Arabella yang di paksa bertunangan dengan anak sahabat ayahnya. saat dia tau bahwa yang jadi tunangan nya adalah orang yang dia sukai, maka Bela dengan senang hati menerima nya.
Arga seorang CEO muda yang mempunyai kekasih matre harus rela bertunangan dengan Arabella.
apakah kisah mereka bakal berjalan dengan mulus atau kandas di tengah jalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34.
Malam berganti menjadi pagi, namun suasana di lorong rumah sakit masih terasa sama—penuh ketegangan, harapan, dan doa yang tak terputus. Lampu-lampu lorong yang redup perlahan digantikan cahaya matahari pagi yang masuk lewat celah jendela, namun hal itu tak mampu mengusir rasa cemas yang menyelimuti hati setiap orang yang menunggu.
Bela masih duduk di tempat yang sama, matanya terpejam namun tidak tertidur. Sepanjang malam ia terus berdoa, sesekali membuka mata untuk menatap pintu ruang ICU seolah-olah setiap detik bisa membawa kabar yang ditunggu-tunggu. Matanya sembab dan bengkak, wajahnya pucat, namun genggamannya pada doa dan harapan tak pernah mengendur. Di sampingnya, Lula, Galang, dan teman-temannya bergantian menjaga, berusaha menemaninya agar ia tidak merasa sendirian.
"Bel, istirahat sebentar," bisik Lula lembut sambil menyentuh bahu sahabatnya. " lu udah nggak tidur semalaman. Kalau lu sakit, siapa yang nunggu Pak Arga bangun?"
Bela menggeleng perlahan, matanya tetap menatap pintu putih itu. "gue nggak bisa tidur, La. tiap kali gue mejamin mata, yang terbayang cuma kejadian tadi sore. gue takut... takut kalau gue merem sebentar saja, sesuatu buruk bakal terjadi."
Bunda Euis yang duduk di sisi lain menghela napas panjang, lalu membelai rambut putrinya. "nggak apa-apa, Nak. Kalau kamu pingin tetap terjaga, kami akan nemenin kamu. Kita akan lewati ini bersama-sama."
Tak lama kemudian, pintu ruang ICU terbuka lagi. Kali ini dokter yang keluar terlihat lebih tenang, meski wajahnya masih menyiratkan kelelahan. Semua orang langsung berdiri dan mendekat dengan napas tertahan.
"Dokter, bagaimana keadaannya?" tanya Pak Badi dengan suara bergetar, matanya menatap dokter dengan penuh harap.
Dokter itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang membawa sedikit cahaya di tengah kegelapan yang menyelimuti mereka. "Ada kabar baik. Selama 12 jam terakhir, kondisinya tetap stabil. Tidak ada pendarahan ulang, tekanan darahnya perlahan membaik, dan fungsi organ tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Meskipun ia masih dalam keadaan koma, ini adalah kemajuan yang sangat baik."
Suasana seketika berubah. Napas lega terdengar dari mulut hampir semua orang. Bu Rita langsung menutup wajahnya dengan tangan sambil menangis terharu, sementara Pak Rudi menepuk bahu Pak Badi dengan penuh rasa syukur. Bela yang mendengarnya merasa seolah beban berat terangkat dari dadanya, air matanya kembali mengalir, namun kali ini bukan karena kesedihan semata, melainkan karena harapan yang mulai tumbuh kembali.
"Jadi... apakah itu berarti ia akan selamat?" tanya Bela lirih, matanya berbinar menatap dokter.
"Belum bisa dipastikan sepenuhnya," jawab dokter dengan jujur namun menenangkan. "Tapi setidaknya bahaya terbesar sudah terlewati. Kita masih harus menunggu apakah ia akan segera sadar atau tidak. Biasanya, pasien dengan kondisi seperti ini akan mulai menunjukkan tanda-tanda kesadaran dalam 24 hingga 48 jam ke depan. Jika sampai saat itu belum juga sadar, kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan tidak ada kerusakan pada otak."
"Terima kasih, Dokter. Terima kasih banyak atas usahamu," ucap Pak Badi dengan nada penuh rasa terima kasih.
"Sama-sama. Ini adalah tugas kami. Sekarang, Anda semua boleh masuk sebentar untuk menemuinya, tapi ingat, jangan terlalu banyak berbicara dan jangan membuatnya lelah."
Mereka pun masuk satu per satu. Kali ini Bela masuk lebih dulu. Begitu berdiri di samping ranjang, ia melihat bahwa warna kulit Arga sudah tidak sepucat kemarin, dan detak jantungnya yang tertera di layar monitor terlihat lebih teratur dan kuat. Alat bantu pernapasan masih terpasang, namun napasnya terlihat lebih tenang.
Bela mengambil tangan Arga dan menggenggamnya dengan lembut. "Dokter bilang kondisi bapak membaik," bisiknya pelan, suaranya bergetar namun penuh harap. "bapak harus tetap kuat, ya. Semua orang nunggu bapak. Orang tua bapak, murid murid bapak, dan saya... saya paling menunggu bapak. bapak harus bangun dan menepati janji bapak."
Ia terus berbicara dengan suara lembut, menceritakan hal-hal sederhana, tentang hujan yang turun semalam, tentang teman-teman yang datang menengok, tentang bagaimana ia merindukan senyumnya. Ia percaya, meski Arga terlihat tidak sadar, telinganya masih bisa mendengar, dan kata-kata yang penuh kasih sayang bisa menjadi kekuatan untuknya berjuang kembali.
Sementara itu, di tempat lain, penyelidikan atas kasus penusukan itu berjalan. Polisi telah mengumpulkan keterangan dari saksi-saksi, dan hasil pemeriksaan terhadap Ratna juga telah keluar. Dokter menyatakan bahwa selain luka-luka ringan akibat jatuh, wanita itu juga terdiagnosis menderita infeksi HIV stadium lanjut, serta kerusakan pada paru-paru dan sistem kekebalan tubuhnya. Kondisinya memburuk dengan cepat, sehingga ia harus dipindahkan ke ruang perawatan khusus di rumah sakit yang sama, di bawah pengawasan ketat petugas keamanan.
Suatu sore, saat suasana di ruang tunggu sedang agak sepi, seorang perawat datang mendekati Bela dan orang tuanya. "Maaf mengganggu. Terdakwa yang bernama Ratna meminta izin untuk bertemu dengan salah satu dari Anda. Ia mengatakan ada hal yang ingin disampaikan sebelum kondisinya semakin parah."
Mendengar nama itu disebut, suasana menjadi tegang kembali. Pak Badi dan Bu Rita menatap satu sama lain dengan ragu, sementara Bela terdiam sejenak. Ia masih mengingat jelas kejadian mengerikan yang dilakukan wanita itu, namun di sisi lain, hatinya yang lembut merasa ada ketulusan yang tersisa di balik penyesalan yang mendalam.
"Saya yang akan pergi," ucap Bela akhirnya.
"jangan, dek. Itu terlalu berbahaya," cegah Pak Rudi segera.
"Iya, Ayah. Tapi aku pingin tahu apa yang pingin bu Ratna sampaikan. Lagipula, bu Ratna sedang sakit parah dan dijaga petugas, jadi nggak akan ada bahaya," jawab Bela tenang.
Setelah berdiskusi panjang, akhirnya mereka mengizinkannya pergi dengan ditemani dua orang petugas keamanan dan seorang perawat. Sesampainya di ruang perawatan khusus, Bela melihat Ratna terbaring lemah di atas ranjang, tubuhnya semakin kurus, wajahnya pucat pasi, dan napasnya terlihat berat. Begitu melihat Bela masuk, matanya yang sayu perlahan terbuka dan menatapnya.
"lu datang..." bisik Ratna parau, suaranya nyaris tak terdengar.
Bela berdiri di ambang pintu, tidak terlalu mendekat. "Apa yang ingin Ibu sampaikan?"
Ratna menarik napas panjang, lalu menatap langit-langit kamar sejenak sebelum kembali menatap Bela. "gue... gue nggak meminta maaf dengan harapan lo bakal maafin gue. gue tahu apa yang gue lakuin nggak bisa dimaafkan begitu aja. gue telah menghancurkan hidup Arga, dan mungkin juga hidup lu. Tapi gue hanya ingin lu tahu... bahwa gue menyesal. Sangat menyesal."
Air mata mulai menetes dari sudut matanya. "Dulu gue buta oleh keserakahan dan rasa iri. gue memilih jalan yang salah, dan ketika gue terjatuh, gue nggak mau mengakui bahwa itu kesalahan gue sendiri. gue menyalahkan orang lain, termasuk kalian. gue pikir kalau melenyapkan Arga, rasa sakit gue akan hilang. Tapi ternyata nggak... justru beban ini menjadi jauh lebih berat."
Ia batuk-batuk hebat, lalu melanjutkan dengan sisa tenaganya. "lu beda , Bela. lu memiliki sesuatu yang nggak pernah gue miliki—hati yang tulus dan kemampuan untuk memaafkan. Jagalah Arga. Dia laki-laki yang baik, dan dia pantas mendapatkan kebahagiaan. Dan satu hal lagi... penyakit yang gue derita nggak akan menular lewat sentuhan biasa. gue tahu lu takut, tapi gue nggak akan nyakitin lu lagi. gue udah nggak punya kekuatan untuk itu."
Bela terdiam mendengarnya. Rasa marah dan takut yang masih tersisa di hatinya perlahan tergantikan oleh rasa iba yang mendalam. "Semoga Ibu bertobat dan mendapatkan ketenangan," ucapnya singkat, lalu berbalik dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Malam berikutnya, saat Bela sedang duduk di samping ranjang Arga, tiba-tiba terasa ada gerakan halus. Jari tangan Arga yang digenggamnya bergerak perlahan. Bela terkejut, lalu segera memanggil dokter dan perawat.
Tak lama kemudian, mata Arga perlahan terbuka, meski masih sayu dan pandangannya masih kabur. Ia berusaha memfokuskan pandangannya, hingga akhirnya matanya berhenti menatap wajah Bela yang terlihat penuh harapan.
"Bel..." bisiknya sangat pelan, namun cukup jelas terdengar.
Air mata bahagia langsung mengalir deras di pipi Bela. Ia mengangguk cepat sambil tersenyum lebar, senyum yang telah lama hilang. "Saya di sini, Pak. Saya di sini. bapak sudah sadar."
Detik itu, meski tubuhnya masih terasa sangat lemah dan sakit, Arga merasa bahwa ia telah kembali hidup. Di hadapannya ada orang yang paling ia cintai, dan di sekitarnya terasa doa dan kasih sayang yang telah membawanya melewati ambang kematian. Meskipun perjalanan pemulihan masih panjang, mereka tahu bahwa selama mereka saling mendukung dan percaya, tidak ada hal yang tidak bisa mereka hadapi bersama.