NovelToon NovelToon
Cinta Tapi Menyakitkan

Cinta Tapi Menyakitkan

Status: tamat
Genre:Romantis / Pernikahan Kilat / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Felicialetha

Cinta Tapi Menyakitkan, adalah kisah sebuah rumah tangga Anindita Putri dan Elnino Karisma.

El menikahi Anin karena ingin melupakan istrinya yang meninggalkan dirinya begitu saja. Sementara Anin karena sudah jatuh cinta pada El, akhirnya mau dinikahi.

Saling menyakiti bermula ketika Anin tahu bahwa El sudah pernah menikah, dan belum menceraikan istri pertamanya. Pernikahan untuk El adalah sebuah cara untuk melupakan istri pertamanya, dan belum memiliki perasaan cinta pada sosok Anin yang membuat Anin sangat tersakiti.

Anin berusaha untuk bangkit sendiri, dalam sakit hatinya, tiba-tiba banyak sosok pria dengan tulus mencintai Anin dan membuat Anin merasa di cintai, tapi dalam kondisi Anin tidak bisa bercerai dengan El.

Penasarankan bagaimana akhirnya kisah cinta Anin dan El? Akankah El kembali pada istri pertamanya, atau akan tetap bertahan dengan Anin, dan mencintainya?
Yuuuk baca Novel ini sampai akhir 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Felicialetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masih Cinta

Anin belum memberitahukan akan kehamilannya pada Pak Hendra, ia masih takut untuk memberitahukan ayahnya itu.

Ia takut Pak Hendra akan mengusahakan dirinya agar tidak bercerai dengan El.

Pagi menjelang, Pak Hendra sarapan bersama Anin seperti biasanya. Kali ini Anin memilih sarapan Bubur ayam, karena ia merasa berat untuk menelan nasi. Pak Hendra tidak mencurigai apapun dari Anin, semua masih biasa aja. Anin melahap bubur ayam dalam mangkuknya dengan sangat lahap, terlihat sangat lapar. Anin sangat tergoda dengan sate usus yang ada dipiring terpisah itu, ia mencobanya. Semua itu makanan kesukaan Anin, tapi kali ini Anin lebih sensitif. Ia merasakan bau amis dari usus yang ia makan, membuatnya sangat mual.

"Uuuueeekk uuueeekkk" suara mual Anin sembari sedikit berlari terburu-buru menuju ke wastafel cuci piring di dapur

"Nin kamu kenapa?" tanya Pak Hendra dengan khawatirnya lalu mengikuti Anin ke dapur

"uuueeehhh uuuueeekkk" Anin terus memuntahkan semua isi perutnya yang baru saja terisi itu.

Pak Hendra memijat-mijat lembut belakang leher Anin, ia merasa cemas karena Anin terus-terusan memuntahkan semua isi perutnya.

Setelah selesai, Anin terlihat sangat pucat, raut wajahnya jadi lesu. Anin dibantu oleh ayahnya untuk duduk di meja makan kembali.

"Minum dulu Nin.." ucap Pak Hendra sembari menyodorkan segelas teh hangat

Anin masih belum mau bicara ia langsung menerimanya dan meminum air dalam gelas itu.

Pak Hendra menatap dalam kearah Anin, ia merasa tak tega melihat putrinya yang seperti itu.

"Nin, Papa hubungi El ya.. Kamu butuh El" ucap Pak Hendra sembari merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya

"Jangan Pa.." ucap Anin menahannya sembari menahan tangan Pak Hendra

"Kenapa Nin?" tanya Pak Hendra dengan bingung

"Papa tahu kamu sangat mencintai El, begitu juga dengan El.." lanjut ucap Pak Hendra

"Jangan Pa.. Anin dan El akan bercerai, Anin sudah memutuskan untuk Anin saja yang mundur.." ucap Anin bibirnya seakan bergetar mengatakan itu semua

"Tapi kenapa Nin? Kamu masih mencintai El, Papa tahu itu.." ucap Pak Hendra meyakinkan perasaan Anin

Anin terdiam, air matanya menggenang seketika dipelupuk matanya. Tatapannya seolah kosong.

"Aku masih mencintainya Pa, bahkan sangat mencintainya.. Tapi aku tidak mau egois" ucap Anin dalam hatinya

"Kenapa Nin? Apa alasannya?" lagi-lagi tanya Pak Hendra

"Anin gak mau egois Pa.. El sudah punya anak dari Elvira, dia berhak atas El karena dia ayahnya" ucap Anin mengungkapkan alasannya

"El juga tidak ingin melepaskan Elvira, tapi aku gak sanggup untuk berbagi suami dengan orang lain Pa.." lanjut ucap Anin, bulir bening itu mulai turun membasahi pipinya

"Papa yakin kamu wanita kuat, semua ini pasti bisa kita lalui.. Yang tegar ya Nak.." ucap Pak Hendra mengelus lembut tangan putrinya itu, seraya menenangkan

Isak tangis Anin terus menjadi, air matanya terus mengalir deras, tatkala kembali mengingat bahwa dirinya kini sedang hamil anak El, tapi ia juga harus berpisah dengan El. Ia membayangkan bagaimana nanti jika ia harus melahirkan tanpa sosok suami di sampingnya. Anin terus menangis sesegukan dalam dekapan ayahnya.

...----------------...

Hari semakin siang, Anin memutuskan untuk mencari kesibukan agar ia mampu melupakan El.

Anin sudah bersiap dengan rapi, rambutnya ia kuncir satu dengan cantiknya. Anin mengambil tasnya yang sudah ia siapkan sedari tadi.

Tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk.

"Tok tok toookkk..." suara pintu yang diketuk

"Iya sebentar.." ucap Anin sembari sibuk memasang jam tangannya

"Siapa ya jam segini bertamu.." ucap Anin pelan pada dirinya sendiri, sembari memperhatikan jam tangan yang sudah terpasang ditangan kirinya.

Anin membuka pintu itu. Ia terkejut dengan siapa yang datang, saat pintu terbuka Anin ternganga mengetahui siapa yang datang.

"Kamu?" ucap Anin merasa tak percaya

"Nin.." ucap El lirih

"Mau apa lagi kamu kesini? Oh iya lupa, kamu mau mengambil berkas-berkas perceraian kita kan? Sebentar aku siapkan dulu.." ucap Anin seakan-akan tegar, tak membiarkan El membuka suaranya

Anin dengan cepat masuk kedalam kamarnya, El tak mau diam saja, ia dengan cepat mengikuti Anin dan menutup pintu rumah itu, menguncinya dari dalam.

El lalu ikut masuk ke kamar Anin, menutupnya begitu saja, lalu menguncinya dan mengambil kuncinya yang ia masukan kedalam saku celananya.

"El mau ngapain?" tanya Anin begitu terkejut melihat El mengikutinya bahkan sampai mengunci mereka berdua di kamar Anin yang cukup sempit itu.

"Kamu masih istri ku Nin.." ucap El yang bergairah melihat Anin yang sangat cantik dan wangi itu

"Aku sangat rindu kamu Nin.. walau aku ragu untuk kita kembali" lanjut ucap El

El memang belum melakukan sentuhan apapun pada Anin, ia menatap dalam kearah Anin, memperhatikan wajah istrinya yang ia rasa sudah sangat lama tidak bersama. Anin dan El saling berhadapan.

"Apa yang kamu mau dari aku? Belum cukupkah kamu menyakiti aku?" tanya Anin bertubi-tubi, ia sangat merasa tersiksa berduaan di kamar bersama suaminya yang tidak bisa ia miliki lagi

"Aku tahu kamu masih mencintai aku, Nin.. Aku juga Sangat mencintai kamu Nin.." ucap El dengan suara lirih

"Aku gak bisa kayak gini, pergi saja, tinggalkan aku!

Rasa cinta kita rasanya sudah tidak penting!" ucap Anin menahan air matanya sungguh sesak dadanya mendengar ucapan cinta dari El

"Aku gak bisa Nin.. Tolong mengerti aku!" ucap El dengan air mata yang mulai mengalir deras membasahi pipinya

El mulai mendekat perlahan ke arah Anin, Anin terus melangkah mundur perlahan, namun El terus mendekat ke arah Anin, Anin tak mampu lagi pergi, tubuhnya sudah terpentok lemari pakaian miliknya.

El meraih tangan Anin, lalu berlutut di hadapan Anin.

"Sayang aku mohon maafkan aku.." ucap El sembari terus meneteskan air matanya membasahi hingga pada kemejanya.

Hati Anin terasa dihujam ribuan benda tajam, baru kali ini ia melihat El sesedih ini, sampai memohon-mohon pada dirinya. Hatinya semakin terasa sakit, ia tak mau ada diposisi ini, posisi yang menyudutkan dirinya dalam sebuah kenyataan pahit.

"Aku maafin kamu El.. Tolong jangan seperti ini! Aku semakin tersiksa, tolong pergi tinggalkan aku.. Jangan biarkan diri kamu menjijikan dengan ingin memiliki aku dan Elvira!" ucap Anin dengan air mata yang mulai menetes

"Aku gak bisa Nin.. Tolong tetap disampingku.." ucap El dengan terus berlutut dihadapan Anin

"Entah kenapa hati ini berkata kita tidak bisa berpisah.." lanjut ucap El

Anin terdiam, pikirannya langsung berputar-putar.

"Apa kamu ngerasain akan ada kehadiran anak mu juga dalam rahim ini, El?" ucap Anin dalam batinnya

Air mata Anin terus mengalir deras

"Maaf El.. Aku gak bisa, bukankah kamu lebih memilih Erina anak kamu? Sudah cukup El, jangan hancurkan lagi hati ini! Silahkan kamu pergi.." ucap Anin tanpa membiarkan El menjawabnya

El semakin terkulai lemas mendengar jawaban Anin, ia semakin tersiksa, terdiam tetap dengan berlutut di hadapan Anin. El mulai menghapus air matanya, ia mulai menenangkan dirinya, mencoba menguatkan kakinya untuk kembali menopang.

El bangkit dan berdiri dihadapan Anin. El langsung mengeluarkan kunci kamar Anin yang ada di dalam saku celananya bersama ponselnya, ponselnya juga ia taruh di atas kasur Anin, lalu El membuka pintunya, dan berjalan keluar.

Anin masih terdiam melihat kepergian El begitu saja, Anin tersadar berkas perceraian mereka belum juga El bawa, ia tidak ingin terus-terusan dalam ikatan yang menyakitkan ini. Anin meraih berkas itu, lalu sedikit berlari mengejar El keluar.

"Tunggu, ini berkas-berkas yang kamu perlukan.." ucap Anin menghentikan langkah El

Langkah El terhenti, hatinya memang sakit harus berpisah dengan Anin, tapi rasa cemburu yang bergejolak saat itu masih tetap membuatnya penasaran. El menoleh ke arah Anin yang sudah menyodorkan berkas untuk perceraiannya itu.

"Jawab jujur, siapa laki-laki yang bersama kamu? Yang membonceng kamu, dan sudah beberapa kali aku lihat dia bersama kamu!" ucap El tiba-tiba ingin memastikan, nadanya sedikit tinggi

"Bukan urusan kamu!" jawab Anin dengan ketus

"Begitukah? Terimakasih untuk meyakinkan aku, kalau kita tidak perlu kembali bersama!" ucap El lalu meraih berkas itu dari tangan Anin

Anin terdiam, El meninggalkan Anin dengan langkah lebarnya dan kembali masuk ke mobilnya.

Anin merasa kakinya tak kuat lagi untuk menopang tubuhnya, Anin terkulai lemas di lantai. Air matanya semakin deras mengalir.

Tanpa Anin sadar Rais melihat dan mendengar jelas semua, Rais tadinya ingin datang untuk menjenguk Anin, tapi ia melihat mobil putih terparkir tepat dirumah Anin. Rais memutuskan untuk memarkir motornya di mini market tak jauh dari rumah Anin, dan Rais terus memperhatikan rumah Anin dari semak-semak.

"Oh itu suami Anin? Dia kakak kelas sewaktu SMA dulu, tapi aku tidak mengenalnya.." ucap Rais dalam hatinya ketika melihat El pergi dengan mobilnya

Rais menatap kepergian El, mobilnya sudah tak terlihat dari matanya. Rais memutuskan untuk menghampiri Anin yang terduduk sembari menangis itu.

"Nin.." ucap Rais lalu membantu Anin untuk bangkit berdiri dan mengajaknya masuk kedalam, dan mendudukan Anin di sofa ruang tamu

"Maaf ya Nin, aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian.. Maaf aku sudah memaksa hadir dalam hidup kamu, membuat kesalah pahaman baru dengan suami kamu.. Maaf aku tidak ada niat apapun untuk merusak rumah tangga kamu Nin.." ucap Rais penuh penyesalan, sembari bersimpuh di lantai sementara Anin duduk di sofa

"Kamu gak salah Is.." jawab Anin sembari mencoba menatap Rais yang tulus itu

"Asal kamu tahu Nin, aku emang cinta sama kamu. Entah kenapa perasaan ini bersemayam di hati aku sejak lama, aku gak bisa lupain kamu, walau kita sudah tidak pernah lagi bertemu setelah perpisahan SMA dulu.." ucap Rais mengungkapkan perasaannya

Anin begitu tercengang mendengar pengakuan Rais, ia tak menyangka akan mendengar hal semacam itu dari pria gagah yang selalu hadir tatkala ia sedih itu.

"Kamu harus tahu, aku senang bisa kembali bertemu dengan kamu. Tapi aku sakit ketika harus bertemu kamu dengan keadaan seperti ini, bukan cuma kamu yang terluka, aku juga teluka Nin.." lanjut ucap Rais

"Mungkin cinta aku ini salah, aku tidak berani mengharapkan kamu jadi milik aku, tapi izinkan aku untuk membantu tetap disisi mu, dan selalu ada buat kamu.." ucap Rais lagi

Anin hanya mengangguk, ia tahu Rais ini adalah pria baik. Ia sangat mengenal Rais, Rais yang membuatnya selalu merasa lega setelah air matanya membanjiri hatinya, ia tidak mungkin meminta Rais untuk pergi.

"Terimakasih banyak ya Is.. Aku senang dengan kehadiran kamu.." ucap Anin dengan menyunggingkan senyum manis diwajahnya

1
ega
el itu lelaki plin plan goblok ga punya perasaan, egoiss
Herta Siahaan
gimana kabarnya Erina y
Herta Siahaan
duh malang nasibmu nak ... sepertinya hidup mu nak ... g bisa terbayangkan
Herta Siahaan
pelihara dan terima Erina yg tak berdosa.... pasti doa anak teraniaya seperti dia penolong gian
Herta Siahaan
yah sakit sih perbuatan Elvira tapi Erina hanya korban Anin. coba bayangkan kalau itu terjadi padamu. diah kehilangan maminya terus ayahnya jahat lagi
Herta Siahaan
paling Antoni mau menjadikan Elvira budak seksnya.... dasar laki-laki tak punya hati
Herta Siahaan
kasian Erina thor anak yg hanya korban ibunya dan Antonio yg bejad pasti tak sayang anaknya
Herta Siahaan
haduh rusak pertahanan Anin .. pasti Elvira terbahak 😆😆😆
Herta Siahaan
duduh Elvira... dasar ya.... buat anak tak jelas bapak nya ... kasian Erina Korba ibu yg gitu ...
Herta Siahaan
kan feeling g salah... kasian Erina thor. tuh maknya manusia biadab
Herta Siahaan
wah kayaknya Erina harus ikut Anin dan Ek deh kayaknya Elvira ada niat jahat ma Erina... kasian dia dimanfaatkan ma maknya
Herta Siahaan
ada apa sih dgn mu Elvira.... katanya iklaa dan ini ingin rujuk ada yg g beres nih ma Elvira bang El ..
Herta Siahaan
jangan jadi perusak rumah tangga orang yg kamu cintai Ris....
Herta Siahaan
Rais tanggung jawab kamu yg mulai buat Anin memberontak jd sebagai teman yg menyanginya kembali kan Anin
Herta Siahaan
jujur nin kasihan orang tuamu... jgn jd korban keegoisan mu
Herta Siahaan
tuh kan Anin makin runyam masalah mu. kamu sich ... yg ini belum selesai dah ditambah.
Herta Siahaan
anin dan Rais salah seharusnya mereka jujur diasaat situasi anin begini makin Buat anin tertuduh yg selingkuh
Herta Siahaan
El yg ganteng selidiki donk. masa masih jg oon ya. Elvira mendadak hadir dan membiarkan Anin tersiksa dan malah menuduh anin tanpa merasah bersalah hnya dgn melihat aja
Herta Siahaan
hadehhh selalu begitu ya.. hamil tanpa diketahui suami dan akhirnya sianak tanpa ayah. anak jg yg jadi korban
Herta Siahaan
buka mata kalian wahai orang tua. gimana kalau anakmu dipoligami mau.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!