"Kak tunggu! Aku mau bilang sesuatu sama kakak. Aku udah lama nunggu waktu itu hanya buat bilang ... kak Adrian ... aku suka sama kakak," kata seorang gadis.
"Tapi aku di sini," kata seseorang yang duduk dipojokan taman.
Gadis itu ternyata salah mengucapkan nama. Ia ingin mengutarakan perasaannya pada cowok tampan yang bernama Adrian. Tapi ia malah bilang cinta pada Adnan, kembarannya Adrian.
Mereka memang sama persis, hingga tidak ada celah untuk membedakannya. Mereka sering salah dikenali oleh para gadis yang selalu berebut untuk mencari perhatian mereka. Sikembar memang sering membuat jebakan pada para gadis.
Bagaimana kisah sikembar selanjutnya? selalu bersama jebakan cinta sikembar ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
+28
Ini hal langka bagi Elang dan Gea. Biasanya, Adnan tidak akan protes, sedang Adrian, ia akan tetap setuju dengan apa yang mamanya katakan. Yang bikin aneh itu adalah, Adnan yang menolak mengajak Zia.
"Tumben gak sehati," kata Gea sambil melihat Adnan dan Adrian secara bergantian.
"Iyah. Tumben juga Nan, kamu gak setuju kita ajak keluarga Zia makan bersama. Biasanya, kamu gak akan protes," kata Elang.
"Ada apa?" tanya Gea pula.
"Tidak ada. Hanya saja, aku gak ingin setiap makan malam bersama ada orang lain ikut serta dalam keluarga kita. Kitakan ingin makan malam keluarga, bukan ketemu orang lain," ucap Adnan beralasan.
"Kamu yakin gak ada alasan lain, Adnan?" tanya Elang.
"Gak ada apa. Kenapa emangnya dengan alasanku?"
"Tidak ada. Mungkin kamu benar, kita harus lebih sering makan berempat saja," kata Elang membenarkan apa yang anaknya katakan.
Pada akhirnya, semua perdebatan itu berakhir juga. Dengan Gea yang mengalah dan membatalkan niatnya untuk mengajak Zia makan malam bersama.
Setelah Elang dan Gea keluar dari kamar si kembar, tinggal mereka berdua yang masih diam dengan posisi masing-masing. Ada keheningan diantara mereka, tapi tidak lama. Adrian memecahkan keheningan itu dengan menanyakan apa yang mengganjal di hatinya tadi.
"Adnan, tumben banget kamu nolak mama untuk ajak keluarga Zia ikut makan malam bareng kita. Ada apa? Apa ada yang kamu sembunyikan dari aku?"
"Tidak ada. Kenapa memangnya? Apa ada yang salah dengan aku yang menolak mama untuk mengajak keluarga tante Elsy ikut serta?"
"Ada."
"Apa?"
"Biasanya, kamu tidak pernah membantah mama. Tapi hari ini, kamu melakukan hal itu."
"Apa salahnya sesekali aku tidak ingin mereka ikut kita makan malam bersama. Itukan makan malam keluarga. Masa ngajak orang lain dalam makan malam keluarga," kata Adnan berasal agar Adrian tidak curiga terus menerus dengan penolakannya.
"Ya juga sih. Tapi, kamu kan tahu kalau aku sangat mengharapkan ada Zia saat makan malam keluarga kita."
Adnan tidak menjawab. Ia hanya terdiam sambil menatap layar ponselnya. Ada kekesalan yang muncul dalam hati Adnan saat ini. Tapi, ia mencoba menahan dan menyembunyikan kekesalan itu.
________
Makan malam berlangsung dengan lancar. Hanya saja, Adrian agak sedikit tidak bersemangat ketika makan malam kali ini. Bagi Adrian, makan malam di luar atau di rumah sama aja, kalo bukan makan malam bersama Zia dan keluarganya. Atau, makan malam bersama keluarga omnya.
Adrian lebih banyak diam dari pada ikut bicara. Berbanding terbalik dengan Adnan, ia kelihatannya sangat menikmati makan malam berempat di luar malam ini.
Gea dan Elang menyadari kalau salah satu anaknya tidak menikmati makan malam kali ini. Gea merasa aneh, karena yang tidak menikmati itu bukan Adnan, melainkan Adrian. Anak yang selalu ceria dan selalu bahagia ketika makan malam bersama di luar. Ia pun berusaha mencari tahu apa yang terjadi pada Adrian.
"Ian, kamu punya masalah ya nak? Atau ... kamu sakit ya?" tanya Gea dengan nada agak cemas.
"Aku gak papa kok ma. Aku baik-baik aja."
"Terus, kenapa kamu kayak gak menikmati makan malamnya?" tanya Elang.
"Yah, makan malam di luar kali ini sama kayak makan malam di rumah pa, ma. Untuk apa dinikmati?" kata Adrian dengan santai.
"Maksudnya?" tanya Gea agak bingung.
"Ya kita makan malam berempat ini sama kayak makan malam di rumah ma."
"Oh, papa tahu apa yang kamu maksudkan. Kamu pasti mau bilang kalau makan malam kita biasa-biasa aja kalo cuman berempat, iyakan?" kata Elang sambil tersenyum.
Adrian terdiam. Ia melihat kearah Adnan yang sejak tadi tidak ikut bicara. Adnan tahu sejak awal apa yang menyebabkan Adrian tidak punya semangat malam ini.
Mereka melanjutkan makan malam hingga selesai. Lalu, kembali pulang ke rumah tanpa menunggu lama-lama di luar. Ada dua perasaan yang harus Gea jaga. Kedua anak kembarnya terkadang memiliki pendapat yang berbeda. Hal itu terkadang membuat kepala Gea menjadi pusing.
"Yah ... aku punya anak kembar tapi seleranya beda. Satu sukanya keramaian dan berbaur dengan orang lain, sedangkan yang satu lagi malah suka kalo tidak orang lain selain keluarga," ucap Gea sambil memegang kepalanya.
"Ya udahlah Ge, gak perlu kamu pikirkan. Walaupun kembar, mereka berdua tetap saja orang yang berbeda. Kalo semuanya sama, berarti, Adnan dan Adrian itu satu orang yang sama dong," kata Elang menenangkan Gea.
"Kamu benar juga ya Lang. Ya udah deh, anggap aja anugrah," kata Gea pada akhirnya.
"Memang anugrah sayang. Jika tidak ada mereka, kita berdua mungkin tidak akan merasakan hal bahagia seperti sekarang ini."
oh iya itu dia! terima kasih Kak Author! aku bisa menemukan judul dan cerita yang nanti aku buat!
mksih
Zia lebih cocok sama adrian yang lebih supel karna keliatannya zia pendiam, sedangkan adnan cocok sama cewek kaya ganisa karna punya hobi yang sama 😊