Karena Maya tidak bisa mencintai Tama suaminya sendiri, Maya berselingkuh dengan Fadil. Hingga pada saat pengakuan itu terjadi, Maya benar-benar diceraikan.
Apa penyebabnya?
Penyatuan tubuhpun tidak bisa membuat Maya mencintai Tama.
Lalu Fadil? Siapa sebenarnya Fadil? Kenapa Maya begitu mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangkan jika bisa mendapatkan seluruh hidupnya
Berhenti direstoran, wajah Maya masih muram. Keduanya sedang terlibat perang dingin akibat kelucknutan Fadil yang membelikannya baju terawang. Ngga tanggung-tanggung! Selusin. Coba bayangkan pemirsaaa.
Melihat Maya makan sambil cemberut, Fadil semakin semangat menggodanya.
"Nanti hari senin, kamu pakai yang warna merah, selasa pink, rabu kuning, kamis hijau, jum'at hitam biar ada serem-seremnya dikit, sabtu ungu, minggu coklat. Begitu seterusnya sampai habis selusin, kan kalau ganti-ganti Tama jadi ngga bosen..." Fadil tersenyum licik sambil menaik-naikkan alisnya.
Kalau bukan ditempat umum seperti ini, Maya sudah mencekiknya dari tadi. Menjengkelkan. Maya mengaduk-aduk makanannya dengan kesal. Melahapnya banyak-banyak membayangkan dirinya menjadi Sumanto dan memakan hasil mutilasinya, yaitu Fadil.
"Jangan marah khumairoh...Ini hanya saranku saja, mau dipakai apa tidak ya terserah..." Menghela nafasnya sebentar, melihat wajah Maya sudah sulit diekspresikan. Lalu Fadil berucap lagi, "kamu harus melakukannya tiap malam agar cepat jadi.. " Fadil mendekatkan wajahnya tepat di telinga Maya. "Jadi Tama junior!"
Maya mulai mengumpat karena Fadil terus menggodanya. "Tau apa kamu tentang hubungan suami istri, dasar bodoh! Bujang lapuk, pikiran kotor, mesum, gila, ngga tahu malu !!"
Hmm dianggap tidak tau apa-apa "baiklah, kalau kamu meragukan kemampuanku. Ayo kita buktikan."
Maya langsung mendelik "Apa ?!"
***
Setelah keduanya makan direstoran, Maya dan Fadil menaiki elevator menuju kelantai paling atas menonton bioskop.
Punya hobi yang sama memang bikin betah berlama-lama. Maya sangat senang hari ini ada yang menemaninya ngobrol. Apalagi Fadil mempunyai sifat yang jahil dan humoris. Terkadang bikin gemes tapi juga dirindukan disaat-saat sedang kesepian.
Keluar dari dalam bioskop Maya kecewa, "ending filmnya kok ngga seru ya, harusnya yang jahat itu mati."
Fadil menengok kesamping menanggapi ucapan Maya "harusnya sih gitu, yang ngrebut cinta dari seseorang itu diberi hukuman. Jangan dikasih kesempatan hidup. Kasihan yang sudah berjuang."
Merasa kaget dengan kata-kata Fadil, Mayapun menoleh, keduanya saling bertatapan satu garis lurus. Pelan, tangan kekar Fadil terulur menyibakkan anak rambut Maya dan menyelipkannya ditelinga.
Tanpa sadar, Maya membiarkan perhatian yang dilakukan Fadil padanya. Fadil terus mendekat pada Maya hingga hembusan nafas Fadil terasa hangat dipipinya. "Cupp !!" Kilas, Fadil mencium pipi Maya.
Hati Maya berdebar dan tersenyum, sama juga apa yang dirasakan Fadil. Maya merasa malu dan terus menunduk.
Melihat reaksi Maya, Fadil semakin yakin kalau Maya memang masih mencintainya.
Keduanya pulang dalam keadaan hati berbunga-bunga dan saling tukar nomor telefon. Fadil mengantarkan Maya sampai depan komplek.
***
Bisa mencium Maya adalah hadiah terbesar dalam hidupnya. Bagaimana jika wanita itu memberikan seluruh hidupnya yah?
Berkunjung ke hotelnya dengan raut wajah yang sangat bersahabat. Hari ini Fadil begitu tersenyum ramah kepada semua orang yang menyapanya. Ya, hari ini juga Fadil membelikan makanan gratis untuk seluruh karyawannya yang masuk shift siang ini.
Berjalan berdua mendekati lift, Fadil dan putra saling bercengkrama. "Ngga bisa dibayangkan, itu baru satu ciuman Dil... Kalau kamu mendapatkan hati dan seluruh hidupnya, aku rasa kamu akan membiayaiku naik haji."
Mood Fadil yang baik, bisa membawa pengaruh yang baik juga untuk semuanya. "Oke doakan saja, semoga bisa begitu. Kalau ternyata doamu terkabul, aku akan membiayaimu berangkat kesana. Jangankan naik haji, menaiki burj khalifa saja, akan aku biayai. Aku akan sangat senang jika traktiranku memberimu manfaat..." senyum merekah dibibirnya.
"Huuuftt kalau ngomong itu jangan sambil pingsan bos !" meragu dengan ucapan bosnya yang asal nyeplos itu.
"Lupakan permintaanku itu, aku hanya bercanda. Ketahuilah Dil, yang paling penting dalam hidupku, aku ingin melihat kau bahagia. Sudah lama aku merindukan tawamu seperti dulu...." mata Putra berkaca-kaca. Rasanya dia juga ikut bahagia melihat sahabatnya bahagia.
"Sekarang ini kau juga masih bisa tertawa, hanya tidak selepas seperti dulu.." Putra tak bisa membendung tangisnya. "Aaakhh,..." tangis Putra pecah, dia juga sama-sama bisa merasakan bagaimana kesakitan Fadil selama ini. Betapa cintanya begitu besar terhadap Maya. Melihat Fadil kembali tersenyum adalah hal yang sangat langka.
Fadil memeluknya selama beberapa detik, memberi jengkal dan menepuk punggungnya pelan.
Fadil berucap dengan sungguh-sungguh, "aku akan membuang jauh-jauh botol minumku dan kenikmatan asap rokok. Aku akan menjadi orang yang bahagia tanpa barang itu. Setelah aku bisa dapatkan Maya lagi..."
"Aku terharu, apapun itu, aku akan mendukungmu. Semoga kau bahagia !" mereka berdua menangis dan tertawa bersamaan.
Tidak peduli beberapa orang memandang mereka. Dan saat mereka menyadari itu, Fadil dan Putra merasa malu dan kelimpungan sendiri. Tapi hanya sekejap, pandangan orang-orang tak dihitaukannya lagi. Mereka langsung menuju keruang pribadi Fadil mengecek beberapa laporan.
....
To be continued.
ayoo lanjutkan😅😁😆