Ini SEQUEL dari MUTIARA DI BALIK LUMPUR.
"Kau pikir aku mau menjadikamu istriku? Tidak sudi! Kalau bukan karena untuk melindungi bosku mana mau ku menikahi wanita kupu-kupu malam sepertimu, murahan."
Aiden berusaha keras bersabar meski hatinya sakit di katai kupu-kupu malam. Karena memang dirinya bekerja di sebuah club malam. Namun ada hal yang tidak pernah mereka ketahui tentang siapa Aiden yang sebenarnya. Mereka hanya bisa menilai dari luar tanpa tahu apa-apa. Mereka hanya bisa berasumsi sendiri tanpa tahu kenyataannya.
Billy Giovanno (27 tahun) memaksa wanita bernama Aiden Rosalina (25 tahun) menikah dengannya hanya karena Billy tidak ingin Aiden mengganggu rumah tangga majikannya. Billy juga beranggapan kalau Aiden merupakan wanita murahan sehingga membuatnya membenci wanita itu.
FB: Mmah Abidah / Goresan Tinta
Ig : @ai.sah562
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan William
"Pah, beneran aku harus pergi ikut?" tanya Aiden setiba di kontrakannya.
"Bukannya kamu ingin menyendiri dulu? ya, kamu harus ikut saya kesuatu tempat."
"Tapi, bagaimana dengan Billy?" Aiden menunduk berucap lirih mengingat suaminya. Dia kembali memikirkan Billy, dirinya tidak rela meninggalkan suaminya begitu saja meski hatinya sakit atas apa yang telah di lakukan Billy kepadanya.
William menghelakan nafas berjalan duduk di bangku yang ada di pan kontrakan. "Papa tidak tahu siapa itu Billy bagimu? jika kamu berkenan, ceritakanlah semua masalahmu padaku supaya ku bisa membantu mu, Aiden."
Aiden mendongak tersadar telah menyebut Billy di depan William. "Hmmm a-anu, aku tidak.. tidak..."
"Dia orang yang kau cintai?" tanya William tiba-tiba. "Pasti berat bagimu meninggalkan dia apalagi jauh darinya dalam waktu cukup lama. Ceritakanlah, Aiden. Apa masalahmu sama pria tadi? saya harus tahu mengenai dirimu, tentang kehidupanmu karena saya tidak ingin kamu merasa kesepian. Ada saya yang akan menjadi tempatmu berkeluh kesah." Desak William ingin mendengar masalah pribadi Aiden. Dia yakin ada hal penting terjadi diantara keduanya.
"Om..." Aiden bingung apakah dia harus menceritakan semuanya atau tidak? tapi, jika dia menceritakan masalah yang ia hadapi apa tidak apa-apa?
William mengerti Aiden masih ragu mencurahkan keluh kesahnya padanya. [ Mungkin ini saatnya ku harus berkata jujur pada Aiden siapa aku, mengapa selalu baik padanya. ]
"Ada hal yang harus kamu ketahui tentang saya dulu agar kamu mau terbuka pada saya. Saya melakukan ini bukan karena semata-mata hanya untuk menjagamu sesuai amanah Papamu. Tapi, karena saya adalah saudara Ibumu, Kakak Ibumu. Saya memiliki kewajiban untuk menjagamu, menjadi tempat sandaran dikala kau bersedih."
"Apa?! Om.. ka-kau?! kau Kakak Mama? mana mungkin?" Aiden di buat terkejut tak mengerti dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa William Kakak Mamanya.
"Itu mungkin terjadi, Aiden. Kau harus mendengarkan semua penjelasan saya tapi saya harap kamu tidak memotong sedikitpun perkataan saya!" William mulai menceritakan siapa dirinya, siapa Linda baginya, kenapa Linda sampai bisa ada di kota ini. Bahkan, William juga menceritakan asal usul Linda dan siapa ayah kandungnya Aiden.
"Linda adik kandung saya, anak dari istri kedua Ayah. Ibu saya dan Ayah di jodohkan, mereka terpaksa menikah hanya demi mengikuti kedua orangtuanya sampai terlahirlah saya di antara keduanya. Namun, Ibu saya tiada saat melahirkan saya. Ayah dan Ibu Linda menikah ketika Ibuku tiada. Tapi, Nenek tidak menyetujui pernikahan keduanya hanya karena Ibunya Linda seorang anak yatim piatu dari kalangan biasa. Nenek berusaha keras memisahkan Ibunya Linda dan Ayah. Nenek juga menyebabkan mobil Ibunya Linda jatuh kesungai untuk menyingkirkannya padahal pada saat itu, ibunya Linda tengah mengandung Linda." Jelas William menyender ke dinding menengadah menatap langit dengan mata berkaca-kaca.
Aiden membekap mulutnya tidak percaya. Bahkan, hingga saat ini tak ada perkataan yang membuat Aiden bertanya-tanya tentang siapa Linda Margareth. Dia juga terkejut mengetahui kisah Mamanya yang ternyata sudah pelik dari sejak kecil.
"Setelah berhasil menyingkirkan Mamanya Linda, Ayah terkena serangan jantung syok mendapat kenyataan kalau anak istrinya telah tiada. Sejak saat itu, Nenek merasa tidak tenang dan hidup dalam bayangan perasaan bersalah terhadap istri kedua Ayah. Nenek sampai sering bolak-balik masuk rumah sakit. Dan sebelum tiada, Nenek menceritakan semuanya kepada saya kalau Ayah memiliki anak perempuan bernama Linda. Nenek menyuruh saya membawa Linda beserta anaknya ke tempat yang seharusnya berada, New York." William menoleh pada keponakannya.
"Aiden, saya tahu kesalahan Nenek begitu besar terhadap keluargamu tapi, maafkanlah Nenekku demi ketentraman jiwanya di surga. Maka dari itu, kedatangan saya dalam kehidupan kalian bukanlah sebuah kebetulan karena sebelumnya saya sudah mencari kalian. Untuk semua pengobanmu, untuk apa yang saya lakukan terhadap Linda semuanya murni keikhlasan saya membantu adik dan keponakannya."
Aiden menunduk menangis, dia terharu sekaligus sedih bahwa ada anggota keluarga lain yang ia miliki lagi. Sekarang dia harus apa? senang atau sedih setelah mendengar semuanya. Semua secara tiba-tiba menurutnya. Sekarang dirinya mengerti kenapa William begitu baik terhadapnya.
"Maka dari itu, janganlah merasa sendirian karena ada yang akan menjadi tempatmu bersandar. Semua keluh kesahmu ceritakanlah pada saya. Saya adalah Om mu sekaligus Papa kamu."
"Pah.." Aiden mendongak menghapus air matanya. Apa sekarang dia harus bercerita mengenai apa yang ia alami? dia butuh orang untuk memberikan support dan solusi dalam menyelesaikan masalahnya.
William mengangguk seakan memberikan syarat pada Aiden untuk bercerita. William seperti mengerti dari sorot mata sedih itu.
Merasa hatinya yakin, Aiden menceritakan apa yang ia alami saat ini. Terutama mengenai masalahnya dengan Billy.
"Aku bingung harus apa dengan hubungan ini, Pah? aku mencintainya tapi aku juga tidak mau melihat dia menikah dengan orang lain. Mama dan Papa bilang untuk tidak meninggalkan Billy dalam hal apapun. Aku bingung."
William mengerti, ketika cinta itu begitu besar maka akan terasa sulit untuk meninggalkan orang yang di cintai. "Kalau kamu ingin memperjuangkan, perjuangkan lah cintamu. Tunjukan padanya kalau kamu mencintai pria itu. Tapi, kalau kamu ingin berhenti merasa lelah mengejar, pergilah dan jangan kembali. Papa ingin tanya, apa kamu ingin pergi darinya?"
Aiden menggeleng karena memang hatinya memilih ingin menetap.
"Kejarlah! Tapi, untuk sementara waktu, jangan temui dia dulu. Nanti kita akan bertemu di pesta pernikahan anak pengusaha kopi."
Aiden tidak mengerti namun, ia merasakan kelegaan setelah bercerita.
*******
Di tempat yang berbeda, Billy merebahkan tubuhnya ke atas sofa tamu. Dia tidak langsung kekamar. Pikirannya tertuju lagi kepada Aiden.
"Ada apa denganku, kenapa perasaanku seperti ini?"
"Billy sayang, kenapa kamu pulang malam?" tanya seseorang mengagetkan dirinya.
"Maria?! kau di sini?" Billy terkejut lalu duduk.
"Aku mau menginap di sini. Mamamu juga sudah mengizinkannya, iya kan, Mah?" tanya Maria menengok ke arah Lily yang datang bersama Maria.
"Iya." Lily menjawab singkat. [ Terpaksa mengiakan. Dia sendiri memaksa ingin menginap di sini. Masuk tanpa permisi, seenaknya bertindak, sudah seperti pemilik rumah saja. ] gerutu Lily dalam hati tidak menyukai Maria dalam bertamu.
"Kau itu perempuan, tidak baik tidur di rumah pria tanpa pernikahan." Billy kesal dan tentunya merasa risih di dekati lagi oleh Maria. Padahal dulu, dirinya begitu menyukai wanita itu.
Maria duduk tanpa permisi di dekat Billy merangkul lengannya menyenderkan kepala di pundak. "Sayang, aku kan calon istrimu. Jadi bolehlah menginap di sini."
Billy menatap Mamanya meminta bantuan. Lily menggeleng seolah tidak bisa membuat wanita itu pergi. Keduanya pasrah membiarkan Maria menginap sehari.