NovelToon NovelToon
Beyond Blessed

Beyond Blessed

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:970.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Upi1612

-TAMAT-

Muhammad Faiz Al Ghifari atau Gus Faiz adalah seorang anak laki-laki dari seorang Kyai besar yang memiliki pondok pesantren di pedalaman Jawa. Dia adalah sosok yang sempurna dan selalu menjadi bahan incaran para gadis dan ibu-ibu di manapun dia berada.


Suatu ketika Gus Faiz bertemu dengan Anindya Athaya Zahran, seorang santri putri angkuh yang selalu mencari 1001 cara untuk mengakhiri hidupnya.

Gus Faiz yang selalu tergerak untuk menggagalkan upaya bunuh diri Nindy tidak sengaja terlibat dalam perjanjian yang di luar nalarnya. Perjanjian yang benar-benar mengubah jalan hidupnya, perjanjian yang tidak berterima oleh akal sehatnya, dan perjanjian yang menyalahi aturan hidupnya.

Akankah Gus Faiz menepati janji itu? Bolehkah Gus Faiz melaksanakannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Upi1612, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BB 29 - Tiga Syarat dari Abah

Tujuh hari kemudian Gus Faiz masih sakit. Dia masih berbaring di ruang kesehatan. Abah Kyai (Ayah Ning Aisha) yang mendengar kalau Gus Faiz sakit langsung datang ke ruang ke sehatan tempat Gus Faiz di rawat. Petugas yang berjaga di ruang kesehatan sudah menawarkan untuk membawa Gus Faiz ke rumah sakit namun Gus Faiz menolak.

Selain Gus Faiz menolak untuk di bawa ke rumah sakit, Gus Faiz pun menolak untuk menghubungi Umi dan Abahnya karena dia tidak mau membuat kedua orang tuanya cemas.

Gus Faiz masih terpejam saat Abah datang. "Assalamualaikum." Mendengar suara salam dan derap langkah seseorang. Gus Faiz langsung membuka mata.

"Waalaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh." jawan Gus Faiz.

Gus Faiz mengarahkan pandangannya ke arah pintu. Saat melihat Abah datang, Gus Faiz langsung memaksakan diri untuk duduk dan hendak berjalan menghampiri Abah untuk mencium tangan Abah.

"Kamu duduk saja, Nak." kata Abah ketika melihat Gus Faiz duduk dan hendak menghampiri Abah.

Gus Faizpun menurut. Dia hanya duduk. Abah tidak datang sendiri. Beliau datang bersama Ustaz Ridwan. Saat Abah sudah duduk di samping ranjangnya, Gus Faiz mencium tangan Abah dan Ustaz Ridwan bergantian.

"Bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya Abah.

"Alhamdulillah baik, Abah." jawab Gus Faiz.

"Alhamdulillah kalau begitu. Mengapa kamu bisa sampai sakit seperti ini? Apa Ustaz Ridwan menghukummu dengan sangat keras?" tanya Abah sambil melirik Ustaz Ridwan. Ustaz Ridwan menunduk.

Ustaz Ridwan sebetulnya merasa bersalah karena setelah memberikan hukuman pada Gus Faiz, Gus Faiz langsung sakit berhari-hari. Meski dia sudah mengorek informasi dari Rizki, namun tetap saja, perasaan bersalah masih menyelimutinya.

"Tidak, Abah. Ustaz Ridwan hanya melaksanakan tugasnya karena saya telah berbuat kesalahan. Mungkin kondisi saya saja yang sedang lelah." kata Gus Faiz.

Mendengar jawaban Gus Faiz, Ustaz Ridwan merasa lega dalam hati. Karena alih-alih menyalahkan dengan mengatakan kalau ini semua memang karena hukuman itu, Gus Faiz justru mengatakan kalau sakitnya hanya berasal dari tubuhnya yang lemah. Ustaz Ridwan bangga terhadap Gus Faiz.

"Abah sudah memberitahu Abahmu, Nak. Apa betul kalau kamu meminta pulang kepada Abah dan Umimu beberapa hari lalu?" tanya Abah.

Gus Faiz mengangguk jujur. "Maafkan saya, Abah." katanya.

"Abah mengizinkanmu pulang, Nak." kata Abah.

"Betulkah, Abah?" tanya Gus Faiz. Sorot matanya memancarkan kebahagiaan.

Abah tertawa. "Sepertinya kamu sudah begitu merindukan kedua orang tuamu, Nak." katanya.

Gus Faiz tersenyum dan mengangguk.

"Baiklah, Abah mengizinkanmu dengan tiga syarat." kata Abah.

"Apa syaratnya, Abah?" tanya Gus Faiz.

"Syarat pertama kamu harus tetap berangkat ke Kairo." kata Abah.

"Baik, Abah. Saya mengerti. InsyaAllah saya akan menurutinya." kata Gus Faiz.

"Yang kedua, bekerja keraslah dalam menuntut ilmu dan karir selama di sana hingga sepulang dari sana kamu menjadi orang sukses. Orang sukses yang tidak pernah melupakan Allah SWT." kata Abah.

"Baik, Abah. InsyaAllah saya akan bekerja keras dalam menuntut ilmu dan karir sesuai permintaan Abah." kata Gus Faiz.

Abah tersenyum. Diam-diam beliau merasa bahagia, Gus Faiz tentulah masuk dalam hal kualifikasi untuk menjadi calon suami Ning Aisha.

"Dan yang ketiga, menikahlah dengan putriku Aisha sepulang dari Kairo." kata Abah.

Gus Faiz cepat menoleh. Dia terkejut. Dari ketiga syarat yang diajukan oleh Abah hanya syarat inilah yang sangat berat. Dan mungkin sebetulnya tidak berat namun Gus Faiz enggan menerimanya.

"Mohon maaf, Abah. Untuk syarat ketiga, sepertinya saya tidak bisa menepatinya." kata Gus Faiz.

"Lho, memang kenapa, Nak?" tanya Abah.

Raut wajah Abah yang tadinya penuh senyuman kini berganti muram.

"Bukankah anak Abah cantik dan baik? Kurang salehahkah dia?" tanya Abah.

"Bukan begitu maksud saya, Bah. Ning Aisha tentu baik dan salehah. Namun, saya telah berjanji akan menikahi seorang gadis." kata Gus Faiz.

"Kamu memiliki pacar, Nak?" tanya Abah ekspresinya serius.

"Tidak, Abah." kata Gus Faiz jujur.

"Lalu siapa dia?" tanya Abah.

"Namanya Nindy, Abah." jawab Gus Faiz.

Gus Faiz memang tidak tahu siapa dan bagaimana wajah Nindy namun dia tahu namanya Nindy, setidaknya nama ini bisa dijadikan alasan untuk menolak permintaan Abah.

BUG!

Terdengar sesuatu jatuh di depan ruang ke sehatan. Mendengar suara itu, sontak Abah, Ustaz Ridwan, dan Gus Faiz menoleh ke sumber suara.

"Biar saya yang mengeceknya." kata Ustaz Ridwan.

Abah mengangguk. Dan Ustaz Ridwan pun berjalan ke arah pintu ruangan. Di luar ruangan Ustaz Ridwan pun membelalakkan mata. Dia melihat Ning Aisha tak sadarkan diri di lantai.

"Ning Aisha!" seru Ustaz Ridwan.

Mendengar nama Aisha disebut, Abahpun keluar ruangan. Gus Faiz pun memaksakan diri untuk mengikuti langkah Abah dari belakang.

Abah langsung mengangkat Ning Aisha ke dalam ruang kesehatan. Ustaz Ridwan tanpa disuruh, dia langsung pergi mencari Ustazah Septi yang bertugas merawat pasien santri putri yang masuk ruang kesehatan.

"Kamu pergilah. Pulanglah hari ini." kata Abah, pada Gus Faiz.

Abah sangat tahu bahwa putrinya begitu mencintai Gus Faiz. Namun, mengingat Gus Faiz yang menolak tawaran beliau untuk menikahi Ning Aisha, Abah merasa tidak bisa melakukan hal lain selain mengusir Gus Faiz secara halus. Tidak benar-benar mengusir, hanya saja beliau begitu peduli pada Ning Aisha. Bila Gus Faiz tetap di sini, Ning Aisha akan jauh lebih terluka.

"Tapi, Abah.." kata Gus Faiz yang tidak mengerti mengapa Abah menyuruhnya kembali, padahal persyaratan ketiga dia katakan kalau dia tidak bisa memenuhinya.

"Kamu sudah menolak permintaan Abah tadi. Sekarang kau pulanglah. Abah ubah persyaratan ketiga dengan kepulanganmu saat ini juga." kata Abah.

"Apa Abah marah padaku?" tanya Gus Faiz.

"Abah hanya menginginkan putri Abah bahagia. Abah tidak marah. Pergilah. Sekarang juga!" kata Abah.

"Terima kasih atas segalanya, Abah. Saya mohon maaf bila selama ini punya salah pada Abah. Saya pamit, Bah." kata Gus Faiz.

Gus Faiz mengulurkan tangannya dan mencium tangan Abah.

"Pergilah, Nak. Pergilah. Abah telah memaafkanmu." kata Abah.

Abah benar-benar takut kalau saat Ning Aisha bangun, Gus Faiz masih berada di sana.

Dengan tubuh lemahnya Gus Faizpun menuju kamarnya dan mengemasi semua barang-barangnya. Gus Faiz berpamitan dengan teman-teman kamarnya,

"Is, eh Gus, hari kelulusan tinggal sedikit lagi. Mending lo pulang setelah hari kelulusan aja dah." kata Rizki.

"Tidak, Riz. Saya harus kembali. Terima kasih atas segalanya." kata Gus Faiz.

"Hati-hati di jalan ya nanti, Is." kata Adam dan Idam.

"Terima kasih, Dam." kata Gus Faiz.

Saat sedang berpamitan seseorang datang ke dalam ruangan. Seorang tamu tidak diundang.

"Hahaha. Kenapa lo? Diusir Abah ya?" tanya Dimas.

Gus Faiz hanya memutar bola mata, malas menanggapi.

Berkali-kali Dimas mengata-ngatai Gus Faiz. Gus Faiz diam saja. Hal ini benar-benar membuat Dimas marah.

"Kau tunawicara?" tanya Dimas.

Gus Faiz masih diam saja.

Dimas langsung meraih bagian depan baju Gus Faiz.

"Sampai kapanpun gue gak akan ngelepasin lo. Inget itu!" seru Dimas.

Lagi-lagi Gus Faiz diam. Dia kembali berkemas dan pergi ke terminal bus di antar Ustaz Ridwan, beliau hanya bisa menemani Gus Faiz sampai terminal. Setelah berterima kasih pada Ustaz Ridwan dan meminta maaf apa bila dia memiliki salah, Gus Faiz langsung naik ke dalam salah satu bus sesuai tujuannya.

1
bunda syifa
bukan nya Nindy udah berdamai sama semua orang termasuk juga ayah nya pas masih d rumah sakit y Thor, kn waktu Nindy minta maaf sama ayah nya, ayahnya lagi d musholla rumah sakit
Ati Rohati: cuma aku baca yang terakhir
total 2 replies
bunda syifa
bukan nya yg bawa Nindy jalan" itu Ulfa y Thor
bunda syifa
bener sih, ibarat kata yg kecelakaan lagi sakarat tapi harus nunggu ambulans dulu yg masih d telfon trus berjalan k TKP, yg ada bukan tertolong malah meninggal duluan yg kecelakaan sebelum sampai rumah sakit karena udah kehabisan darah
bunda syifa
penulis kn ngetik Gus, bukan nulis d buka satu" kayak jaman dulu🤦🤦
bunda syifa
dan yg lebih d sayangkan lagi adalah qm Ulfa, padahal melihat dengan mata kepalanya sendiri segimana cinta nya Gus Faiz sama Nindy tetap aja rasa irinya membuat dia menginginkan Gus Faiz bahkan sampai Gus Faiz dn Nindy menikah
bunda syifa
lah banyak banget rasa iri mu mbak, kasih sayang orang tua udah qm kuasai sendiri, sekarang ada orang lain peduli sama Nindy pengen qm ambil jg😒😒
bunda syifa
bukan nya klo sandal emang ada pasangan nya y Bu, kiri sama kanan, masak iya mau d pakai cuma sebelah aja 😅😅😅
bunda syifa
ternyata emang dari awal si Ulfa tetap ular y Thor, aq pikir sempat berubah gt meskipun sebentar
Momy Haikal
segitu panik nya faiz ketika Nindy pergi sampai tidur yak nyenyak makan tak enak
Momy Haikal
aduh padahal nanggung itu
Momy Haikal
umi anakmu di aniaya😂
Momy Haikal
dari sini abah tau seberapa besar dua orang insan ini saling mencintai
Momy Haikal
lah kok takut 🤣🤣🤣😂
Momy Haikal
🤣😂🤣😂😂😂😂😂😂
Momy Haikal
ihh gemezzzzin
Momy Haikal
berarti faiz sebenarnya sudah suka sama Nindy sebagai gadis tirai sebelum faiz tau kalaw gadis yg dijodohkan Ilham adalah orang yang sama
Momy Haikal
🤣😂🤣 Nindy lucu bgd ya
Momy Haikal
o jadi ini mula nya arum takut liat mata faiz
Momy Haikal
gak aku baca surat nya.gakk kuattt😭😭😭😭😭
Momy Haikal
😭😭😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!