Titik balik kehidupan Biandra berada pada saat ia mengalami kehilangan. Semua arus hidupnya diputar paksa dengan skala 180 derajat. Nominal yang akan ditujunya bukan lagi sebuah kilasan anak abg yang galau akan patah hati, lebih dari semua itu dia harus mengalami fase mengenal yang namanya gila. Gila yang benar-benar gila. Harafiahnya ia harus gila. Disisi lain misteri terkuatnya keadaan suatu kondisi rumah sakit kejiwaan yang ternyata memiliki biaya menginap yang lebih fantastis dari hotel berbintang ditemani dengan seorang dokter yang memiliki vitalitas yang terlalu dominan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amaterasu yuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sel 24
because it's my birthday, so I gave this gift to you guys, I'm sorry it's so late.
Levin
memikirkan jalan keluar untuk bisa bertemu dengan sahabatnya setelah rayhan
dengan seenaknya membatalkan pertaruhan yang dibuatnya. Dia sangat tidak
menyukai lelaki itu berada didekat sahabatnya. Namun dia mendecak kaku karena
tidak dapat memungkiri bahwa lelaki itu memang bisa untuk sementara ini
melindungi sahabatnya ya hanya sementara, setelah ini sahabatnya harus
bersamanya. Tidak perlu untuk bersama lelaki itu.
Sembari
memejamkan matanya ia teringat pertemuannya dengan kedua sahabat sahabatnya.
Levin tersenyum senang, ia menemukan cara bertemu sahabatnya. Dengan cepat ia
bergerak mencari dua wanita itu.
Sembari itu
Saski masih melihat lihat berkas tentang tas branded lainnya, ia sudah bosan
menggunakan tas berlogo Hermes ia membutuhkan Gucci saat ini. Hermes sudah sangat membosankan, sedangkan Vee ia masih berkutat dengan tugas
makulpil nya. Dengan lingkup demikian sosok laki-laki yang ingin dihindari dan
dicari oleh keduanya menjulang menebarkan aura dingin didepan keduanya.
“Kalian mau
bertemu Biandra?” tukas laki-laki itu
Mata saski
dan vee memicingkan dengan kegembiraan kea rah Levin. Mereka mengangguk
bersamaan, sayangnya Levin masih Levin biasanya, ia tidak akan membiarkan kedua
sahabat dari sahabatnya ini untuk bertemu. Levin menggeleng. “Tidak bisa,
Biandra tidak dalam waktu temu. Biarkan Biandra yang menentukan apakah ia mau
bertemu dengan kalian atau tidak?” ujar Levin ketus dan melangkah pergi.
Saski dan
Vee mengerutu kesal “Tuhkan apa gua kata, tuh orang songong kebangetan! Emang
sejak kapan Biandra nggak mau ketemu kita coba? Pasti tuh anak deh yang
ngelarang”
“gua kali
ini setuju ama lo Vee” saski menyetujui ucapan sahabatnya
“gua ada
ide” ujar Vee
Saski
menatap ke arah Vee “lo nggak merencanakan hal-hal aneh kan”
“Siapa yang
ngerencanain hal aneh sih?” vee cemberut
“Terus apa
ide lo?” Tanya Saski
“Gimana
kalau kita ikutin aja tuh anak, mumpung punggungnya masih kelihatan dari sini”
ungkap Vee dan arah matanya memicing ke punggung Levin
Saski sudah
duluan berjalan dengan langkah lebar sedangkan Vee masih mengetuk ngetuk ujung
jari telunjuknya kearah dahi. Saski yang merasa jalannya tidak diikuti oleh
sahabatnya melihat kebelakang dengan cemberut dia berjalan kea rah Vee kembali
“Lo mau
sampe kapan mau jadi patung disini sih, ayoo! Udah ngerencanain juga!”
“Egh-egh …
hehe” Vee cengegesan
Dan dimulai lah pembubutan mereka yang masih
amatir. Namun seseorang yang dibututi malah merasa tidak dibututi karena tidak
ada nya hawa membunuh dibelakangnya. Levin masih berjalan seperti biasanya
menuju ke arah parkiran kampus. Dia tidak merasa dibuntuti dikarenakan Levin
terlalu sering mendapati hal demikian selama dia berada dikampus tersebut.
Cuman hawa membunuh dan Biandranya yang dapat membuat seorang Levin bergerak lebih
dari biasanya.
***
Suasana kampus dengan angin pagi yang
mendebarkan senyuman, senyum cerah dari perpohonan karena tidak adanya asap
asap yang membumbung tinggi. Langit pun tak mau kalah membetang dengan bir
terangnya seakan awan tak mampu lagi untuk membuat coretan baru disudut-sudut
langit. Kaki Vee dan Saski masih sibuk memastikan kemana Levin, karena setelah
Levin menerima telepon dia memutar langkah kakinya dari arah parkir menuju
tempat lain.
“Vee, lo ke parkiran duluan kita ketemu di
gerbang kampus?” ungkap Saski
“Maksud lo? Ngapain gua ke parkiran?” Tanya Vee
heran
“Udah lo ikutin aja intruksi gua” ungkap saski
yang masih mengikuti langkah kaki Levin berlari menuju ke arah taman kampus
Kampus Levin adalah fakultas kedokteran
meskipun berbeda dengan fakultas mereka, Saski mampu untuk menelusuri arah
kemana langkah kaki Levin untuk bergerak selanjutnya, makanya dia memberitau
Vee untuk mengambil mobil. Karena Levin terlihat terburu-buru tanpa melihat
kebelakang dia terus menyentuh layar iphone, kemudian menekan tws di
telinganya. Memunculkan visual berbicara dengan orang diseberang sambungan
tanpa kabel itu menampilkan wajah bahagia.
Levin menghentikan taksi dengan buru-buru,
kemudian dia menghilang dibalik tutupan pintu penumpang, Saski yang melihat itu
semua mengingat plat taksi tersebut. Diseberang sana Vee sudah ready dengan
Jazz mininya melambai keraha saski dari dalam pintu kemudi tanpa tertutup
jendela mobil.
Saski mempercepat langkah kakinya menuju mobil
Vee. “Lo kejar taxi itu vee”
Vee menatap heran kea rah saski “kenapa jadi
kejar taxi, kita mau buntutin Levin kan?”
Saski mendengus “gua jelasin, lo ikutin aja
intruksi gua, sebelum kita kehilangan tuh taxi.” Ungkap saski
“Oke oke, gua ikutin keinginan yang mulia
saski, apalah tugas supir ini” Vee berakting memelas sembari membentuk
penekanan.
lanjutkan
wkwkw