"Apa-apaan sih loe, pincang! Jangan sok kecantikan deh. Lebih baik pakai baju loe sana! Loe pikir gue bakalan tertarik apa sama loe!" ujar Zayn berkata kasar pada istrinya saat malam pertama mereka.
Varisha Salsabilla Jannah.
Gadis pincang yang baru saja kehilangan suami sekaligus calon anaknya.
Ia bahkan terpaksa harus menikah dengan adik iparnya sendiri, yaitu Zayn Alkautsar.
Adik ipar yang membenci dirinya.
Apakah pernikahan terpaksa ini akan berakhir mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Regazz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Zayn minta maaf
Bab 27— Zayn minta maaf
Zayn terus saja memaksa Varisha sesuai kehendaknya. Varisha hanya bisa berlinang airmata. Hingga akhirnya, Zayn menghentikan aksinya.
Ia langsung turun dari atas tubuh Varisha dan menuruni ranjang. Mengenakan pakaiannya secara asal dan segera keluar dari kamar hotel tersebut.
Brak!
Suara pintu terdengar kuat sekali. Tangisan Varisha juga seketika langsung berhenti, sembari menatap bingung dan sedih kearah pintu kamar.
'Kenapa?' tanya Varisha dalam hati.
•••
1 jam berlalu...
Varisha melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tengah malam.
Zayn belum pulang.
Ia yang semula berbaring diatas sofa, kini mulai bangkit. Ia ingin memejamkan mata sedari tadi. Namun, tak bisa tidur.
"Dia kemana?" gumam Varisha.
"Akh, lagian apa peduliku. Ia juga pasti tak peduli jika aku peduli padanya atau tidak,"
Varisha hening sejenak sembari berpikir.
"Mungkin saja ia ke kamar Adinda dan melakukan hal itu..."
Namun, ucapan Zayn beberapa saat yang lalu kembali teringat olehnya.
"...Dan asal loe tau aja, gue bukan cowok kayak diluaran sana yang bisa tidur dengan perempuan lain. Termasuk, Adinda. Guemasih perjaka, nggak kayak loe yang udah jadi bekas orang lain."
"Apa benar ucapannya itu? Bahwasannya, ia tak pernah tidur sama sekali dengan Adinda atau wanita lainnya?"
Sudut bibirnya sedikit terangkat.
Namun, terasa getir karna tiap kali Zayn menyebutnya ‘bekas orang lain’.
"Jadi, ia melakukan itu pertama kali denganku?"
Ia mendapati satu fakta. Bahwa, Zayn masihlah pria lajang yang utuh sebelum menikah dengan dirinya.
Varisha langsung berjalan mengambil ponsel.
Ia mulai menelpon Zayn.
Tapi, ponsel pria itu berada diatas ranjang.
Bel kamar hotel berbunyi.
"Apa itu mas zayn? Kalau iya, kenapa pakai ketuk pintu segala?"
Varisha membuka pintu.
Di hadapannya ada dua polisi yang menggapit tubuh Zayn.
"Mas!!" kaget Varisha.
"Dia kenapa?" Varisha bertanya dengan menggunakan bahasa inggris.
"Dia membuat onar di bar sekitar sini. Apakah anda walinya?"
"Saya istrinya."
"Tolong tanda tangani ini."
Polisi membawa tubuh Zayn masuk.
"Terimakasih, pak."
Varisha menghampiri Zayn.
"Mas! Mas! Mas Zayn!"
Ia membuka sepatu Zayn.
'Kenapa dia jadi mabuk begini?'
"Varisha~"
Varisha terdiam.
Dia memanggilku?
"Varisha~"
"Ada apa mas?"
Zayn menarik tangan Varisha dan menempelkannya ke pipinya.
"Jangan tinggalkan aku."
"Tetaplah disini, Varisha."
Varisha duduk di sisi ranjang.
Zayn langsung memeluk pinggang Varisha.
Begitu erat dan…
Manja?
Deg!
Varisha menatap wajah Zayn.
"Jika saat tidur begini. Dia jadi seperti anak kecil yang polos. Tapi ketika sudah bangun, ia akan jadi singa yang buas."
Ponsel Zayn berdering.
Nama Adinda muncul.
Notifikasi masuk.
Adinda : Datanglah ke kamarku, Zayn. Kita lanjutkan yang tadi, ini adalah momen pertama di dalam hidup kita.
"Berarti, ucapannya tadi benar. Bahwa ia tak pernah tidur dengan Adinda?"
Varisha teringat Adinda berciuman dengan pria asing.
"Tidak. Tidak akan aku biarkan mas zayn bersama wanita penipu seperti Adinda."
“Maa…”Zayn mengigau.
Namun tak jelas bagi Varisha.
“Apa mas?”
“Maaf…”
Deg!
Varisha kaget, “dia minta maaf?”
Saat ingin bertanya lagi, terdengar suara dengkuran dari Zayn. Varisha merasa bingung saat ini.
Apakah Zayn sedang meminta maaf padanya?
Ini sungguhan?
Atau…
•••
Keesokan paginya.
Zayn terbangun.
Ia kaget melihat tangannya merangkul pinggang Varisha.
Varisha tidur dengan posisi terduduk dengan kepala Zayn yang berada diatas pangkuan wanita tersebut.
‘Apa aku tadi malam…’
Zayn mendadak mual. Ia langsung berlari ke kamar mandi.
Varisha ikut terbangun.
"Mas!”
Ia berjalan dengan susah payah dengan tongkatnya untuk menghampiri Zayn yang sedang muntah di wastafel.
Varisha mencoba membangun dengan memijit leher Zayn.
Namun ditepis.
"Loe gak usah sok baik deh!!"
Wajah Varisha menjadi murung.
"Aku akan membuatkan bubur hangat."
Melihat wajah Varisha yang murung, Zayn merasakan hal aneh dalam dadanya.
‘Bodo amat!’batin pria yang kini sibuk menatap dirinya dopangulan cermin wastafel.
Tak lama bubur tersaji diatas meja makan.
"Silahkan mas~"
Zayn menatap semangkuk bubur di hadapannya dengan perasaan jijik."Loe mau bunuh gue ya? Gue gak suka bubur."
"Tapi ini bisa membuat kamu lebih baik, mas.”
"Tolong nikmati saja sedikit~"
"Loe budeg ya, gue bilang enggak ya enggak!!"
Varisha langsung membawa kembali bubur itu. Wajahnya begitu sedih.
Zayn melihat ekpresi sedih itu kembali merasakan ada yang aneh dalam dirinya.
'Dia bahkan tak mau mencoba makananku sama sekali...'batin Varisha yang akan melangkah ke dapur.
Zayn menggaruk kepalanya dengan kasar, "Hei, cepat buatkan gue kopi."
Varisha menoleh, wajahnya seperti penuh harap. Baru kali ini Zayn menyuruhnya untuk membuatkan sesuatu.
Melihat wajah Varisha yang gembira, Zayn semakin salah tingkah.
Ia bahkan tak mau menatap Varisha.
“Ce-cepat loe buatin, malah senyum-senyum loe!” sarkasnya dengan mata melirik kiri-kanan.
“Baik, mas.” Varisha segera menuju dapur.
Tak lama, Varisha segera keluar dari dapur. Namun, mendadak ekpresi wajahnya berubah saat melihat Adinda duduk mesra di pangkuan Zayn.
Cemburu.
Kesal.
"Hai pincang! Kasihan banget, pasti dihukum habis-habisan oleh Zayn."ejek Adinda.
Varisha meletakkan kopi.
“Mas, kiita harus menjenguk ayah di rumah sakit." Varisha angkat bicara.
"Loe aja. Gue lebih suka sama Adinda disini."
Zayn membelai wajah Adinda.
Wanita itu tentu saja langsung bersandar manja di dada bidang milik Zayn.
Varisha menatap mereka berdua dengan pandangan jijik.
"Mas,, dia ayahmu!"
"Dia memang bokap gue. Loe aja yang anak yatim piatu.!"
"Terserah padamu!" jawab Varisha yang ingin beranjak pergi.
Namun, dicegat oleh Adinda.
"Heh pincang! Cepat loe pijat kaki gue!"
"Aku tidak mau!"
Tuk!
Tongkat Varisha jatuh.
Adinda yang menendangnya. Beruntung Varisha bertumpu segera pada sofa.
"Cepat pijit kaki gue!"
Varisha kesal.
Ia mengambil tongkat dan memukul kaki Adinda.
"Aku bukan pembantumu! Dasar pelacur!"
"Akh! Sakit! Zayn dia memukulku!"
Zayn datang dengan tatapan murka.
"Sakit Zayn~"rengek Adinda lagi. Padahal Varisha memukulnya hanya pelan.
Plak!
"Beraninya loe mukul dia!!"
Varisha merasa pipinya begitu sakit sekali.
To be continue…
.. smangat untuk kak author .. sdah ngh sbar nungu bab berikutnya