Vita adalah seorang gadis jenius yang merupakan anak angkat, yang sering
mendapatkan perkataan tidak bersahabat dari ibunya. Pada kelas tiga SMA dia
pindah dari Surabaya ke Jakarta dan bertemu dua laki-laki populer yang
menyukainya. Andra dan Rafka. Andra adalah penerima juara umum selama
bertahun-tahun, dan Rafka adalah siswa tukang bolos yang tak asing bagi Vita.
Kemudian Vita berteman dekat dengan keduanya, terutama dengan Rafka.
Di sekolah, bersama teman-teman barunya ini, Vita akan mengalami
pengalaman terasa begitu
manis. Vita akan bertengkar dengan sepupunya, dibully oleh teman sekelasnya,
tapi tidak ada yang dapat membuat Vita takut atau berhenti berteman dengan
Rafka juga dekat dengan Andra.
Hingga beberapa bulan kemudian Vita bertengkar dengan Rafka
setelah Vita menolak Andra. Namun, pertengkaran itu
tidak bertahan lama, Vita dan Rafka kembali bersahabat. Dan Vita pun pergi ke
London. Meninggalkan Rafka yang khawatir dan Andra yang menanti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
“Rafka punya pacar?”
“Enggak.”
“Kemarin dia bilang punya.”
“Satu-satunya cewek yang punya prospek terbesar pacaran sama Rafka dalam beberapa bulan terakhir ini, ya, cuma lo doang.”
“Aku...” Vita salah tingkah.
“Jangan pura-pura gak tahu. Buat gue lo gak keliatan kayak cewek yang gak tahu apa-apa. Gue gak sebego temen gue tahu,” Genta tersenyum, “Atau Rafka sebenarnya pura-pura bego. Gue gak ngerti.”
Tak ada tanggapan dari Vita. Ia hanya merasa, anehnya, lega saat Genta mengatakan bahwa Rafka single. Sejak Rafka mengatakan bahwa ia memilki seorang kekasih, Vita tak bisa berhenti memikirkannya. Ia merasa sudah begitu dekat dengan Rafka, mereka bahkan saling mengungkapkan rahasia masing-masing, saling mempercayai. Sulit rasanya menerima kenyataan Rafka tak menceritakan tentang kekasihnya. Ia sebenarnya tak terlalu mengerti apa hanya itu yang dirasakannya.
Ponsel Vita bergetar, ia meraihnya dari saku.
Pesan dari nomor tak di kenal.
Ia membukannya, berbunyi: *kolam renang*.
Apa Rafka menukar nomornya? Tapi kenapa tak menyertakan nama agar Vita tak bingung?
Vita mengangkat ponselnya ke muka wajah Genta. “Tahu nomor ini, enggak?”
Genta memerhatikan setiap digit angka yang ditodongkan Vita. “Gue aja gak inget nomor HP gue.”
Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Setidaknya Rafka dapat diandalkan untuk mengingat nomor ponsel daripada Genta.
“Aku pergi dulu, ya.” Vita berlalu, meninggalkan Genta yang memandanginya dengan raut tak terbaca.
\*\*\*
Vita melenggang santai mendekati tepi kolam renang. Hening sekali di sini. Air kolam pun sangat tenang, hanya ada bayangannya sendiri yang mengisi. Nyaris tak ada suara di tempat ini. Sebenarnya ia tak terlalu suka di dekat air yang lebih dalam dari tingginya. Tapi kali ini pengecualian.
Vita menghembuskan napas panjang. Senang mendapatkan ketenangan setelah suara riuh rendah di kelas Genta tadi. Tapi nyaman sekali di kelas teman Rafka itu. Tak seperti kelasnya yang banyak dipenuhi orang-orang kaku.
Ngomong-ngomong, di mana orang yang mengiriminya pesan? Ia tak suka ini. Siapa sebenarnya yang butuh? Kenapa ia yang harus menunggu?
Vita menoleh ke belakang. Ini bukan sepupu Rafka itu ‘kan yang mengerjainya? Awas saja.
Ia akan menunggu di sini sebentar. Mungkin sepuluh menit, jika tak ada yang datang, ia akan pergi. Ia bukan orang yang sabar menunggu. Apalagi ini pesan tidak jelas. Ia jadi mulai merasa bodoh sudah mengikuti instruksi tanpa nama ini. Sepertinya ia sering merasa bodoh akhir-akhir ini.
Vita mengeluarkan ponselnya dan mulai mendengarkan lagu menggunakan *earphone*, seperti biasa. Ia merendahkan volume ponselnya, mencegah agar ia tidak tuli di usianya yang masih muda.
Dengan lagu yang mengalun lembut di telinganya, Vita memandangi permukaan air yang nampak dasarnya. Cukup lama ia memandangi itu tanpa berkedip. Bak besar di hadapannya ini sedalam dua meter. Ia akan tenggelam jika masuk ke dalam sana. Bicara tentang tenggelam, jauh di dalam hatinya, Vita masih memiliki keinginan untuk mengalahkan ketidakmampuannya pada hal renang. Namun itu sulit sekali. Sangat sulit hingga ia memutuskan untuk menyerah dan sebisa mungkin tak terlalu sering datang ke tempat yang dapat menenggelamkannya. Itu karena ia tak mau mati tenggelam. Pasti rasanya sesak sekali. Tak ada udara yang bisa di hela, hanya air yang dapat di telan. Sangat menyedihkan, mati karena putus asa mencari udara. Mengerikan membayangkannya.
Angin berhembus dari belakang Vita. Ia berkedip. Ada kerut kecil di sudut bibirnya. Ah....
Sekonyong-konyong, tanpa tanda apapun, Vita berputar ke sisi, lalu mendorongkan tangannya dengan keras.
Byurr!
Tak ada lagi keheningan. Tak ada lagi bayangan dirinya. Semuanya buyar karena sosok yang tiba-tiba menjerit sembari mengepak-ngepakan tangannya dengan bising. Vita memandang sosok itu dengan pandangan kasihan dan geli. Ia sebisa mungkin menyembunyikan senyumnya yang hampir tak tertahankan untuk terbit.
Vita menunduk, ia mengulurkan tangannya. “Reina!” panggil Vita.
Reina tak mengubris panggilan maupun uluran tangan Vita. Ia lebih memilih berenang ke ujung kolam setelah mengatasi kekagetannya. Vita sendiri, jujur saja, meresa lega Reina tak menyambut tangannya. Sembilan puluh sembilan persen kemungkinannya Reina akan menariknya jatuh saat menyambut tangannya. Kecil kemungkinan gadis itu tak melakukannya, mengingat untuk itulah Reina menyuruhnya ke sini, untuk memasukkan ke dalam kolam. Padahal Reina tahu pasti bahwa ia—Vita—tak bisa berenang sebab Vita pernah mengatakannya pada guru Penjas.
Tindakan Reina mulai menjurus ke hal kriminal. Kalau ia tadi benar-benar tenggelam, ia tak akan berpikir dua kali untuk melaporkan Reina pada guru seandainya ia bisa keluar. Dan jika guru-guru tak menggubris laporannya, ia akan melaporkannya ke polisi atas tuduhan percobaan pembunuhan. Lalu, bila ia mati, ia akan menghantui Reina seumur hidup gadis itu.
Reina harus berterima kasih karena angin membawa aroma parfumnya yang menyengat ke depan hidung Vita, sehingga ia dapat dengan cepat mengetahui ada yang datang. Selain itu, untunglah Vita pandai mengingat aroma, jadi ia mengenali aroma Reina dan otaknya bekerja cepat untuk menginterpretasikan apa yang akan dilakukan gadis itu, karena telinganya sama sekali tak dapat memberikan sinyal adanya orang lain yang datang.
Vita bangkit. Reina sudah naik dan tengah melangkah bersama pakaian dan rambutnya yang basah kuyup ke arahnya. Vita baru sadar Reina sendiri, tak ada dua follower setianya. Mmm... mungkin mereka tak mau terlibat dalam kekonyolan Reina yang akan menjerat mereka ke hukuman yang tak main-main. Baguslah. Beberapa rasa takut itu dapat mengontrol seseorang untuk tak melakukan kebodohan, salah satunya yang dilakukan kedua pengikut Reina.
“Heh!” Reina mendoba mendorong Vita, namun Vita lebih dulu mundur dengan tangan terangkat setinggi dada, lalu berkata, “Aku gak mau basah-basahan.”
Wajah Reina memerah. Tangannya langsung terjatuh dan terkepal. “Sial—”
“Jangan ngumpat!” sela Vita cepat. Ia benar-benar tak suka ada yang mengumpat padanya. Untuk beberapa orang, Vita masih bertoleransi, tapi tidak dengan Reina. Beberapa waktu yang lalu gadis itu mencoba membahayakan nyawanya, ia tak akan melupakannya, tak akan pernah, dan ia tak begitu baik untuk memaafkannya begitu saja.
“Berani-beraninya lo nyuruh-nyuruh gue!” teriak Reina.
“Jangan teriak-teriak,” ucap Vita datar, “Sekali lagi kamu nyari masalah sama aku, aku gak akan mikir dua kali buat laporan. Aku lunak sama kamu, cuma karena kamu sepupu Rafka—”
“Dia bukan sepupuku, kok,” Rafka memotong ucapan Vita begitu muncul di dekat pintu masuk. “Ya ‘kan, Rein? Kamu sendiri ‘kan yang bilang kalo kamu gak punya saudara kayak aku?”
“Itu karena kamu sering bikin malu keluarga,” balas Reina pedas untuk ucapan Rafka.
Rafka melangkah mendekat sambil berkata, “Satu-satunya keluarga gue itu udah meninggal, dan gue rasa dia gak pernah malu punya anak yang ganteng dan populer kayak gue,” pada Reina yang langsung termangu mendengar balasan Rafka.
Senyum merekah di wajah Rafka.
Ekspresi Reina tak karuan saat ia melenggang pergi dengan langkah lebar plus cepat. Sepotong wajahnya, Vita kira, seperti ingin menangis. Bila Reina memang tak menganggap Rafka sebagai saudaranya lagi, seharusanya Reina tak akan merasa bersedih karena ucapan Rafka. Kadang ia merasa Reina tak seperti sosok yang ditampilkannya.
“Di loker gue ada kaos olahraga!” teriak Rafka pada Reina.
Walaupun Rafka terlihat sudah tak perduli pada Reina, toh, nyatanya laki-laki satu ini masih perduli. Ada apa sebenarnya pada kedua sepupu ini? Seadainya dugaannya benar tentang Reina, kenapa keduanya harus nampak saling tak perduli? Kalau ada masalah, kenapa tak ada yang mau lebih dulu minta maaf? Buruk sekali cara keduanya dibesarkan.
“Aku gak punya pacar,” ucap Rafka yang tiba-tiba sudah beralih memandang Vita, “gak dekat sama cewek manapun selain kamu. Kemarin aku cuma bercanda. Karena gak mungkin kamu gak tahu kalo aku lagi pacaran, soalnya, rencananya aku—”
“Vita!”
Vita dan Rafka menoleh ke sumber suara. Menemukan Budi alias Brian, laki-laki yang di kelas duduk di depan Rafka. Brian berdiri dengan kertas-kertas berada di satu tangannya.
“Lo dicariin sama Andra tadi. Terus lo Raf... lo dicariin Bu Kanya,” suaranya semakin mengecil di akhir kalimat.
Syukurlah. Syukurlah. Vita melenggang menyusul Brian. Ia punya firasat Rafka akan mengatakan sesuatu yang membuat situasi di antara keduanya akan terasa tidak enak.
“Nanti di perpus, ya!” teriaknya untuk Rafka sebelum menghilang dari pandangan laki-laki itu.
\*\*\*
Vita mempertegas gambar yang baru saja dibuatnya sembari Rafka mengerjakan post test yang diberikannya untuk mengevaluasi pengetahuan laki-laki itu pada bab yang baru saja mereka selesaikan.
Vita mulai menggambar background sketsa laki-laki yang digambarnya. Laki-laki itu sedang duduk di belakang meja, menekuni bukunya dengan pensil terpegang di tangan kanannya. Untuk latar belakangnya, Vita melukiskan rak-rak buku yang berjajar teratur.
Betul. Vita memang berniat membuat sketsa Rafka—tanpa lebam di sudut bibirnya tentu, namun ia rasa gambarnya tak menyerupai seperti yang selalu dilakukannya. Laki-laki di permukaan kertasnya lebih menyerupai... Andra. Laki-laki di dalam gambar mempunyai rambut yang lebih rapi di banding Rafka dalam keadaan sebenarnya. Rambut Rafka agak panjang. Dan lagi, Rafka yang pada nyatanya memiliki bahu yang lebih lebar dan kokoh, tak seperti gambar yang memiliki bahu yang lebih sempit. Ah... ia menggambar Andra, bukannya Rafka. Ada apa dengan otaknya? Kenapa ia jadi eror seperti ini?
Vita mengernyit. Serangan sakit kepala menderanya. Sakit sekali. Ia menurunkan tangannya dari meja. Dengan erat ia menggenggam pensil di tangannya. Ia menundukan kepalanya lebih dalam dengan mata terpejam. Ia butuh obat sakit kepala. Sebaiknya ia pergi ke UKS.
Vita mengangkat wajahnya. Padangannya yang tertuju pada Rafka mengabur. Vita mengerjapkan matanya beberapa kali, dan pandangannya mulai fokus kembali.
“Kamu kenapa, Cha?” tanya Rafka yang ternyata sudah mengangkat wajahnya. Laki-laki itu mungkin merasakan tatapannya.
“Mules.”
“Pantesan pucet,” ucap Rafka, ia meneliti wajah Vita.
“Aku mau ke toilet dulu, ya?” pamit Vita.
\*\*\*
soal rahasia
gak sebuah rahasia cuma selama ini gak ada yang nanya,jadi gak ada yang tau
ternyata Vita anak angkat,pantes Bu Helena ke vita dah kayak ibu tiri
lihat dr profil nya kak Uci banyak cerita gak sampai ending.
padahal bagus banget lho karya2 dari kak Uci ini....pemilihan katanya oke,penataan kosakata-good,sama perbendaharaan katanya tuh banyak,ceritanya tuh jadi kaya karya penulis2 profesional tau gak.berkelas gitu.
wajib dicetak kedalam buku kak....kaya karya2 kak shephinasera bagus2 semua.
sayang ya q baru sekarang nemu karya sebagus ini....telat banget
jangan lupa feedbacknya 😊🙏😊
semangat up Thor 💪💪