NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Mamba Hitam

Rahasia Sang Mamba Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Joko Joko

Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29 - Reno Jadi Umpan

Reno ingin membatalkan semua jadwal.

Ayla menolak.

“Kamu tetap pergi ke studio Mahardika.”

Ratna langsung berkata, “Tidak! Surya mengancam Reno.”

“Justru karena itu.”

Ratna menatap Ayla seperti dia gila. “Kamu mau menjadikan kakakmu umpan?”

Ayla menjawab, “Surya sudah menjadikannya umpan. Bedanya, kita sadar.”

Reno berdiri di tengah ruang keluarga dengan wajah pucat. “Aku bisa ikut.”

Ratna memegang lengannya. “Reno!”

Reno menatap ibunya. “Ma, kalau aku bersembunyi, dia tetap bisa mencari cara lain. Setidaknya kalau aku pergi dengan pengawasan, kita punya kesempatan.”

Ratna menangis. “Kenapa kalian bicara seolah ini normal?”

Tidak ada yang menjawab.

Karena bagi Ayla, itu normal.

Bagi Arga, itu pekerjaan.

Bagi Maya, itu risiko yang bisa dihitung.

Bagi keluarga Prameswari, ini pertama kalinya bahaya tidak bisa dibayar agar pergi.

Arga mengambil alih. “Reno tidak akan bergerak sendiri. Tim saya mengawal jarak dekat dan jauh. Jadwal studio dibuat seolah normal. Tidak ada unggahan lokasi real time. Ponsel Reno dipantau.”

Manajer Reno tampak ingin pingsan. “Tapi ada reading naskah hari ini. Banyak orang luar.”

“Bagus,” kata Ayla.

Manajer menatapnya ngeri.

“Banyak orang berarti banyak kamera. Surya suka bayangan, tapi dia juga suka panggung. Kalau dia mengancam Reno lewat foto gala, dia ingin kita tahu dia bisa masuk ke dunia hiburan.”

Maya mengangguk. “Mahardika Pictures jadi tempat yang masuk akal untuk langkah berikutnya.”

Alina, yang sejak tadi diam, berkata pelan, “Aku juga dijadwalkan reading.”

Semua menatapnya.

Dia cepat menambahkan, “Kalau aku tidak datang, orang akan bertanya. Dan... mungkin Surya juga mengawasiku.”

Ayla menatap Alina lama.

Alina menahan tatapannya, meski jelas takut.

“Kali ini aku tidak sedang mencari panggung,” katanya lirih.

“Kamu selalu begitu,” jawab Ayla.

Alina menggigit bibir. “Mungkin. Tapi aku tidak mau Mama atau Kak Reno terluka karena aku lagi.”

Reno menatapnya.

Ratna langsung ingin membela, tetapi Marwan menahan tangannya.

Arga berkata, “Alina datang sebagai bagian dari skenario, tapi tidak lepas dari pengawasan.”

Alina mengangguk.

Ayla memperhatikan. Untuk pertama kalinya, Alina memilih masuk ke situasi berbahaya tanpa air mata sebagai senjata utama.

Belum tentu pertobatan.

Tapi mungkin awal dari rasa takut yang lebih berguna.

Studio Mahardika ramai pukul dua siang.

Reading naskah diadakan di ruangan besar dengan meja panjang. Aktor, asisten sutradara, penulis naskah, produser, tim kamera dokumentasi, dan beberapa sponsor hadir. Damar terlihat bahagia sekaligus stres. Maya hadir sebagai investor baru dan langsung membuat semua sponsor lain duduk lebih sopan.

Ayla datang sebagai “konsultan keamanan kreatif”.

Itu istilah buatan Maya.

Arga tidak suka, tetapi tidak punya istilah yang lebih baik untuk menjelaskan kenapa seorang mahasiswi animasi berdiri di sisi ruangan sambil mengamati semua pintu keluar.

Nisa mengirim pesan:

Kamu bolos lagi?

Ayla membalas:

Observasi industri.

Nisa:

Itu kalimat penipu tugas.

Ayla tersenyum kecil.

Damar memulai reading. Reno membaca dialog tokoh penyelidik. Suaranya stabil, profesional. Alina membaca peran perempuan keluarga kaya yang terlibat yayasan busuk. Ironinya begitu tebal sampai beberapa orang yang tahu kasus sebenarnya sulit menatapnya.

Namun Alina membaca dengan baik.

Terlalu baik.

Saat dialognya sampai pada bagian, “Aku hanya ingin keluargaku tetap mencintaiku,” suaranya bergetar sungguhan.

Ruangan diam.

Damar berbisik, “Bagus.”

Ayla melihat Reno. Reno juga terpengaruh, tetapi kali ini tidak kehilangan fokus.

Kemajuan.

Di tengah reading, lampu ruangan berkedip sekali.

Ayla langsung berdiri tegak.

Arga, yang duduk sebagai tamu legal di sisi lain, menyentuh earpiece. “Status?”

Suara Bima masuk pelan. “Koridor aman. Listrik gedung stabil. Kedipan hanya ruangan ini.”

Maya menaruh pena.

Damar berhenti. “Ada masalah?”

Pintu ruangan terbuka.

Seorang kurir masuk membawa buket bunga besar.

“Untuk Pak Reno Prameswari.”

Manajer Reno berdiri. “Kami tidak menerima kiriman saat reading.”

Kurir itu tampak bingung. “Disuruh antar langsung. Sudah dibayar.”

Ayla berjalan mendekat.

Arga juga.

Kurir melihat mereka dan mundur sedikit. “Saya cuma antar, Mbak.”

Ayla menatap buket itu.

Bunga putih. Kartu hitam kecil.

Dia mengambil kartu dengan sarung tangan dari tas Arga sebelum Arga sempat memberikannya.

Arga menatapnya.

“Aku belajar,” kata Ayla.

Di kartu tertulis:

Anak hilang selalu pulang ke keluarga yang salah.

Ayla membuka buket perlahan.

Di tengah bunga ada benda kecil berbentuk flashdisk.

Arga memberi isyarat pada Bima melalui radio. Kurir diamankan di luar. Ruangan reading dibekukan. Semua orang diminta tidak keluar.

Reno berdiri. “Itu untukku?”

Ayla menatap flashdisk.

“Bukan. Ini untukku melalui kamu.”

Alina berbisik, “Apa lagi isinya?”

Maya menjawab, “Kalau mengikuti pola Surya, sesuatu yang ingin membuat kita saling curiga.”

Lestari datang dua puluh menit kemudian dengan perangkat isolasi portable. Flashdisk dibuka di laptop terpisah tanpa koneksi.

Isinya satu video.

Damar, yang seharusnya dikeluarkan, menolak pergi dengan alasan ruangannya dipakai. Akhirnya dia berdiri di sudut, pucat tapi penasaran.

Video dimulai dengan gambar lama rumah Prameswari empat belas tahun lalu.

Ratna muda menangis di depan kamera berita setelah Ayla hilang.

Lalu gambar berganti.

Sebuah dokumen pembayaran.

Nama Marwan Prameswari muncul sebagai penyumbang dana untuk Institut Biomedis Nusantara.

Ruangan reading benar-benar sunyi.

Reno menatap ayahnya melalui layar panggilan video yang tersambung dari rumah.

Marwan pucat. “Itu donasi riset publik. Bukan... bukan eksperimen.”

Ayla menatap dokumen itu.

Surya tidak sedang menyerang Reno.

Dia menyerang pondasi keluarga.

Maya berkata pelan, “Dokumen bisa dipalsukan.”

Arga mengangguk. “Kita verifikasi.”

Namun kerusakan sudah terjadi.

Ratna di layar menangis. “Mas, apa itu benar?”

Marwan tidak bisa langsung menjawab.

Ayla melihat wajah ayah kandungnya.

Untuk pertama kalinya, dia tidak yakin apakah pria itu hanya pengecut.

Atau pernah menjadi bagian dari pintu yang membuatnya hilang.

Saat flashdisk diamankan, Damar mendekati Ayla dengan wajah serius yang jarang terlihat darinya.

“Kalau kamu benar-benar tidak mau main film, aku tidak akan memaksa.”

Ayla menatapnya. “Akhirnya ada orang sadar.”

“Tapi aku ingin meminta izin memakai isu ini dengan benar. Bukan kasusmu. Bukan fotomu. Tapi soal yayasan, anak hilang, dan orang kaya yang membeli citra baik.”

Reno menatap Damar. “Mas, ini sensitif.”

“Aku tahu. Justru karena itu harus hati-hati. Kalau tidak, orang seperti Surya akan terus menulis cerita mereka sendiri.”

Ayla diam.

Dia tidak suka dunia hiburan. Terlalu banyak kamera, terlalu banyak orang menikmati air mata. Tetapi Damar, untuk semua kegilaannya, tidak terdengar seperti ingin menjual luka. Dia terdengar marah.

Maya berkata, “Kalau proyek ini lanjut, aku minta konsultan korban dan tim hukum sejak awal.”

Damar langsung mengangguk. “Setuju.”

Arga berkata, “Dan tidak ada materi yang terkait penyelidikan berjalan.”

“Setuju.”

Ayla melihat Alina. “Kamu masih mau peran itu?”

Alina memucat. “Aku... tidak tahu.”

“Bagus. Mulai dari tidak tahu. Lebih jujur daripada pura-pura yakin.”

Alina menunduk, tetapi tidak menangis.

Reno melihat itu juga.

Untuk sesaat, ruangan reading tidak lagi hanya menjadi tempat Surya mengirim ancaman. Tempat itu berubah menjadi cermin. Semua orang melihat bagian dirinya yang selama ini mudah disembunyikan: ambisi Damar, ketakutan Alina, rasa bersalah Reno, kekuasaan Maya, kecurigaan Arga, dan Ayla yang berdiri di tengah semuanya tanpa tahu apakah dia korban, senjata, atau keduanya.

Lalu pesan Nisa masuk.

Cermin pecah.

Karena Surya memilih orang yang salah untuk disentuh berikutnya.

Ketika mobil menuju kampus disiapkan, Reno menahan Ayla sebentar.

“Aku ikut.”

“Tidak.”

“Nisa temanku juga sekarang? Tidak. Tapi dia terlibat karena membantumu. Aku tidak mau duduk menunggu lagi.”

Ayla menatapnya. “Kamu akan memperlambat.”

“Aku tahu.”

“Lalu?”

“Aku tetap ingin ikut sampai gerbang kampus. Setelah itu aku ikuti instruksi Arga.”

Ayla melihat Arga. Arga menilai Reno sejenak, lalu berkata, “Dia boleh ikut di mobil belakang. Tidak turun tanpa izin.”

Reno mengangguk cepat.

Ayla berkata, “Kalau kamu melanggar, aku seret pulang.”

“Adik kandungku mengancamku di hari yang sangat emosional.”

“Jangan dramatis. Kamu aktor, bukan naskah.”

Untuk pertama kalinya sejak dokumen donasi muncul, Reno tertawa kecil. Bukan karena lucu sepenuhnya, tetapi karena jika tidak tertawa, mungkin dia akan pecah.

Ayla membiarkannya ikut.

Bukan karena membutuhkan bantuan Reno.

Karena mungkin, untuk orang yang pernah terlambat empat belas tahun, datang sampai gerbang juga sudah bentuk keberanian.

1
Osie
masih penuh misteri tapi seru..gak bosan nulis up lanjutannya thor💪💪💪💪💪💪
Bonny Liberty
cerita elit,cerdas,no menyerang.. menye...semangat!!!!!
Osie
up lagi ya thoorr🙏🙏🙏🙏🙏 ceritanya bagus bangeett..suka suka suka suka
Osie
datang lagi 1 teman mamba🤣🤣 makin seruuu
Osie
thoor aku baca udah sampai bab ini lho..sumpeh bagus banget alur ceritanya..tapi sayang msh sepi..pdhal kereen abiiss/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/so haraoanku ini cerita sampai end..i hope
Osie
yaaacckk arga kenapa gak langsung di bogor aja sisurya nya..kabutkan dia
Osie
jangan bilang emaknya si ratna juga ikut terlibat
Osie
alina siap siap menuju lubang kematian
Osie
ayla dilawan..ya manaaa bisaaaa..mama cuuyy udah biasa membunuh dlm senyap
Osie
wwaaww aku aku gaya ayla..kereen abiizzz..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!