Apa jadinya jika seorang gadis polos, belum pernah pacaran, harus merawat seorang CEO muda, tampan, dan dingin?
Tia, gadis itu, harus melayani semua kebutuhan sang CEO. Tidak hanya makan, minum, tetapi Tia juga harus membantunya untuk mandi.
"Mandi saja sendiri! Aku tidak mau membantumu!" maki Tia.
"Hei! Kamu dibayar untuk membantuku. Apa gunanya mereka menggajimu kalau kamu tidak bekerja dengan profesional?" tanya Erwin dengan pandangan tak suka.
"Tapi, aku ...."
"Aku, apa? Mau makan gaji buta, iya!" bentak Erwin. Ia melemparkan gelas yang ada di nakas ke arah Tia.
"Akh!!" Tia berteriak sambil menutup telinga. Tubuhnya gemetar ketakutan. Hari pertamanya bekerja, dia sudah terkena amukan sang majikan.
Bagaimana kelanjutan kisah Tia dan Erwin? Baca selengkapnya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sekar Laveina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(S2) Bertengkar
Maaf kakak2 reader termuach
Author baru merasa segar setelah beberapa waktu lalu kurang enak badan. Terima kasih untuk yang masih setia menunggu dan memaklumi keadaan author. Maaf juga karena tidak memberikan pengumuman sebelum libur update. Selamat membaca
**********
"Dari mana kamu?" tanya Dion saat Mentari pulang malam.
Ia terlalu asyik bermain di taman bersama Angga sampai lupa waktu. Sudah lewat jam makan malam dan ia baru pulang. Tentu saja, Dion marah karena khawatir. Namun, reaksi gadis itu sungguh di luar dugaan.
"Karena tahu kalau aku bukan adik kandungmu, makanya sejak dulu, kamu selalu berbicara kasar padaku." Mentari menatap wajah Dion dengan tatapan yang sulit diartikan oleh pemuda itu.
"Apa? Kamu berani memanggilku dengan tidak sopan? Apa kamu pikir, aku tahu sejak lama kalau kamu bukan anak kandung mama dan papa? Begitukah maksudmu!" Dion berteriak memarahi Mentari yang salah mengartikan kekhawatirannya. Gasia itu bahkan menuduh Dion sedang berpura-pura.
"Ya! Dulu, aku anggap semua kata-kata kasar kamu sebagai bentuk rasa sayang kamu sebagai kakak. Tapi kenyataannya, kamu seperti itu karena tidak menerimaku di rumah ini. Aku akan pergi sekarang juga, biar kamu puas!" Gadis itu kembali naik ke atas motor Angga dan pergi bersamanya.
"Tari! Kembali kamu!" seru Dion sambil mengejar motor Angga sampai ke depan gerbang. "Apa dia salah makan? Kenapa dia jadi kasar seperti itu?" Dion hanya bisa bertanya pada dirinya sendiri.
Kemarin, gadis itu masih bersikap biasa saja. Ia bahkan meyakinkan gadis itu, bahwa mereka akan tetap menganggapnya sebagai keluarga. Tidak peduli apa yang terjadi, mereka akan tetap bersamanya.
Tiba-tiba saja, Tari berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang biasanya bersikap baik, riang, sopan, dan penurut, menjadi berkebalikan sikapnya hanya dalam waktu setengah hari. Tadi pagi saat mereka menjenguk Budi, dia masih baik-baik saja.
"Bagaimana cara menyampaikan hal ini ke mama dan papa," gumam Dion sambil mengacak rambut. Ia diperintahkan untuk menjaga Tari di rumah, sementara kedua orang tuanya dan Ardi menginap di rumah sakit.
***
"Ini rumahku. Masuklah," ucap Angga. Ia menaruh tasnya di sofa. "Duduk! Aku panggil ibuku sebentar," imbuhnya sambil berlari kecil menaiki anak tangga.
Mentari terpaksa ikut ke rumah Angga. Malam sudah semakin larut, tidak aman jika dia di luar rumah sendirian. Pemuda itu menawarkan bantuan agar Tari menginap satu malam di rumahnya. Besok, dia akan mengantar gadis itu untuk bertemu Jatmiko.
"Eh, ada tamu."
Mentari bergegas bangun dari sofa dan menyapa ibu Angga. "Selamat malam, Tante. Saya temannya Angga."
"Selamat malam. Panggil ibu saja. Siapa namamu, Cantik?" Wanita paruh baya itu sangat ramah, membuatnya teringat sosok Tia, ibu angkat yang sangat menyayanginya.
"Mentari, Bu," jawab Tari singkat.
"Nama yang cantik, secantik orangnya." Wanita itu memujinya. Ia membawa Tari ke kamar tamu. "Kamu tidur di sini saja dulu. Kalau butuh apa-apa, panggil saja pelayan. Jangan sungkan," ucapnya.
"Terima kasih, Bu."
"Sama-sama." Asri menjawab sambil memberikan selimut pada gadis itu.
Mentari berbaring dengan kaki menjuntai. Kedua tangannya dibuka lebar, mengepak-ngepak menirukan gerakan kupu-kupu. Ia sangat sensitif sekali hari ini. Bahkan, ia sampai bertengkar dengan Dion.
Gadis itu terlelap dengan posisi kaki masih menjuntai ke lantai. Ia terlalu lelah jiwa dan raga, sampai-sampai … lupa mengunci pintu. Angga masuk ke kamar tamu untuk melihat keadaan Mentari. Saat melihat posisi tidur gadis itu, ia membantu mengubah posisi.
Angga menaikkan kedua kaki Mentari, lalu menutupi tubuh gadis itu dengan selimut tebal. Mereka pergi seharian menggunakan motor dan gadis itu pasti kedinginan terkena angin. Setelah menyelimuti Mentari, ia duduk di tepi ranjang, memperhatikan wajah lelah gadis itu.
Asri melihatnya di depan pintu kamar yang terbuka. Ia tersenyum melihat Angga memandang gadis itu dengan perasaan sayang. Pancaran sinar di matanya, menegaskan perasaan untuk Mentari.
Ia pergi meninggalkan kamar setelah mematikan lampu. Saat hendak masuk ke kamarnya, Asri memanggil. Angga terkejut dan menoleh dengan jantung berdebar-debar.
"Ibu! Kenapa belum tidur?"
"Tadinya mau melihat Mentari, tapi karena keduluan sama kamu, mama tidak jadi masuk," jawab Asri sambil melangkah mendekati putranya.
"Begitu, ya," ucap Angga. Ia terlihat malu karena ketahuan oleh ibunya.
"Dia … pacar kamu?"
"Bu-bukan, Bu. Dia cuma teman sekelas," jawab Angga gugup.
"Kenapa tidak dijadikan pacar?" Asri semakin bersemangat menggoda pemuda itu.
"Sudah malam. Angga pamit tidur dulu, Bu."
"Oke. Selamat tidur, Sayang. Jangan lupa, mimpikan Tari," bisanya sambil menuruni anak tangga.
***
"Tari! Tari!" Tia berteriak memanggil gadis itu. Saat mendengar Mentari tidak pulang ke rumah, pagi-pagi buta, Tia pulang dari rumah sakit.
Ia membuka pintu kamar Mentari dan tempat tidurnya masih rapi. Tia mencarinya sampai ke semua sudut rumah, tapi tidak ada tanda keberadaannya. Dengan emosi yang memuncak, Tia mencari Dion.
Pemuda itu baru saja memakai seragam dan membuka pintu. Namun, sang ibu sudah menunggunya di depan kamar. Ia tertegun menatap wajah wanita itu merah padam.
"Apa yang kamu katakan kepada Tari? Jawab Mama, Dion!"
"Dion tidak bicara apa-apa, Ma. Tari tiba-tiba saja marah-marah kepada Dion, lalu pergi bersama teman sekelasnya."
"Bohong!" Tia menghardik pemuda itu. Selama ini, ia tidak marah kepada siapa pun, kecuali merajuk kepada suaminya.
Dion tercengang. Demi Mentari, Dion sampai dibentak untuk pertama kalinya selama ia tinggal di rumah itu. Ia tersenyum kecut dengan satu sudut bibir terangkat.
"Masih berani tersenyum saat Tari menghilang? Heh! Sepertinya, kamu memanfaatkan statusnya yang bukan anak kandung untuk mengusir Tari dari rumah. Ayo mengaku!" Tia terus mendesak Dion untuk mengaku.
"Dion tidak akan mengakui hal yang tidak pernah Dion lakukan!"
Brak!
Pemuda itu menutup pintu kamar dengan kasar. Gara-gara gadis itu pergi dari rumah, seisi rumah berprasangka buruk kepada Dion. Bahkan, Ardi, anggota keluarga paling muda di rumah itu, juga ikut-ikutan memarahinya.
"Sial! Gara-gara Mentari, mereka semua memarahiku. Aku akan mencari dan menyeretnya pulang."
Dion mengambil jaket jeans dan pergi mengendarai motor maticnya. Ia yakin, gadis itu tidak akan masuk sekolah hari ini. Satu-satunya petunjuk untuk menemukan Tari adalah melalui Angga.
Pemuda itu mencari nama Angga di website sekolah. Setelah menemukan alamatnya, ia pun pergi menjemput Mentari ke rumah Angga. Wajah Dion dipenuhi aura kemarahan yang memuncak.
*BERSAMBUNG*
Seperti biasa, jangan lupa dukungannya buat Erwin dan Tia. Jika berkenan, mampir juga di cerita lainnya. Terima kasih♥️