NovelToon NovelToon
Suami Dadakanku Penjual Bakso Bakar

Suami Dadakanku Penjual Bakso Bakar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lapar dan nafkah pertama untuk Arumi

Matahari sudah mulai meninggi, menyapu lantai kontrakan sederhana milik Elang dengan cahayanya yang cerah. Sebenarnya, sejak kepala Arumi terangkat dari bantal pagi tadi, ada keinginan besar untuk menunjukkan baktiku sebagai istri meskipun status ini masih terasa sangat baru dan canggung. Ia ingin memasak, menyajikan makanan hangat di atas meja kayu kecil itu, namun ia terbentur pada kenyataan pahit: di dapur Elang tidak ada satu pun bahan makanan yang bisa diolah.

## Bab: Nafkah Pertama

Waktu sudah beranjak siang. Arumi berdiri di ambang pintu kamar, menatap Elang yang masih terlelap di kursi panjang ruang tamu. Biasanya, di jam sepuluh pagi  pekerjaan Arumi di rumah Ayahnya sudah selesai semua. Ia sudah selesai memasak, mengepel, dan bahkan mencuci baju. Namun di tempat itu ,ia merasa seperti orang linglung. Ingin beres-beres,ia takut suaranya akan mengusik tidurnya yang tampak sangat lelap. Ingin memasak, dapurnya benar-benar kosong melompong.

Kruuukkk ... kruuukkk ...

Perutnya berbunyi.Kali ini lebih nyaring, seolah-olah cacing di dalamnya sedang berteriak menagih sarapan yang tak kunjung datang.

"Ah, Mas Elang belum bangun juga. Padahal tadi katanya cuma mau tidur satu jam," gumamnya  pelan. Arumi menatap Elang dengan rasa kasihan sekaligus tidak sabar. Dia tahu dia pasti sangat kelelahan karena harus merelakan kamarnya untuk Arumi semalam, sementara dia sendiri tidur meringkuk dalam posisi yang tidak nyaman.

Namun, rasa lapar  sudah tidak bisa diajak kompromi.ia tidak punya pilihan lain selain membangunkan Elang

Arumi mendekat, dan memberanikan diri menggoyangkan bahunya pelan. "Mas ... Mas Elang, bangun. Ini sudah siang."

"Eungh ... ada apa?" tanyanya dengan suara serak, masih enggan membuka mata.

"Bangun, Mas. Hari sudah mulai panas,"Arumi berbicara pelan

"Mmm ... memangnya sudah jam berapa sekarang?" Elang bertanya sambil menggeliat malas.

"Hampir jam sepuluh."

Mendengar angka sepuluh, Elang seolah tersengat listrik. Ia langsung terduduk tegak, membuat selimutnya terjatuh ke lantai. "Hah! Apa? Sudah jam sepuluh? Kenapa kamu baru membangunkan aku sekarang, Arumi? Kamu pasti sudah sangat kelaparan, ya?"

Wajah Elang yang tadinya mengantuk kini berubah menjadi penuh rasa bersalah.

Arumi hanya bisa tersenyum kaku. "Aku tidak enak hati membangunkannya, Mas. Mas tidurnya nyenyak sekali."

"Duh, maaf ya. Aku benar-benar tidak dengar suara apa-apa. Ya sudah, aku mandi sebentar, setelah itu kita cari makan untukmu," ucap Elang sembari bergegas bangkit.

"Iya, Mas."

Elang segera menuju kamar mandi di dekat dapur, namun sebelumnya ia sempat meminta izin masuk ke kamar yang Arumi tempati semalam untuk mengambil handuk dan baju ganti. Arumi menunggu di ruang tamu, duduk di kursi yang baru saja di tinggalkan Elang . Bau maskulinnya masih tertinggal di sana, membuat Arumi sedikit tersipu.

Sepuluh menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka.Elang keluar dengan penampilan yang jauh berbeda. Rambut yang masih basah, menyebarkan aroma sabun yang segar. Ia hanya mengenakan kaos hitam berkerah dan celana pendek, namun entah mengapa, pemandangan itu membuat jantung Arumi berdegup sedikit lebih kencang.

("Gila, kenapa dia jadi berkali-kali lipat lebih tampan kalau sudah mandi begini?")gumam Arumi dalam hati. Dia sempat terpana melihat tetesan air yang jatuh dari ujung rambutnya. Jika ini adalah pernikahan sungguhan atas dasar cinta, mungkin Arumi akan menjadi wanita paling beruntung memiliki suami seperti Elang .

"Arumi? Heh, Arumi!" Elang melambaikan tangannya tepat di depan wajah Arumi

"Hah! Iya! Ada apa, Mas?" Arumi terkesiap, tersadar dari lamunan yang memalukan itu.

"Kamu itu kenapa? Ditanya malah bengong begitu. Aku tanya, kamu mau makan apa?" ulang Elang sambil tersenyum geli.

"Oh ... itu ... apa saja, Mas. Yang penting halal dan mengenyangkan," jawab Arumi salah tingkah.

"Bagaimana kalau kita keluar saja? Kamu ikut denganku, jadi kamu bisa pilih sendiri mau makan apa," ajak Elang

Arumi sempat ragu. "Memangnya boleh, Mas? Nanti kalau orang-orang di sekitar sini bertanya tentang siapa aku?"

Arumi memang belum siap mempublikasikan pernikahan dadakannya.

Elang tampak sudah memikirkan hal itu. "Tenang saja. Aku sudah bilang ke pemilik kos kalau kamu adalah adik sepupuku yang sedang menumpang sementara karena mencari kerja. Jadi, kalau ada yang bertanya, tinggal jawab begitu saja."

Mendengar penjelasannya, beban Arumi sedikit terangkat. "Baiklah kalau begitu. Aku ikut, sekalian tolong antar aku belanja kebutuhan dapur ya, Mas. Kita tidak mungkin makan di luar terus, akan sangat boros."

"Kamu mau memasak?"

"Tentu saja. Setidaknya kita bisa menghemat uang makan kita kalau memasak sendiri," jelas Arumi

Elang mengangguk setuju. "Ya sudah, ayo berangkat sekarang."

Namun, saat hendak melangkah menuju pintu, gerakan Arumi tertahan. Ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Sebuah kenyataan pahit yang harus ia akui di depannya.

"Mas ... tapi ... aku ..." kalimat Arumi menggantung ia meremas ujung bajunya

"Ada apa lagi?" Elang berbalik, menatap Arumi dengan heran. "Tadi semangat sekali ingin belanja, sekarang malah ragu."

Arumi menelan ludah, wajahnya terasa panas karena malu. "Maaf, Mas. Tapi... Mas punya uang tidak? Kalau ada, bolehkah aku pinjam dulu? Nanti kalau aku sudah gajian, aku pasti menggantinya."

Suara Arumi nyaris hilang di akhir kalimat. "Mas tahu sendiri, uangku dirampas Ayah. Di tas ini hanya tersisa seratus ribu untuk bensin sebulan dan uang maharmu semalam. Aku benar-benar malu mengatakannya, tapi aku tidak punya uang untuk belanja bahan pokok."

Mendengar pengakuan Arumi , Mas Elang terdiam sejenak, lalu sebuah senyuman tulus terukir di bibirnya. "Jadi, istriku ini tidak punya uang?"

"Iya, Mas. Belum gajian. Ada tabungan sedikit, tapi kutitipkan di teman dekatku karena aku takut diambil Ayah dan ibu tiri kalau kusimpan sendiri. Kalau Mas tidak punya uang juga, tidak apa-apa. Kita beli secukupnya saja pakai uang bensin aku tadi," ujar Arumi cepat-cepat, tidak ingin dia merasa terbebani. Bagaimanapun, gajinya sebagai OB dan penjual bakso mungkin juga tidak seberapa.

"Ya sudah kalau begitu, aku ke tempat temanku saja dulu ambil tabungan ... "

"Tidak usah," potong Elang tegas namun tidak kasar.

"Lalu kita belanja pakai apa, Mas? Uang seratus ribu mana cukup untuk stok makan kita?"

"Tenanglah, Arumi. Aku ada uang kalau hanya untuk belanja kebutuhan rumah tangga kita," ucap Elang dengan nada meyakinkan. Ia berbalik masuk ke kamar, mengambil sebuah dompet kulit dari atas meja dan mengeluarkan beberapa lembar uang merah pecahan seratus ribu lalu menyodorkannya kepada Arumi .

Arumi melihatnya sampai membelalakkan mata. Ada sekitar lima puluh lembar di tangannya.lima juta rupiah! Untuk ukuran seorang OB, itu adalah jumlah yang sangat besar untuk dibawa di dalam dompet.

"Ini untuk belanja kamu. Cukup?" tanyanya.

"Ah ... ini ... ini kebanyakan, Mas! Kalau aku pakai sebanyak ini, nanti bagaimana aku menggantinya? Gajiku bisa habis hanya untuk bayar utang padamu," sahut Arumi kaget, menolak untuk menerima uang itu.

"Siapa yang bilang ini utang?" Elang menarik tangan Arumi , lalu meletakkan uang itu di telapak tangannya dan menutupnya rapat-rapat.

"Tapi aku kan meminjamnya, Mas."

"Arumi, dengarkan aku baik-baik," ia menatap mataku dengan dalam. "Aku tidak meminjamkan uang ini padamu. Ini adalah nafkah untukmu."

"Nafkah?" aku mematung. Kata itu terasa begitu sakral dan asing di telingaku.

"Iya. Walaupun pernikahan kita dadakan, kamu sekarang sudah sah menjadi istriku. Tanggung jawabmu kini ada di pundakku. Memberimu makan dan kebutuhan hidup adalah kewajibanku sebagai suami. Jadi, uang ini bukan untuk dikembalikan. Gunakanlah untuk keperluan dapur dan kebutuhan pribadimu."

Mata Arumi terasa panas. Nafkah. Selama ini ia bekerja keras hanya untuk melihat uangnya dirampas. Tapi hari ini, pria yang baru saja mengenalnya dalam hitungan jam ini memberi ia hasil jerih payahnya tanpa ragu.

"Terima kasih, Mas Elang ... aku ... aku akan menggunakannya dengan sangat hemat," ucap Arumi terbata.

"Sudah, jangan menangis lagi. Ayo berangkat, sebelum pasar semakin siang dan sayurannya layu," ajak Elang sambil menepuk pundak Arumi pelan.

Arumi mengangguk, menyimpan uang itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Di dalam hati, ia berjanji akan mengelola nafkah pertama ini dengan sebaik-baiknya. Elang mungkin bukan pria kaya raya, tapi kemuliaan hatinya memberinya kekayaan rasa yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya.

Arumi dan Elang melangkah keluar, menyambut hari pertama kami sebagai suami istri di bawah terik matahari yang mulai menyengat.

1
Neng Saripah
lama2 istrimu bisa curiga kamu belanja sebanyak itu ,lang 🤭
MayAyunda: he .he. .Iya kak
total 1 replies
Dwiwinarni
suatu saat nanti gilang akan membahagiakan arumi, sabar ya arumi sapa tahu gilang anak horang kaya😃
MayAyunda: he he
total 3 replies
Dwiwinarni
Arumi tidak sudi menikah sama juragan dirga, mending hidup jadi gembel dijalanan.. Elang bersedia menikah sama arumi...
Dwiwinarni
Bagus arumi jangan mau menikah juragan dirga sibandot tua itu🤭
Dwiwinarni
Elang hanya penjual bakso tusuk bakar, dihina abis2an...
Dwiwinarni
bagus itu baru pria gentmen elang...
Dwiwinarni
Kasian arumi yg jadi korbannya menikah sama bandot tua botak🤣🤭
MayAyunda: iya kak😄😄
total 1 replies
Rosmenti Sitanggang
lanjut thor💪💪
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
Dwiwinarni
Ini mah kebalik cewek ngelamar cowok🤣dasar arumi belum kenal dah berani ngelamar😃
MayAyunda: he he 😁
total 1 replies
Nanik Arifin
semoga pernikahan kalian samawa & langgeng. baik tinggal dikontrakan petak maupun di mansion
MayAyunda: aamiin
total 1 replies
Nanik Arifin
tenang Arumi, suamimu ceo, pemilik perusahaan t4 kamu kerja
MayAyunda: iya kak .he.he
total 1 replies
Nanik Arifin
puas"in senyumnya Bu Lastri, krn setelah kepergian Arumi, gaya hidupmu & anakmu minta dilunasi. klo tak ada uang, ya udah bayar aj putrimu atau dirimu sendiri. lumayan kan, jadi istri Tuan Dirga yg kaya...😜
MayAyunda: .he .He ..betul itu kak😁
total 1 replies
Nanik Arifin
enak aj suruh Arumi yg membuat hutang lunas, kan yg pakai uangnya kalian? suruh aj tuh Rina nikah sama juragan Dirga, lagian pacarnya yg direktur blm tentu mau nikahi juga kan ? y ogahlah punya istri + mertua benalu
Nanik Arifin: masama. semangat thor
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!