Karena kebodohan keduanya, Anggun dan Alister berakhir tidur bersama. Padahal, keduanya adalah musuh bebuyutan, Alister adalah berandal, pengacau yang membuat Anggun selaku ketua OSIS selalu keluar masuk ruang BK demi menyelesaikan permasalahan nya.
Terjebak bersama dengan pria yang paling dibenci. Itu membuat Anggun menderita, apalagi keluarganya meninggalkannya dengan pria ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan
Anggun pulang dengen kekecewaan hari itu. Wisnu selaku ayahnya tentu saja khawatir. Dia menunggu sang istri dulu untuk berbicara mengenai masalah anaknya. Begitu Eva pulang, baru Wisnu mendiskusikan hal ini.
"Kita gak bisa buat Anggun tanpa suami. Anak kita masih kecil buat jadi janda kan? Lagipula kita tau alister yang berusaha di sini."
"Kenapa kamu jadi tiba tiba iba sama Alister?" Tanya Eva
"Dia gak pernah dianggap sama Ayahnya karena Kertawijaya nganggap Alister adalah alasan istrinya meninggal. Anak itu udah memperjuangkan Anggun, dan sekarang anak kita abis cari cari dia dan pulang dalam keadaan nangis. Dania tadi sempat bilang kalau Alister pergi ke luar negara sama ayahnya."
Eva menarik napasnya dalam. Dia berfikir kalau Anggun akan baik baik saja tanpa Alister, karena mereka bisa mencukupi kehidupan Anggun dan anak mereka. Namun setelah menurunkan keegoisan, Eva sadar kalau cucunya nanti membutuhkan sosok ayah dan itu hanya Alister yang bisa berada di posisi itu.
"Coba ngomong sama anaknya baik baik. Kita tenangin dulu dia dan bantu dia buat nyari Alister."
Ketika Eva masuk ke dalam kamar Anggun dan mendapati sang anak yang tidur dengan air mata mengering, Eva menjadi tidak tega karenanya. Dia usap rambut itu hingga perlahan Anggun membuka matanya dan menatap sang Mama dengan berkaca kaca. "Ma, Alister bertanggung jawab selama ini. Anggun nya aja yang gak tau diri. Tolong bantu Anggun, mau sama Alister lagi. Gak bisa pisah dari dia, Ma. Kasihan anak Anggun."
Anaknya menangis, meneteskan air mata tanpa suara. Eva tidak tega. Dia menarik Anggun ke dalam dekapannya. "Iya, Mama bantu cari Alister ya. Mama pasti bantu cari dia sama Papa."
"Tolong… Anggun cuma mau dia, anggun mau minta maaf." Tersadar kalau selama ini dirinya egois dan mementingkan diri sendiri saja.
***
Nyatanya, setelah kedua orang tuanya berjanji akan menemukan Alister, hal itu tidak membuat Anggun merasa tenang. Ketika malam tiba, dia terbangun. "Al?" Panggilnya secara tidak sadar. Menganggap Alister ada di sampingnya dan akan membawakan minuman atau memberikan pelukan ketika dirinya bangun tengah malam
Sayangnya, sosok itu tidak ada di sana. Anggun hanya duduk sendirian di tepi ranjang dan meraih gelas yang sudah disediakan sang Mama. Dia rindu Alister yang selalu memeluknya. Pria itu selalu mencari cara agar dirinya tidur dalam waktu yang tepat.
Saat mual melanda nya, Anggun berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya di saja sambil menangis. Tidak ada yang mendengar penderitaannya. Sebelumnya, Alister selalu menyiapkan camilan di kamar untuk mengurangi rasa mual. Namun sekarang, Anggun hanya sendirian. Melamun dan menangis. "Kangen," Ucapnya.
Dan titik terdalamnya ketika Anggun diantarkan oleh sang supir ke kampus. Mengingatkan Anggun pada kalimat yang dilontarkan teman Alister. "Lu tau gak kalau mobil yang Alister pake selama ini itu adalah hasil dia nyolong dari bapaknya sendiri? Buat siapa? Buat lu biar gak kehujanan. Heran gue, kenapa si Alister mau tanggung jawab sama cewek modelan lu yang gak mau tanggung jawab sama diri sendiri."
Selama ini suaminya menderita, dan Anggun tidak pernah peduli padanya.
"Neng gak papa?" Tanya sang sopir.
"Gak papa, Mang. Makasih ya." Anggun keluar dari mobil dan melangkah menuju kampus dengan lunglai. Bahkan saat jam kuliah selesai, Anggun meminta sang supir untuk mengantarkannya ke apartemen lamanya dan Alister.
Apartemen itu masih terisi oleh benda benda yang sama. Milik Alister masih ada di sana. Bolehkah Anggun berharap suatu saat nanti Alister pulang ke sini?
Dirinya duduk sendirian di sofa dan menatap televisi yang mati di sana. Banyak sekali kenangan yang dia lewati di sini bersama dengan Alister.
"Hallo, Ma?" Anggun mengangkat panggilan sang Mama. "Ini di apartemen Alister. Anggun pengen di sini dulu ya."
***
Saking betahnya, Anggun tidak mau pulang yang mana membuat Eva datang ke sana untuk memastikan keadaan sang anak. Dilihatnya Anggun yang tengah terlelap di kamar lama Alister. Membuat Eva merasa bersalah. "Nak? Bangun, ayok pulang."
"Mama?" Anggun menyipitkan matanya.
"Ayok makan dulu. Mama bawa makan malam buat kamu. Abis itu kita pulang ya."
Mereka makan malam bersama di meja makan. Bahkan sekarang anggun merindukan masakan Alister yang khas. "Gimana? Alister udah bisa dihubungi?"
"Belum, Mama sama Papa masih belum tau dia dimana."
Anggun semakin lesu. "Anggun mau tidur di sini ya, Ma?"
Eva hendak melarang melihat sang anak yang keadaannya belum stabil. Tapi jika dilarang, anggun akan semakin tersiksa. "Boleh, tapi ditemenin sama bibi ya? Mama sama Papa mau ketemu seseorang soalnya. Dia mungkin tau keberadaan Alister."
"Boleh ikut?"
"Nggak, sayang. Kamu istirahat aja di sini ya. Nanti si Mbak ke sini buat nemenin kamu." Melihat sang anak sedih, Eva segera menjelaskan. "Susah buat dapetin info tentang Alister. Bahkan sekarang perusahaan di sini diambil alih sama asitennya. Papa sama Mama udah memohon buat kasih tau keberadaan Alister, tapi dia bilang kalau itu rahasia. Bahkan sampai asisten itu minta maaf. Jadi Mama sama Papa cari tau yang lain."
Anggun hanya bisa menunduk diam. Setelah kepergian sang Mama, anggun masuk lagi ke kamarnya dan Alister. Masih ada barang barang Alister di sana. Anggun membuka salah satu buku usang di sana. Ada sebuah lembaran kertas yang berisi :
*Rencana saat Anggun libur semester.*
Bawa jalan jalan ke luar negara
Beliin tas sama baju branded
Beli apartemen baru buat kejutan
Jangan cuma rencana, harus jadi nyata. Kerja kerja kerja. Hahahahahaha
Akhirnya lelucon, tapi mampu membuat air mata Anggun menetes menyesalinya
****
To be continue.
Komentarnya?