Tidak terpikirkan oleh Qiana, pernikahannya dengan Edwin yang kurang tiga bulan lagi akan dilaksanakan, terpaksa gagal.
Lantaran, Quinsha adik Qiana mengalami pendarahan paska melahirkan anak pertama. Quinsha pun menghembuskan napas terakhir. Namun, sebelum meninggal, ia menitipkan surat kepada orang tuanya agar Danial suaminya menikahi kakak kandungnya itu. Quinsha yakin hanya Qiana sang kakak yang mampu merawat anak yang baru tiga jam dia lahirkan.
Pada akhirnya pernikahan kakak dan adik ipar yang tak lain Qiana dan Danial pun terpaksa dilaksanakan.
Apakah pernikahan mereka akan bahagia? Padahal cinta Danial sudah terpatri untuk Quinsha, begitu juga dengan Qiana sangat mencintai Edwin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naik Ranjang. Bab 29
"Aku sendiri nggak terlalu dekat dengan Edwin Qin, tetapi kata teman-teman yang dekat dengan Dia. Edwin itu playboy, dan sering menghabiskan waktu di clup malam, dengan perempuan malam, lalu pulang dalam keadaan mabuk" Papar Danial panjang lebar.
"Tidak mungkin!" Bantah Qiana.
"Kan, kan. Tadi kamu tanya, begitu aku jawab kamu nggak percaya, emosi lagi. Bela saja terus mantan pacar kamu itu," Danial kesal. "Sekarang terserah kamu Qin, mau percaya atau tidak, aku juga berharap apa yang teman-teman katakan ketika itu hanya omong kosong," Pungkas Danial tidak mau ribut-ribut, kepalanya sudah penuh dengan segala macam pikiran.
"Astagfirullah..." Qiana syok mendengarnya. Mau tidak percaya, tetapi kejanggalan tentang Edwin, sudah berulang kali ia pergoki. Tentu membuat Qiana sedikit ragu akan kebaikan Edwin. Bulu kudu Qiana merinding, jika yang dikatakan Danial benar, sungguh Allah telah menyelamatkan dirinya.
"Cek. Teman-teman Abang, memang semuanya begitu. Serem... Jangan-jangan, Abang juga seperti mereka," Pancing Qiana.
"Nggak lah Qin, mana mau adik kamu kalau aku pria brandalan." Danial lantas ingat Quinsha. Quinsha pernah berkomitmen jika sampai punya suami yang suka minum alkohol, lebih baik tidak usah menikah.
Keduanya memikirkan Quinsha, dalam ingatan masing-masing.
Qiana pun ingat adiknya sebelum menikah dengan Danial. Quinsha pernah cerita jika pilihan adiknya pria alim, bahkan pacaran saja belum pernah.
"Kamu tahu nggak Qin, alasan aku menolak ketika mau dijodohkan dengan kamu, karena kamu dengan Edwin kemana-mana selalu berdua. Yang ada dalam pikiran aku ketika itu, kamu dengan Edwin sudah..." Danial tidak melanjutkan ucapanya.
"Sudah apa?" Qiana memukul paha suaminya. Walaupun Danial tidak melanjutkan kata-katanya, tentu Qiana tahu apa yang akan dikatakan Danial.
"Aduh. Sakit Qin" Danial mengusap pahanya lebai.
"Lagian, Abang jahat! Memang aku wanita apaan" Qiana melengos kesal.
"Iya... tapi sekarang aku percaya kok, karena kamu sudah membuktikan, bahwa kamu wanita luar biasa. Bisa menjaga diri dan hanya kamu suguhkan untuk aku," Danial tersenyum.
Qiana menunduk menyembunyikan rona merah di wajah. Tidak dia sangka tanpa aba-aba, Danial menggendong tubuhnya dan membawanya ke kamar.
****************
Pagi harinya, kopi susu, roti dan buah sudah tertata di meja makan. Jika Danial menyeruput kopi, Qiana menggigit aple.
"Bang, sudah dua minggu aku tidak mengecek perusahaan ke bogor. Kalau hari ini aku kesana boleh nggak?" Tanya Qiana lembut agar diperbolehkan.
"Tapi aku tidak bisa mengantar Qin," Danial sebenarnya hendak ikut ke bogor, tetapi masalah di Showroom harus secepatnya dia selesaikan.
"Kalau masalah itu... Abang jangan khawatir, kan ada Zahra,"
"Bukankah teman kamu itu sekarang kos di bogor?" Danial pernah tidak sengaja mendengar ketika Zahra minta izin Qiana akan kos di bogor, lantaran terlalu lelah jika harus pulang pergi setiap hari.
"Benar Bang, tapi pagi ini dia ada di Jakarta,"
"Berangkat saja, kan sudah ada yang menjaga Nazran, jadi Nazran tidak harus ikut" Danial kali ini tidak boleh egois. Nasehat papa Azhari agar jangan mengekang Qiana rupanya Danial mulai terapkan.
Qiana tersenyum senang "Iya Bang, walaupun Atina masih baru bekerja di sini orangnya baik kok" Yakin Qiana. Lagi pula ada Nunuk yang sudah Qiana percaya. Walaupun awalnya Qiana ragu meninggalkan Nazran dengan Tina, tetapi Tina diambil dari yayasan yang sudah dapat dipercaya.
Selesai sarapan, mereka berangkat dengan mobil masing-masing. Jika Danial ke tangerang seorang diri, Qiana ke bogor bersama Zahra.
Di Showroom.
"Tuan, ini hasil penyelidikan kami," Ardy menyerahkan map kepada Danial. Danial membaca isi map tersebut lalu menggebrak meja. Rendy yang duduk di depanya menatap wajah Danial yang merah padam ngeri sendiri.
"Kurang ajar! Jika mereka bisa berbuat curang, kita jangan kalah," Danial minta Ardy mengumpulkan para pimpinan. Rapat pun akhirnya mereka lakukan dan sepakat mengatur strategi agar para pelanggan mereka yang hilang akan kembali lagi.
Rapat telah usai, Danial berkutat di depan komputer hingga sore, kemudian bersiap-siap pulang. Dengan wajah angkuh dia melewati Windy begitu saja tanpa menyapa.
"Ya ampuuun... bos angkuh amat, tumben duren jam segini sudah pulang mau mencari gebetan kali..." Batin Windy.
Sementara Danial sudah berebut jalan dengan sesama pengendara, walapun niatnya pulang lebih awal, toh tiba di rumah sampai sore juga.
"Qiana sudah pulang Nuk?" Tanya Danial ketika melihat Nunuk yang tengah menyiapkan makan malam.
"Belum Tuan"
Tanpa bicara lagi Danial segera memanjakan diri sejenak berendam di bathtub. Setelah agak segar salin pakaian kemudian menemui Nazran di kamar.
Nazran yang sudah rapi mandi, begitu papanya datang, kaki dan tangannya bergerak-gerak dan mulutnya berbicara entah apa. Jika bahasa orang dewasa mungkin Nazran menjawab ucapan papanya.
"Biar Nazran sama saya" Ucapnya kepada Atina.
"Terimakasih Tuan," Tina pun keluar menyusul Nunuk ke dapur.
Sementara Danial mengajak ngobrol putranya. Banyaknya persoalan di tempat kerja, begitu melihat Nazran semua rasa terobati. "Kok Bunda kamu belum pulang sayang..." Danial melihat jam dinding, waktu maghrib akan segera tiba.
Danial mulai gelisah, tidak biasanya istrinya itu pulang terlambat. "Mungkin bunda terkena macet" Danial bepikir positif, dari bogor ke Jakarta, tentu bukan jarak yang dekat. Walaupun melaui tol bukan berarti menghindari kemacetan 100 persen.
Waktu magrib telah Danial lewati tetapi istrinya belum juga pulang, bahkan sampai tiba waktu isya. Ia memencet nomor handphone istrinya entah sudah yang keberapa kali, nada masuk tetapi tidak diangkat.
"Tin, Qiana telepon kamu tidak?" Danial kembali ke kamar Nazran.
"Hanya siang hari tadi Tuan, selebihnya tidak," Atina pun sebenarnya merasa aneh. Biasanya nona nya telepon hampir setiap jam menanyakan tentang Nazran, tetapi sudah tujuh jam tidak menghubungi.
Jawaban Tina, membuat Danial kalang kabut, lalu ke dapur menanyakan kepada Nunuk. "Sejak pagi, Non Qiana tidak menghubungi saya Tuan"
Lagi-lagi jawaban Nunuk mengecewakan, Danial membanting bokongnya ke sofa lalu telepon Raka minta nomor handphone Zahra.
"Apa loe? Minta nomor calon bini gw?" Seloroh Raka di waktu yang tidak tepat.
"Cepatan Raka, bini gw sampai sekarang belum pulang," Tidak banyak bicara Danial memutus sambungan telepon. Hanya dalam hitungan detik, notifikasi wa dari nomor Raka muncul, memberikan nomor Zahra.
Dengan perasaan campur aduk, Danial segera menghubungi nomor Zahra, tetapi kesabarannya diuji lantaran tidak di angkat juga, kemudian meninggalkan pesan.
Deeerrtt... deerrtt... deerrtt...
Mungkin karena sudah membaca pesan Danial, gantian Zahra yang telepon.
"Hallo" Danial dengan cepat mengangkat telepon Zahra. Tanpa basa basi menanyakan Qiana.
"Memang belum sampai di ruamah,Tuan? Soalnya Kak Qiana sudah pulang lebih dulu," Zahra menuturkan bahwa Qiana pulang sejak jam dua siang.
Deg!
...~Bersambung~...