Berawal dari hubungan sebagai tetangga hingga pada akhirnya takdir merubahnya menjadi sebuah hubungan yang terjalin dalam ikatan rumah tangga.
Daffin Malik Narendra tidak pernah menyangka jika dirinya akan berjodoh dengan putri dari tetangganya. Tentu saja hal ini terjadi lantaran sang mama yang begitu terobsesi untuk menjadikan putri dari tetangganya itu sebagai menantunya.
Begitu juga dengan Kanaya. Dirinya sama sekali tidak pernah menyangka akan berjodoh dengan Daffin yang tak lain anak laki-laki dari tetangganya. Apalagi dimata Kanaya, Daffin adalah pria dingin dan menyebalkan.
"Bukannya dapat jodoh cowok yang cool, ini malah dapatnya kanebo kering." Kanaya Putri
"Buat apa cobak kuliah jauh-jauh sampai keluar negeri kalau ujung-ujungnya nikah sama tetangga. Mana cabe-cabean lagi." Daffin Malik Narendra.
Akankah keduanya mampu menjalani hari-hari mereka sebagai sepasang suami istri?
Yuk ikuti terus jalan ceritanya dan jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risalah_Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bimbang
Setelah turun dari mobil, bu Lina langsung masuk untuk melihat apakah makanan sudah siap. Dan ternyata semua sudah tertata rapi dimeja makan.
Jika bertanya kenapa bisa se pas itu, ternyata sebelum pulang Daffin menyempatkan diri untuk menelfon ART di rumahnya agar segera menyiapkan makanan.
Bukan bermaksud apa-apa, Daffin hanya ingin segera sampai dirumah karena tubuhnya yang terasa begitu lelah. Seharian ada dua jadwal bertemu klien Dan itu cukup menguras energinya. Hal itu lah yang menjadi alasan kenapa dirinya enggan untuk makan diluar.
Namun disisi lain Daffin faham jika Naya sendiri sudah seharian berada dikampus. Pastinya anak itu juga merasa lelah dan lapar. Oleh sebabnya solusi itu Daffin ambil agar dirinya bisa segera sampai rumah dan tidak sampai membiarkan anak gadis orang kelaparan.
"Ayo sayang masuk, kenapa masih diluar saja." Bu Lina kembali keluar karena tak kunjung melihat keberadaan Naya didalam rumahnya.
Naya memang sengaja tetap berada diluar. Hatinya merasa enggan untuk masuk kedalam. Bahkan jika bisa, ingin dirinya kabur saja kerumahnya sendiri.
Dengan langkah berat Naya akhirnya masuk. Rasanya tidak tega juga jika harus mengecewakan tante Lina yang sudah sangat baik sekali padanya. Apalagi sejak dirinya resmi dinobatkan sebagai calon mantu, hampir tiap hari tetangganya ini mengiriminya makanan. Alasannya mumpung bikin resep barulah, sekalian tadi mampir pas lagi dijalan, dan masih banyak lagi.
Kadang Naya berfikir, apakah nanti setelah jadi menantunya sikap bu Lina akan tetap sama seperti ini, atau mungkin berubah.
"Makannya yang banyak dong sayang. Nambah ya, bentar lagi kan mau nikah. Entar kalau kamunya kurusan gimana?
Kalau sudah membahas masalah pernikahan, jangankan untuk nambah makan, ngabisin yang dipiring saja rasanya sudah tak selera lagi. Dan lagi, apa hubungannya makan banyak sama pernikahan.
"Tante ini aku nya udah selesai. Boleh gak Naya pamit pulang dulu. Udah sore banget kayaknya."
Biar saja jika dirinya dianggap SMP alias Sudah Makan Pulang. Yang terpenting saat ini dirinya bisa segera menghilang dari tempat ini.
"Fin kamu antar Naya sampai rumahnya, gak enak dong sama bu Dania kalau Naya dibiarkan pulang sendiri."
"Gak usah tante, lagian rumah Naya kan disebelah. Udah biar kak Daffinnya lanjut makan saja."
"Mari tante, om, Naya permisi dulu. Assalamualaikum."
Tanpa menunggu bagaimana respon bu Lina selanjutnya, Naya langsung saja meraih tangan sepasang suami istri itu bergantian. Setelah itu dia langsung buru-buru meninggalkan rumah itu.
Sampai dirumah Naya langsung disambut oleh kedua orang tuanya yang tengah berada diruang tamu. Sementara Ardi berada diruang tengah dan tengah fokus dengan permainan di ponselnya.
"Sudah pulang Nay." Sapa pak Erwin.
Namun bukannya dijawab, Naya justru hanya menanggapi sapaan ayahnya dengan mengerucutkan bibirnya.
"Loh kamu kenapa Nay. Bukannya habis dari butik bareng Daffin ya?" Bu Dania tentu saja belum faham mengapa Naya bersikap seperti itu. Karena setaunya hari ini putrinya diajak bu Lina untuk fitting baju bersama Daffin juga.
"Bunda sama ayah gak lagi nyembunyiin sesuatu dari Nay kan?"
Kompak kedua orang tua itu langsung mengernyitkan keningnya saat mendapat pertanyaan seperti itu dari putrinya.
"Maksudnya apa ya Nay, bunda gak ngerti. Coba kamu jelasin baik-baik." bu Lina terlihat memberi isyarat agar putrinya ini duduk disebelahnya.
"Bun, kenapa harus ada resepsi sih. Naya kan maunya cuma akad saja. Naya belum siap jika temen-temen Naya tau." Lagi-lagi Naya terlihat memanyunkan bibirnya sebagai ekspresi dari rasa kesalnya atas keputusan kedua orang tuanya yang diambil tanpa sepengetahuannya.
"Nay, bunda gak enak sama mereka. Kamu tau sendiri kan, Daffin itu putra tunggal mereka, jadi wajar saja kalau mereka menginginkan adanya resepsi dipernikahan putranya. Lagian mereka gak keberatan kok jika memang kamu gak mau ngundang temen-temen kamu. Nanti kalau kamu udah siap go publik sama temen-temen kamu, biar giliran ayah sama bunda yang nyiapin resepsinya. Tapi setidaknya saat ini bunda mohon kamu turuti keinginan tante Lina. Kasian Nay, beliau sangat semangat sekali nyiapin semuanya buat kamu sama Daffin."
Naya hanya bisa mendesah berat, karena lagi-lagi rasa tidak tega membuatnya tidak bisa membantah meski hatinya menolak keras.
"Nay kekamar dulu." Dengan langkah lesu Naya menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya. Saat ini mungkin dunia sedang ingin mengajaknya bercanda dengan mengubah jalan hidupnya yang selama ini nampak datar menjadi sedikit bergejolak.
"Yah, apa kita tidak terlalu memaksakan kehendak kita pada Naya? Bunda lihat akhir-akhir ini anak itu lebih banyak diamnya. Mama takut Naya terbebani dengan masalah perjodohannya dengan Daffin." Lagi bu Dania terlihat mengkhawatirkan putrinya.
"Kita sudah terlalu jauh melangkah. Dan bukankah bunda juga yang selama ini seolah memberi lampu hijau pada mereka. Jadi gak mungkin juga kalau kita sampai mengecewakan mereka. Lagi pula Daffin anaknya baik dan papa yakin seiring waktu dia pasti bisa menyayangi Naya seperti kita menyayanginya selama ini."
Jika bu Dania nampak begitu khawatir dengan putrinya, maka disitulah pak Erwin tidak pernah bosan untuk meyakinkan istrinya ini. Meski dalam hatinya pak Erwin merasa aneh pada sikap istrinya ini. Istrinya sendiri yang dari dulu merespon positif niatan bu Lina. Bahkan saat dirinya mencoba mengingatkan malah bu Dania yang tak pernah lelah untuk meyakinkan dirinya. Tapi lihatlah sekarang istrinya sendiri yang saat ini malah merasa bimbang.
"Sudahlah bun, lebih baik kita doakan saja yang terbaik. Jika memang Naya berjodoh dengan Daffin, kita doakan semoga Daffin bisa menjadi imam yang baik buat putri kita. Udah gitu saja, jangan malah dijadikan beban fikiran. Karena jika bunda seperti ini terus, bagaimana bisa bunda meyakinkan Naya.
"Maafkan bunda yah, habisnya ngeliat sikap Naya tadi bunda jadi merasa bersalah. Dan rasa bersalah ini yang udah bikin bunda jadi bimbang."
********
Pagi ini seperti biasa Naya pergi kekampus. Hari ini adalah jadwal pengambilan kartu ujian, karena mulai besok dia akan melaksanakan ujian akhir semester.
Dia berangkat dengan membawa motor matic kesayangannya.
Setibanya dikampus dia sudah disambut oleh sahabatnya Nindi.
"Nih, buat lo." Tiba-tiba saja nindi menyerahkan sebuah kotak hadian padanya. Dan itu tentu saja membuat Naya bingung.
Hari ini tidak ada hari spesial, dirinya juga tidak sedang berulang tahun. Tapi kenapa baru tiba dikampus dirinya sudah disambut dengan sebuah hadiah kecil yang terbungkus dengan begitu indahnya.
"Gue gak lagi ultah kok. Ngapain tiba-tiba ngasih kado sih?"
"Itu bukan dari gue, tapi itu dari kak Satria. Barusan dia kesini buat nitipin itu ke lho."
Naya tentu saja dibuat melongo begitu mendengar jika itu adalah pemberian dari Satria.
Meski itu bukan pertama kalinya Naya menerima hadiah dari Satria, namun tetap saja dia merasa kaget. Pasalnya seminggu yang lalu Satria memang sempat menyatakan perasaannya pada dirinya. Namun dirinya tidak ingin memberikan Satria harapan palsu.
Satria adalah pria yang sangat baik, jadi akan sangat berdosa jika Naya memberi kesempatan padanya, sementara dirinya tau jika sebentar lagi akan menikah.
Meski Naya tak mengatakan alasan yang sebenarnya jika dirinya akan menikah sebentar lagi, namun setidaknya alasan yang dibuatnya sudah cukup bisa difahami oleh seorang Satria.
Awalnya Naya sudah merasa aman karena beberapa hari ini pria itu tak lagi menemuinya. Naya berfikir pasti Satria sudah menyerah.
Ternyata dugaannya salah besar. Karena nyatanya pria itu malah memberinya sebuah kado kecil berisi sebuah kemasan coklat berbentuk batangan. Jika dilihat dari kemasannya sepertinya coklat itu bertaburan kacang mete. Bahkan merk coklat itu cukup terkenal.
Namun yang menjadi fokus Naya disini adalah bukan pada hadiahnya, melainkan lebih kepada secarik kertas kecil yang diselipkan didalamnya.
Dear Naya......
nah bonusnya Bunga aj ya, Fin..
😂🤣
bang..
bangKruutt
😆🤣
gaskeunnnnn
itu barusan
satria???
aqu pun jd nyesal nih dukung naya
udah jd istri pun blm bisa berubah..
kena lagiiii
ampyuun uunn Bund
author dan naya joinan stres nih????
mmg benar..
ingin kebahagiaan mu..
smg langgeng ya, Nay....
sing sabar....
singkat jelas padat dan SiGap!
😃🤣🤣
gawat darurat nih...
.
awas aj loe gk.nikahin naya ya, fin..
gue kaburrrrrrrrrr
sok. Jaim
ujung ujungnya narik tangan juga..
😃🤣
Biarin JuTek tp ttp Tegas!!
tapi juteknya cukup ma Raisa
aj ya, No Naya!!!
😁🤣🤣
berat nih, Nay...
ada saingan CLBK
cinta lama berjuang kembali...
wkwkwk 🤣