Keinginan untuk menuntut ilmu di tempat terbaik membawa Elara, siswa berprestasi, menjejakkan kaki di Hantage School Academy—sekolah elit yang megah namun menyimpan aura dingin dan misterius. Berkat beasiswa penuh, ia merasa beruntung bisa bersekolah di sana, namun kebahagiaan itu segera berganti dengan ketakutan. Sejak hari pertama, Elara kerap mengalami hal-hal tak wajar: bisikan-bisikan tak kasat mata, bayangan gelap, dan kejadian mengerikan yang seolah menargetkan dirinya.
Bersama tiga sahabat barunya, Elara mulai menyelidiki asal-usul teror yang terjadi. Jejak demi jejak membawa mereka pada rahasia kelam masa lalu sekolah tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mustaqimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21-Rekaman CCTV yang Hilang
Di balik dinding tembok tebal pembatas ruang pengawasan CCTV, Elara dan Arkan menekan tubuh mereka serapat mungkin, menahan napas, dan mengintip diam-diam lewat celah kecil di pinggir pintu yang sedikit terbuka. Jantung Elara berdegup kencang, bukan hanya karena ketegangan, tapi juga karena rasa cemas melihat apa yang ada di dalam sana.
Ternyata, di ruangan berukuran sedang yang penuh layar monitor itu, ada satu orang petugas keamanan yang sedang bertugas. Lelaki berseragam itu duduk santai di kursi putar tepat di depan deretan layar yang menyala, matanya sesekali melirik gambar-gambar dari berbagai sudut sekolah sambil meminum kopi dari cangkirnya. Ia duduk persis di depan satu-satunya meja yang berisi perangkat perekam dan komputer utama. Posisi duduknya sangat strategis, menghalangi seluruh akses masuk ke bagian peralatan penting itu. Tidak mungkin mereka bisa masuk, apalagi menyentuh apa pun, tanpa diketahui oleh petugas itu.
Elara menoleh ke arah Arkan di sampingnya, wajahnya berkerut bingung sekaligus khawatir. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Arkan, berbisik sangat pelan namun jelas terdengar.
"Di sana ada petugas keamanan... Gimana kita bisa masuk ke sana? Dia duduk tepat di depan mesinnya, kita nggak bakal bisa lewat atau ngapa-ngapain kalau dia masih ada di situ. Kalau kita masuk begitu aja, pasti langsung ketangkep," ucap Elara dengan nada panik tertahan.
Arkan tidak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya diam terdiam, matanya menatap tajam ke dalam ruangan, mengamati gerak-gerik petugas itu, lalu meneliti sekeliling lorong di luar tempat mereka bersembunyi. Otaknya bekerja cepat, menganalisis situasi, mencari celah, dan menyusun rencana dalam hitungan detik. Wajahnya tetap tenang dan dingin, seolah situasi sulit seperti ini adalah hal biasa baginya.
Pandangan Arkan kemudian tertuju pada sebuah tong sampah besar berbahan besi yang terpasang di dinding, berjarak sekitar tiga langkah dari tempat persembunyian mereka. Sudut bibirnya sedikit terangkat, sebuah ide terlintas di kepalanya. Tanpa memberi keterangan lebih dulu, Arkan perlahan menggeser posisinya, bersiap melakukan aksinya.
Dengan gerakan cepat dan terukur, Arkan mengayunkan kakinya, lalu menendang bagian bawah tong sampah besi itu sekuat tenaga.
DUNG!
Suara benturan keras dan nyaring terdengar memecah keheningan, bergema panjang di sepanjang lorong yang sepi itu. Suaranya begitu jelas dan keras hingga terdengar sampai ke dalam ruang pengawasan.
Sesaat setelah suara itu menggema, terdengar suara kursi yang ditarik kasar dari dalam ruangan. Petugas keamanan itu langsung berdiri, wajahnya tampak waspada dan bingung.
"Siapa di sana?!" seru petugas itu dengan suara lantang. Ia meraih pentungan yang tersampir di pinggangnya, lalu berjalan cepat keluar dari ruangan CCTV untuk memeriksa sumber suara yang didengarnya, meninggalkan pintu ruangan itu dalam keadaan terbuka.
"Siapa itu?! Keluar!" teriaknya lagi sambil melangkah menjauh menuju arah suara benturan tadi.
Arkan segera menarik lengan Elara, menyuruhnya bersembunyi lebih dalam di balik bayang-bayang dinding. Mereka berdua menekan tubuh, membiarkan petugas itu lewat di depan mereka tanpa menyadari keberadaan mereka. Setelah sosok petugas itu menghilang di ujung lorong dan langkah kakinya makin menjauh, Elara perlahan mengintip kembali, napasnya terengah lega.
"Syukurlah... dia udah pergi," bisik Elara dengan napas lega, merasa takjub melihat cara Arkan mengalihkan perhatian itu dengan begitu mudah.
Namun, rasa lega itu hanya berlangsung sekejap. Arkan langsung menarik lengan Elara lagi, matanya menatap tajam ke arah pintu ruangan CCTV yang kini kosong dan terbuka lebar.
"Cepat! Kita gak punya banyak waktu," bisik Arkan tegas dan singkat. Ia langsung bergerak mendahului melangkah keluar dari tempat persembunyiannya, berjalan cepat menuju pintu ruangan itu. "Sebelum dia balik lagi, kita harus lihat rekaman hari kejadian Dinda jatuh. Ayo!"
Elara mengangguk cepat, jantungnya kembali berdegup kencang karena terburu-buru. Ia segera berlari kecil menyusul Arkan. Namun saat mereka ingin masuk, tiba-tiba sebuah tangan besar dan berat menepuk bahu mereka berdua secara bersamaan dari arah belakang.
Sentuhan itu begitu mendadak, kuat, dan mengejutkan hingga membuat nyawa mereka berdua seolah melayang seketika. Tubuh Elara dan Arkan menegang kaku seketika, seolah tersihir menjadi patung. Darah Elara serasa berhenti mengalir, napasnya tercekat di tenggorokan, dan bulu kuduknya berdiri meremang karena rasa ngeri yang luar biasa.
Dengan jantung yang hampir copot karena kaget dan rasa takut yang meluap-luap, Elara dan Arkan perlahan memutar kepala ke belakang, bersiap menghadapi siapa pun yang akan menangkap mereka atau menghukum mereka. Namun, saat wajah sosok di belakang itu terlihat jelas, napas keduanya serentak terhembus panjang lega. Rasa tegang yang menyiksa tadi seketika lenyap berganti keterkejutan baru yang tak kalah besar.
Ternyata yang menepuk bahu mereka bukanlah petugas keamanan, bukan Pak Herman, dan bukan pula Nyonya Tamara. Di sana berdiri Keisha dengan wajah cemas namun lega, dan tak jauh di belakangnya ada Celio serta Rafael yang sedang menahan senyum geli.
"Kalian ngapain ada di sini? Kita cari kalian kemana-mana lho, dari tadi nggak ketemu-ketemu," tanya Keisha cepat, suaranya terdengar khawatir bercampur penasaran. Matanya beralih pandang dari wajah Elara ke wajah Arkan, lalu kembali lagi ke Elara.
"Nah, tahu nih! Hilang begitu aja pas rame-rame nyambut Nyonya Tamara, kirain diculik hantu sekolah atau gimana," sahut Rafael sambil tersenyum santai, menepuk pelan bahu Arkan.
Celio yang berdiri bersandar santai di dinding sambil menyilangkan tangan di dada, menyeringai sinis dan melirik mereka berdua bergantian. "Cie... jalan-jalan berdua ke tempat sepi, ada apa nih?"
Wajah Elara memerah sedikit mendengar godaan itu. Ia segera menggeleng cepat, berusaha menjelaskan secepat mungkin sebelum timbul kesalahpahaman. Di sisi lain, Arkan hanya diam dengan wajah datar, sama sekali tidak terpengaruh oleh ucapan Celio.
"Kalian jangan salah paham ya! Kita cuma kerja sama kok, nggak ada yang lain," jawab Elara tegas namun pelan. Ia melirik sekilas ke arah lorong tempat petugas keamanan pergi tadi, memastikan keadaan masih aman.
Keisha mengerutkan kening, matanya membelalak sedikit karena penasaran. Ia melangkah selangkah lebih dekat, mendekatkan wajahnya ke arah Elara.
"Kerja sama apa? Sejak kapan kamu sama Arkan deket banget sampai kerja sama segala? Jangan bilang-bilang, ada sesuatu yang kamu sembunyiin dari aku ya, El?" tanya Keisha bertubi-tubi, nadanya mulai terdengar sedikit tersinggung karena merasa ada hal yang tidak ia ketahui sebagai sahabat dekat.
Elara menarik napas panjang, menatap wajah sahabatnya, lalu beralih menatap Celio dan Rafael. Ia tahu, rahasia ini sudah tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Lagipula, jika mereka semua mau terlibat, lebih baik mereka tahu kebenaran yang sebenarnya. Ini adalah hal yang terlalu berat untuk dipikul sendirian atau berdua saja.
Elara menurunkan suaranya menjadi bisikan berat namun jelas, matanya menatap tajam dan serius ke wajah mereka bertiga.
"Dengerin baik-baik ya... Ini rahasia besar, dan kalau kalian denger, kalian nggak bisa mundur lagi. Kemarin pas di pemakaman Dinda, waktu kita semua lagi berkumpul, polisi sempat datang dan ngobrol berdua sama Pak Herman di pinggir makam. Aku kebetulan denger obrolan mereka."
Elara berhenti sejenak, menelan ludah, lalu melanjutkan dengan nada yang bergetar karena marah.
"Polisi bilang kalau hasil otopsi lengkap Dinda udah keluar. Dan hasilnya... Dinda bukan bunuh diri. Dinda dibunuh sama seseorang."
"APA?!" seru Keisha, Celio, dan Rafael serentak, namun mereka segera menutup mulut sendiri dengan tangan masing-masing karena kaget. Mata mereka bertiga membelalak lebar tak percaya, wajah mereka seketika berubah pucat.
Keisha tampak paling terguncang, matanya langsung berkaca-kaca. "Bukan... bukan bunuh diri? Tapi dibunuh? Itu berarti... ada orang yang sengaja nyakiti Dinda sampai mati? Tapi... tapi kenapa Pak Herman bilang di depan semua orang kalau Dinda bunuh diri karena masalah pribadi? Kenapa polisi diam aja?"
"Itu semua sandiwara!" potong Elara dengan tegas, amarahnya mulai kembali menyala. "Itu karena Pak Herman disuruh sama Nyonya Tamara. Semua cerita soal bunuh diri, masalah pribadi, dan depresi itu cuma karangan belaka demi reputasi dan nama baik sekolah ini. Mereka nutupin kasus pembunuhan itu, mereka suap polisi supaya diam, mereka bersihin semua bukti, cuma biar Hantage School Academy nggak dicap buruk. Nyawa teman kita dikorbankan cuma demi gengsi dan nama baik!"
Rafael menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya, napasnya memburu. "Gila... Jadi mereka bener-bener nutupin kebenaran demi sekolah ini? Demi uang dan kekuasaan mereka?"
"Iya," jawab Elara mantap. "Itu sebabnya aku sama Arkan sepakat buat kerja sama. Kita nggak bisa diam aja lihat kejahatan ini diem-diemin. Dinda harus dapet keadilan, pelakunya harus ketangkep, dan semua orang harus tau kebenaran yang sebenarnya. Kita mau buktiin semuanya lewat rekaman CCTV yang ada di ruangan ini."
Keisha menatap Elara lekat-lekat, lalu menoleh ke arah Arkan, dan kembali lagi ke Elara. Di matanya yang berkaca-kaca itu, kini tumbuh tekad yang kuat. Ia langsung menggenggam tangan sahabatnya erat.
"Aku ikut sama kalian. Dinda itu teman aku juga, dia anak baik. Aku nggak bakal diam aja lihat nama baiknya dikotori dan pembunuhnya bebas begitu aja. Aku ikut, apa pun risikonya," ucap Keisha tegas dan mantap.
Rafael menghela napas panjang, lalu menepuk bahu Arkan sambil tersenyum tipis namun serius. "Gue juga ikut. Selama ini gue cuma diem aja lihat kelakuan aneh sekolah ini, rasanya nggak adil banget kalau korban cuma diam dan pelakunya makin berkuasa. Kalau kalian butuh bantuan, gue siap bantu."
Celio yang tadinya terlihat santai dan malas, kini menggaruk belakang kepalanya dengan ragu, namun akhirnya ia pun mengangguk pasrah. Ia menatap pintu ruang CCTV yang terbuka itu dengan pandangan serius.
"Yah... sebenarnya gue males banget sih ikutan urusan begini, bahaya, ribet, dan kalau ketangkep bisa diusir atau lebih parah lagi. Tapi... yah, demi keadilan buat Dinda, dan demi nggak jadi pengecut kayak mereka yang nutup-nutupin kejahatan... ya udah, gue ikutan aja. Sekali kita mulai, jangan harap gue bakal mundur, ya."
Arkan yang sedari tadi hanya diam mendengarkan percakapan itu, akhirnya membuka mulutnya. Wajahnya tetap dingin dan datar, namun ada kilatan kepuasan di matanya karena kini tim mereka bertambah kuat.
"Bagus. Semakin banyak kita, semakin gampang cari jalan dan saling jaga-jaga. Tapi ingat, waktunya sangat sedikit," ucap Arkan singkat dan tegas. Ia menunjuk ke arah pintu ruang pengawasan yang masih terbuka lebar itu. "Ayo, kita harus cepat masuk ke dalam sebelum petugas yang tadi balik lagi atau ada orang lain yang lewat. Kita harus dapatkan rekaman tanggal kejadian itu sebelum semuanya hilang."
Tanpa membuang waktu lagi, mereka berlima pun bergerak serentak. Elara, Keisha, Arkan, Celio, dan Rafael melangkah cepat dan hati-hati menuju pintu ruang keamanan itu.
Begitu pintu ruang keamanan tertutup rapat dari dalam, suasana hening seketika menyelimuti mereka berlima. Hanya terdengar suara dengungan halus dari puluhan layar monitor yang menyala, menampilkan gambar-gambar berbagai sudut sekolah secara langsung. Arkan langsung bergerak duduk di kursi utama depan komputer pusat, jari-jarinya yang lentik dan cekatan sudah siap di atas papan ketik. Wajahnya tetap tenang, namun gerakan tangannya bergerak cepat dan terarah, seolah ia sudah sangat paham betul letak menu dan sistem pengoperasian alat canggih itu.
Elara berdiri tepat di sampingnya, matanya tak berkedip menatap layar monitor, napasnya sedikit tertahan karena rasa cemas dan harapan yang bercampur jadi satu. Di belakangnya, Keisha, Rafael, dan Celio berdiri berkerumun rapat, saling berdesakan sedikit demi melihat apa yang sedang terjadi, sementara mata mereka sesekali melirik ke arah pintu keluar dengan waspada.
"Cepat... cepat kamu cari rekaman CCTV di rooftop Sekolah, tanggal kejadian Dinda meninggal," ucap Elara berbisik, nadanya mendesak namun bergetar.
Arkan hanya mengangguk singkat tanpa menoleh. Jarinya bergerak gesit menekan tombol-tombol, membuka folder demi folder, mengubah tanggal dan jam pada sistem perekaman. Di layar, gambar-gambar rekaman masa lalu mulai bermunculan. Ia mencari data pada tanggal dan jam yang tepat, tepat di hari dan waktu terakhir Dinda terlihat hidup. Namun, semakin lama ia mencari, semakin lama ia menelusuri daftar file yang ada, raut wajah Arkan yang biasanya datar itu sedikit berubah menjadi kerutan halus di keningnya. Ia menekan tombol kembali, mencari lagi, memastikan tidak ada yang terlewat. Namun hasilnya tetap sama.
"Kok gak ada...?" gumam Elara pelan, matanya menatap layar kosong itu tak percaya. Ia mendekatkan wajahnya lagi, berharap ia salah lihat. "Mana rekamannya? Harusnya ada, kan? Kenapa cuma tanggal itu aja yang kosong? Tanggal-tanggal lain ada semua, lengkap dari pagi sampai sore..."
Arkan menghentikan gerakan jarinya, menarik napas panjang lalu menghempaskannya pelan. Ia menegakkan punggungnya kembali, menatap Elara dengan sorot mata dingin dan tajam.
"Berarti rekaman CCTV-nya hilang," ucap Arkan singkat dan pasti. "Data videonya nggak ada. Dihapus total dari sistem. Nggak ada jejak sama sekali."
Rafael yang berdiri di belakang langsung menepuk jidatnya pelan, wajahnya berkerut bingung sekaligus kesal.
"Gimana bisa hilang? Sistem keamanan sekolah ini kan katanya paling canggih, nggak mungkin datanya hilang sendiri," ucap Rafael dengan nada heran. "Bisa juga CCTV-nya emang udah dirusak atau dimatikan duluan sama pelaku, makanya pas kejadian gak kerekam apa-apa. Dia udah siapin segalanya dari jauh-jauh hari."
Celio menyilangkan tangannya di dada, mengangguk setuju sambil menatap layar kosong itu dengan pandangan serius.
"Benar banget pendapat lo, Raf. Atau emang rekamannya emang udah terekam, tapi pas kejadian selesai langsung dihapus bersih-bersih sama pelaku. Dia tau persis cara kerjanya, tau persis cara masuk ke sistem ini, dan tau persis mana yang harus dihapus biar aman."
Keisha menggenggam tangan Elara makin erat, wajahnya pucat pasi saat menyadari satu hal mengerikan. Suaranya keluar bergetar pelan.
"Itu artinya... pelakunya itu ada di dalam sekolah kita sendiri, kan? Cuma orang dalam yang bisa masuk ke ruangan ini, cuma orang dalam yang tau sandi atau kode aksesnya, dan cuma orang dalam yang bisa membobol keamanan sekolah dengan semudah ini... Orang luar mana mungkin bisa sembarangan masuk ke sini?"
Elara menoleh cepat ke arah Keisha, matanya membelalak karena sadar betul kebenaran ucapan sahabatnya itu.
"Kamu benar banget, Kei. Kamu benar..." jawab Elara pelan namun penuh penekanan. "Kalau orang luar, dia cuma bisa merusak kamera atau ngambil alatnya. Tapi ini data yang dihapus dari dalam sistem... artinya pelakunya punya wewenang, punya akses, atau dibantu sama orang yang punya kuasa di sekolah ini. Ini makin parah ternyata."
Suasana kembali hening sejenak, dipenuhi rasa frustrasi. Namun, Elara tidak mau menyerah begitu saja. Ia terdiam sejenak, matanya menatap kosong berusaha mengingat-ingat kembali urutan kejadian yang diceritakan orang-orang. Di mana Dinda terakhir kali dilihat? Di mana jejak awalnya? Pikirannya berputar cepat, lalu seketika matanya berbinar.
"Tunggu... coba kita lihat rekaman di Koridor dekat Perpustakaan Sekolah," ucap Elara tegas, suaranya kembali penuh semangat. "Di sana kan tempat Dinda hilang pertama kali. Sebelum dia diduga naik ke Rooftop. Kalau dia diserang sebelum sempat naik ke atas, pasti ada rekamannya di koridor itu. Coba cari sana, Arkan!"
Celio langsung menepuk bahu Elara antusias. "Nah! Ide yang brilliant, El! Kita lupa sama titik ini. Siapa tau pelakunya lupa kalau ada kamera di situ."
Tanpa membuang waktu lagi, Arkan kembali menundukkan pandangannya ke arah layar. Jari-jarinya kembali bergerak lincah di atas papan ketik, kali ini mengubah lokasi kamera yang dipantau. Ia kembali memutar ulang data rekaman pada tanggal dan jam yang sama, namun kali ini memilih saluran kamera yang menyorot koridor panjang di dekat gedung perpustakaan.
Jantung mereka berlima seolah berhenti berdetak saat gambar hitam putih rekaman masa lalu itu mulai berjalan di layar monitor. Mereka semua menatap lekat-lekat, napas tertahan.
Di layar itu, terlihat gambar koridor yang sepi. Tidak ada siapa-siapa. Hingga beberapa detik kemudian, muncul sosok Dinda berjalan sendirian dari arah kiri layar. Ia berjalan santai, tampak sedang memegang selembar kertas sambil menunduk, mungkin sedang membaca atau mencari nomor rak buku. Tidak ada yang mencurigakan.
Namun, tiba-tiba dari balik tiang penyangga yang ada di ujung koridor, muncul sesosok bayangan hitam. Seorang orang yang seluruh tubuhnya tertutup pakaian serba gelap, mengenakan Hoodie yang menutupi kepalanya, dan wajahnya tertutup topeng kain berwarna hitam pekat sehingga tidak terlihat sama sekali siapa dia. Sosok itu bergerak cepat dan diam-diam mendekati punggung Dinda.
Belum sempat Dinda menoleh ke belakang, sosok bertopeng itu langsung melompat maju dan menyerang Dinda secara tiba-tiba. Dinda terlihat kaget luar biasa, tubuhnya terhuyung ke depan. Ia berusaha sekuat tenaga melawan dan melepaskan diri, lalu segera berlari sekencang-kencangnya meninggalkan koridor itu ke arah kanan layar, diikuti oleh sosok bertopeng yang terus mengejarnya hingga hilang dari jangkauan kamera.
Pemandangan mengerikan itu membuat darah mereka semua berdesir hebat. Rafael yang melihat itu langsung menunjuk layar dengan tangan gemetar.
"Jadi... jadi dia... dia pelaku pembunuhan Dinda?!" seru Rafael hampir berteriak, namun ia segera meredam suaranya sendiri karena kaget. "Itu bukan hantu, bukan kecelakaan... itu beneran penyerangan! Dinda lari karena dia mau nyelamatin diri dia sendiri!"
Keisha yang matanya sudah berkaca-kaca kini mengeluarkan air mata haru sekaligus marah. Ia segera merogoh saku roknya, mengeluarkan sebuah flashdisk kecil berwarna biru, lalu menyodorkannya ke tangan Arkan.
"Ini... pakai flashdisk ini, Arkan," ucap Keisha dengan suara bergetar namun tegas. "Masukin video rekaman CCTV ini ke sini, salin semuanya. Biar nanti bisa kita bawa jadi bukti kuat ke polisi. Ini satu-satunya bukti nyata yang kita punya, jangan sampai hilang lagi."
Arkan menerima benda kecil itu dengan gerakan cepat. Ia segera menancapkan flashdisk itu ke lubang USB di bagian samping CPU komputer. Di layar muncul jendela baru, dan proses penyalinan data pun dimulai. Mereka berlima menunggu dengan napas tertahan, menatap bilah persentase yang bergerak perlahan dari 0%, 20%, 50%, hingga akhirnya berhenti tepat di angka 100% dengan suara pemberitahuan kecil.
Penyalinan Berhasil.
Arkan segera mencabut kembali flashdisk itu, menyerahkannya ke tangan Keisha agar aman, lalu menutup semua folder yang ia buka tadi, membiarkan sistem kembali seperti semula. Ia bangkit berdiri cepat, menatap ke arah pintu keluar dengan tatapan waspada.
"Ayo cepat kita pergi dari sini sebelum petugas yang tadi balik lagi atau ada orang lain yang lewat," ucap Arkan dengan nada mendesak dan dingin. Wajahnya kembali serius penuh kewaspadaan.
Tanpa menunggu perintah kedua kali, mereka berlima pun segera bergerak serentak. Elara, Keisha, Celio, dan Rafael berjalan beriringan dengan langkah cepat namun tetap berhati-hati. Mereka berjalan menyusuri lorong gelap yang sama saat mereka datang, menjauhi ruang keamanan itu, menjauhi rekaman yang hilang, namun membawa serta bukti nyata yang kini tersimpan aman di dalam saku Keisha. Di dada mereka, rasa lega dan ketakutan bercampur jadi satu. Kini mereka memegang kunci kebenaran itu.