NovelToon NovelToon
LENTERA ARWAH DI LEMBAH SUNYI

LENTERA ARWAH DI LEMBAH SUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No plagiat 🚫

" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.

Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restorasi Istana Dan Menu Penutup Yang Adil

Asap dari sisa sihir Penasihat Lu masih mengepul tipis di lantai aula utama, namun suasana sudah berubah drastis. He Xueyi masih berdiri dengan anggun di depan takhta, sementara kakinya masih menginjak ujung jubah Penasihat Lu yang kini hanya bisa mengerang seperti tikus kejepit.

"Bian Zhi," panggil He Xueyi tanpa menoleh, napasnya kini sudah mulai teratur kembali—tanda bahwa emosinya sedikit mereda setelah melakukan 'olahraga' tamparan tadi. "Lepaskan rantai emas di tubuh Raja Roh. Secara logika, jika dia tetap terikat lebih lama lagi, sirkulasi energi dunianya akan tersumbat dan itu akan membuat cuaca di dunia bawah jadi mendung selama sebulan. Aku benci cuaca mendung, itu membuat rambutku terlihat lepek."

Bian Zhi membungkuk hormat, lalu dengan satu tebasan pedang hitam yang presisi, rantai-rantai emas yang mengunci Raja Roh itu hancur berkeping-keping tanpa melukai kulit sang raja sedikit pun. "Sudah selesai, Tuan," sahut Bian Zhi tenang, seolah-olah dia baru saja memotong rumput dan bukan menghancurkan segel kuno tingkat tinggi.

Raja Roh bangkit dengan perlahan. Ia adalah sosok pria paruh baya dengan wibawa yang tenang, namun saat ini wajahnya terlihat sangat lelah. Ia menatap He Xueyi dengan tatapan yang sulit diartikan—antara bersyukur, kagum, dan sedikit takut melihat kegalakan penjaga paviliunnya itu.

"Nona He... aku berutang nyawa padamu," ucap Raja Roh sambil merapikan mahkotanya yang sedikit miring. "Aku tidak menyangka Penasihat Lu akan menggunakan Cairan Pemurni Sukma dari dalam kantong tehku."

"Itu karena Anda terlalu baik, Raja Roh," He Xueyi berbalik, jubah merahnya menyapu lantai dengan suara shing yang mewah. "Secara logika, seorang penguasa tidak boleh menerima minuman dari siapa pun yang matanya berkedip lebih dari lima kali dalam satu menit saat bicara. Itu tanda-tanda saraf pengkhianatan sedang bekerja. Tapi sudahlah, urusan keamanan istana ini bukan tanggung jawabku."

He Xueyi kemudian menunjuk ke arah Penasihat Lu yang masih terkapar. "Sekarang, apa yang akan kita lakukan dengan 'kerikil' tua ini? Aku punya beberapa ide kreatif yang melibatkan lenteraku dan beberapa roh lapar di ruang bawah tanah keempat."

Penasihat Lu gemetaran hebat. "Ampun... Nona He... Raja Roh... saya hanya tergiur oleh janji Raja Hantu..."

"Janji Raja Hantu?" He Xueyi tertawa kecil, suara tawa yang membuat bulu kuduk semua orang di aula berdiri. "Pria itu saja tidak bisa menjaga jiwanya sendiri dariku, dan kau percaya janjinya? Logika macam apa itu? Kau benar-benar butuh pendidikan ulang tentang cara memilih sekutu."

Raja Roh menghela napas dalam. "Bawa dia ke Penjara Tanpa Cahaya. Biarkan dia merenungkan logikanya di sana selama seribu tahun tanpa suara, tanpa cahaya, dan tanpa... teh."

"Tanpa teh? Itu hukuman yang sangat kejam bagi orang tua sepertinya. Aku suka!" He Xueyi menjentikkan jarinya, dan dua prajurit bayangan yang sudah sadar segera menyeret Penasihat Lu keluar dari aula.

Setelah aula bersih dari para pengkhianat, He Xueyi tiba-tiba memegang perutnya. Wajahnya yang tadi garang kembali menjadi agak pucat, tapi kali ini bukan karena sihir.

"Tuan?" Bian Zhi sudah berada di sampingnya dalam waktu kurang dari satu detik, tangannya siap menopang. "Apakah jantung Anda terasa nyeri lagi?"

"Bukan jantungku, Bian Zhi," He Xueyi menatap asistennya dengan tatapan memelas yang sangat tidak cocok dengan aura 'ratu kematian'-nya. "Lambungku. Dia sedang melakukan protes besar-besaran. Logikanya, setelah menguras tenaga untuk kudeta ini, aku berhak mendapatkan makanan yang layak. Dan aku tidak mau roti batu itu lagi!"

Raja Roh tersenyum tipis. "Nona He, sebagai tanda terima kasih, dapur istana akan menyiapkan perjamuan terbaik. Kami punya Bebek Panggang Esensi Bulan dan Sup Jamur Salju yang dimasak dengan api abadi. Apakah itu cukup logis untuk memuaskan rasa laparmu?"

Mata He Xueyi berbinar. "Bebek panggang... kedengarannya sangat masuk akal secara nutrisi. Bian Zhi, Xiao Bo, kita menginap di sini malam ini. Aku tidak mau bergerak satu inci pun sampai aku melihat bebek itu di atas meja!"

"Horeee! Makan enak! Makan enak!" Xiao Bo melompat-lompat girang di pundak Bian Zhi.

Bian Zhi hanya bisa tersenyum pasrah. "Baiklah, Tuan. Hamba akan memastikan tidak ada debu atau suara bising yang mengganggu waktu makan Anda."

Malam itu, Istana Sembilan Kegelapan merayakan kembalinya kedamaian dengan perjamuan mewah. He Xueyi duduk di kursi kehormatan, memegang sumpit giok dengan sangat elegan, sementara di sampingnya Bian Zhi sibuk memotongkan daging bebek agar He Xueyi tidak perlu terlalu banyak mengeluarkan tenaga.

"Bian Zhi, secara logika," ucap He Xueyi sambil mengunyah potongan daging bebek yang sangat lembut, "daging ini jauh lebih enak daripada esensi ruh manapun. Kenapa aku baru merasakannya sekarang ya?"

"Mungkin karena sekarang Anda punya lidah yang bisa merasakannya, Tuan," jawab Bian Zhi tenang sambil menuangkan teh bunga melati yang harum ke cangkir He Xueyi.

He Xueyi mengangguk-angguk setuju. "Benar juga. Baiklah, setelah makan ini, besok kita kembali ke Paviliun Lentera Abadi. Aku rindu tempat tidurku yang empuk. Dan pastikan lenteranya dipasang di tempat semula, aku ingin tidur selama tiga hari penuh."

"Tentu, Tuan. Hamba akan menjaga semuanya," janji Bian Zhi.

Petualangan besar itu berakhir dengan perut kenyang dan hati yang—meskipun baru—terasa sangat damai. He Xueyi telah menemukan jiwanya, detak jantungnya, dan yang terpenting: kenikmatan dari sepiring bebek panggang. Namun, di balik kedamaian itu, He Xueyi tahu bahwa perannya sebagai 'Detektif Nyawa' baru saja dimulai. Karena di dunia ini, selalu ada roh yang tersesat dan logika yang harus diluruskan.

1
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Wah, sudah disuguhi pemandangan kayak gini awal-awal 😭
Diah nation: eh itu baru awalan lho tapi nanti pas tengah tengah bab bakal ada kejutan 😂😂baca aja dulu seru kok hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!