Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
“Terima kasih untuk ramennya, Maria. Ramenmu benar-benar enak sekali. Rasanya kaya, dan terasa seperti ramen asli yang dibuat dengan sepenuh hati.” Nindi tersenyum hangat saat mengembalikan mangkuk kosongnya.
Maria tertawa kecil, wajahnya tampak puas. “Ya, aku tahu itu. Ini memang kebanggaanku, Nindi. Oh ya, tolong sampaikan terima kasihku pada Sonya. Katakan padanya aku berterima kasih karena sudah mengizinkanmu datang malam ini.”
“Baik, pasti aku sampaikan.”
Nindi kemudian menoleh ke arah Dion yang sedang membereskan meja. “Dion, aku pulang dulu. Jangan nakal ya.”
Dion mendengus pelan sambil tersenyum. “Iya, iya. Hati-hati di jalan, Nindi. Hati-hati juga, Clay.”
Clay hanya mengangguk singkat sebagai jawaban.
Sebelum benar-benar pergi, Clay sempat berkata pada Maria, “Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku.”
Maria mengangguk. “Iya, pasti.”
Clay kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan menyodorkannya ke arah Dion. “Ini.”
Namun Dion langsung menggeleng cepat. “Tidak, jangan. Uang minggu lalu saja masih ada. Kamu tidak perlu memberi lagi.”
Clay berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis. Bukan senyum lebar, hanya lengkungan kecil yang jarang muncul. Ia menepuk pundak Dion ringan. “Baiklah. Tapi kalau sudah habis, bilang saja.”
Dion mengangguk. “Hati-hati di jalan.”
“Ya,” jawab Clay singkat.
“Jangan lupa jaga Nindi,” tambah Maria sambil tersenyum kecil.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi entah kenapa membuat Clay sedikit diam lebih lama dari biasanya.
Mereka pun akhirnya meninggalkan tempat itu.
Malam sudah benar-benar larut. Jam di ponsel Clay menunjukkan hampir pukul sebelas. Jalanan mulai sepi, lampu-lampu kota memantul di aspal yang sedikit basah oleh embun malam. Nindi berjalan di samping Clay dengan langkah yang mulai melambat. Sesekali ia menguap kecil, mencoba tetap sadar.
“Clay…” suaranya pelan. “Kita naik taksi saja ya? Aku rasanya sudah tidak punya tenaga lagi untuk jalan.”
Clay menoleh. “Kamu lelah?”
Nindi mengangguk, kali ini lebih jelas. Bahkan matanya terlihat berat, seolah setiap kedipan adalah usaha besar.
“Duduk dulu di sana,” kata Clay sambil menunjuk kursi kecil di trotoar. “Aku cari taksi.”
Nindi menurut tanpa protes. Ia duduk pelan, menyandarkan tubuhnya ke belakang kursi. Dalam hitungan detik, kepalanya sedikit menunduk, hampir terlelap. Clay berdiri di tepi jalan, matanya mengamati jalan kosong di depan. Tidak banyak kendaraan lewat. Bahkan suara malam terasa lebih keras dari biasanya. Angin, jangkrik, dan jauh di kejauhan suara motor yang sesekali melintas.
Lima menit berlalu.
Tidak ada taksi.
Clay menghela napas pelan. Saat ia menoleh, Nindi sudah tertidur.
“Serius…” gumamnya pelan. “Di tempat umum seperti ini saja dia bisa tidur.”
Ia mendekat sedikit dan berjongkok di depan Nindi. “Nindi…”
“Hmm?” Nindi membuka mata setengah. “Taksinya sudah datang?”
“Belum.”
“Oh…” Nindi kembali bersandar, terlihat kecewa.
“Sepertinya kita harus jalan.”
“Baiklah…” jawabnya tanpa semangat.
Mereka kembali berjalan.
Langkah Clay panjang dan stabil, sementara Nindi kecil dan pelan. Tanpa sadar, Clay mulai menyesuaikan langkahnya agar tidak terlalu jauh meninggalkan gadis itu.
“Kamu ini benar-benar…” Clay meliriknya sekilas. “Di tempat sepi seperti tadi saja kamu bisa tidur.”
“Karena ada kamu,” jawab Nindi santai.
Kalimat itu membuat Clay sedikit menoleh lebih lama.
“Aku aman kalau ada kamu,” lanjut Nindi, tanpa sadar betapa ringan kalimat itu terdengar, tapi berat maknanya.
“Jadi kamu percaya padaku?” tanya Clay akhirnya.
“Menurutmu?”
Clay mendengus pelan. “Jangan terlalu percaya. Di pikiranku sekarang, aku bisa saja punya niat buruk.”
Ia berhenti berjalan sejenak, menatap Nindi dengan serius, mencoba terlihat meyakinkan.
Tapi Nindi malah tertawa kecil. “Kalau kamu mau, coba saja.”
Clay mengangkat sebelah alis. “Memangnya aku tidak berani?”
“Kalau begitu, apa niat burukmu?”
Clay diam sebentar, lalu menjawab datar, “Membawamu ke motel, misalnya.”
Nindi menguap kecil. “Masih ‘misalnya’. Berarti kamu saja belum yakin.”
Clay menghela napas. “Sudahlah, kamu terlalu banyak bicara.”
“Kalau kamu kesal, berarti aku benar,” balas Nindi santai.
Clay tidak menjawab lagi.
Beberapa menit berjalan dalam hening yang tidak benar-benar hening.
“Clay…” suara Nindi terdengar lebih pelan. “Masih jauh ya?”
“Masih.”
Nindi menghela napas panjang. “Aku menyesal tadi ikut Dion main game terlalu lama.”
“Kenapa jadi menyalahkan Dion lagi?”
“Karena kamu ada di sana juga.”
Clay meliriknya. “Jadi sekarang aku juga salah?”
“Ya.”
Clay menggeleng pelan. “Logikamu semakin rusak kalau kamu mengantuk.”
“Ini logika paling jujur,” jawab Nindi.
Clay tertawa kecil. “Kasihan.”
“Harusnya tadi kamu paksa aku pulang.”
“Kalau aku paksa, kamu akan marah.”
“Tidak.”
“Pasti iya.”
Nindi tidak menjawab, hanya menguap lagi. Clay menatapnya sekilas. Gadis itu benar-benar sudah di batas lelahnya.
“Aku sudah tidak bisa membiarkan ini,” gumam Clay pelan.
“Tidak bisa membiarkan apa?” tanya Nindi.
Namun sebelum Clay menjawab, ia berhenti.
Lalu berjongkok.
“Apa lagi sekarang?” Nindi mengerutkan kening.
“Naik.”
“Naik ke mana?”
Clay tidak menjawab. Ia langsung berdiri, menarik tangan Nindi, lalu dengan cepat mengangkatnya ke punggungnya.
“Clay!!” Nindi terkejut. “Apa yang kamu lakukan?!”
“Diam. Tidur saja kalau mengantuk.”
“Tapi aku bisa jalan sendiri,”
“Jalanmu lambat seperti siput. Aku tidak sabar.”
Nindi masih mencoba protes, tapi Clay sudah mulai berjalan lagi.
“Aku anggap ini hutang,” kata Clay datar. “Besok kamu bayar.”
“Baiklah…” suara Nindi melemah. “Tapi aku berat.”
Clay terkekeh. “Barbel 60 kilo saja aku angkat setiap hari.”
“Serius 60?”
“Iya.”
Nindi diam beberapa detik. “Ya sudah, barbelmu lebih berat.”
“Sudah, tidur.”
“Kalau aku tidak tidur?”
“Aku turunkan kamu di jalan.”
“Jahat.”
“Dengan kamu, harus begitu.”
Angin malam terasa lebih tenang saat Clay berjalan.
Di punggungnya, Nindi mulai diam. Napasnya teratur, hangat, menyentuh sisi leher Clay. Untuk sesaat, Clay bisa merasakan ritme tenang itu.
“Dia benar-benar tidur…” gumamnya pelan.
Tidak ada jawaban.
Clay tertawa kecil tanpa suara. “Dasar…”
Namun langkahnya tidak melambat.
Ting tong.
Mereka sudah sampai. Clay menekan bel rumah Sonya. Tak lama kemudian pintu terbuka.
“Clay?” Sonya langsung terkejut melihat pemandangan itu.
“Shh,” Clay memberi isyarat pelan.
“Dia kenapa?”
“Tidur.”
Sonya masih kebingungan.
“Di mana kamarnya?” Clay hanya mengangkat dagu sedikit. “Tunjukkan.”
Di dalam kamar, suasana hening
Clay menurunkan Nindi perlahan ke tempat tidur. Ia memastikan tubuhnya tidak terbentur, lalu melepas sepatu Nindi satu per satu. Gerakannya hati-hati. Tidak terburu-buru. Sonya berdiri di ambang pintu, memperhatikan tanpa berkata apa pun. Clay kemudian menarik selimut, menyelimuti Nindi dengan rapi. Setelah itu ia menatap sebentar.
Hanya sebentar. Lalu ia berbalik.
Di luar kamar, Sonya menunggu dengan tangan terlipat.
“Kamu berubah,” kata Sonya langsung.
Clay menatapnya datar. “Berubah apa?”
“Kamu tidak seperti biasanya.”
“Biasanya bagaimana?”
“Kamu tidak peduli orang lain. Tapi ke Nindi, kamu berbeda.”
Clay menghela napas pelan. “Sudah malam.”
“Clay.”
“Tidak ada yang perlu dibahas.”
Sonya menatapnya lama. “Kamu tertarik padanya, kan?”
Clay berhenti sejenak. Hanya satu detik. Tapi cukup untuk terlihat.
“Tidak penting,” jawabnya akhirnya.
“Jawaban itu berarti iya.”
Clay berbalik. “Aku pulang.”
“Clay, tunggu!”
Namun tepat saat Clay melangkah keluar dari area kamar, udara malam terasa sedikit berbeda. Ada seseorang di sana. Clay langsung berhenti. Matanya menangkap sosok yang berdiri tidak jauh dari pintu masuk kamar.
Peter.
Ia sudah ada di sana sejak beberapa saat lalu. Dan, ia mendengar semuanya. Tidak ada sapaan. Tidak ada gerakan pertama. Hanya diam.
Hening yang terasa lebih berat dari kata-kata.
Rahang Clay mengeras perlahan. Tatapan mereka bertemu. Tidak sekadar saling melihat. Tapi seperti dua hal yang saling mengukur, saling membaca, dan saling menahan sesuatu yang tidak diucapkan.
Peter berdiri tenang. Terlalu tenang. Namun justru itu yang membuat suasana menjadi lebih tajam. Clay tidak tahu sejak kapan Peter ada di sana. Yang ia tahu, pria itu mendengar cukup banyak. Cukup untuk memahami arah percakapan tadi. Dan mungkin cukup untuk menarik kesimpulan sendiri.