Tepat dimalam pertama pernikahan, dimana malam yang seharusnya menjadi hari bahagia bagi Aluna, namun harus berakhir duka sebab Bagas yang telah sah menjadi suaminya kepergok berselingkuh bersama Sania, adik tiri Aluna. Aluna pun terpaksa di talak demi menikahi Bagas dan Sania.
Malam itu pun menjadi malam kehancuran bagi Aluna. Namun, sesuatu terjadi ketika dia diam-diam pergi dari rumah dan menawarkan diri kepada pria asing di sebuah Club hingga dia melakukan hubungan semalam yang menyebabkan dirinya mengandung anak pria asing tersebut.
Bagaimanakah nasib Aluna selanjutnya?
EKSLUSIF HANYA DI NOVELTOON. JIKA ADA DITEMPAT LAIN SUDAH PASTI PLAGIAT.
IG author: @rafizqi0202
fb: Rafizqi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rafizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Mobil hitam terlihat sampai di depan halaman rumah. Dua orang wanita keluar dari dalam mobil dengan wajah bahagia sembari menenteng paperback belanjaannya.
"Ma, bahagia banget bisa belanja sebanyak ini ya. Barangnya juga bagus-bagus lagi. Besok kita belanja kesana lagi ya, Ma" Ujar Sania senang.
"Iya. Mama juga lupa tadi mau beli baju yang kemarin di pakai sama buk Santi, tetangga kita itu, bajunya bagus banget" Jawab Sekar menimpali.
Keduanya pun saking asyiknya mengobrol sambil berjalan masuk dengan barang belanjaan tersebut, sampai-sampai melupakan Bagas yang sejak tadi mematung dengan wajah yang jengkel.
Bagaimana tidak?
Untuk membayar barang-barang kedua wanita itu, dia sampai menguras tabungan sebanyak seratus lima puluh juta. Rasa-rasanya dia menjadi sangat stres karena istri dan mertuanya yang belanja tak memikirkan orang lain.
"Bisa-bisa aku miskin mendadak jika harus selalu menuruti keinginan Sania dan mertuaku. Kedua wanita itu benar-benar membuat aku stress" Gerutunya kesal.
Bagas yang masih dongkol pun menatap kedua wanita itu yang sudah memasuki rumah, kemudian dia kembali masuk ke dalam mobilnya, lalu melajukan mobilnya pergi meninggalkan rumah.
"Loh, Ma. Mas Bagas dimana?" Sania nampak baru menyadari bahwa suaminya tidak ada didekatnya. Dia pergi keluar, namun mobil suaminya sudah tidak ada di tempat.
Bu Sekar menyusul anaknya, "Bagas kemana?" Tanya Sekar setelah berada di luar.
Sania menggelengkan kepalanya, "Entahlah Ma. Tida biasanya dia pergi tanpa memberitahu ku. Apa dia marah karena kita belanja sebanyak ini?" Gumam Sania, yang sudah memasang wajah khawatir.
Sekar menatap Sania, "Sudahlah. Jangan kamu pikirkan. Mana mungkin dia marah. Mungkin dia sedang ada urusan mendadak. Lagipula, kita juga harus memanfaatkan nya bukan. Suamimu itu kan Dokter, mana mungkin dia kehabisan uang. Kamu tenang saja, dia mencintaimu, dia tidak akan pernah menolak semua keinginan mu. Kita masuk sekarang" Sekar berujar sembari menenangkan kecemasan anaknya, lalu menarik tangan Sania kembali masuk ke dalam rumah.
Sementara itu, malam sudah larut. Bagas diam mematung, duduk termenung di taman, tempat biasa dirinya menghabiskan waktu bersama Aluna, dulu. Dia nampak menunduk dengan kedua tangan menopang kepalanya yang tertunduk.
"Mas!"
"Aluna!" Seru Bagas cepat. Namun wajahnya yang berseri mendadak murung dan kecewa setelah melihat seseorang yang menyerunya bukanlah Aluna seperti yang dia harapkan.
"Maaf. Saya pikir kamu adalah... " Bagas menghentikan ucapannya, dan kembali diam.
"Saya lihat dari tadi siang mas duduk disini. Hari sudah sangat larut, kenapa tidak kembali dan pulang. Oh ya, ini saya bawakan kopi." Wanita itu nampak ramah dan memberikan secangkir kopi jualannya.
Ya, dia adalah wanita paruh baya penjual kopi tepi jalan di taman tersebut. Karena melihat Bagas yang nampak duduk dengan wajah sedih sejak siang tadi hingga larut malam, membuatnya memberanikan diri untuk mendekat.
Bagas mengambil kopinya, "Terimakasih banyak" Ujarnya ragu.
"Jika masih kurang, ambil saja di meja sana. Saya sengaja meninggalkan beberapa untuk para pengemis jalanan. Saya harus kembali pulang, jagalah dirimu baik-baik, jika memiliki masalah sebaiknya selesaikan dengan kepala dingin. Dengarkan kata hatimu, dan jangan mengikuti nafsu dan amarahmu. Dan jika kamu melakukan kesalahan, maka akui kesalahan mu dan minta maaflah"
Bagas hanya diam mendengarkan. Sementara, wanita paruh baya itu pun pergi usai mengatakan kalimatnya.
"Aku telah salah karena sudah berkhianat dari Aluna. Aku juga salah karena tidak memperjuangkan dia dan malah menikahi Sania. Aku harus mengakui kesalahan ku, dan meminta maaf kepada Aluna. Semoga saja dia mau memaafkan ku dan mau menerimaku kembali" Ujarnya tersadar setelah lama terdiam di dalam pikirannya sendiri.
Bagas pun pergi meninggalkan taman. Hatinya sudah bertekad akan kembali kepada Aluna dan mengejar cinta Aluna kembali, karena hatinya sungguh menyesal telah berkhianat.
"Tunggu aku Aluna. Aku akan menjemputmu dan memulai semuanya dari awal untuk merajut cinta kita kembali"
.
.
.
Bersambung
ini beda agama apa gimana thor 🙏