Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14 riak di telaga tenang dan gadis penenun informasi
Debu yang beterbangan di Arena Latihan Terbuka perlahan mengendap, namun keheningan yang ditinggalkannya terasa lebih berat daripada dentuman pedang Yan Xinghe sebelumnya. Ribuan pasang mata terpaku pada sosok pemuda berjubah hitam yang berdiri tegak di pusat kehancuran. Di pundaknya, balok logam hitam yang tidak memiliki ketajaman itu bersandar dengan angkuh, memancarkan hawa panas yang masih menyisa dari fusi api Gagak Emas.
Jian Wu, sang Tetua Kedelapan yang diagungkan, terkapar di reruntuhan tembok tribun. Pedang pusakanya yang hancur menjadi simbol runtuhnya harga diri Sekte Pedang Angin Musim Gugur di depan publik. Darah merembes dari sela-sela zirah putihnya, membasahi batu granit yang pecah. Ia masih bernapas, tetapi setiap tarikan napasnya membawa rasa sakit yang menghancurkan Dantiannya.
Xinghe menyapu pandangannya ke arah tribun utama. Tatapannya dingin, melintasi kerumunan hingga berhenti tepat di wajah Mu Canghai. Kepala Keluarga Mu itu gemetar, bola giok di tangannya telah retak karena tekanan cengkeramannya sendiri.
"Hanya ini yang bisa ditawarkan oleh penguasa kota ini?" Suara Xinghe tidak keras, tetapi getaran suaranya merambat melalui lantai arena, menusuk gendang telinga setiap orang. "Jika tidak ada lagi lalat yang ingin mencoba keberuntungan, aku akan kembali untuk menyelesaikan sarapanku."
Tanpa menunggu jawaban, Xinghe memutar tubuhnya. Setiap langkah kakinya meninggalkan jejak retakan halus di lantai arena, sebuah bukti bahwa berat pedangnya bukanlah sesuatu yang bisa ditanggung oleh struktur bangunan biasa. Penonton segera membelah jalan, memberikan koridor luas bagi pemuda tersebut. Tidak ada yang berani berbisik, apalagi menghalangi.
Lin Muxue, yang berdiri di pinggir arena, merasa lututnya lemas. Kelegaan yang luar biasa bercampur dengan rasa ngeri yang baru. Ia menyadari bahwa Paviliun Awan Putih tidak lagi hanya memelihara seorang Penatua Kehormatan; mereka sedang menampung badai yang siap melahap siapa pun.
Kepulangan Xinghe ke Paviliun Bambu Hijau disambut oleh suasana yang jauh berbeda. Kabar kemenangannya telah sampai lebih dulu. Para pelayan yang sebelumnya menatapnya dengan rasa kasihan kini bersujud rendah saat ia lewat.
Di dalam kediamannya, Yan Qingshan sudah menantinya dengan wajah tegang. "Xinghe! Kau benar-benar melakukannya? Mereka bilang kau menghancurkan Tetua Sekte Pedang?"
Xinghe meletakkan pedang beratnya di atas penyangga batu yang khusus dibuat semalam. "Dia terlalu banyak bicara, Kakak. Pedang yang banyak bicara biasanya tidak memiliki bobot."
"Tapi Xinghe..." Qingshan mendekat, suaranya merendah. "Ibu sangat khawatir. Kau baru saja memulihkan meridianmu, sekarang kau sudah bertaruh nyawa lagi. Tubuhmu... apakah kau baik-baik saja?"
Xinghe merasakan kehangatan di dadanya. Di tengah kekejaman Tiga Ribu Dunia yang ia kenal, perhatian tulus dari kakaknya adalah satu-satunya jangkar yang menahannya tetap manusiawi. Ia melepaskan jubah hitamnya, memperlihatkan kulitnya yang kemerahan akibat panas internal api Gagak Emas yang belum sepenuhnya stabil.
"Aku butuh waktu untuk bermeditasi. Jangan biarkan siapa pun masuk, termasuk Nona Lin," pesan Xinghe.
Malam itu, Kota Awan Mengambang tidak tidur. Di kediaman rahasia milik Keluarga Mu, sebuah pertemuan tingkat tinggi sedang berlangsung. Mu Canghai tidak lagi sendirian. Di kursi utama, duduk seorang pria paruh baya dengan jubah biru tua berhias sulaman benang perak berbentuk badai. Dia adalah Jian Feng, Ketua Sekte Pedang Angin Musim Gugur, praktisi **Alam Pembukaan Meridian Tingkat Puncak**.
"Jian Wu adalah seorang idiot yang meremehkan lawan, tetapi pemuda itu... dia tidak menggunakan Qi secara normal," ucap Jian Feng, suaranya tenang namun mengandung otoritas yang membekukan udara. "Dia menggunakan kekuatan fisik murni yang melampaui logika Alam Penyempurnaan Tubuh. Dan pedang hitam itu... baunya mirip dengan legenda logam dari luar langit."
Mu Canghai mendengus. "Aku tidak peduli dari mana dia berasal. Dia membunuh putraku! Kita harus menghancurkannya sebelum Turnamen Aliansi dimulai. Jika dia dibiarkan tumbuh, Paviliun Awan Putih akan mendominasi seluruh jalur perdagangan kita!"
Jian Feng mengetuk meja kayu gaharu. "Kita tidak bisa menyerang paviliun itu secara terang-terangan sekarang. Rakyat kota sedang memujanya sebagai pahlawan rakyat jelata yang melawan penindas. Jika kita bertindak kasar, Asosiasi Naga Bayangan akan ikut campur. Namun..."
Senyum licik terukir di wajah sang Ketua Sekte. "Aku punya informasi bahwa dia sedang mencari material untuk menstabilkan Dantiannya. Dia membutuhkan sesuatu yang bersifat Yin ekstrim untuk menyeimbangkan api suci yang ia telan."
Xinghe duduk di tengah ruangan gelap. Keringat emas menetes dari pori-porinya. Sesuai dugaannya, *Bara Api Gagak Emas* terlalu liar. Meskipun ia berhasil menyambung kembali sembilan meridiannya, panas yang tersisa mulai membakar jalur spiritualnya dari dalam. Ia membutuhkan penyeimbang.
"Ketukan di jendela?"
Insting Xinghe seketika menajam. Tangannya meraih pedang beratnya dalam sekejap. "Siapa?"
"Seorang kawan yang membawa berita, dan mungkin... sedikit penyejuk untuk api di perutmu."
Suara itu lembut, feminin, dan mengandung nada jenaka yang tidak asing bagi para petualang di pasar gelap. Xinghe membuka jendela paviliunnya. Di atas dahan pohon bambu yang bergoyang, duduk seorang gadis muda mengenakan pakaian serba hijau lumut yang ketat. Wajahnya mungil, matanya bundar dan cerdas seperti seekor rubah. Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah gulungan kertas kecil.
Gadis itu melompat masuk ke dalam ruangan tanpa suara, gerakannya sehalus bulu yang jatuh.
"Siapa kau?" tanya Xinghe, Niat Pedangnya mengunci sosok gadis itu.
"Namaku Ye Ling'er. Orang-orang di distrik bawah tanah memanggilku Si Penenun Informasi," gadis itu membungkuk sedikit, senyumnya cerah namun matanya tetap waspada. "Aku datang bukan untuk bertarung, Penatua Yan yang hebat. Aku datang karena aku suka bertaruh pada naga yang sedang mendaki."
Xinghe menurunkan sedikit kewaspadaannya. Ia pernah mendengar nama ini di pasar gelap; Ye Ling'er dikenal sebagai informan independen yang paling sulit dilacak, konon ia memiliki jaringan mata-mata yang tersebar hingga ke luar benua.
"Apa taruhanmu?"
"Keluarga Mu dan Sekte Pedang telah menyiapkan jebakan di *Lembah Embun Beku*," Ye Ling'er duduk di atas meja kayu Xinghe tanpa rasa canggung. "Mereka tahu kau membutuhkan *Teratai Salju Sembilan Kelopak* untuk menyeimbangkan energi api Gagak Emasmu. Mereka telah menyebarkan berita palsu bahwa teratai itu akan mekar besok malam."
Xinghe menyipitkan mata. "Dan kau datang untuk memberitahuku bahwa itu palsu?"
"Oh, beritanya nyata," Ye Ling'er terkekeh. "Teratai itu memang ada. Masalahnya adalah, mereka telah mengundang seorang pembunuh bayaran dari faksi luar, seorang praktisi **Alam Transformasi Roh** tingkat awal, untuk menunggumu di sana. Mereka tidak ingin mengambil risiko lagi setelah melihatmu menghancurkan Jian Wu."
Xinghe terdiam. Alam Transformasi Roh adalah tingkatan di mana praktisi bisa mengendalikan energi alam untuk terbang dan melepaskan serangan jarak jauh yang masif. Bagi praktisi Alam Penyempurnaan Tubuh Tingkat Kelima, menghadapi Transformasi Roh adalah tindakan bunuh diri.
"Mengapa kau membantuku, Ling'er?"
Gadis itu mendekatkan wajahnya ke arah Xinghe, aroma kayu cendana tercium dari pakaiannya. "Karena Kota Awan Mengambang sudah terlalu lama membosankan. Paviliun Awan Putih terlalu lemah, Keluarga Mu terlalu tamak, dan Sekte Pedang terlalu sombong. Aku ingin melihatmu menghancurkan papan catur ini dan membawaku keluar dari benua sempit ini suatu hari nanti."
Xinghe menatap mata Ye Ling'er, mencari kebohongan. Yang ia temukan hanyalah ambisi liar yang murni. "Bantu aku mendapatkan teratai itu tanpa memicu jebakan mereka, dan aku akan berhutang satu budi padamu."
"Kesepakatan yang bagus!" Ye Ling'er bertepuk tangan riang. "Persiapkan dirimu, Penatua Yan. Besok malam, kita tidak akan pergi sebagai pahlawan, melainkan sebagai pencuri di bawah bayangan."
Malam berikutnya, perbatasan utara Kota Awan Mengambang diselimuti kabut tebal. Lembah Embun Beku adalah area terlarang yang dipenuhi oleh energi Yin yang sangat pekat, tempat di mana air membeku bahkan di musim panas.
Xinghe bergerak secepat bayangan, dipandu oleh Ye Ling'er yang memiliki kemampuan unik untuk mendeteksi jebakan formasi. Di punggungnya, pedang berat hitamnya telah dibungkus kain baru, meredam aura guntur agar tidak terdeteksi.
"Di depan sana," bisik Ye Ling'er, menunjuk ke sebuah danau es di dasar lembah. "Teratai itu ada di tengah danau. Tapi lihatlah di tebing-tebing itu... setidaknya ada dua puluh pemanah elit Sekte Pedang dan si pembunuh bayaran Transformasi Roh itu bersembunyi di dalam gua atas."
Xinghe memindai area tersebut. Indra spiritualnya menangkap kehadiran aura yang sangat tajam dan tenang di gua atas—seperti pedang yang disarungkan namun siap meledak. Itu pasti pembunuh bayaran yang dimaksud.
"Aku akan memancing perhatian mereka," Ye Ling'er mengeluarkan beberapa bola perak kecil dari sakunya. "Ini adalah *Bom Asap Rohani*. Ini akan mengacaukan indra spiritual mereka selama tiga menit. Kau harus mengambil teratainya dan lari dalam waktu itu."
"Tiga menit sudah lebih dari cukup," jawab Xinghe.
*BOOOM!*
Ledakan asap kebiruan memenuhi lembah seketika. Teriakan peringatan terdengar dari atas tebing. Panah-panah dilepaskan secara membabi buta ke arah danau es.
Xinghe meledakkan seluruh tenaga fisiknya. Ia tidak berlari di atas tanah, melainkan melompat dari satu bongkahan es ke bongkahan lain dengan kecepatan yang menghancurkan permukaan danau. Setiap kali kakinya menapak, es di bawahnya hancur, memberikan momentum ledakan.
Ia mencapai tengah danau. Teratai Salju Sembilan Kelopak memancarkan cahaya biru yang menenangkan. Xinghe mencabutnya beserta akarnya.
"DAPAT!"
"Tikus kecil, kau pikir trik asap bisa menipuku?"
Sebuah suara dingin turun dari langit. Sesosok pria berjubah abu-abu dengan wajah tertutup topeng perunggu meluncur turun dari tebing tanpa bantuan alat apa pun. Ia terbang dengan tangan di belakang punggung, memancarkan aura Alam Transformasi Roh yang sangat menekan.
Pria itu mengayunkan tangannya ke bawah. Udara di sekitar Xinghe mendadak memadat, berubah menjadi ribuan jarum es raksasa yang menusuk ke arahnya.
Xinghe tidak bisa menghindar di atas danau es yang licin. Ia menarik pedang beratnya.
**"Seni Pedang Berat: Perisai Gunung Tak Tergoyahkan!"**
Ia memutar pedang besarnya dengan kecepatan ekstrem, menciptakan pusaran angin dan petir ungu yang membentuk kubah pelindung. Jarum-jarum es itu hancur saat menghantam pedang beratnya, namun tekanan energinya membuat Xinghe terdorong masuk ke dalam air danau yang membeku.
"XINGHE!" teriak Ye Ling'er dari pinggiran lembah.
Di bawah air danau yang dingin, Xinghe merasakan energi Yin dari teratai di tangannya bereaksi dengan api di tubuhnya. Alih-alih bertarung, ia segera menelan satu kelopak teratai tersebut di bawah air.
Ledakan keseimbangan terjadi di dalam meridiannya. Energi panas dan dingin menyatu, menciptakan kekuatan baru yang lebih stabil.
*BZZZZT!*
Xinghe meledak keluar dari permukaan danau. Kali ini, auranya tidak lagi hanya ungu liar, melainkan memiliki kilauan emas-biru yang elegan. Tingkat kultivasinya melonjak sesaat menuju **Puncak Tingkat Kelima**.
Ia tidak lari. Ia justru melesat lurus ke arah pembunuh bayaran Transformasi Roh tersebut.
"Berani melawan balik?!" pembunuh itu terkejut. Ia mengeluarkan sebilah belati tipis yang memancarkan cahaya hijau beracun.
Xinghe mengangkat pedang beratnya tinggi-tinggi. Ia tidak menggunakan teknik pedang yang rumit. Ia menggunakan berat absolut dari *Meteorit Bintang Kegelapan* yang kini telah diberkati oleh keseimbangan Yin-Yang.
**"Seni Pedang Berat: Penghancur Langit!"**
Hantaman itu menciptakan gelombang kejut yang membelah seluruh danau es menjadi dua bagian. Pembunuh bayaran itu mencoba menahan dengan perisai energinya, namun berat lima ribu kati ditambah Niat Pedang Kaisar bukanlah sesuatu yang bisa ditahan oleh praktisi Transformasi Roh tingkat awal yang meremehkan lawan.
*KRAAAAK!*
Perisai energinya pecah. Pembunuh itu terlempar menghantam dasar danau, memuntahkan darah hitam. Ia menatap Xinghe dengan ngeri sebelum akhirnya melarikan diri menggunakan teknik pelarian bayangan, menyadari bahwa ia baru saja menghadapi monster yang salah.
Xinghe mendarat di pinggir danau, napasnya tersengal. Tubuhnya dipenuhi luka goresan es, namun matanya bersinar dengan kepuasan. Ia menoleh ke arah Ye Ling'er yang berdiri mematung.
"Ayo pergi. Serigala-serigala itu akan segera berkumpul di sini," ajak Xinghe.
Ye Ling'er mendekat, menatap Xinghe dengan pandangan baru. "Kau... kau baru saja mengusir ahli Transformasi Roh. Penatua Yan, sepertinya taruhanku padamu adalah hal terbaik yang pernah kulakukan dalam hidupku."
Xinghe hanya diam, menyimpan teratainya. Turnamen Aliansi Pedagang akan segera dimulai, dan kini ia telah memiliki fondasi yang cukup untuk menyapu bersih seluruh papan catur Kota Awan Mengambang.
Perjalanan menuju keabadian masih panjang, tetapi malam ini, sang kaisar telah merebut kembali satu kepingan kekuatannya yang hilang. Tiga Ribu Dunia, bersiaplah, karena naga itu telah menemukan sayapnya kembali.