Novel ini bercerita tentang Direktur tampan yang ditinggal mati oleh sang istri, Sang istri pergi untuk selamanya, Meninggalkan satu anak yang masih berusia 1 tahun lebih.
Sebelum meninggal sang istri memberikan amanah pada suaminya, Untuk menikahi Baby sister anaknya.
Sebenarnya sang Baby sister juga sudah mempunyai kekasih, Namun karena sebuah amanah akhirnya sang baby sitter terpaksa menikahi suami majikannya.
Ntah akan seperti apa kehidupan mereka kedepannya, Penasaran ikutin yuk ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maisy Asty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29.Keluh kesah Diana.
"Tapi mas kenapa harus pindah?" Tanya Diana dengan tatapan bingung.
"Diana, Bisakah kamu tidak banyak tanya dan ikuti saja apa kataku!" Jawab Wisnu agar Diana tidak banyak bertanya lagi.
"Tapi mas...." Kata-kata Diana terpotong.
"Tidak ada tapi-tapian, Aku mau kita pindah ya pokoknya pindah!" Tegas Wisnu yang tidak mau mendengar penolakan dari Diana.
Wisnu tidak mau memberitahukan kenapa dirinya ingin pindah dari rumah itu, Karena Wisnu berpikir jika Wisnu memberitahukan pada Diana, Pasti Diana akan langsung besar kepala.
Wisnu meminta pindah dari rumahnya karena Wisnu tidak ingin, Kehidupan rumah tangga Wisnu yang baru terus dibayang-bayangi oleh mendiang istrinya yang sudah tidak ada.
Dirumah itu begitu banyak kenangan indah dengan Anita dulu, Dan Wisnu ingin meninggalkan kenangan itu bukan berati Wisnu melupakan Anita, Wisnu hanya ingin menjaga hati dan perasaan Diana saja. Wisnu sadar jika mereka tetap tinggal dirumah ini maka itu tidak adil untuk Diana, Bayangkan saja baju-baju Anita masih tertatah rapi dilemari kamar Wisnu, Foto-foto Anita masih terpanjang tapi disetiap dinding dan kamar Wisnu dan Anita dulu.
"Mas, Apa kamu tidak apa-apa jika kita pindah dari sini? Lalu Hana bagaimana? Hana masih bersama mama mas." Tanya Diana panjang lebar.
"Diana kamu cukup ikuti apa kataku, Untuk urusan Hana aku akan mengurusnya." Wisnu kembali mempertegas perkataannya.
"Hmm mas, Tapi kita mau pindah kemana?" Jawab Dia malas, Dan lagi-lagi Diana bertanya pada Wisnu.
"Pindah ke kota xx disana ada rumahku yang sudah lama tidak aku tempati, Besok kita langsung pindah kesana, Aku akan menyuruh orang menyiapkan semuanya, Kamu juga tidak usah membawa barang apa-apa dari sini, Disana aku akan menyiapkan semuanya termasuk bajumu kamu tidak perlu membawa semua itu paham!!" Dengan tegas Wisnu memerintahkan Diana, Dan tentunya tidak mau dibantah oleh Diana.
"Iya mas." Jawab Diana singkat.
Wisnu melirik Diana dengan tatapan kesal, Wisnu mematikan hairdryer dan menaruhnya diatas nakas meja.
"Mas ini rambutnya belum kering." Omel Diana dengan kesal.
Diana kesal karena tadi Wisnu yang ingin membantunya mengeringkan rambutnya. Tapi Wisnu juga yang tidak mau melanjutkan mengeringkan rambut Diana.
"Keringkan sendiri."Cetus Wisnu yang tidak mau melihat wajah cantik Diana.
"Enak saja, Aku bicara panjang lebar dan kamu cuma jawab Iya mas." Gerutu Wisnu dalam hatinya.
Diana melanjutkan mengeringkan rambutnya.
"Dasar tidak jelas tadi dia yang mau membantuku, Sekarang dia juga kesal tiba-tiba, Emang dasar labil kamu mas." Gerutu Diana dalam hatinya.
Setelah Diana selesei dengan urusan rambutnya Diana pergi meninggalkan kamarnya, Dan meninggalkan Wisnu begitu saja.
"Diana," Panggil Wisnu, Tapi Diana tidak menjawabnya dan berlalu pergi begitu saja.
"Dasar istri durhaka." Gerutu Wisnu yang langsung mengejar Diana.
Diana duduk diruang tengah, Wisnu juga mengikutinya sekarang Wisnu seperti kucing yang terus-terusan mengekor pada Diana.
Sekarang mereka hanya diam-diaman sambil melihat televisi.
Jam menunjukkan pukul 7 malam, Diana duduk di teras depan rumahnya sambil melihat pemandangan malam ini yang begitu indah dan terang bulan.
"Mama, Papa, Aku doakan kalian bahagia disurga sana, Lihatlah sekarang Diana sudah menikah hanya saja Diana menikah karena sebuah amanah yang harus Diana jalanin ma."
"Mama tahu Diana selalu berharap suami Diana bisa menerima Diana dan pernikahan ini, Tapi sayangnya dia belum bisa menerima kenyataan ini ma."
"Dia kadang galak, Kadang ketus bahkan sikap dia berubah-ubah setiap saat, Diana kadang lelah ma jalanin semuanya."
Sambil melihat indahnya pemandangan malam hari di depan teras rumahnya, Diana berkeluh kesah pada sang mama yang sudah berada di surga sana.
"Apa kamu harus mengeluhkan semuanya pada orang sudah tidak ada di dunia ini?" Tanya Wisnu tiba-tiba, Wisnu duduk disamping Diana.
"Kamu mengagetkanku saja mas, Aku hanya sedang bercerita pada mamaku yang sudah ada surga sana mas." Jawab Diana yang kaget karena kedatangan Wisnu.
"Kamu bisa keluhkan semuanya padaku!" Pinta Wisnu membuat Diana tertawa.
"Apa aku harus berkeluh kesah padanya, Dan yang aku keluhkan itu dirimu yang suka labil mas." Batin Diana.
"Aku tidak mau mas, Aku lebih suka bicara pada mama yang sudah ada disurga, Aku yakin pasti mama akan menyampaikan doa-doaku dan keluh kesahku pada yang diatas." Jawab Diana yang enggan berbagi keluh kesah pada suaminya.
Bukannya Diana tidak mau berkeluh kesah pada Wisnu, Tapi yang Diana keluhkan adalah Wisnu jadi Diana tidak mungkin berkeluh kesah pada Wisnu atau Diana akan kena semprot oleh mulut ketus Wisnu.
Wisnu dan Diana menikmati malam bersama di depan teras, Hingga larut malam mereka tidak sadar ternyata jam sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam.
Wisnu melepaskan jaketnya yang dirinya pake Oleh dirinya dan memakai pada Diana agar Diana tidak merasa keringanan.
"Sudah larut malam, Ayo kita tidur!" Ajak Wisnu sambil membantu Diana bangun dari tempat duduknya.
Wisnu mengajak Diana masuk kedalam rumahnya dan langsung berjalan menuju kamar mereka.
Didalam kamar Wisnu sudah berbaring diatas ranjang, Diana hanya terdiam bingung lalu Wisnu menarik tangan Diana.
"Kenapa hanya diam? Tidurlah sudah malam!" Pinta Wisnu sambil menarik tangan Diana Sampai Diana terjatuh dalam pelukannya.
Kini Diana tepat berada diatas Wisnu, Jantung Diana berdetak kencang membuat Wisnu bisa merasakannya.
"Detak jantungnya bisa aku rasakan." Batin Wisnu yang merasakan detak jantung Diana.
Wisnu menatap mata Diana dengan tatapan lembut, Diana berusaha mengalihkan tatapan matanya tapi Wisnu menahannya agar membuat Diana juga ikut menatap mata Wisnu, Kini keduanya saling tatap menatap.
"Mas..." Dengan suara lirih Diana memanggil Wisnu.
"Kenapa?" Tanya Wisnu.
"Singkirkan tanganmu mas, Aku mau bangun." Pinta Diana karena Wisnu tubuh Diana dengan kedua tangannya.
"Kalau kamu tidak mau, Kamu mau apa?" Tanya Wisnu dengan tatapan menggoda.
Diana terus meronta-ronta, Tapi Wisnu malah membalikkan tubuhnya dan posisi Diana kini tepat dibawah Wisnu.
Wisnu terus menatap mata indah Diana, Membuat Diana semakin deg-degan dan tidak tahu harus berbuat apa?
"Mas jangan terus menatapku seperti itu." Batin Diana yang tidak kuat melihat tatapan Wisnu.
"Mas, Boleh lepaskan aku!" Pinta Diana.
"Aku ini suamimu tapi kamu selalu memintaku melepaskanmu." Omel Wisnu.
Entahlah Wisnu lagi kesambet dedemit mana, Semenjak bertemu dengan Reno. Wisnu benar-benar ingin memiliki Diana tapi Wisnu juga bingung takut Diana akan menolaknya apalagi Diana tahu kalau Wisnu belum menerima sepenuhnya amanah yang diberikan oleh sang istri.
"Kamu bilang kamu ini suamiku, Tapi apa kamu pernah menganggap aku sebagai istrimu selama ini?" Tanya Diana dengan tatapan serius.
Degg.... Hati Wisnu begitu tersentak mendengar pertanyaan dari Diana.
"Diana....."
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊