NovelToon NovelToon
BOUND BY BLOOD, LOCKED BY LOVE

BOUND BY BLOOD, LOCKED BY LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Aliansi Pernikahan
Popularitas:941
Nilai: 5
Nama Author: indri novianti

Siap, ini deskripsi singkat yang diambil dari naskah yang kamu kirim (lebih sesuai dengan konflik, karakter, dan tensinya):

Dalam sebuah perjanjian yang tak bisa dihindari, Talia harus menerima takdirnya untuk menikah dengan Etnan—pria dingin, penuh kuasa, dan menyimpan banyak sisi yang tak terduga.

Di balik hubungan yang terlihat formal, terselip ketegangan, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap. Kehadiran Sophia yang obsesif, serta perasaan tersembunyi dari orang-orang di sekitar mereka, membuat hubungan itu semakin rumit.

Namun di antara sindiran, sentuhan yang tak diinginkan, dan emosi yang saling ditahan—perlahan tumbuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kewajiban.

Cinta yang seharusnya tidak ada… justru mulai mengikat mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 : Perjalanan Menembus Keheningan

Jamuan makan malam yang menguras emosi itu akhirnya selesai. Setelah sesi pamitan yang penuh ketegangan—di mana Reymond memberikan tatapan seolah siap memburu Ethan jika seujung kuku Talia terluka—sepasang pengantin baru itu kini berada di dalam mobil mewah yang membelah jalanan kota malam hari.

Talia duduk bersandar di dekat jendela, melempar pandangannya ke luar, menatap lampu-lampu jalan yang bergerak cepat. Gaun pengantin putihnya yang megah kini terasa begitu berat dan menyesakkan, persis seperti status baru yang disandangnya.

Di kursi kemudi, Ethan Noah Taylor fokus menatap jalanan di depan. Rahangnya mengeras, mencengkeram setir mobil dengan erat hingga urat-urat di punggung tangannya menyembul. Aroma mint yang sempat Talia rasakan di rooftop kini bercampur dengan keheningan mencekam di dalam kabin mobil.

Tidak ada musik. Tidak ada obrolan hangat layaknya sepasang pengantin baru yang berbahagia. Pernikahan hasil perjanjian damai para buyut ini benar-benar terasa seperti sangkar emas.

"Kau tidak perlu memasang wajah seperti itu di depanku, Ethan," suara Talia akhirnya memecah kesunyian, datar tanpa intonasi. "Orang tua kita tidak ada di sini. Kau bebas melepaskan topeng menantumu yang terpaksa itu."

Ethan mendengus pelan, tawa sinis yang hambar lolos dari belahan bibirnya. "Aku tidak sedang bersandiwara, Talia. Jika aku ingin memasang topeng, aku akan berpura-pura menggenggam tanganmu saat ini. Tapi seperti yang kau lihat, aku bahkan malas untuk sekadar menoleh ke arahmu."

Kalimat itu menancap telak di dada Talia, namun ia menolak untuk terlihat terluka. "Baguslah. Setidaknya kita sepakat untuk saling asing di luar dokumen negara itu."

Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah mansion mewah bergaya minimalis modern yang terletak di kawasan elite yang sunyi. Rumah baru ini adalah hadiah pernikahan dari keluarga Taylor, sebuah bangunan megah yang tampak indah dari luar, namun terasa begitu dingin di dalam.

Ethan turun lebih dulu tanpa berniat membukakan pintu untuk Talia. Talia menghela napas panjang, mengangkat sendiri ekor gaunnya yang menjuntai, lalu melangkah menyusul sang suami memasuki rumah.

Begitu pintu utama tertutup rapat, mengunci mereka berdua dari dunia luar, Ethan langsung memutar tubuhnya menghadap Talia. Ia melonggarkan dasi pernikahan yang mencekik lehernya, lalu menatap Talia dengan sorot mata yang kembali sedingin es.

"Dengar baik-baik, Natalia Oliver Smith," ucap Ethan, menyebut nama lengkap Talia untuk menegaskan jarak di antara mereka. "Rumah ini mungkin menjadi bukti bagi dunia bahwa perjanjian damai leluhur kita telah terpenuhi. Tapi di dalam sini, kita hidup di dua dunia yang berbeda."

Talia melipat kedua tangannya di dada, menantang tatapan kelam suaminya. "Katakan saja apa maumu, Ethan. Jangan berbelit-belit."

"Kamar kita terpisah. Kau di kamar utama di lantai atas, dan aku akan menggunakan kamar di ujung koridor bawah," cetus Ethan tegas. "Jangan pernah mencampuri urusan pribadiku, dan jangan pernah berharap aku akan menjalankan peran sebagai suami yang sesungguhnya untukmu."

Talia tersenyum tipis, sebuah senyuman sarkas yang menyembunyikan rasa sesak yang kian menghimpit. Perlakuan dingin ini sangat kontras dengan pagutan intens dan memabukkan yang Ethan berikan padanya di rooftop hotel beberapa hari yang lalu.

"Perubahan sikap yang luar biasa, Tuan Taylor," sindir Talia, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Ethan. "Lalu bagaimana dengan apa yang terjadi di rooftop itu? Ciuman penuh damba itu... apa itu juga bagian dari dua dunia yang berbeda?"

Mendengar kata rooftop, kilat emosi yang tertahan sempat melintas di mata Ethan. Jakunnya naik-turun saat pandangannya tanpa sengaja turun menatap bibir ranum Talia yang kini bebas dari lipstik tebal. Sisa rasa dari lumatan malam itu seolah kembali memercikkan api di antara mereka.

Ethan mengikis jarak, membungkuk sedikit hingga wajah mereka sejajar, menyemburkan napas hangat beraroma mint yang membuat jantung Talia berdesir liar.

"Aku sudah bilang untuk melupakan hari itu. Itu hanya sebuah kekhilafan, Talia," bisik Ethan, suaranya mendadak serak namun sarat akan penolakan. "Dan aku jamin, kekhilafan seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi di dalam rumah ini."

Setelah mengatakan itu, Ethan berbalik secara sepihak, melangkah lebar meninggalkan Talia sendirian di ruang tengah yang luas dan sepi, memulai malam pertama pernikahan mereka dengan dinding pembatas yang teramat tebal.

"Cih, dia berlakon seolah adalah korban, padahal aku juga demikian. Tapi kenapa seolah akulah yang menginginkan pernikahan ini?"

"Ternyata setelah ikrar janji suci dialtar pun tak merubah kenyataan bahwa namaku masih Natalia Oliver Smith bukan Natalia Ethan Taylor." gumam Talia miris akan takdir kehidupannya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Jam dinding di ruang tengah berdentang lambat, menandakan waktu telah melewati tengah malam. Di dalam mansion megah yang baru saja menjadi saksi bisu bersatunya dua dinasti besar, keheningan terasa begitu pekat dan menekan.

Di lantai atas, Natalia Oliver Smith—Talia—berdiri di tengah kamar utama yang terlampau luas untuk dirinya sendiri. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia perlahan melepas gaun pengantin putihnya. Kain satin mewah itu luruh ke lantai beton berpola marmer, menyisakan Talia yang kini hanya mengenakan piyama sutra tipis berwarna putih tulang.

Talia melangkah menuju balkon kamar. Angin malam langsung menerpa wajah dan rambutnya yang kini terurai bebas. Ia menatap ke arah taman bawah yang gelap gulita. Dada Talia berdenyut nyeri, bukan hanya karena sikap dingin Ethan Taylor, melainkan karena rasa asing yang tiba-tiba merayap di hatinya. Pernikahan hasil perjanjian damai para buyut ini baru saja dimulai beberapa jam lalu, namun rasanya ia sudah dikurung di dalam penjara paling dingin di dunia.

Ia menyentuh bibir bawahnya dengan ujung jemari. Sisa kehangatan dan lumatan penuh damba dari Ethan di rooftop hotel seolah masih tertinggal di sana, membakar indranya.

"Kekhilafan, katamu?" bisik Talia pada sunyinya malam, menirukan ucapan suaminya di ruang tengah tadi. Air mata yang sejak sore ia tahan di depan keluarga besar Smith akhirnya menetes satu demi satu di pipinya.

"Kenapa kau harus menciumku seperti itu jika pada akhirnya kau hanya ingin membuangku seperti ini, Ethan?"

Talia memeluk tubuhnya sendiri yang mendadak menggigil. Di malam pertamanya sebagai seorang istri, ia justru meratapi nasib di kamar yang asing, sendirian, tanpa ada pelukan hangat yang menenangkannya.

Sementara itu, di lantai bawah, di dalam kamar yang berada di ujung koridor sunyi, Ethan Noah Taylor juga belum memejamkan mata. Pria itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana kain hitam panjang. Ia duduk di tepi ranjang dengan kedua siku bertumpu pada lutut, menatap lurus ke arah lantai dengan pandangan kosong.

Napasnya terdengar berat di dalam keheningan kamar. Ethan frustrasi. Ia meraup wajahnya dengan kedua tangan, berusaha keras mengusir bayangan Talia yang terus-menerus menginvasi kepalanya sejak mereka turun dari panggung pelaminan.

Setiap kali ia memejamkan mata, ingatan tentang bagaimana tubuh mungil Talia bersandar pasrah di bawah kukungannya di pagar rooftop kembali berputar. Ia ingat betul bagaimana rasa manis dari bibir ranum gadis itu, aroma tubuh Talia yang memabukkan, dan bagaimana jemari Talia melingkar di lehernya malam itu. Tubuh Ethan kembali menegang, bereaksi terlalu liar hanya karena membayangkan kilasan memori tersebut.

Ethan berdiri, berjalan gusar mendekati jendela kamar bawah yang mengarah ke halaman samping. Ia meraih segelas whiskey di atas meja, lalu meneguknya dalam satu kali tegukan, berharap alkohol keras itu bisa membakar rasa bersalah dan gairah gila yang sedang menyiksanya.

"Sialan," umpat Ethan rendah, suaranya serak. Rahangnya mengeras hingga urat lehernya menyembul.

Ia membenci kenyataan bahwa ia terikat oleh sumpah darah kuno para buyutnya. Ia membenci fakta bahwa kebebasannya direnggut demi sebuah perdamaian masa lalu. Namun, yang paling ia benci malam ini adalah dirinya sendiri—karena jauh di dalam lubuk hatinya, egonya terluka melihat Talia menangis, dan tubuhnya mati-matian menolak untuk menjauh dari kamar lantai atas.

 Ethan mendengar tangisan Talia dari balkon atas. Jelas teramat jelas untuk sekedar membelah kesunyian malam.

Malam pertama mereka terlewati tanpa sentuhan, namun dipenuhi oleh perang batin dan ketegangan gairah yang terpendam di balik dinding es yang mereka bangun masing-masing.

1
Amila FM,IG:amilaeditslife
seruuu, recommended kalau yang suka cerita pasangan powerful
Amila FM,IG:amilaeditslife
tolong itu si Ethan jgn plin plan, nggak usah kebanyakan ngeles dan sandiwara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!