Gus Fatih diberikan pilihan oleh kedua orang tuanya. Menikahi seorang gadis sholeha yang merupakan seorang ning atau menikahi seorang wanita malam.
Kira-kira siapa yang akan gus Fatih pilih? Apakah gadis sholeha yang pandai agama, atau seorang wanita malam yang hidupnya tak tahu arah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skyl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~Wanita Pilihan Gus Fatih~ part 29
Fatih tak harus mencari di mana martabak naga permintaan sang istri. Jadinya dia hanya membawa martabak telur, tapi bentuknya, berbentuk naga. Awalnya tukang martabak bingung namun Fatih menjelaskannya membuat tukang itu pun mengerti.
Sesampainya di rumah, Fatih menaroh sekotak martabak di depan meja di mana ada satu art yang menemani uminya menonton.
"Istriku mana, umi?"
"Ya barusan balik ke kamar katanya mau buang air kecil," jawab umi Tifa.
Fatih mengangguk dan melangkah menaiki anak tangga untuk menuju kamar mereka.
Saat sudah masuk ruangan. Fatih di kejutkan istrinya yang sudah berdiri di depan pintu.
"Astaga, sayang," pekik Fatih memegang dadanya yang berdegup kencang.
Segera Fatih menyimpan kantonh plastik yang dia bawah dan menggendong istrinya ke ranjang.
"Mas apasih?" tanya Inara ketawa saat Fatih mengelitiknya.
"Enak iya ngerjain mas?"
"Enggak ih." Inara kembali tertawa.
Fatih menghentikannya, sebab takut anaknya kejepit dan Inara perutnya kram.
"Sini bangun, kamu udah makan? Mas bawain makanan." Inara bangun dari tidurnya dan mendekati meja.
Sedangkan Fatih membuka pakaiannya dan memilih untuk mandi dahulu.
"Wah, astaga. Suami aku, padahal aku mintanya cuma bercanda. Tau juga martabak naga itu enggak ada, eh malah di bikinin martabak bentuk naga effrot banget sih, sayangnya aku," gumam Inara membuka kantong plastik tersebut.
Beberapa saat kemudian, Fatih keluar dari dalam kamar mandi. Berpakaian dan mendekati istrinya yang hanya memperhatikan martabaknya.
"Maaf sayang, mas enggak dapat martabak naga adanya cuma martabak bentuk naga."
Inara terkekeh dan menyuruh suaminya mendekatinya. Fatih pun mendekatkan diri, Inara langsung mencium pipinya dan terakhir di bibir. Kini bumil itu memagutnya membuat Fatih hanya menikmati
Fatih yang sudah terpancing langsung merasa kegerahan dan langsung merabah ke bawah menaikan daster Inara.
"Mas mau, sayang."
Inara menggigit bibirnya lalu mengangguk. Fatih pun mengangkat Inara ke ranjang, menidurkan bumil itu dengan perlahan.
Fatih membuka pakaiannya kembali dan menaiki tubuh Inara. Inara pun langsung menarik Fatih dan mengalungkan tangannya di leher suaminya itu.
Mereka sama-sama saling cium. Bahkan, Fatih memperdalam ciuman mereka, kini lebih ganas dari pada biasanya lelaki itu berciuman.
"Arghh," pekik Inara saat Fatih menggigit bibir bawahnya.
"Maaf, sayang gemass," jawab Fatih mengisap darah yang mengalir di bibir istrinya.
Fatih menaikan kaki istrinya ke pundaknya, menarik selimut buat menutupi tubuh mereka.
Saat baru saja ingin memulai bercinta. Tiba-tiba saja ponsel Fatih yang berada di nakas berdering. Awalnya Fatih tak berniat untuk menjawabnya memuaskan sang istri lebih utama.
Namun, saat melihat telfon itu dari Alfian, seketika Fatih yang semula sudah memasukan juniornya ke sarangnya jadi tak jadi dan mengangkat telfon tersebut.
Inara pun mendengus kesal dan menurunkan kakinya di pundak Fatih.
"Sayang mas angkat telfon dulu, iya." Fatih mencium kening dan mata Inara setelah itu menarik handuk di kepala ranjang lalu memakainya berjalan ke balkon kamar.
Inara menghela napas dab menarin selimut dan memejamkan matanya.
"Walaikumsslam," jawab Fatih saat Alfian memberikan salam.
"Jadi kalian sedang ada perdesaan sekarang? Apa udah tanda-tanda?" tanya Fatih menoleh ke arah ranjang, istrinya sudah tertidur. "Ya sudah terus cari hingga buktinya ada dan kita bisa menanggkap buktinya."
"Foto pelakunya ke kabar sedikit, kak. hanya sepotong dan matanya yang aku dapatkan, tapi dari matanya aku enggak asing, apa itu orang terdekat kita aja?"
"Pikir itu nanti aja."
"Baik kak, kalau begitu aku matiin telfonnya. Maaf ganggu kakak malam-malam."
Setelah telfon berakhir, Fatih menghela napas. Semoga saja kasus ini secepatnya selesai agar keluarga istrinya mendapatkan keadilan.
Fatih menutup pintu balkon dan kembali mendekati ranjang menatap istrinya yang sudah tertidur.
"Mas janji sama kamu. Kamu bakal mendapatkan keadilan, sayang. Mas benar-benar akan membuat orang itu berlutut di depanmu." Fatih meneteskan air mata, ia mencium kening istrinys berulang kali. "Karena orang itu kamu harus melewati masa-masa yang sulit, harus terpaksa bekerja di sebuah club di ganggu beberapa pria kamu harus terpaksa biasa saja padahal kamu aslinya takut. Mas janji, sayang kali itu aja kamu akan merasakan kepedihan seterusnya mas akan membuatmu bahagian. Mungkin, ada saatnya kamu sedih jika kematian sudah memisahkan kita, tapi mas janji selagi mas hidup istri mas ini tidak akan mengulangi hal yang dilakukan di masa lalu." Fatih ikut menaiki ranjang, menarik ikut masuk ke dalam selimut, memeluk istrinya dari belakang.
"Gagal lagi deh jengukin dedek," ketus Fatih. Ia jadi tak bisa tidur sebab percintaan mereka yang baru saja akan terjadi jadi gagal gara-gara Alfian.
Namun, ia tidak bisa menyalahkan Alfian sebab Alfian memberitahukan informasi tentang kematian kedua mertuanya.
Fatih jadi mikir gimana siapa yang sangat tega membunuh kedua orang tua istrinya bahkan berani merampas seluruh harta milik keluarga mereka. Tidakkah orang itu kasihan dengan ketiga anak yang baru sajs kelihatan orang tuanya dan di satu-satunya rumah mereka tinggal pun di ambil? Sungguh tega sekali.
(´∩。• ᵕ •。∩`) (´∩。• ᵕ •。∩`)
Fatih mual dari jam tiga dini hari sampai siang hari. Inara pun jadi heran mengapa jadi suaminya yang mual biasanya dirinya.
"Mas enggak apa-apa? Ini jahe yang umi buatkan buat mas. Mas minum dulu biar tenggorakan mas enggak berminyak." Inara memijat tengkuk leher Fatih yang tengah terungkap di ranjang.
Benar-benar membuatnya kekelahan. Bayangkan saja betapa capeknya dirinya putar balek kamar mandi dan yang keluar hanya cairan bening? Makanan pun tak ada yang bisa masuk ke dalam perutnya.
"Enggak, sayang. Mas enggak suka baunya. Mending di buang aja. Bentaran aja pasti sembuh kok. Lagian kata umi ini udah biasa terjadi jika seorang istri sedang hamil, itu berarti aku dan anak aku punya ikutan kusus. Mas juga enggak mau lihat kamu tersiksa mulu tiap hari harus muntah."
Inara menghela napas. Tangannya memegang kening suaminya yang panas. Inara pun beranjak mengambil air hanget dan mengompresnya.
Sikap manja Fatih kini mulai ada. Lelaki itu tidak membiarkan Inara pergi dari sampingnya.
"Jangan pergi pokoknya. Sini aja, kalau kamu jauh tambah sakit nanti," ucap Fatih berlebihan. "Aduh, sayang sakit cuma di peluk," pinta Fatih.
Inara pun memeluknya membuat Fatih tersenyum dan memejamkan matanya.
"Aduh, sayang. Jangan di lepas." Saat Inara melepaskan pelukannya, Fatih kembali meringis kesakitan.
"Ini mas benaran apa bercanda doang sih? Inara mau pipis yakali Inara pipis di ranjang. Biar aku pipis dulu, iya sayang. Nanti peluk lagi." Inara melepaskan pelukannya.
Fatih pun mengerucut bibirnya, dan menunggu Inara selesai buang air kecil.