Asher terpaksa menerima perjodohan dari orang tuanya untuk menepis gosip yang beredar tentang dirinya. Tetapi dia memiliki trauma yang membuat dirinya tidak bisa melakukan hubungan suami istri. Frandella merasa kecewa dan melimpahkan kekesalannya kepada Asher. Dengan rasa marah dan kesal Asher menyuruh Frandella untuk mencari kepuasaan di luar. Frandella menyetujui tawaran Asher karena dia adalah wanita yang sedikit gila akan ***. Di tengah hati yang gundah Asher pergi ke klub malam dan di sana dia bertemu dengan Jeslyn yang mengajaknya untuk melakukan hubungan one night stand. Asher tidak menyangka bahwa dirinya bisa menjadi laki-laki sejati saat bersama dengan Jeslyn. Bagaimana kelanjutannya? Apakah Asher akan terus mempertahankan rumah tangganya demi reputasinya? Atau malah mencari Jeslyn yang dapat menyembuhkan traumanya? Yuk ikuti ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana no Megami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nightmare
Suara pintu terbuka Jeslyn yang mendengar suara itu langsung membuka matanya dan segera bangkit dari tempat tidurnya. Ia menatap ke arah pintu untuk memastikan siapa yang masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Matanya membulat ketika melihat sosok pria berdiri di depan pintu. Pria itu melangkah perlahan mendekat ke arah Jeslyn. Badan Jeslyn mulai bergetar keringat dingin keluar dari tubuhnya dengan panik ia menarik laci di meja nakas di samping tempat tidurnya untuk mengambil sebuah pistol. Jeslyn mengacungkan pistol itu ke arah pria yang berdiri di depan tempat tidurnya. Pria itu menatap tajam ke arah Jeslyn sambil memasukkan tangannya pada saku celananya.
“Jangan mendekat!” Suara Jeslyn bergetar. Dan pria itu hanya tersenyum mendengar perkataan Jeslyn.
“Jika mendekat aku akan menembakmu.”
“Lakukanlah!”
Jeslyn sudah tidak mampu lagi membendung air matanya yang ia tahan sejak tadi. Pria itu mulai naik ke tempat tidur dan Jeslyn yang merasa takut luar biasa menekan pelatuk pistolnya. Suara tembakan pun menggema, Jeslyn menembak tepat di dada pria itu dan membuat pria itu ambruk di tempat tidur Jeslyn. Kini sprei Jeslyn yang berwarna putih telah berubah menjadi merah karena darah yang mengalir dari tubuh pria itu.
“Kau pembunuh, sama sepertiku.” Pria itu menatap ke arah Jeslyn dengan keadaan tidak berdaya. Jeslyn menjatuhkan pistolnya dan langsung memeluk tubuh pria yang ada di hadapannya itu.
“Ti-tidak Jac, apa yang aku lakukan kepadamu. Jangan mati Jac bagaimana dengan Embun.” Jeslyn menangis dengan histeris melihat Jacob yang terkapar tidak berdaya akibat ulahnya sendiri.
“Tolong, tolong, ada yang terluka disini. Tolong aku. Buka matamu Jac, ku mohon.” Dan tiba-tiba saja Jeslyn membuka matanya dengan nafas tersenggol-senggol.
Ya, mimpi buruk telah terjadi, Jeslyn meraup wajahnya dengan kedua tangannya. Dua tahun sudah berlalu namun mimpi buruk itu masih sering kembali. Setelah Black A12 menceritakan tentang Jacob, Jeslyn sering mengalami mimpi buruk. Jeslyn menarik nafas dalam dan menghembuskannya lalu ia meraih ponsel yang berada di meja nakas.
“Masih dini hari tapi rasa kantuk ku sudah hilang.” Jeslyn bermonolog, ia menurunkan kakinya di lantai dan berjalan ke arah balkon. Jeslyn membuka pintu dan duduk di balkon kamarnya, ia ingin menghirup udara segar karena dadanya terasa sesak akibat mimpi buruknya.
“Bagaimana kabar Jacob, kenapa tidak ada yang memberitahuku. Kapan ia keluar dari penjara, apa yang dilakukannya sekarang, apa dia membunuh orang lagi. Kenapa pria itu sangat mengerikan sikapnya kadang hangat dan kadang berubah menjadi dingin.” Pertanyaan-pertanyaan muncul di benak Jeslyn Ia mengusap pinggiran meja dengan jari telunjuknya. Air matanya pun menetes ia merasa kehidupannya dengan seorang pria selalu saja berakhir dengan bencana. Jeslyn tidak dapat membendung emosinya lagi malam itu ia menangis sesenggukan di balkon kamarnya. Ia tidak pernah bercerita tentang mimpi buruknya ataupun keluh kesahnya kepada orang lain. Karena ia takut orang lain akan menganggap Jacob orang jahat yang berbahaya dan akhirnya Jacob akan bertambah lama berada di penjara.
.
.
.
Cuaca pagi itu sangatlah indah. Udara yang sejuk dengan pemandangan rumput yang hijau membuat siapapun ingin bermain-main di sana. Suasana di taman kota Ki*s Park and Bo*anical Garden saat itu lumayan ramai Jeslyn mendorong stroller dengan Embun yang duduk di dalamnya. Entah apa yang ia pikirkan saat itu hingga Jeslyn menabrakkan strollernya pada seorang pria yang sedang berdiri di pinggir jalan.
“Ah, maafkan saya tuan saya tidak sengaja.” Jeslyn membungkukkan badannya dan tatapan matanya terlihat kosong. Pria yang ditabraknya pun membalikkan badannya dan menoleh ke arahnya. Pria itu hanya terdiam tanpa membalas ucapan Jeslyn. Sesaat kemudian Jeslyn memberanikan diri untuk mengangkat pandangannya menatap pria yang terdiam di hadapannya.
“A-Asher.” Jeslyn terpaku di tempatnya ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
“Halo Jes, lama tidak berjumpa.” Asher tersenyum pada Jeslyn wajahnya terlihat hangat dan tenang. Sangat berbeda dengan terakhir kali bertemu pada pernikahan Mike.
“Daddy?” Embun menarik-narik celana Asher.
“Oh bukan sayang ini bukan daddynya Embun.” Jeslyn menjadi gugup, ia berusaha menjelaskan kepada Embun bahwa itu bukanlah daddynya. Sejak keberangkatannya ke Australia Embun belum pernah bertemu dengan Jacob sehingga ia tidak tahu sosok ayahnya. Ia sering mengira setiap laki-laki asing adalah ayahnya.
Asher tersenyum dan berjongkok agar wajahnya berjajar dengan gadis kecil di hadapannya. “Hai cantik siapa namamu?”
“Embun.” Embun tersenyum dan tangannya meraih pipi Asher untuk mengelusnya.
“Daddy?” Kata itu keluar lagi dari mulut Embun. Jeslyn berusaha menjelaskan kembali kepada Embun dan Asher memberi isyarat agar Jeslyn diam di tempatnya.
Asher mengacungkan kedua tangannya ke arah Embun dan Embun pun tersenyum ingin memeluk Asher. Kini Embun berada di gendongan Asher dan Jeslyn pun hanya terdiam melihat tingkah dua manusia itu. Asher berjalan dengan menggendong Embun Jeslyn pun mengikutinya dari belakang sambil mendorong stroller. Asher yang menyadarinya menghentikan langkahnya untuk menunggu Jeslyn sehingga mereka berjalan beriringan. Embun hanya memeluk dan meletakkan kepalanya pada bahu Asher. Jeslyn melihat Embun sangat merindukan sosok seorang ayah hal itu membuat Jeslyn merasa iba dan hatinya benar-benar sakit.
“Bagaimana kabarmu Jes?” Pertanyaan asher membuyarkan lamunan Jeslyn.
“Ah baik. kamu?” Asher tersenyum karena wajah Jeslyn menunjukkan yang sebaliknya. Jeslyn terlihat pucat dan tampak lebih kurus.
“Sangat baik.”
“Apa yang kamu lakukan disini?”
“Hanya melakukan apa yang aku inginkan. Seperti katamu hidup adalah pilihan kan. Maka aku memilih untuk mandiri dan berakhir di sini.” Asher menghembuskan nafas lega.
“Lalu bagaimana dengan Frandella bukankah ia sedang mengandung anakmu?” Jeslyn menghentikan langkahnya.
“Dia bukan anakku apakah kamu lupa bahwa aku tidak bisa menyentuh wanita dan aku hanya bisa menyentuhmu. Apakah kamu meragukan hal itu.” Asher menatap tajam ke arah Jeslyn.
Jeslyn tampak gugup dan berusaha membuang pandangannya ke segala arah. “Lalu kenapa kamu berada di sini? Dan kenapa anakmu tidak mengenali siapa ayahnya?” Asher melirik ke arah Embun yang sudah terlelap di gendongannya.
Jeslyn hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Asher ia terlihat semakin pucat dan keringat membasahi pelipisnya. “Apakah kamu baik-baik saja Jes? kamu terlihat kurang sehat.”
“Aku baik-baik saja. jangan khawatirkan aku,” Jeslyn meraih Embun dari gendongan Asher dan meletakkannya di stroller. “Aku akan pulang maaf sudah merepotkanmu. Jeslyn mendorong strollernya dan membalikkan langkahnya menjauh meninggalkan Asher yang masih terpaku di tempatnya sambil menatap punggung Jeslyn.
“Aku menatap punggungmu lagi setelah sekian lama Jess. Terimakasih sudah mengobati rasa rinduku selama ini.” Asher bergumam pelan sambil tersenyum mengingat momen kebersamaannya dahulu. Ia menyadari bahwa Jeslyn masih berstatus sebagai istri Jacob. Asher juga tahu jika Jacob tersandung kasus dan masuk ke dalam penjara karena Mike telah memberi tahunya. Ia menyesal telah mengucapkan kalimat yang membuat Jeslyn tersinggung namun ia tidak tahan karena Jeslyn memancingnya terlebih dahulu. Asher menghembuskan nafasnya dengan panjang lalu beranjak dari tempatnya.
.
.
.
Jeslyn sudah berada di dalam mobil ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya. Tubuhnya terasa sangat lelah saat ini, ia tidak menyangka akan bertemu dengan Asher. Ia memandang ke arah Embun dan mengelus lembut puncak kepalanya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan Jeslyn segera menganggat panggilan telvonnya.
“Jeslyn.”
“Jacob?”