Tidak, tidak akan kubiarkan!
Dia menarik wajahku hingga mendekat dan hendak mengecup keningku tapi ku tepis.
“Tidak Bagas! Aku tidak mau!”
“Suka atau tidak suka aku akan melakukannya Alysia Mareana Adiputra!”