karya ini terdapat alur maju mundur ya, baca beberapa bab baru baru bisa mengerti jalan ceritanya.😁
Garina Jelita, gadis malang yang telah disia siakan selama 10 tahun, ia berada dititik terendahnya saat suami yang ia percaya mampu melindunginya justru mengusirnya dari kehidupannya.
percayalah penyesalan akan selalu ada bagi mereka yang berbuat kesalahan, namun waktu belum tentu memberi kesempatan bagi mereka untuk menebusnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deodoran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Byan mengerutkan alis saat membaca salah satu pesan yang dikirimkan bawahannya dikalimantan.
Perusahaan rintisan Ganendra grup yang kini beralih menjadi miliknya tiba tiba viral di akun gosip alih alih media bisnis.
Pria itu memang sengaja mengambil cuty panjang khusus untuk menemani Garina dan El dirumah sakit sehingga ia hanya memantau semuanya melalui Erick dan Ponselnya.
Garina menatap Byan yang nampak serius kemudian beralih merapikan nakas disamping tempat tidur El. Terlalu banyak buah dan makanan lainnya yang dibawa Byan disana bahkan kulkas pun sudah penuh dengan isi sehingga Garina menyusun sebagian dilemari Nakas.
Setelah membaca berita buruk diponselnya, Byan segera menghubungi Erick.
"Kau dikantor?"
"Iya Tuan" jawab Erick diseberang, dan Garina bisa mendengarnya karena Byan mengaktifkan loudspeekernya.
"Mengapa perusahaan kita sampai terkait berita menjijikkan itu, pecat manager itu!" Suara Byan begitu tegas dengan wajah dipenuhi amarah.
"Ini masalah pribadi Tuan. Manager itu tidak memiliki masalah dengan perusahaan. kinerja masih sangat baik"
Artikel yang baru saja dibaca Byan adalah mengenai seorang wanita datang dan mengamuk diperusahaan tempat suaminya bekerja karena seminggu tidak pulang dan memilih tinggal bersama selingkuhannya. Dan perusahaan itu adalah milik Byan.
"Pecat dia! Dan berikan semua pesangonnya kepada istri sahnya. Aku tidak ingin perusahaanku menampung tukang selingkuh! Aku tidak akan sudi menjadi bagian yang turut serta membiayai prilaku tercelanya" ujar Byan.
"Tapi Tuan, anda tidak bisa _"
"Tidak ada kebaikan bagi seseorang yang bahkan tidak bisa menjaga kesetiaannya, Pecat dia!"
Erick hanya bisa menghela nafas, "Baik Tuan"
Panggilan berakhir.
"Sial! Mengapa dunia ini dipenuhi orang orang menjijikan" gerutu Byan sambil menaruh kembali ponsel disaku celana bahannya. Bahkan siaran tv diruangan itu baru saja menyiarkan mengenai perselingkuhan seorang pilot dan pramugari, dimana Pria peselingkuh itu adalah suami seorang seleb tok tok.
Garina menatap kagum pada Byan tanpa berkedip.
"Salah satu anak buahku berselingkuh dan aku memecatnya" jelas Byan, sebelum wanita itu bertanya.
"Aku sudah mendengarnya" Garina tersenyum simpul, "Betapa beruntungnya wanita yang akan menjadi istrimu kelak Byan"
Mendengar hal itu keluar dari bibir Garina entah mengapa benar benar membuat Byan sedih. Ia teringat Arif yang kekeuh tidak akan meninggalkan Garina dan El. Padahal tak ada wanita lain yang ia harapkan selain ibu satu anak dihadapannya ini. Ia tak peduli dengan status dan usia Garina yang lebih tua, toh wajah wanita itu tetap terlihat muda karena ukuran tubuhnya yang memang tergolong kecil.
"Aku berjanji akan membuat wanita itu menjadi wanita paling beruntung didunia ini" ujar Byan. Sebelum obrolan mereka terhenti karena ada dua orang wanita berseragam yang masuk.
Byan menjelaskan pada Garina jika dua orang wanita ini adalah baby Sitter dari yayasan terpercaya. Byan berencana mengajak Garina berjalan jalan sehingga membutuhkan dua orang wanita bernama Rita dan mawar untuk menjaga El. Bukan hanya hari ini namun dua orang itu ditugaskan selama masa perawatan El di Jakarta.
Meski sempat menolak namun akhirnya Byan berhasil membujuk Garina yang tadinya enggan meninggalkan El yang terlelap.
Garina selalu menjaga jarak dengan Byan, ia tak pernah mau jalan berdampingan dengan pria itu hingga akhirnya mereka tiba di tempat parkir dan Byan membukakan pintu samping kemudi untuk Garina dan mengitari bagian depan mobil lalu melajukan mobil mewah yang hanya memiliki satu deret kursi itu.
"Oh hujan" gumam Garina menatap keluar jendela, hujannya bahkan sangat deras namun untungnya tidak disertai petir dan angin.
Byan melirik jam mewah dipergelangan tangan kirinya sembari tersenyum. Ramalan cuaca memang tak pernah salah, pikirnya.
"Kita mau kemana?" tanya Garina penasaran karena sudah hampir setengah jam mereka berkendara.
"Sebentar lagi" ujar Byan, mereka lalu berhenti tepat disebuah halte yang sepertinya sudah tidak digunakan lagi. Terlihat dari atap yang bocor hingga permukaannya yang dipenuhi coretan dan gambar gambar khas anak jalanan.
"Ayo turun" Ajak Byan.
"Turun? Tapi diluar hujan"
"Kita akan berteduh disini"
"Berteduh?" Garina mengerutkan dahi. Orang aneh mana yang singgah berteduh dari hujan disaat ia membawa sebuah super car.
Namun Garina menuruti Saja saat Byan mengajaknya keluar dan menjadikan jas mahalnya sebagai pelindung mereka berdua.
Garina melihat sekeliling, ia seperti mengenal tempat ini, sampai akhirnya Netra Garina menangkap beberapa bentuk bangunan yang masih tetap sama meski disekitarnya mengalami renovasi besar besaran.
"Ini" Garina menoleh kearah Byan.
"Ini halte yang dulu, namun sekarang sudah tidak digunakan" ujar Byan.
Garina lalu teringat sesuatu yang pernah ia lakukan 10 tahun yang lalu. Tanpa sadar wanita itu menarik tangan Byan menuju bangku usang yang terbuat dari besi dan permukaan catnya sudah mulai mengelupas.
Garina merendahkan tubuhnya seperti sedang bersujud tanpa peduli tanah akan mengotori baju dan telapaknya.
"Hahah masih ada disana" Garina bersorak gembira sambil bertepuk tangan, dan seketika membuat Byan hendak menagis haru, ia seperti melihat Garina gadis ceria yang masih berusia 17 tahun.
"Lihatlah masih ada" Garina menarik tangan Byan agar menyamai posisinya hingga Byan bisa melihat sebuah tulisan berwarna hitam yang ditulis dengan spidol permanent.
"Byan jelek, Garina cantik best friend forever" Byan membaca tulisan yang tertera disana. Pria itu membayangkan betapa sulitnya Garina saat menulisnya disana, karena harus dalam keadaan posisi yang seperti mereka lakukan sekarang. Gadis itu memang benar benar unik saat itu.
"Dia masih disana" Garina kini menghapus air matanya. Deraian pertanda ia sangat bahagia.
Garina tak pernah berfikir jika kembali kepada hal masalalunya akan sebahagia ini. Mengapa ia dulu bodoh bahkan tak pernah ingin mengunjungi makam kedua orang tuanya apalagi putranya.
Byan mengusap pucuk kepala wanita itu.
"Kapan kau menulisnya hemm? Kau memang gadis Unik"
"Saat kau terlambat, kau lebih unik Byan kau bahkan sengaja bolos sekolah hanya agar bisa pulang bersama" Garina sudah tahu semua cerita itu saat ia masuk menjadi keluarga Ganendra. Byan sendiri yang mengakuinya.
"Baiklah" Byan menarik tangan Garina untuk berdiri dan Wanita itu menurutinya. Sejenak ia kembali lupa menjaga batasan.
"Kita akan melakukan napak tilas kau siap Garina?" Byan berucap dengan semangat. Sementara Garina kembali ke mode bingungnya.
Napak tilas ?
Byan lalu melepas genggaman tangannya pada Garina kemudia mengulurkannya kembali.
Hembusan angin yang tidak terlalu kencang menyapu wajah putih Garina yang menatap Byan dengan pandangan berbinar. Jika Byan masih bisa melihat wajah gadis 17 tahun pada Garina namun tidak pada Byan. Wajah pria itu terlalu dewasa dari sepuluh tahun yang lalu.
"Mau bermain hujan?"Ajak Byan persis seperti apa yang Garina lakukan padanya sekitar 12 tahun yang lalu saat mereka baru pertama kali bertemu. Kala itu Sagara masih mengenakan seragam biru putih sedangkan Garina sudah berada ditingkat pertama sekolah menengah atas.
Tanpa pikir panjang Garina kini memimpin napak tilas, ia menarik tangan Byan menghambur kedalam guyuran hujan membiarkan tubuh mereka basah seutuhnya.
tingkah Garina persis seperti dulu, ia begitu bahagia saat bermain hujan seperti ini, sementara Byan memandangi wanita itu selayaknya menikmati gerakan Slow motion persis didalam film film.
Byan bahagia melihat tawa Garina yang membuat matanya membentuk persis seperti cekungan bulan sabit.
"Tetaplah seperti ini Garina, jangan sakit lagi" Gumam Byan.
Terimakasih thor tuk karya hebatnya
Padahal novel ini udah ku baca berulang kali 😭