Ren Damaris, seorang pria tampan dan sukses, memutuskan memilih Edelia Lavendra untuk dinikahi demi menjaga nama baik keluarga dan menutupi rahasia terbesar dalam hidupnya. Edelia terpaksa menerima pernikahan itu untuk membahagiakan kedua orangtuanya.
Tetapi setelah menikah, Edelia menemukan fakta yang mencengangkan di balik pernikahannya. Meski begitu, Edelia tak bisa mengakhiri pernikahan itu begitu saja. Ada sesuatu pada diri Ren yang membuat Edelia merasa harus mempertahankan pernikahan itu.
Apa yang membuat Edelia bertahan? Simak kisah selengkapnya dalam Di Balik Lavender Marriage!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Bisnis dan Perasaan
"Karena berpura-pura tidak selalu memakai perasaan," kata Lia sambil tersenyum lalu beranjak dari kursinya.
"Saya akan siap-siap," kata Lia sambil berjalan menuju kamarnya. Ren masih terdiam di kursinya.
"Oh ya," kata Lia saat dia hendak masuk ke kamarnya.
"Bagaimana kalau tempat meeting kita pindah ke Lavendra Hotel? Bukankah akan lebih efektif dan efisien? Tuan tidak perlu mengantar saya setelah meeting. Selain itu, Narendra Tour and Travel bisa sekalian melihat fasilitas-fasilitas kami tanpa perlu mengatur jadwal kunjungan lagi. Bagaimana?" saran Lia. Ren menatap Lia, lalu mengangguk pelan.
"Aku akan hubungi Julian," kata Ren sambil beranjak dari kursinya. Lia tersenyum lalu masuk ke kamarnya.
Empat puluh menit kemudian, Lia dan Ren sudah duduk dalam diam di ruang meeting Lavendra Hotel menunggu Arka dan timnya. Sepanjang perjalanan dari apartemen menuju Lavendra Hotel, Lia dan Ren sama sekali tidak membicarakan sesuatu. Keduanya membawa keheningan yang menyesakkan itu hingga ke ruang rapat.
Lia sesekali melirik ke arah Ren yang fokus dengan tabletnya. Ren tak lagi membicarakan masalah kata sapaan yang Lia gunakan. Namun, wajah Ren kembali datar dan tegang seperti biasanya. Padahal pagi ini, Lia melihat Ren sedikit melunak.
"Tok... Tok..."
Lia segera berdiri membuka pintu ruang rapat yang diketuk. Senyum Arka merekah saat Lia membuka pintu.
"Selamat pagi, Nona Edelia. Senang dapat berbisnis dengan Anda," sapa Arka pada Lia sambil mengulurkan tangannya. Lia tersenyum ramah.
"Suatu kehormatan bagi kami dapat menjadi bagian dari proyek besar Narendra Tour and Travel dengan Damaris Digital Group. Mari silakan," kata Lia sambil menjabat tangan Arka. Ren memperhatikan dari tempat duduknya.
"Tuan Muda Damaris. Senang sekali Anda mau menerima proyek kecil ini," kata Arka pada Ren sambil mengulurkan tangannya. Ren menatap dingin tangan Arka.
"Bagi Damaris Digital Group, proyek sekecil apapun, jika menguntungkan tentu akan kami eksekusi," kata Ren dingin sambil menjabat uluran tangan Arka. Lia menatap kedua pria itu dengan khawatir.
"Baiklah, Tuan-Tuan. Untuk menghemat waktu, bagaimana kalau kita langsung saja pada intinya," kata Lia mencoba mencairkan ketegangan yang terlihat di antara Ren dan Arka. Arka mengangguk, lalu duduk di hadapan Ren bersama dua orang timnya.
"Sebelumnya saya meminta maaf karena mengganti tempat meeting di detik-detik terakhir. Saya rasa, ini akan menguntungkan semua pihak. Saya bisa memandu Tuan-Tuan untuk melihat-lihat fasilitas hotel kami," kata Lia membuka meeting. Arka manggut-manggut.
"Baik, silakan Tuan Arka dan tim untuk menjabarkan lebih rinci proyek yang akan kita kerjakan bersama," pinta Ren, profesional.
Arka mengangguk ke salah satu rekan kerjanya, mengisyaratkan untuk memulai presentasi. Dengan sigap, rekan kerja Arka berdiri dan mempersiapkan presentasinya.
"Baik, perkenalkan saya Rafa, dari divisi digital marketing Narendra Tour and Travel. Disini kami, Narendra Tour and Travel, mengajukan sebuah proyek bertajuk Venara Hospitality Alliance yang berfokus pada ekosistem pariwisata integritas," jelas Rafa.
"Jadi, kami ingin menghubungkan hotel, transportasi, dan layanan wisata dalam satu platform digital dengan memberikan fitur-fitur yang akan sangat membantu masyarakat saat berwisata," lanjut Rafa.
"Untuk Venara Hospitality Alliance akan memiliki aplikasi VENARA App yang akan dikembangkan lebih jauh oleh Damaris Digital Group," tambah Rafa.
Ren terlihat fokus pada layar proyektor yang menampilkan poin-poin kerjasama antara DDG, Narendra Tour and Travel, dan Lavendra Hotel and Resort.
"Mengapa nama proyek ini Venara Hospitality Alliance?" tanya Ren dengan nada datar. Rafa terlihat gugup.
"Ehem... Awalnya proposal kami memang mengajukan kerjasama untuk membuat platform tourism hospitality. Tapi, karena Damaris Digital Group merekomendasikan Lavendra Hotel and Resort sebagai akomodasi, kami kemudian membuat nama proyek dengan gabungan Narendra dan Lavendra, jadilah Venara," jelas Rafa dengan sangat hati-hati.
"Saya rasa nama proyek ini cukup bagus. Venara. Terdengar sangat elegan dan premium. Penggunaan kata Hospitality Alliance membuat publik dengan mudah mengetahui fokus bidang usaha kita," komentar Lia, membuat Ren melirik ke arahnya. Lia tersenyum ke arah Ren. Arka menatap Ren tajam.
"Atau mungkin Tuan Muda Damaris mempunyai opsi nama yang lebih baik?" tanya Arka. Ada sedikit nada menantang dalam suaranya. Lia melirik ke arah Ren dan Arka bergantian.
"Ehem," Lia berdehem lalu terlihat menuliskan sesuatu di buku notulennya.
"Bagaimana kalau begini? Dengan mencantumkan nama DDG saat peluncuran aplikasi, kepercayaan publik terhadap proyek ini akan meningkat," kata Lia sambil menunjukkan apa yang baru saja ditulisnya.
"Venara Hospitality Alliance X DDG?" gumam Arka sambil membaca tulisan Lia. Ren menatap Arka yang kemudian menatapnya setelah membaca tulisan Lia.
"Nice idea, Nona! Kita akan pake itu untuk kampanye peluncuran proyek kita. Bagaimana Tuan Ren?" tanya Arka pada Ren. Ren mengangguk tipis.
"Saya rasa perlu ada tambahan fitur Virtual concierge dan AI travel recommendation untuk memudahkan pengguna dan staf hotel. Jadi, tamu yang ingin mendapat informasi, melakukan reservasi atau mengakses berbagai layanan tidak harus selalu berinteraksi langsung dengan staf hotel," kata Ren menambahkan poin fitur yang disajikan pihak Narendra Tour and Travel. Rafa terlihat sigap mengetikkan fitur tambahan yang disarankan Ren.
"Jika tidak ada pembahasan lebih lanjut terkait proyek ini, mungkin kita bisa melihat-lihat fasilitas hotel?" tanya Lia pada para rekan bisnisnya yang hadir.
Arka dan Ren mengangguk pelan lalu beranjak dari kursi mengikuti Lia. Ren berjalan sedikit di belakang Lia. Arka menyamai langkah Ren.
"Tuan Muda Ren memang jeli memilih isteri," komentar Arka. Ren hanya diam, menatap lurus ke depan.
"Ternyata Nona Edelia pandai berbisnis. Pantas saja Tuan Ren memilih Nona," kata Arka dengan sedikit mencondongkan badannya ke arah Lia yang berjalan di depannya. Lia menoleh sedikit sambil tersenyum. Ren melirik ke arah Arka.
"Hotel kami menawarkan tiga tipe kamar, deluxe, executive, dan presidential suite," jelas Lia sambil berjalan menuju lift.
"Mari kita lihat presidential suite terlebih dahulu," kata Lia sambil menekan tombol lift.
Tak lama kemudian pintu lift terbuka, menampilkan sosok yang membuat Lia sedikit terkejut untuk beberapa detik, namun kemudian kembali bersikap biasa. Lia menunduk ke arah sosok itu dengan sopan. Sosok itu keluar dari lift sambil menatap Lia. Ren menatap sosok itu dengan tatapan tajam.
"Sayang," panggil Ren pada Lia, membuat Lia sedikit terkejut.
"Eh?"
"Perhatikan langkahmu," kata Ren sambil berdiri sedikit merapat ke tubuh Lia dan memegang pinggang Lia. Arka menaikkan satu alisnya melihat tingkah Ren.
Arka menatap sosok pria yang baru saja keluar dari lift. Pria itu terlihat menatap ke arah Lia dan Ren dengan tatapan tajam. Arka tersenyum tipis.
'Sepertinya akan jadi menarik,'
***