mohon bijak 21+
cerita sederhana, tentang cinta yang butuh perjuangan, tentang wanita yang harus memilih antara cinta dan suaminya.
apa dia akan memilih cinta yang dia idamkan atau memilih cinta suaminya yang sudah bnyak memberinya luka, atau dia memilih jalan lain dari keduanya?
ini akan ada dua versi cerita, yang pertama Dila dan Andri, dan cerita kedua ada Diana dan Rusdy...
jadi simak ya gaes... karena ini tentang PIL yang di miliki oleh para wanita, meski tidak semua🤫🤫🤫
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rumah mertua.
beruntung tangan Dila tak terluka parah, setelah acara doa selesai dan juga semu orang sudah pamit.
kini giliran Dila yang pamitan karena ingin tinggal di rumah orang tua Hendra, karena keduanya harus membagi waktu.
Bu Wati pun menyadari jika putrinya sudah menjadi bagian keluarga lain, begitu pula dengan pak Yono.
Dila memilih diam selama perjalanan, entahlah otaknya sedang memproses segala yang dia dengar tadi.
sedang di rumah Andri, pria itu sedang mengamuk karena permintaan yang tak mungkin dia bisa terima.
terlebih lagi gadis yang ingin di jodohkan dengan dirinya adalah sahabat dari Dila.
"kak kamu harus menikah, lihat Dila sudah menikah dan bahagia, kamu juga harus bisa," kata Seno menghentikan kemarahan dari Andri.
"apa maksudmu, kau bocah ingin menegurku, apa kau tau jika Dila bahagia atau terluka, apa kau tau, asal bapak dan dirimu tau, kalian mendorong Dila masuk ke neraka dengan menjodohkan wanita itu dengan pria seperti Hendra, kau tau dia bahkan berani main tangan dengan Dila!" teriak Andri
semua orang diam, pakde Gun kaget, pasalnya dia tak mengira jika Hendra berani melakukan hal itu.
"kau bohong ya Andri, tak mungkin pria sebaik itu bisa melakukan hal buruk itu," kata pakde Gun tak percaya.
"apa bapak yakin dia pria baik, asal baik tau demi mendapatkan uang dia rela jadi simpanan Tante-tante untuk itu, dan Dila yang tau marah, tapi apa yang di dapatkan, sebuah tamparan dan juga pemaksaan untuk melayani pria itu!" jawab Andri marah.
"cukup le, jangan marah seperti ini, ibu tau kamu sedih, tapi jangan lupa dia itu bapak mu," kata bude Susi menginggatkan.
"ha-ha-ha bapak, jika dia bapak ku pasti akan memilih mengorbankan apapun untuk kebahagiaan putranya, bukan malah menjerumuskan gadis yang di cintai Putranya ke dalam neraka, maaf Bu, aku tak bisa di sini, jika mau suruh Seno menikahi gadis itu, dan jangan pernah menyuruhku melakukan hal yang tak aku inginkan," geram Andri yang masuk ke kamar dan mengambil tas miliknya.
pakde Gun nampak syok, sedang Andri pergi dengan marah. kebahagiaan yang tadi baru saja dia rasakan kini sudah buyar karena permintaan gila menurutnya.
sesampainya di rumah mertuanya, Dila pun masuk dan langsung di peluk oleh Lela, "akhirnya aku bisa meluk mbak lagi, oh ya mbak kalau suamimu yang jelek itu melakukan hal buruk padamu, kamu bilang padaku ya, biar aku menendangnya,"
"iya adek mbak yang cantik, masuk yuk, udah malem," ajak Dila.
Hendra yang membawa tas pun tak mengira jika Lela yang biasanya sulit dekat dengan kekasihnya.
tapi ini berbanding terbalik karena gadis itu begitu dekat dengan Dila, Lela mengajak Dila menonton.
"sayang istirahat yuk, kamu pasti masih sangat capek, Lela besok saja ya main sama kakak mu," kata Hendra.
"iya mas, aku tidur dulu ya mbak," pamit Lela.
"iya," jawab Dila.
Hendra mengajak Dila masuk kedalam kamar dan membersihkan luka Dila dan memberikan obat yang cepat menyembuhkan.
malam itu karena minum obat, Dila pun tertidur dengan sangat nyenyak, begitupun Hendra yang memeluk tubuh istrinya dengan erat.
keesokan harinya, Dila terbangun dari tidurnya dan melihat ponselnya dan sudah pukul empat pagi.
Dia pun segera ke kamar mandi untuk mandi, terlebih dia semalam lupa tak ganti pem****t.
dia segera bergegas, sesampainya di kamar mandi Dila pun mengunci pintu dan lekas mandi.
dan saat akan keluar dia kaget melihat sang mertua yang berdiri di depan kamar mandi.
"maaf pak, saya tak tau," kaget Dila melihat pria itu tersenyum penuh arti.
terlebih saat ini kondisi Dila hanya memakai handuk untuk menutup rambutnya yang basah.
"iya gak papa, tak kira ibumu," kata pak Tono.
"ibu di dapur itu pak, kalau begitu saya permisi," kata Dila bergegas masuk kedalam kamar karena takut.
Dila menenangkan dirinya, dia ketakutan melihat ekspresi dari mertuanya itu.
"kamu sudah bangun dek, tangan mu tidak sakit, kenapa kok sudah mandi sendiri," tanya Hendra yang sadar saat mendengar hairdryer.
"ah maaf jika mas terganggu, habis aku tak nyaman, tapi tangan ku baik-baik saja kok mas," kata Dila yang tersenyum.
Hendra pun bangun dan memeluk Dila yang sedang duduk di depan meja rias, "baiklah kalau begitu kita pergi nyari sarapan yuk, kebetulan ini masih pagi, dan langganan mas paling sebentar lagi lewat,"
"iya mas, tapi lebih baik mandi gih, bau," kata Dila tertawa melihat Hendra.
"gak papa aku gaun, tapi kan ganteng," kata Hendra dengan percaya diri.
Dila hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah laku suaminya itu, tak lama Hendra datang dan susah segar.
kini mereka berdua duduk di depan teras, tapi karena bosan Hendra mengajak Dila berjalan-jalan santai sambil menikmati suasana pagi di desanya.
sesampainya di pinggiran sawah, "sayang berdiri di situ,aku fotoin," Dila mengeleng pelan.
"gak mau takut nyebut, itu pingiran kali mas, jangan aneh-aneh kamu," kesal Dila.
"ya sudah kita Selfi, tapi kamu hak kelihatan," goda Hendra yang memfokuskan kamera pada wajahnya.
"ya iya, itu kamu kurang keatas, ih bikin kesel ih," kesal Dila.
Hendra pun tertawa dan memeluk Dila, keduanya pun berdiri bersama sambil menunjukkan matahari terbit.
ternyata ibu penjual nasi itu sudah tidak berkeliling rumah, terlihat ibu itu berjualan di teras rumahnya.
"pantes gak lewat-lewat, ternyata si emak jualan di teras rumah, ayo kita beli yuk," ajak Hendra yang mengandeng Dila.
"Mak, bungkus tiga ya, sayur lodeh di pisah," kata Hendra.
"iya mas Hendra, susah lama gak kelihatan, apalagi setelah nikah,ini istrinya ya, siapa namanya?" tanya emak penjual nasi itu.
"Dila Mak, maklum habis nikah saya sudah harus kembali ke pabrik, ya karena hati libur sudah habis juga," jawab Hendra.
"pantes jarang lihat, orang sekarang punya yang lebih cantik dari mantannya, Laras mah gak ada apa-apanya," kata seorang ibu yang juga membeli nasi.
"terima kasih buk pujiannya, tapi saya juga belum sempurna jadi istri," jawab Dila yang mengenggam tangan Hendra.
Dila tau jika suasana saat ini tak enak untuk Hendra, terlebih semua membahas tentang mantan kekasih dari pria itu.
"mending mbak, Laras itu gadis murahan, masak hamil sama suami orang terus sekarang gila, kasihan ya orang tuanya," kata ibu itu lagi.
"alah itu juga karena orang tuanya juga, ya kali anaknya ngelonin suami orang diam saja, kan yang di pacarin itu kaya, eh ternyata hartanya milik istrinya, sekarang jadi gila deh, ha-ha-ha," saut ibu yang lain.
"aduh sudah-sudah kok malah ngomongin orang sih," tegur Mak penjual nasi.
terlebih beliau juga sadar tentang perubahan wajah dari Hendra yang terlihat geram.
sukses
semangat
mksh
udah tahan nafas nih bacanya dr tadiiii
hamil gak yaa dia???
tp klo fatin uda lupa ingat.an bkalan susah.
mending mahi sam husna ajj.
kasian husna nya sdah tdak perawan di tnggl calon nya meninggal