Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 — HADIAH YANG DITINGGALKAN
Sarapan usai. Tidak ada yang bicara.
Bram mengambil map cokelat, berdiri. Satu tangan bertumpu sebentar di punggung kursi, lalu dilepas. Dia tidak menoleh. Pintu tertutup. Mesin mobil dinas menyala di halaman, lalu menjauh.
Maya masih di ambang pintu ruang makan. Kunci perak di genggaman. Jari-jarinya bergerak maju mundur di sela logam itu—ritme kecil yang mungkin tidak disadarinya. Matanya bertemu dengan Ardi. Satu detik. Tidak marah. Tidak lembut. Hanya tatapan terlalu rata untuk dibaca.
“Aku pergi dulu.”
Ardi membuka mulut. Tidak ada suara keluar.
Pintu terbuka. Tertutup. Mesin mobil baru itu menyala—lebih senyap dari yang dia bayangkan. Hampir tidak terdengar. Lalu hilang.
Bu Lastri muncul, mengangkat piring Ardi yang nyaris tak tersentuh. Pergi tanpa berkata.
Ardi menatap kunci hitam di atas meja.
Satu kunci tersisa. Hadiah dari ayah. Untuk anak yang meniduri istrinya.
---
Ponsel bergetar. Nama Yuni, ART baru.
Pak, ada surat dari Pak Bram. Saya taruh di meja kerja.
Ardi tidak membalas. Matanya kembali ke meja kosong. Dua kursi yang tadi diduduki Bram dan Maya kini hanya kursi. Tidak ada yang tersisa kecuali gelas kopi setengah, piring dengan sisa telur, dan kunci hitam yang dingin di telapak tangannya.
Dia berdiri. Kaki membawanya ke ruang kerja.
---
Surat itu di atas meja. Amplop cokelat polos, nama Ardi ditulis tangan dengan tinta hitam. Gaya tulisan Bram—tegak, terburu-buru, huruf A dengan garis bawah yang menekan.
Ardi duduk. Membuka amplop. Satu lembar kertas.
Nak,
Aku tidak akan bilang aku tidak tahu. Karena aku tahu dari awal.
Bukan tentang kalian berdua. Tapi tentang dirimu. Tentang apa yang selama ini tidak bisa kuberikan.
Maafkan aku karena baru bisa menjadi ayah setelah semuanya hancur.
Hartono Group akan tetap milikmu. Tapi kalau kamu memilih pergi, aku mengerti.
Kunci itu punya maknanya sendiri. Kamu yang memutuskan.
Ayah.
Ardi membaca sekali. Dua kali.
Tahu dari awal.
Jika Bram tahu, mengapa diam? Mengapa memberi mobil? Mengapa duduk di meja makan yang sama?
Semakin dia membaca, semakin dingin yang merambat dari kertas ke jari.
Bukan karena Bram tidak tahu. Tapi karena Bram memilih memberi daripada melawan.
---
Ponsel bergetar. Panggilan. Nomor tidak dikenal.
“Pak Ardi? Saya Budi dari sekretariat dewan komisaris. Pak Bram meminta saya mengirim dokumen untuk rapat siang ini.”
“Baik.”
Panggilan berakhir. Ardi meletakkan ponsel di meja.
---
Budi datang tepat satu jam kemudian. Pria muda berkacamata dengan map tebal. Wajah datar, sopan—tapi matanya bergerak cepat, merekam lebih dari yang seharusnya.
“Dokumen untuk rapat, Pak. Pak Bram minta Bapak hadir jam dua siang.”
“Dewan komisaris semua hadir?”
“Hadir, Pak. Pak Bram juga hadir.”
Jeda.
“Ada agenda tambahan?”
Budi tersenyum tipis. “Saya tidak diberi tahu detail, Pak. Tapi sepertinya ada pembahasan soal… restrukturisasi.”
Kata halus untuk kamu mungkin digeser.
“Baik.”
Budi pamit. Langkahnya teratur di lantai marmer—tapi di ambang pintu, dia berhenti. Melirik ke arah kamar Maya yang pintunya tertutup. Hanya sebentar. Lalu pergi.
Ardi memperhatikan itu. Budi melihat.
Dia membuka map. Laporan keuangan kuartal terakhir. Analisis dampak skandal terhadap valuasi. Surat pernyataan dari investor asing yang meninjau ulang komitmen.
Di bagian paling bawah, satu lembar tidak biasa.
Foto.
Ardi dan Maya. Di lobi hotel. Hari itu—hari ketika mereka mengira tidak ada yang melihat.
Ardi memegang foto itu. Tangannya tidak gemetar. Justru terlalu stabil. Seperti bagian dari dirinya sudah mati.
Di balik foto, tulisan tangan kecil: Yuni, 15.30.
ART baru. Yang merekam mereka.
Dia menutup map. Meletakkannya di meja. Berjalan ke jendela.
Di luar, Jakarta seperti biasa. Mobil-mobil berdesakan. Orang-orang berjalan cepat. Tidak ada yang berubah—seolah dunia tidak tahu, atau tidak peduli, bahwa pagi ini ada sesuatu yang runtuh di rumah kawasan Menteng.
Ponsel di meja bergetar lagi. Bukan Maya. Bukan Sari. Pesan dari Bram—dikirim ke grup keluarga kecil: Bram, Maya, Ardi.
Rapat keluarga malam ini. Jam 7. Rumah.
Ardi membaca pesan itu. Grup yang selama ini hanya dipakai Bram untuk mengirim jadwal perjalanan bisnis atau foto dari luar kota. Sekarang, untuk pertama kalinya, pesan itu terasa seperti sesuatu yang lain.
Bukan undangan. Panggilan.
Di kolom balasan, titik tiga muncul—Maya mengetik. Lalu berhenti. Lalu menghilang.
Ardi mematikan layar.
---
Di sisi lain kota, Bram menahan sesuatu yang hampir runtuh.
Dia tidak pernah menangis. Bukan karena tidak bisa—tapi karena tidak ada waktu. Dua puluh tahun lalu, saat istri pertamanya pergi, dia menangis dua malam. Malam ketiga, dia masuk kantor jam enam pagi dan tidak pernah berhenti.
Tapi di kursi belakang mobil yang melaju ke kantor, ada sesuatu di dadanya yang berbeda dari sesak fisik biasa. Lebih tumpul. Seperti memar lama—yang baru saja tersenggol.
Ponsel bergetar. Hasil tes. Dokter memintanya segera datang.
“Kirim ke email saya.”
Dokter berhenti. “Baik, Pak.”
Panggilan berakhir. Bram menggenggam gagang pintu. Buku-buku jarinya memutih.
Kalau berhenti sekarang, semuanya selesai.
Napasnya tersengal.
“Siapkan rapat. Jam sepuluh.”
Mobil memasuki area parkir. Bram turun. Langkahnya tegap—sama seperti setiap hari. Wajah CEO. Tidak ada yang berubah.
Tapi di pintu masuk, sebelum tangannya menyentuh gagang, dia berhenti.
Kaca besar itu memantulkan bayangannya.
Pria tua. Lelah. Sendirian.
Dia menarik pintu. Melangkah masuk. Bayangan itu hilang.
---
Ardi masih di ruang kerja ketika jam menunjukkan pukul sebelas. Map Budi terbuka. Foto hotel masih di tangan.
Pesan dari Maya.
Kamu dapat surat juga?
Ya.
Lima belas detik kemudian: Ayah tahu dari awal.
Jari Ardi di kolom balasan—ketukan di pintu.
Bu Lastri masuk dengan nampan berisi kopi. Wajah datar, tapi tangannya meletakkan nampan dengan terlalu hati-hati.
“Ada tamu, Pak. Di ruang tamu. Dari kantor Pak Bram. Bawa map juga.”
Ardi berdiri.
Di ruang tamu, seorang pria berdiri dengan setelan rapi, map merah di tangan.
“Pak Ardi? Pak Bram minta saya mengambil dokumen yang tertinggal.”
“Dokumen apa?”
Pria itu tersenyum. “Dokumen pribadi, Pak.”
Ardi menatap pria itu. Matanya beralih ke map merah—lalu ke arah kamar Maya yang masih tertutup.
“Tunggu di sini.”
Dia kembali ke ruang kerja, mengambil map cokelat. Sebelum keluar, jarinya menyentuh foto hotel yang masih di meja. Menyelipkannya ke saku jas.
“Ini.”
Pria itu menerima map. “Terima kasih, Pak. Pak Bram juga titip pesan: rapat siang ini tetap jadi. Beliau harap Bapak datang tepat waktu.”
“Sampaikan saya akan datang.”
Pria itu pergi. Langkah cepat, terukur.
Ardi berdiri di ruang tamu, memandang pintu tertutup.
Ponsel bergetar lagi. Maya.
Aku baru sampai. Kamu di rumah?
Dia tidak membalas.
Dia memikirkan rapat siang ini. Dewan komisaris. Restrukturisasi. Bram yang hadir—dengan semua yang dia tahu, dengan semua yang dia pilih untuk tidak katakan pagi tadi.
Lalu pikirannya berpindah ke surat Bram: Kunci itu punya maknanya sendiri. Kamu yang memutuskan.
Kunci hitam di saku jas. Beratnya mulai berubah—dari beban, menjadi sesuatu yang harus dia bawa. Bukan karena dipaksa, tapi karena itu satu-satunya yang tersisa.
Ardi berjalan ke garasi. Mobil baru itu masih mengilap, bau kulit sintetis belum hilang. Terlalu bersih untuk semua yang sudah terjadi.
Dia masuk. Menyalakan mesin.
Sebelum mobil bergerak, pesan lain dari Maya.
Ardi.
Hanya nama itu. Tidak ada kalimat setelahnya.
Ardi menekan telapak tangan ke setir. Napas dalam.
Di kolom balasan, jari bergerak:
Kita bicara nanti.
Mobil keluar dari garasi. Di persimpangan, lampu merah. Ardi membuka peta. Jari mengetuk kolom tujuan.
Kantor pusat Hartono Group.
Lampu hijau. Mobil melaju.
Di spion, rumah besar itu mengecil—lalu hilang di tikungan.