[SEDANG HIATUS!]
Diana Xylaria, Gadis cantik yang ceria dan optimis, ternyata ada rahasia besar tentang dirinya yang bahkan dia tidak tau.
Hidupnya yang biasa saja tiba tiba terusik karena pertemuannya dengan CEO dari sebuah perusahaan besar, Rylan Axelion. Namun sayang, keduanya bahkan tak ingat telah menghabiskan malam bersama.
Ditengah badai perebutan kekuasaan di keluarga Rylan, serta tentangan dari wanita yang berkuasa, Rylan dan Diana harus terus berjuang agar bisa bersama.
Akankah mereka bisa bersama?
Dan Apa sebenarnya Rahasia kelam Diana?
Simak ceritanya di sini.
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩـ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
「 ✦ UPDATE SENIN DAN KAMIS ✦ 」
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Di jantung Sher City, di bawah bayang-bayang tembok penjara pusat yang masif, Calantha duduk tenang di bangku taman. Ia menyesap ice lemonade-nya perlahan, membiarkan sensasi dingin itu beradu dengan rencana panas yang mendidih di kepalanya.
Kacamata hitam dan pakaian sederhananya adalah kamuflase sempurna. Hari ini, ia butuh menghilang di balik keramaian.
'Anderson,' batinnya sembari menatap kosong ke depan. 'Satu nama dengan sejarah yang terlalu panjang. Tapi setiap pohon besar punya akar yang rapuh, dan aku baru saja menemukan kapaknya.'
Ia bangkit, merapikan jas kulitnya dengan satu gerakan tegas, lalu melangkah masuk ke dalam kantor polisi tanpa keraguan.
"Damien Ravens," ucapnya singkat pada sipir. Ia tidak perlu bertanya; ia hanya butuh diantarkan.
Sipir itu mengangguk dalam diam, menuntunnya ke lorong paling sunyi di sel isolasi. Di sana, seorang pria duduk membatu. Rambut dan janggut yang tak terurus menyembunyikan wajahnya, namun kantung mata yang dalam memberikan kesan liar yang tak bisa tertutup debu penjara.
"Damien Ravens," Calantha memanggil. Suaranya halus namun tajam, seperti gesekan belati. Ia melepas kacamata hitamnya, memaksa sepasang mata hazel milik Damien membalas tatapannya. "Paman Diana."
"Vixen," gumam Damien lirih. Suaranya pecah, cukup untuk membuat udara mendadak dingin. "Kenapa seekor rubah tersesat di sini?"
Calantha mematung sejenak. Sorot matanya bergetar tipis, sebuah reaksi tubuh yang gagal ia tekan saat mendengar nama itu disebut.
"Kau bicara apa?" tanya Calantha. Ia berusaha menjaga nada suaranya tetap datar meski ritme napasnya berubah.
Damien mencibir. Sebuah seringai muncul di balik janggutnya yang berantakan. "Lalu kenapa kau mendadak terlihat seperti baru saja melihat hantu?"
Calantha memalingkan wajah, menatap kegelapan di sudut sel sambil mengunci rapat pikirannya.
"Cukup," potong Damien, kembali menundukkan kepala seolah bosan. "Katakan saja, apa yang kau inginkan dari bangkai seperti aku?"
"Kau paman Diana," Calantha berbisik, mendekat ke jeruji. "Kau punya utang pada dunia luar. Dan kau punya alasan untuk membuat perhitungan, bukan?"
Damien tertawa kecil, suara kering yang meremehkan. Ia sudah tahu persis ke mana arah pembicaraan ini.
"Kenapa tertawa? Aku tidak sedang ber-"
"Aku tahu. Aku sangat tahu, Vixen," potong Damien cepat. Matanya menuntut sesuatu yang lebih nyata. "Keuntungan untukku?"
Calantha mengernyit. Nama keluarganya bukan sesuatu yang harusnya diketahui oleh pria yang sudah membusuk belasan tahun di sel ini.
"Kebebasan. Dan semua harta yang pernah hilang darimu," ucap Calantha dingin.
"Sepakat," sahut Damien dengan seringai yang lebih lebar.
Damien Ravens resmi menghirup udara luar untuk pertama kalinya setelah belasan tahun. Ia berdiri di depan gerbang besi, memejamkan mata saat angin Sher City menyentuh kulitnya. "Dunia sudah banyak berubah," gumamnya pelan.
Calantha tidak memberinya waktu untuk bernostalgia. Ia mendesak pria itu pergi, mengurus penampilannya hingga Damien kembali terlihat rapi, lalu menuju bandara dalam keheningan yang tegang.
"Bagaimana kau tahu aku seorang Vixen?" tanya Calantha saat mereka menunggu.
Damien menoleh malas. "Darah murni Vixen tidak bisa berbohong. Ada lingkaran merah pudar yang bersembunyi di iris matamu. Hanya butuh satu tatapan untuk mengenalinya."
Calantha menahan napas. Pria ini terlalu berbahaya untuk dibiarkan tahu terlalu banyak.
"Apa hubunganmu dengan keluargaku?"
Damien mendengus. "Calantha, kan? Nama yang cantik. Kenapa kau tidak mencoba bertanya pada bibi besarmu?"
"Kau ingin aku bicara dengan nisan?"
Damien hanya tersenyum. Sebuah senyuman yang membuat Calantha sadar dalam dua detik bahwa itu adalah kode.
"Apa hubunganmu dengan dia?"
"Itu cerita lama," Damien mengibaskan tangan. "Sekarang, kenapa kau butuh aku hanya untuk menghadapi Diana?"
"Dia terlalu licik untuk dibiarkan sendiri."
"Lebih licik dari seorang Vixen?" Damien tertawa dingin. "Menarik."
"Mungkin dia mewarisi sedikit dari darahmu," sahut Calantha tajam.
Damien tertawa lagi, lebih keras, sembari menatap pesawat yang mendarat di kejauhan, membayangkan berbagai kekacauan yang akan segera mereka rakit bersama.
---
Jauh dari hiruk-pikuk bandara, cahaya layar komputer menjadi satu-satunya yang menyapa pandanganku.
Jarum jam merayap ke angka sebelas siang.
Jemariku masih menari di atas keyboard, pekerjaan tak kunjung habis. Kedutan di kelopak mata kiriku mulai terasa mengganggu.
Begitu baris terakhir data terkirim, aku menyandarkan punggung, membiarkan otot-ototku merenggang. Tanganku meraih ponsel di atas meja. Nama Paman Rylan terpampang di layar. Keputusanku sudah bulat. Aku hanya akan memberinya informasi. Tidak lebih.
Seriously?
Gerakanku terhenti. Aku menoleh cepat ke setiap sudut ruangan yang sunyi. Tak ada siapa pun. Namun suara itu, dingin dan tipis, seolah baru saja disisipkan langsung ke dalam kepalaku.
Aku menggeleng kuat-kuat. Permainan pikiran akibat kurang tidur. Harusnya begitu. Ponselku bergetar lima detik kemudian.
Terima kasih, beri aku laporan setiap hari.
Jam istirahat tiba. Aku butuh udara segar untuk membilas kepalaku. Namun, ketenangan di kafe baru itu mendadak buyar saat sesosok pria muncul di ambang pintu.
"Hai Diana, kau juga di sini?"
Tuan Gavin. Senyumnya yang ramah justru membuatku refleks menoleh kaku.
"Iya, kebetulan dekat dengan kantor," jawabku sambil memaksakan senyum tipis.
Aku melangkah, melihat lihat menu, dan menjatuhkan pilihan pada segelas caramel macchiato.
"Toko kami ada promo Valentine, beli dua diskon dua puluh lima persen. Mau mengambilnya?" tawar pelayan kafe.
"Eh, tapi kami bukan-"
"Boleh saja. Aku juga pesan yang sama," potong Tuan Gavin. Pria itu berdiri cukup dekat di belakangku, aromanya memenuhi ruang napas. "Hemat itu bagus, kan?" bisiknya.
Aku hanya bisa mengangguk kaku. Udara di sekitarku terasa menebal. Ada tekanan yang menindih dadaku setiap kali matanya melirik. Situasi semakin mencekik ketika Tuan Gavin dengan cepat mengulurkan kartu sebelum aku sempat merogoh tas.
"Diana, ini punyamu. Jangan merasa tidak enak. Anggap saja ini traktiran dari teman dekat."
Hangatnya kopi tidak mampu mengusir rasa tidak nyaman di bawah kulitku. Kami berjalan keluar kafe berdampingan, namun mataku menangkap kilasan sedan hitam yang melintas di jalan raya. Mobil Tuan Rylan.
"Maaf, Tuan Gavin, aku harus kembali sekarang. Terima kasih banyak!" Tanpa menunggu jawaban, aku berbalik dan berlari kecil.
Lima menit kemudian, aku sudah berada di ruanganku. Tuan Rylan sudah di sana, duduk santai menekuni ponselnya. Begitu aku menyampaikan laporan, pandangannya justru tertambat pada gelas di tanganku.
"Edisi khusus pasangan?" Tuan Rylan bergumam tanpa mengalihkan mata dari ponsel. "Oh, jadi kau akhirnya pacaran dengan dia. Selamat, ya."
Kalimat itu meluncur begitu saja, acuh tak acuh.
"B-bukan, Tuan! Kau salah paham!" sanggahku, suaraku naik satu oktaf.
"Tak apa, tak perlu penjelasan. Aku tahu." Dia akhirnya menatapku dengan sorot mata dingin. "Aku cuma mau bilang satu hal."
"Tidak, tadi itu hanya-"
"Jangan sampai hubungan pribadimu mempengaruhi kinerja di perusahaan. Jangan sampai saat kau sedang bad mood karena bertengkar, lalu kau-"
Udara di dadaku seolah terbakar. Setiap katanya terasa seperti paku yang menembus harga diriku.
"Aku tidak berpacaran!"
BRAK!
Kedua telapak tanganku menghantam meja kayu hingga menimbulkan dentuman yang menggema. Aku berdiri tegak, napas memburu mengikuti detak jantung yang liar.
Tuan Rylan terpaku, tersentak ke belakang dengan mata melebar. Keheningan yang pekak segera menyusul.
"Oh, oke... maaf," gumamnya pelan, kehilangan kata-kata.
Aku perlahan duduk kembali, menenggelamkan wajah ke dalam telapak tangan yang masih gemetar hebat. Panas menjalar ke telingaku. Harga diriku runtuh di depan meja itu.
Lewat sela-sela jari, aku mengintip Tuan Rylan yang sudah kembali asyik dengan ponselnya sembari tersenyum lebar. Ia pasti menganggapku konyol. Dan sialnya, aku pun berpikir demikian.
Aku menatap telapak tanganku yang memerah, mencoba mencari logika di sana.
Reaksi ini tidak masuk akal. Dan justru itu yang membuatku takut.
walaupun kepribadian xena kuat dan bisa diandelin, tapi bisa nyelakain kamu juga kalo gak terkendali 😖