Shine Andersson, pengusaha asal Amerika, yang tanpa sengaja tertabrak oleh seorang dokter anak yang bernama Amira. Dia mengalami patah tulang sehingga tidak bisa berjalan. Dia pun meminta Amira bertanggung jawab dengan menjadi asistennya selama dia lumpuh.
Suatu hari Amira melihat Shine sedang berbicara dengan seseorang sambil berdiri. Lalu, dia pun memukuli kepalanya dengan tas beberapa hari karena merasa sudah ditipu. Tanpa Amira tahu kalau dia adalah Sky, saudara kembar Shine. Selain itu, Shine dan Sky adalah kakak kandung dari Rain, laki-laki yang merupakan cinta pertamanya.
Hari-hari Amira sering direpotkan oleh si kembar yang terkenal jahil, punya kepercayaan diri yang sangat tinggi, dan yang paling membuatnya kesal adalah kedua laki-laki dewasa ini sangat overprotektif kepada mamanya.
Akankah Shine mampu meluluhkan hati Amira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Pedro
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 29
Para tim pasukan keamanan keluarga Andersson mencari keberadaan Shine. Mereka tahu kalau tuan muda itu sedang berada di ruang monitor tadi. Mereka pun menuju ke sana dan betapa terkejutnya saat melihat keadaan Shine yang berlumuran darah dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Tuan Shine!"
"Dia masih hidup."
"Cepat bahwa brankar ke sini! Tuan Shine harus segera mendapatkan pertolongan," teriak salah seorang pasukan tim keamanan Andersson.
Ruangan itu hancur luluh lantak bahkan beberapa mayat rekan penjahat juga tergeletak di sana dalam keadaan yang mengenaskan. Wajah mereka sudah tidak bisa dikenai lagi.
Tidak lama kemudian datang tim medis yang membawa brankar untuk membawa tubuh Shine. Selain itu para tim keamanan juga membawa mayat para penjahat untuk diidentifikasi. Siapa identitas mereka sebenarnya?
***
Sementara itu, Martin saat ini dalam keadaan terdesak saat si badut berambut merah mengacungkan senjata kepadanya. Jika senjatanya pistol biasa dia tidak akan takut. Masalahnya, sekarang penjahat itu mengarahkan pistol 909 yang mempunya daya hancur yang besar.
"Jatuhkan senjata kamu!" perintah penjahat itu.
Martin mau tidak mau harus menjatuhkan pistol andalan miliknya. Dia pikir apa yang harus dilakukannya saat ini, ketika berada di bawah tekanan musuh yang mempunyai senjata yang canggih dan hebat.
Ray dan Sam sudah berhasil mengungsikan pengunjung yang masih selamat. Para pasukan tim keamanan keluarga Andersson sudah berhasil masuk ke dalam dan membantu mereka membawa korban yang mengalami luka.
DOR!
"Kyaaa-aak!"
Hal yang tak terduga terjadi, yaitu ketika badut berambut merah mengarahkan tembakan senjata 909 ke arah pintu. Di mana banyak pasukan keamanan yang sedang membawa korban yang terluka.
Tentu saja banyak yang menjadi korban meski hanya dengan satu serangan saja. Sekarang semakin banyak saja korban yang berjatuhan di sana.
Martin yang melihat itu sangat marah dan kesal pada si badut berambut merah. Dia mengepalkan tangannya kuat dan hendak meluncurkan pukulannya ke arah penjahat itu. Namun, hal tidak terduga terjadi. Angkasa melemparkan sebuah bumerang ke arah tangan badut itu dan senjata 909 terlepas dari genggaman tangannya.
"Martin!" teriak Angkasa.
Martin tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia segera memberikan serangan pukulan kepada si badut berambut merah dan mengambil senjata 909 itu untuk dia amankan.
"Tuan Angkasa!" Martin melemparkan senjata 909 kepada tuannya.
"Aku serahkan dia kepadamu!" kata Angkasa berteriak sambil membawa dua pasukan tim keamanan yang terluka parah, akibat pendapat serangan dari senjata 909 tadi.
Martin dan si badut merah itu pun berkelahi dengan tangan kosong. Keduanya beradu pukulan dan tendangan.
' Ternyata dia bukan orang sembarangan.' (Martin)
Kedua lelaki dewasa itu kembali melancarkan pukulan dan tendangan. Mereka menyerang dan bertahan di saat bersamaan, tidak ada yang mau mengalah. Baik Martin maupun si badut berambut merah itu mengeluarkan kemampuannya dalam berkelahi.
Mendapati musuhnya yang ahli dalam beladiri, Martin pun menggunakan taktik lainnya selain menggunakan kekuatan ototnya. Dia menggunakan otaknya untuk berpikir cara yang cepat untuk mengalahkan musuhnya, bahkan kalau bisa menghabisinya.
'Aku harus cepat menyelesaikan pertarungan ini. Tubuhku sudah terasa sangat lelah dan ingin beristirahat.' (Martin)
'Dia memang pantas dijadikan sebagai penjaga tuan muda keluarga Andersson. Aku tidak menyangka kalau Martin bisa berkembang pesat kemampuannya.' (Si badut berambut merah)
Keduanya berkelahi kembali. Namun, kini Martin lebih unggul. Dia bisa menendang dengan kuat tubuh si badut berambut merah sampai terpental jauh dan menabrak meja makan restoran.
Martin melihat senjata kebanggaannya yang tergeletak di lantai dia pun langsung meraihnya. lalu dia arahkan senjata itu ke penjahat, yaitu si badut berambut merah.
"Aku yakin kamu tidak akan pernah mampu bisa menembakkan peluru yang ada di dalam senjata yang kau pegang saat ini kepada aku," kata si badut berambut merah itu diiringi dengan tawa yang terkekeh.
Martin tahu siapa orang yang punya ciri khas tawa seperti itu. Namun, dia merasa tidak yakin karena orang itu sudah lama sekali mati.
"Pedro?" panggil Martin.
Si badut merah itu pun membuka topengnya. Terlihat jelas wajah orang yang dikenal oleh Martin saat dahulu. Meski wajah saudaranya itu telah berubah menjadi lebih dewasa, dia tidak akan pernah lupa kepada kakaknya itu.
"Hallo Martin, sudah lama sekali kita tidak bertemu kejadian itu," kata Pedro sambil menyeringai.
"Jadi kamu dulu selamat. Lalu, kenapa kamu tidak mencari aku dan membiarkan aku seorang diri hidup di jalanan?" hardik Martin dengan penuh emosi.
"Aku mengalami luka parah dan hampir mati. Apa kamu tahu kalau dulu aku mengalami koma selama tiga tahun?"
"Apa?" Martin terkejut mendengar kenyataan ini.
Pedro adalah kakak kandung dari Martin. Ketika keluarganya hancur setelah kematian kedua orang tuanya, mereka hidup luntang lantung di jalanan. Mereka sering mengalami perkelahian dengan anak-anak jalanan lainnya. Saat itu Pedro berkelahi dengan suatu gangster terkenal di New York, dan Martin mengira kalau kakaknya itu mati.
"Untungnya ada tuan David menolong dan mengobati aku sampai sembuh," jelas Pedro.
"Tuan David?" gumam Martin.
***
Siapakah Tuan David ini? Kenapa Pedro menyerang restoran itu? Apa tujuannya? Tunggu kelanjutannya, ya!