Dayuh sigadis Indigo atau supranatural, dia memiliki kelebihan itu semenjak umur batita, Yang diturunkan oleh kedua orang tuanya. Terutama Ibu Dayuh yang memiliki kelebihan yang cukup istimewa itu dari keturunan sebelumnya. Jika Ibunya memiliki anak atau keturunan, dengan berjalannya waktu dan bertambahnya umur anak tersebut maka kelebihan Ibunya akan berkurang. Maka tugas selanjutnya adalah anaknya yang melanjutkan. Jika tidak memiliki penerusnya maka kelebihan tersebut akan terus dimilikinya dan berkembang.
.
Ibu ingin menceritakan pengalaman yang Ibunya alami selama ini. Mungkin nanti Ibunya akan menceritakan secara pelan-pelan.
Akan kah Dayuh menerima semua kelebihan nya atau sebaliknya melepaskannya?
Yuk simak cerita nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 Memantau Noah dan Aurelia di Kota B
Malam semakin larut, namun kota tidak pernah benar-benar tidur.
Di apartemen Aurelia, lampu ruang tamu menyala redup. Tirai jendela tertutup rapat, menyisakan pantulan cahaya lampu meja yang lembut—kontras dengan ketegangan yang mengendap di udara.
Aurelia duduk di sofa, memeluk bantal. Matanya sembab, wajahnya pucat. Noah berdiri di dekat jendela, membelakanginya, membuka sedikit tirai dan mengamati kota di bawah sana.
“Aku bikin teh,” kata Noah akhirnya, suaranya tenang. Terlalu tenang.
Aurelia mengangguk cepat. “Makasih…”
Noah berjalan ke dapur. Setiap langkahnya mantap, terukur. Ia mengambil cangkir, menuang air panas, lalu membuka laci kecil. Tangannya berhenti sejenak di atas beberapa sachet teh, lalu bergeser ke botol kecil tanpa label.
Ia menatap botol itu lama.
Lalu… menutup laci kembali.
Belum.
Ia membawa dua cangkir ke ruang tamu dan menyerahkannya pada Aurelia. “Hati-hati panas.”
“Terima kasih,” ucap Aurelia lirih, kedua tangannya gemetar saat menerima cangkir itu.
Noah duduk di seberangnya, menyilangkan kaki dengan santai. “Kita perlu bicara.”
Aurelia menelan ludah. “Iya… aku siap dengar.”
Noah menatapnya dalam-dalam. “Kamu tahu kenapa aku paling tidak suka kebohongan?”
Aurelia menggeleng pelan.
“Karena kebohongan membuat orang melakukan hal bodoh,” jawab Noah. “Seperti membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup.”
Aurelia memeluk cangkir lebih erat. “Aku cuma takut, Noah. Kamu sering menghilang. Uang masuk ke rekening yang nggak aku kenal. Aku pikir… aku pikir kamu melakukan sesuatu yang berbahaya.”
Noah tersenyum kecil. “Aku memang melakukan sesuatu yang berbahaya.”
Aurelia tersentak, menatapnya kaget.
“Tapi semua itu,” lanjut Noah pelan, “aku lakukan untuk masa depan kita.”
Keheningan menggantung.
“Kamu percaya aku, kan?” tanya Noah, mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
Aurelia ragu sejenak. Lalu mengangguk. “Aku… aku percaya.”
Noah menghela napas lega, seolah baru saja melepaskan beban berat. “Bagus.”
Namun di dalam hatinya, Noah mencatat satu hal penting.
Keraguan masih ada.
Dan keraguan—sekecil apa pun—adalah ancaman.
***
Di dalam mobil, beberapa blok dari apartemen itu, Leo mematikan mesin. Malam sunyi, hanya suara angin dan kendaraan sesekali melintas.
Sitara menutup matanya lagi, dahi berkerut. “Mereka masih bicara.”
Leo menahan napas. “Tentang apa?”
“Kontrol,” jawab Sitara singkat. “Dia sedang membangun ulang kepercayaan… tapi dengan rasa takut sebagai pondasinya.”
Leo menggeleng. “Bajingan.”
Sitara membuka mata, menatap gedung apartemen itu. “Noah tidak akan menyakiti Aurelia malam ini.”
Leo menoleh cepat. “Kamu yakin?”
“Belum,” jawab Sitara jujur. “Dia masih berguna.”
Leo terdiam.
“Masalahnya,” lanjut Sitara pelan, “kalau Aurelia mulai berpikir lagi… dia akan berubah dari aset menjadi beban.”
Leo mengumpat pelan. “Kita harus menjangkau dia.”
“Tidak sekarang,” potong Sitara. “Kalau kita terlalu cepat, Noah akan mencium gerakannya.”
Leo menatap lurus ke depan. “Terus kapan?”
Sitara menjawab lirih, “Saat Aurelia merasa sendirian lagi.”
***
Di penginapan, Dayuh duduk di tepi kasur, memandangi tangannya sendiri. Jemarinya masih terasa dingin, seolah sebagian dirinya tertinggal di tempat lain.
Saga duduk di sampingnya, menyodorkan air. “Minum dulu.”
Dayuh menerima, menyesap pelan. “Aku masih bisa ngerasain dia.”
Saga menelan ludah. “Noah?”
Dayuh mengangguk. “Emosinya… berat. Kayak ruangan tanpa jendela.”
Dru menoleh dari laptopnya. “Ada pergerakan.”
Semua mata tertuju padanya.
“Apa?” tanya Saga cepat.
“Rekening yang tadi dipermasalahkan Aurelia,” jawab Dru, jarinya bergerak cepat di keyboard. “Ada aktivitas besar. Pemindahan dana.”
Dayuh berdiri perlahan. “Dia nutup jejak.”
Dru mengangguk. “Dan cepat.”
Saga menatap Dayuh. “Berarti penglihatan kamu benar. Setelah kehilangan kendali…”
“…dia memastikan semua celah tertutup,” sambung Dayuh lirih.
Hening sejenak.
Dru menarik napas dalam. “Aku bisa simpan sebagian datanya. Nggak cukup buat bukti hukum, tapi cukup buat tekanan.”
Saga menatapnya. “Tekanan ke siapa?”
Dru menjawab pelan, “Ke orang yang paling dekat dengannya.”
Dayuh menegang. “Aurelia.”
***
Pagi menjelang.
Cahaya matahari masuk melalui celah tirai apartemen Aurelia. Ia terbangun di sofa, selimut tipis menutupi tubuhnya. Kepalanya berat, matanya perih.
Ia duduk perlahan. Di dapur, terdengar suara peralatan makan.
Noah.
Ia berdiri di sana, mengenakan kemeja putih, lengan digulung rapi, sedang menyiapkan sarapan.
“Pagi,” ucapnya lembut saat melihat Aurelia. “Kamu tidur sebentar. Aku nggak mau bangunin.”
Aurelia tersenyum kecil. “Kamu… nggak pulang?”
Noah menggeleng. “Aku mau pastiin kamu baik-baik aja.”
Aurelia merasa hangat mendengarnya—namun ada sesuatu yang aneh. Kepalanya terasa berat, pikirannya agak kabur.
Noah meletakkan sepiring roti dan telur di meja. “Makan dulu.”
Saat Aurelia duduk, Noah menatapnya penuh perhatian. “Setelah ini, aku akan atur semuanya. Kamu nggak perlu pusing soal bisnis. Aku akan urus.”
Aurelia ragu. “Tapi toko itu—”
“Aurel,” potong Noah lembut tapi tegas. “Percaya padaku.”
Aurelia terdiam.
Ia mengangguk.
Namun jauh di dalam hatinya, sesuatu bergetar. Bukan ketakutan—melainkan firasat.
***
Siang harinya, Leo dan Sitara kembali ke penginapan.
Dayuh langsung berdiri saat melihat mereka. “Gimana?”
Sitara menggeleng pelan. “Belum ada ledakan. Tapi tekanan naik.”
Leo menatap Dru. “Ada yang bisa kita pakai?”
Dru memutar layar laptop. “Ini. Aliran dana. Kalau Aurelia cukup pintar, dia akan sadar ini bukan bisnis biasa.”
Saga mengerutkan kening. “Masalahnya… dia sekarang di bawah pengaruh Noah.”
Dayuh menggigit bibirnya. “Aku bisa masuk lagi.”
Semua menoleh padanya.
Sitara langsung menggeleng. “Tidak.”
“Tapi—”
“Tubuhmu belum pulih,” potong Sitara tegas. “Dan Noah sudah lebih waspada. Kalau kamu masuk sekarang, dia bisa merasakan gangguan.”
Dayuh menunduk, kecewa.
Leo menghela napas. “Kita butuh cara lain.”
Sitara menatap layar data Dru, lalu ke arah Dayuh. “Bukan masuk… tapi memancing.”
Saga mengangkat alis. “Mancing gimana?”
Sitara berkata pelan, “Dengan kebenaran yang setengah terbuka.”
***
Sore itu, Aurelia menerima pesan anonim di ponselnya.
Satu baris.
> “Kalau kamu pikir sudah tahu semuanya, kamu salah. Cek transfer tanggal 14.”
Jantung Aurelia berdegup kencang.
Ia menoleh ke arah Noah yang sedang menerima telepon di balkon.
Tangannya gemetar saat membuka laptop.
Tanggal 14.
Rekening.
Angka-angka.
Napasnya tersangkut.
Ini bukan transaksi toko.
Ini… pencucian.
Suara Noah terdengar dari balkon, tertawa kecil, santai.
Dan untuk pertama kalinya sejak malam itu—
Aurelia tidak merasa aman.
Ia menutup laptop cepat-cepat saat Noah masuk kembali.
“Kamu kenapa?” tanya Noah, matanya tajam.
Aurelia memaksakan senyum. “Pusing sedikit.”
Noah menatapnya lama, lalu mengangguk. “Istirahatlah.”
Namun saat ia berbalik—
Tatapan Noah mengeras.
Seseorang telah membuka kembali pintu yang ingin ia tutup.
Dan kali ini, ia tahu—
Permainan belum selesai.
Justru baru dimulai.
Apartemen itu terasa menyempit.
Padahal luas. Mahal. Terang.
Namun bagi Aurelia, dinding-dindingnya kini seperti bergerak mendekat perlahan, menutup ruang napasnya satu per satu.
Noah berdiri di tengah ruang tamu, jaketnya sudah dilepas, kemeja digulung rapi. Ia terlihat santai—terlalu santai—sementara Aurelia berdiri di dekat meja dapur, jari-jarinya mencengkeram tepi meja begitu kuat hingga buku jarinya memutih.
Tatapan mereka bertaut.
Tak ada teriakan. Tak ada amarah terbuka.
Justru itu yang paling menakutkan.
“Kamu gugup,” ucap Noah pelan, memecah sunyi. “Kenapa?”
Aurelia menelan ludah. Otaknya bekerja cepat, mencari jawaban yang aman. “Aku… aku cuma capek.”
Noah mengangguk kecil, lalu melangkah mendekat. Setiap langkahnya terdengar jelas di telinga Aurelia—terlalu jelas.
“Capek itu wajar,” kata Noah. “Tapi kamu tahu apa yang tidak wajar?”
Ia berhenti tepat di depan Aurelia.
“Kebohongan.”
Aurelia mengangkat wajahnya perlahan. “Aku nggak bohong.”
Noah tersenyum.
Bukan senyum hangat.
Bukan pula senyum marah.
Itu senyum orang yang sudah tahu jawabannya, tapi ingin melihat lawannya tetap mencoba menyangkal.
“Kamu buka laptop hari ini,” lanjut Noah santai.
Darah Aurelia terasa berhenti mengalir.
“Kamu juga buka file yang sudah lama nggak kamu sentuh,” sambungnya.
Aurelia menggeleng pelan. “Aku cuma—”
Noah mengangkat tangan.
Satu gerakan kecil.
Namun cukup untuk membuat Aurelia langsung terdiam.
“Aurel,” ucap Noah lembut, hampir seperti menenangkan anak kecil, “aku tidak suka dipaksa untuk mengulang.”
Ia meraih ponselnya, menekan layar, lalu meletakkannya di meja dengan posisi menghadap Aurelia.
Layar menyala.
Rekaman CCTV dari sudut apartemen.
Menampilkan Aurelia duduk di depan laptop.
Membuka folder tersembunyi.
Memutar file.
Napas Aurelia tersangkut di tenggorokan.
“Kamu… pasang kamera?” suaranya bergetar.
Noah mengangguk pelan. “Aku pasang perlindungan.”
“Di rumahku?” Aurelia hampir berbisik.
“No,” koreksi Noah. “Di rumah kita.”
Sunyi.
Aurelia merasa dadanya sesak. Realisasi itu menghantamnya lebih keras dari tamparan mana pun.
“Kenapa kamu mengawasi aku?” tanyanya lirih.
Noah mendekat, meraih dagunya dengan dua jari, memaksa Aurelia menatapnya.
“Karena aku harus tahu,” jawab Noah pelan, “apakah kamu masih di pihakku.”
Air mata menggenang di mata Aurelia. “Aku cuma ingin tahu kebenaran.”
Noah melepaskan dagunya perlahan. “Kebenaran bukan untuk semua orang.”
Ia berbalik, berjalan ke dapur, membuka laci yang sebelumnya sempat ia sentuh malam itu.
Botol kecil tanpa label.
Ia mengambilnya.
Aurelia membeku.
“Kamu tahu,” kata Noah sambil menuang air ke gelas, “ada dua jenis orang ketika mereka tahu terlalu banyak.”
Aurelia menggeleng pelan, tubuhnya gemetar.
“Yang pertama,” lanjut Noah, “mengerti batas.”
Ia meneteskan cairan bening dari botol ke dalam gelas.
“Sementara yang kedua…” Ia mengaduk pelan. “…harus dibantu untuk lupa.”
Aurelia tersentak mundur. “Noah… jangan.”
Noah menoleh, ekspresinya tenang. “Ini cuma penenang.”
“Kamu nggak pernah minum obat,” suara Aurelia bergetar. “Kamu benci obat.”
Noah tersenyum tipis. “Aku juga benci kekacauan.”
Ia membawa gelas itu mendekat.
“Aurel,” katanya lembut, “minum. Kamu butuh istirahat.”
Aurelia mundur lagi, punggungnya menyentuh dinding. “Aku nggak mau.”
Noah berhenti.
Tatapannya berubah.
Tidak marah.
Tidak keras.
Justru dingin. Kosong.
“Jangan buat ini sulit,” ucapnya pelan.
Aurelia menggeleng, air mata jatuh. “Kamu mau apa sebenarnya?”
Noah terdiam sejenak, lalu menjawab jujur—tanpa hiasan.
“Aku mau kamu berhenti berpikir,” katanya. “Dan kembali percaya.”
Sunyi menekan.
Aurelia melihat ke sekeliling. Pintu apartemen. Jaraknya terlalu jauh. Ponselnya di meja—di dekat Noah.
Pilihan menyempit.
Noah melangkah satu langkah lebih dekat.
Dan saat itu—
Ponsel Aurelia bergetar.
Satu getaran pendek.
Noah meliriknya.
Senyumnya hilang.
Aurelia refleks menoleh ke arah ponsel itu.
Noah bergerak lebih cepat.
Ia meraih ponsel Aurelia sebelum Aurelia sempat mendekat, membuka layar dengan satu gerakan terlatih.
Pesan baru.
> “Kalau dia menyentuh obat itu, bilang TIDAK. Jendela kamar mandi.”
Noah membaca pesan itu.
Lalu tertawa kecil.
“Oh…” katanya pelan. “Jadi kamu sudah punya teman.”
Aurelia merasa lututnya lemas. “Aku nggak—”
Noah menoleh tajam. “Siapa?”
“Aku nggak tahu,” tangis Aurelia pecah. “Aku cuma… takut.”
Noah menghela napas panjang, seolah kecewa.
“Kamu seharusnya datang padaku,” katanya. “Bukan ke orang lain.”
Ia mengunci ponsel Aurelia, memasukkannya ke saku.
“Aku mau kamu ke kamar,” lanjut Noah. “Sekarang.”
Aurelia tidak bergerak.
Noah mencondongkan tubuh, suaranya menurun, mengancam namun tetap tenang.
“Atau aku yang akan mengantarmu.”
Aurelia menatapnya—pria yang hendak ia nikahi—dan akhirnya mengerti sepenuhnya.
Ia bukan sedang dicintai. Ia sedang dikurung.
Dengan langkah gemetar, Aurelia berjalan menuju kamar.
Noah mengikuti di belakangnya.
Namun saat melewati kamar mandi—
Aurelia mengingat pesan itu.
Jendela.
Kecil. Tinggi. Menghadap ke lorong darurat.
Kesempatan satu-satunya.
Begitu Noah membuka pintu kamar—
Aurelia berbelok mendadak, masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu.
“Noah!” teriaknya panik.
Noah langsung menghantam pintu. “Aurel! Buka!”
Aurelia memanjat wastafel, tangannya gemetar saat meraih jendela kecil itu.
Di luar—gelap.
Jauh di bawah—lampu-lampu kota.
Noah menghantam pintu lebih keras. “Kamu mau apa?!”
Aurelia menangis. “Aku nggak mau minum itu!”
“Buka pintunya sekarang!” suara Noah naik untuk pertama kalinya.
Aurelia mendorong jendela terbuka.
Alarm gedung langsung menyala nyaring.
Noah terdiam sesaat.
Lalu—
Senyumnya kembali muncul.
Pelan. Berbahaya.
“Aurel,” katanya lembut dari balik pintu, “kalau kamu keluar lewat sana… aku nggak bisa lindungi kamu lagi.”
Aurelia menatap ke luar, napasnya memburu.
Di belakangnya—Noah.
Di depannya—ketidakpastian.
Dan di penginapan, Dayuh tersentak keras.
“SEKARANG,” teriaknya panik. “Dia harus pergi SEKARANG!”
Sitara berdiri, wajahnya tegang. “Leo.”
Leo sudah meraih kunci mobil. “Aku tahu.”
Alarm terus meraung.
Dan di apartemen itu—
Aurelia harus memilih dalam hitungan detik.
Tetap di dalam sangkar.
Atau melompat ke bahaya yang belum ia kenal.