NovelToon NovelToon
ISTRI PENGGANTI SANG GUS COLD

ISTRI PENGGANTI SANG GUS COLD

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Pernikahan rahasia / Poligami
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menembus Batas Kegelapan

Malam semakin larut, melarutkan sisa-sisa isak tangis di kamar Lea. Jarum jam di dinding terus bergerak tanpa ampun, mendekati angka sepuluh malam. Ketegangan baru yang jauh lebih berbahaya kini mengambil alih atmosfer ruangan. Gus Malik perlahan melepaskan pelukannya, menatap Lea yang matanya masih sedikit sembab namun sudah jauh lebih tenang setelah mendengar untaian penjelasan tulusnya.

"Kamu tetap di sini, Kalea. Kunci pintu kamar dari dalam dan jangan keluar sampai saya kembali," perintah Malik dengan suara baritonnya yang kini kembali tegas, penuh dengan otoritas seorang pemimpin.

Lea memegang erat ujung lengan baju koko Malik, gurat kecemasan yang mendalam tercetak jelas di wajahnya. "Gus, lo beneran harus pergi? Sendirian? Ini pelabuhan tua, Gus. Tom itu nekat, dia punya uang dan dia bisa sewa orang-orang jahat buat ngerugiin lo. Gimana kalau ini cuma pancingan supaya dia bisa ngelakuin hal buruk ke lo?"

Malik tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menenangkan sekaligus menyiratkan keberanian mutlak. Ia mengusap punggung tangan Lea yang melingkar di lengannya. "Saya tidak sendiri, Kalea. Allah selalu bersama saya. Dan saya tidak akan membiarkan harga diri pernikahan kita, harga diri kamu, dan kehormatan pesantren ini diinjak-injak oleh pria yang tidak punya iman seperti dia. Masalah ini harus selesai malam ini juga."

Malik bangkit berdiri, merapikan baju kokonya, lalu mengambil sebuah jaket kain tebal berwarna hitam dari dalam lemari kecil di sudut ruangan. Sebelum melangkah keluar, ia kembali menatap Lea. "Ingat pesan saya. Berdoa, jangan putus zikir. Saya pergi."

Lea hanya bisa mengangguk pasrah. Begitu Malik melangkah keluar dan menutup pintu, Lea segera memutar kunci dari dalam. Ia berjalan menuju jendela, menyibak sedikit gordennya, dan melihat bayangan mobil putih milik Malik perlahan bergerak meninggalkan pekarangan pesantren yang sunyi senyap. Di bawah temaram lampu taman, dada Lea bergemuruh hebat oleh rasa takut yang luar biasa. Ia takut kehilangan pria yang baru saja berhasil mengisi seluruh relung hatinya itu.

Jalanan Jakarta menuju kawasan pelabuhan di Jakarta Utara terbilang lengang menjelang tengah malam. Angin laut yang lembap dan dingin mulai terasa menusuk kabin mobil meskipun kaca jendela tertutup rapat. Sisa-sisa genangan air akibat badai sore kemarin masih terlihat di beberapa sudut jalanan yang berlubang, memantulkan cahaya lampu jalan yang kuning temaram.

Malik fokus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan stabil. Kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat erat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol. Di dalam hatinya, lantunan ayat Kursi dan zikir tak pernah putus ia rapalkan. Malik bukanlah pria yang gemar mencari keributan; ia dididik dalam lingkungan pesantren yang mengutamakan kedamaian dan kelembutan tutur kata. Namun, ketika kehormatan wanita yang menjadi tanggung jawabnya diusik, darah kepemimpinan dan keberanian ayahnya mengalir deras di dalam dirinya.

Sekitar pukul sepuluh lewat empat puluh lima menit, mobil Malik mulai memasuki kawasan industri pelabuhan tua. Suasana di sini sangat mencekam. Penerangan jalan sangat minim, hanya mengandalkan lampu-lampu dari beberapa gudang kontainer yang masih beraktivitas di kejauhan. Di sisi kiri jalan, bangunan-bangunan tua yang terbengkalai berdiri kokoh seperti raksasa hitam yang menakutkan.

Malik mematikan lampu utama mobilnya dan menggantinya dengan lampu kota saat mendekati titik koordinat yang tertulis di dalam surat ancaman: **Gudang Tua Nomor 12**. Ia memarkirkan mobilnya agak jauh di balik bayangan sebuah tumpukan kontainer kosong yang sudah berkarat.

Sebelum turun dari mobil, Malik membuka laci dasbor. Ia mengambil sebuah benda kecil berbentuk persegi panjang hitam sebuah alat perekam suara digital yang sengaja ia siapkan sejak dari rumah. Ia mengaktifkan alat tersebut dan memasukkannya ke dalam saku dalam jaket hitamnya. Setelah itu, ia menarik napas panjang, memantapkan niat di dalam hati, lalu melangkah keluar menembus angin malam yang berembus kencang.

Langkah kaki Malik bergaung pelan saat memasuki area dalam gudang nomor 12. Pintu seng besar gudang itu sudah terbuka sedikit, menyisakan celah yang cukup untuk dilewati tubuh manusia. Di dalam gudang, bau anyir karat, kayu lapuk, dan garam laut menyengat hidung. Cahaya di dalam ruangan luas itu hanya bersumber dari sebuah lampu bohlam kuning tunggal yang menggantung di tengah-tengah langit-langit yang tinggi, bergoyang pelan tertiup angin laut yang menyelinap dari atap yang bocor.

Tepat di bawah lampu tersebut, berdiri seorang pria dengan pakaian kemeja yang sudah kusut dan rambut yang acak-acakan. Tom. Di sampingnya, berdiri dua orang pria berbadan besar dengan tato di sekujur lengan mereka—orang-orang sewaan yang sengaja Tom bayar untuk mengintimidasi sang Gus.

"Hahaha! Tepat waktu juga lo, Gus suci," tawa Tom menggelegar, menggema di dalam gudang yang kosong. Ia bertepuk tangan dengan nada mengejek saat melihat Malik berjalan tenang mendekatinya tanpa ada raut ketakutan sedikit pun di wajahnya.

Malik berhenti dengan jarak sekitar lima meter dari Tom. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket, matanya menatap tajam dan dingin langsung ke arah manik mata Tom. "Saya sudah datang memenuhi permintaanmu. Di mana sisa foto dan dokumen asli yang kamu gunakan untuk mengancam?"

Tom menyeringai licik. Ia meraba saku celananya dan mengeluarkan sebuah *flashdisk* hitam serta sebuah amplop cokelat yang serupa dengan yang dikirimkan ke pesantren pagi tadi. "Semua master fotonya ada di sini, Gus. Foto-foto indah saat istri keduamu yang cantik itu memohon-mohon di pelukan gue dalam pengaruh obat."

"Jangan memutarbalikkan fakta, Tom," potong Malik dengan suara baritonnya yang berat, berwibawa, dan sangat tenang. "Kamu memasukkan zat kimia berbahaya ke dalam minumannya secara paksa. Itu adalah tindakan kriminal, sebuah pemerkosaan yang gagal kamu lakukan karena Allah masih melindungi istri saya."

"Istri lo? Hah!" Tom melangkah maju satu langkah, wajahnya mendadak memerah menahan amarah yang meledak-ledak. "Dia itu milik gue, Gus! Dia tumbuh besar di London bersama gue! Dia terbiasa hidup bebas, bersenang-senang di *club*, memakai pakaian seksi di samping gue! Lo... lo cuma pria kuno berbaju koko yang memanfaatkan wasiat kakaknya yang sekarat itu buat mengurung dia di dalam penjara pesantren lo yang membosankan!"

"Kalea adalah istri sah saya di hadapan hukum negara dan hukum Allah," jawab Malik dengan nada yang tetap stabil, seolah semua makian Tom tidak berpengaruh sedikit pun pada ketenangannya. "Masa lalunya di London adalah urusannya sebelum menjadi istri saya. Namun sekarang, setelah dia menerima pernikahan ini dengan ikhlas, setiap jengkal kehormatannya adalah tanggung jawab saya untuk melindunginya. Termasuk dari pria pengecut seperti kamu."

"Kurang ajar!" teriak Tom tersinggung. Ia menoleh ke arah dua pria berbadan besar di sampingnya. "Hajar dia! Bikin pria sok suci ini berlutut di depan gue!"

Dua pria sewaan itu langsung bergerak maju, meregangkan otot-otot leher mereka dengan senyuman meremehkan. Mereka mengira seorang pemuka agama seperti Malik akan langsung gemetar ketakutan menghadapi kekerasan fisik. Namun, mereka salah besar. Malik adalah putra dari seorang kiai yang juga menguasai ilmu bela diri pencak silat tradisional sebagai benteng pertahanan fisik para santri.

Pria bertato pertama melayangkan sebuah pukulan mentah ke arah wajah Malik. Dengan gerakan yang sangat tenang dan presisi, Malik menggeser tubuhnya ke kanan, membiarkan tinju itu lewat beberapa sentimeter dari pipinya. Memanfaatkan momentum, tangan kanan Malik bergerak cepat melakukan tangkapan pada pergelangan tangan lawan, lalu dengan satu sentakan kaki yang kokoh, ia memutar tubuh pria itu dan membantingnya keras ke atas lantai semen yang dingin.

*Brak!*

Pria pertama mengerang kesakitan, memegangi punggungnya yang menghantam lantai. Pria kedua yang melihat temannya tumbang dalam satu gerakan langsung menggeram marah. Ia mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil dari saku celananya dan menerjang Malik dengan membabi buta.

Malik mundur dua langkah, membaca pergerakan ujung pisau yang berkilat di bawah cahaya lampu tidur. Saat pisau itu terayun ke arah dadanya, Malik menepis lengan lawan menggunakan teknik tangkisan dalam, membuat pisau tersebut terlepas dan jatuh berdenting di lantai. Tak memberi kesempatan untuk pulih, Malik melayangkan sebuah tendangan lurus yang telak mengenai ulu hati pria kedua, membuatnya terjerembab ke belakang menabrak tumpukan palet kayu hingga hancur.

Tom membelalak sempurna melihat kedua orang sewaannya tak berkutik hanya dalam hitungan menit. Seluruh tubuhnya mendadak gemetar hebat. Sifat pengecutnya mulai keluar saat melihat Malik kini melangkah perlahan mendekatinya dengan tatapan mata yang seolah bisa menembus jantungnya.

"L-lo... jangan mendekat!" ancam Tom dengan suara bergetar, ia mundur hingga punggungnya membentur sebuah tiang besi. Ia mengangkat flashdisk dan amplop di tangannya. "Kalau lo berani macam-macam, gue bakal kirim semua foto ini ke media sekarang juga lewat ponsel gue!"

Malik berhenti tepat dua langkah di depan Tom. Ia mengeluarkan tangan kanannya dari saku jaket, bukan untuk memukul, melainkan untuk mengambil alat perekam suara digital yang sejak tadi menyala.

"Kirimkan saja jika kamu mau, Tom," ucap Malik dingin sambil menunjukkan alat perekam tersebut di depan wajah Tom. "Di dalam alat ini, sudah terekam dengan sangat jelas seluruh pengakuanmu. Mulai dari pemerasan, pengancaman, hingga pengakuanmu bahwa kamu telah memasukkan obat perangsang secara sengaja ke dalam minuman Kalea beberapa hari lalu. Tindakanmu itu masuk dalam pasal berlapis: pemerkosaan berencana dan penyalahgunaan zat psikotropika. Ancaman hukumannya di atas dua puluh tahun penjara."

Wajah Tom seketika berubah pucat pasi, seketika kehilangan seluruh keberaniannya. "L-lo... lo jebak gue?"

"Saya tidak menjebakmu. Kamu yang masuk ke dalam lubang kehancuranmu sendiri karena obsesi busukmu," desis Malik, suaranya terdengar begitu menakutkan di telinga Tom. "Serahkan *flashdisk* dan dokumen itu kepada saya sekarang, lalu pergi dari negara ini dan jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi di depan Kalea atau di sekitar pesantren kami. Jika saya melihatmu lagi, rekaman ini akan langsung berada di meja Kapolres malam ini juga."

Tom menelan ludahnya dengan susah payah. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia menyerahkan amplop cokelat dan flashdisk hitam itu kepada Malik. Keangkuhan pria kaya asal London itu runtuh sepenuhnya di hadapan wibawa dan kecerdasan sang Gus.

Malik menerima benda-benda tersebut, memastikannya, lalu memasukkannya ke dalam jaketnya. "Urusan kita selesai di sini. Pintu taubat selalu terbuka sebelum nyawamu sampai di tenggorokan, Tom. Perbaiki dirimu."

Tanpa menunggu jawaban dari Tom yang masih mematung lemas, Malik berbalik dan melangkah lebar meninggalkan gudang tua tersebut. Di luar, angin malam pelabuhan terasa jauh lebih segar. Beban besar yang sempat menghimpit pundaknya kini telah terangkat.

Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari ketika mobil putih Malik kembali memasuki gerbang Pesantren Al-Fatih. Kompleks pesantren sudah benar-benar sunyi, seluruh santri dan pengurus sudah terlelap demi mempersiapkan diri menghadapi shalat Tahajud dua jam lagi.

Malik berjalan dengan langkah pelan menyusuri lorong rumah utama yang remang-remang. Begitu sampai di depan pintu kamar Lea, ia mengetuknya dengan ketukan berpola khusus yang sempat ia sebutkan sebelum pergi tadi.

*Tok... Tok-Tok...*

Hanya butuh waktu tiga detik bagi pintu itu untuk terbuka. Lea berdiri di sana dengan wajah yang dipenuhi sisa-sisa air mata kecemasan. Begitu melihat Malik berdiri dengan utuh tanpa ada luka sedikit pun di wajah atau tubuhnya, Lea tidak bisa lagi menahan diri. Ia langsung menghambur maju, memeluk leher Malik dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.

"Gus... alhamdulillah... lo nggak apa-apa," isak Lea tertahan, seluruh tubuhnya bergetar karena kelegaan yang luar biasa. "Gue takut banget... gue takut lo kenapa-kenapa di sana."

Malik tertegun sejenak, lalu perlahan kedua lengan kekarnya melingkar di punggung Lea, membalas pelukan itu dengan kehangatan yang mendalam. Ia mengecup puncak rambut pirang Lea berkali-kali. "Saya tidak apa-apa, Kalea. Tenanglah. Masalahnya sudah selesai. Pria itu tidak akan pernah mengganggu hidup kita lagi."

Malik membimbing Lea masuk ke dalam kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Ia mengeluarkan flashdisk dan amplop cokelat dari balik jaketnya, lalu meletakkannya di atas meja kerja Lea.

"Ini semua master fotonya. Besok pagi, kita akan membakarnya bersama-sama sampai menjadi abu agar tidak ada lagi jejak masa lalu yang mengganggumu," ucap Malik lembut.

Lea menatap benda-benda itu, lalu kembali menatap Malik dengan mata yang berkaca-kaca karena rasa haru dan cinta yang kian meluap. "Gus... makasih banyak. Lo... lo bener-bener pelindung buat gue. Gue nggak tahu harus membalas kebaikan lo dengan cara apa."

Malik duduk di tepi ranjang, menarik Lea untuk duduk di sampingnya. Ia menatap lekat-lekat wajah istri keduanya itu, menghapus sisa air mata di sudut mata Lea dengan jemarinya yang hangat. "Kamu tidak perlu membalas apa pun, Kalea. Menjadi istri yang shalehah, menjaga kehormatan dirimu dan pernikahan kita, itu sudah lebih dari cukup bagi saya."

Lea mengangguk patuh. Di bawah temaram lampu kamar, rasa cemburu yang sempat membakarnya tadi sore kini benar-benar telah sirna, digantikan oleh rasa percaya dan keterikatan batin yang teramat kuat. Ia tahu, perjalanan pernikahan "turun ranjang" ini masih panjang dan penuh dengan liku-liku, terlebih dengan kondisi Najwa yang kian melemah. Namun, berada di dalam dekapan pelukan Gus Malik malam ini, Lea tahu bahwa ia tidak akan pernah berjalan sendirian lagi menghadapi badai apa pun yang akan datang di masa depan.

1
6690
wait ini Lea sama Najwa kakak beradik kandung ya? mohon maaf ya Thor, bukannya kalau kandung tidak boleh dinikahi secara bersamaan oleh pria yang sama , kecuali salah satunya sudah meninggal, baru boleh menikah. misalnya boleh menikah dengan suami kakak namun ketika si istri/kakak sudah meninggal. CMIIW
Nda
double up thor
Nda
novelmu luar biasa thor
Ci Ka
ditunggu up nya thor💪
Nda
ditunggu double up nya thor
Sri Jumiati
lanjut up thor
Sri Jumiati
umur kalea brp ya? kok msh kuliah .kan di buang 20 th yll
Jeon Ndhh: Dikirim umur 3-5 tahun → 20 tahun di London → balik ke Indonesia umur 23-25 tahun → sekarang kuliah semester akhir. karna pernah tertunda. kuliah di umur berapa pun boleh kuliah umur 50 tahun pun masih bisa kuliah 🙏
total 1 replies
Sri Jumiati
semangat thor
Sri Jumiati
bagus ceritanyq
Waodeumizahara Waodeumizahara
kapan apload nya thor🙏
Waodeumizahara Waodeumizahara
sangat bagus
Waodeumizahara Waodeumizahara
sangat bagus
Waodeumizahara Waodeumizahara
thor lebih banyaknya lagi dong aploadnya🙏
Waodeumizahara Waodeumizahara
plis, up lebih banyak thor🙏
Waodeumizahara Waodeumizahara
sangat menarik/Heart/
Anonim
GUS GUS AGUUUS AGUUUSSS
Titik Sofiah
lanjut Thor
Titik Sofiah
lanjut lanjut Thor
Titik Sofiah
lanjut Thor
Titik Sofiah
plis doubel up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!