mohon maaf saya menganti nama dari Kaisar agung jadi sang pewaris darah naga.
tiktok: barxzzz
setiap hari update: 2/3 bab.
al kisah seorang pemuda Lin Xieng yang di anggap gagal oleh keluarga nya, tapi suatu ketika di dalam hutan Lin xieng menemukan bola misterius yang ternyata bola misterius tersebut adalah inti fondasi kultivasi kaisar xuan pada zaman dinastiqi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Alfatir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: mencari keseimbangan
Langit kembali terang, namun ketegangan masih menggantung di udara. Lin Xieng dan Chu Qingli baru saja mengalahkan naga dewasa dengan kerja sama yang luar biasa, namun keduanya tahu, ini hanyalah awal dari tantangan-tantangan yang lebih besar di hutan aneh ini.
“Aku baru sadar,” ujar Lin Xieng sambil mengatur napas, “setiap kali kita selesai melawan sesuatu, selalu muncul sesuatu yang lebih besar.”
Chu Qingli menjawab dengan cengiran santai, wajahnya penuh debu dan luka ringan, “Mungkin kita punya semacam kutukan. Kutukan ‘keluar dari satu masalah, masuk ke masalah baru.’”
Lin Xieng tertawa kecil, lalu terduduk di atas akar pohon besar. Ia membuka pakaiannya sedikit, memeriksa luka-luka kecil di tubuhnya. “Kalau begini terus, aku harus mulai menyewa perisai tubuh berjalan.”
“Kau bisa menyewa aku,” ujar Chu Qingli ringan. “Bayarnya cukup: satu pelukan per hari dan dua pujian setiap pertarungan.”
Lin Xieng memandangnya dengan alis terangkat. “Itu tarif yang mahal.”
“Aku berkualitas tinggi. Dan—,” Chu Qingli duduk di sampingnya sambil menatap langit, “kau butuh seseorang yang menyeimbangkan duniamu yang terlalu serius itu.”
Suasana hening sejenak, hanya suara burung-burung aneh yang terdengar dari kejauhan. Tapi bukannya memecah suasana dengan pembicaraan serius, Chu Qingli tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari lengan bajunya—seekor serangga kecil dengan antena aneh dan tubuh berbentuk seperti daun teh.
“Eh, ini apa?” tanya Lin Xieng kaget.
“Teman baru kita,” ujar Chu Qingli dengan polos. “Aku nemu waktu nyari tempat buang air. Namanya… hmm… Tehlah.”
“Tehlah?!” Lin Xieng hampir tersedak. “Kenapa serangga dinamai kayak minuman pagi hari?!”
“Karena dia wangi. Dan dia suka tidur di dalam cangkir. Jelas banget, dia punya jiwa teh.” Chu Qingli memegang serangga itu seperti memperkenalkan teman lama.
Lin Xieng hanya bisa menggeleng tak percaya. “Kamu aneh.”
“Kamu juga, makanya kita cocok,” jawabnya sambil menyenggol bahu Lin Xieng dengan senyum manis.
Namun sebelum momen itu menjadi terlalu lembut, terdengar suara ledakan kecil dari balik semak-semak. Mereka berdua langsung berdiri.
“Bukan naga lagi, kan?” tanya Lin Xieng dengan nada setengah putus asa.
Ternyata, dari balik semak, muncul seorang pemuda berjubah ungu, tubuhnya penuh debu dan rambut acak-acakan. Ia tersenyum canggung sambil mengangkat kedua tangannya. “Eh… permisi. Aku… tersesat. Kalian lihat batu berbentuk kepala kura-kura? Katanya itu pintu keluar…”
Lin Xieng dan Chu Qingli saling pandang, lalu tak tahan—keduanya tertawa terbahak-bahak.
Akhirnya, mereka bertiga duduk bersama di dekat aliran sungai kecil. Pemuda bernama Lian Bo itu ternyata murid dari sekte aliran minor yang dikirim untuk mencari ramuan langka. Tapi sepanjang jalan, ia lebih banyak tersesat dan makan buah salah, termasuk satu yang membuatnya berbicara dengan burung selama tiga hari.
“Aku jadi mulai percaya, perjalanan ini bukan hanya soal kekuatan,” ujar Lin Xieng malam itu, saat mereka membuat api unggun.
Chu Qingli menambahkan, “Tapi juga soal ketawa. Dan belajar melihat dunia dengan cara yang lebih aneh.”
Lian Bo berseru, “Dan soal tidak memakan buah yang bisa bikin kau bicara seperti bebek.”
Tawa meledak kembali. Untuk malam itu, tak ada naga, tak ada pertarungan, hanya bintang-bintang, api unggun, dan canda yang menciptakan keseimbangan yang langka di dunia penuh kekacauan ini.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
narasi doang, membosankan