Kemarahan lebih mudah ditanggung daripada rasa kehilangan."
Letnan Raditya tahu itu lebih baik dari siapapun. Sampai seorang dokter bernama Nayla datang ke Karang Wilis — dan tanpa sengaja, tanpa izin, mulai mengisi ruang yang sudah lama ia jaga tetap kosong.
Di antara luka yang belum sembuh, konflik yang belum selesai, dan waktu yang terus berkurang — keduanya belajar satu hal yang tidak ada dalam buku panduan militer manapun:
Beberapa luka tidak bisa disembuhkan sendirian.
Di medan yang salah, pada waktu yang tidak tepat — tapi perasaan tidak pernah menunggu instruksi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
patroli sektor Utara
~{34}~
Pagi itu, tenda medis terasa lebih sesak dari biasanya. Bukan dalam arti bising, tetapi sempit. Dua dokter yang biasanya bergerak bebas kini terpaksa berbagi meja, rak, dan ruang yang tidak dirancang untuk dua orang sekaligus.
Nara tiba tepat pukul tujuh kurang sepuluh. Terlalu tepat waktu untuk seseorang yang baru dua hari di sini. Sementara Nayla sudah ada di sana sejak enam lewat tiga puluh, terfokus pada tugasnya.
“dokter, Data pasien Pak Sunaryo ada di mana?” tanya Nara, matanya menyapu rak obat dengan teliti.
“Folder biru, rak kiri,” jawab Nayla tanpa menoleh, tangannya masih sibuk mengecek tensi Ibu Ratmi yang sedang kontrol pagi.
Nara mengambil folder itu, membukanya, dan diam sejenak. “Penanganan awal sudah tepat, tapi catatan perkembangannya kurang detail di hari ketiga,” ucap nya tiba tiba
Nayla menoleh sebentar. “Kondisi lapangan tidak selalu memungkinkan pencatatan ideal.”
“Saya tahu,” Nara menjawab sambil tersenyum, iya menutup folder. “Saya hanya bilang untuk ke depannya dok.”
Ibu Ratmi, yang duduk di tepi ranjang, melirik keduanya bergantian, Sari di sudut ruangan tampak sangat sibuk merapikan perban yang sebenarnya sudah rapi.
Lalu beberapa saat kemudian, Dimas muncul di pintu tenda pukul delapan, membawa dua cangkir — kopi untuk dirinya dan teh entah untuk siapa. Matanya cepat melintas, menangkap Nayla di sisi kiri, Nara di sisi kanan, dengan jarak yang menciptakan ketidaknyamanan.
“Pagi,” sapa Dimas, berusaha mencairkan suasana. “Ada yang mau teh?”
“Saya sersan,” jawab Sari cepat, suaranya penuh harap.
Dimas menyerahkan cangkir itu, lalu berdiri di sudut dengan kopinya, matanya bergerak pelan dari Nayla ke Nara, lalu ke langit-langit tenda.
" laporan kondisi medis prajurit yang cedera kemarin apakah sudah selesai?” tanya Nara.
“Sudah dikirim ke pos komando tadi subuh,” jawab Nayla.
“Lewat Aldi ya?” tanya Nara.
“Lewat Raditya dok,” jawab Nayla datar.
Dimas mendengar percakapan itu, meneguk kopinya lebih lambat dari biasanya. Ketegangan terasa di udara.
Aldi datang pukul delapan lewat dua puluh, memasuki tenda tanpa beban. “Evaluasi lapangan pagi ini. Semua tenaga medis ikut briefing jam sembilan.”
“Siap,” jawab Nara. “Siap,” Nayla menyusul setengah detik kemudian.
Aldi menatap keduanya sejenak, memastikan bahwa apa yang ia rasakan di udara ruangan itu bukan perasaannya saja. Lalu ia beralih ke Dimas. “lo ngapain di sini?”
“Minum kopi.”
“Di tenda medis?” Aldi menatapnya tajam.
Dimas mengangkat cangkirnya. “Kopinya enak di sini.”
“Keluar,” instruksi Aldi tegas.
"Ah elah loh Ah" balas Dimas.
Dimas melangkah keluar,
Briefing jam sembilan berlangsung di pos komando. Raditya berdiri di depan peta, matanya menyapu ruangan sebelum mulai berbicara.
“Kondisi batas wilayah stabil. Patroli tetap dua kali sehari. Tim medis fokus pendataan warga sektor utara yang belum terjangkau.”
“Sektor utara medannya cukup berat. Perlu kendaraan tambahan atau kami jalan kaki?” Nara bertanya.
“Jalan kaki. Kendaraan tidak bisa masuk,” jawab Raditya.
“Kalau ada kondisi darurat di tengah jalan?” Nara melanjutkan.
“Itu fungsi tas medis lapangan,” Raditya menjelaskan, tegas.
Nara mengangguk, mencatat. Nayla berdiri dua langkah di belakangnya, matanya terpaku pada peta — tidak pada percakapan. Tapi telinganya menyimak dengan presisi yang tidak diminta.
Selalu ada jawaban, pikirnya. Selalu tepat. Selalu cepat.
Raditya menoleh ke Nayla. “Dok, ada yang perlu ditambahkan dari sisi medis?”
Nayla mengangkat wajah. “Warga sektor utara banyak lansia dengan hipertensi. Saya sarankan bawa tensimeter portable dan stok obat antihipertensi lebih.”
“baik,” Raditya mencatat. “Ada lagi?”
Tidak ada.
“Bubar.”
Semua bergerak keluar.
Di luar pos komando, Dimas berjalan di sebelah Aldi. Beberapa langkah di depan mereka, Nayla dan Nara berjalan ke arah yang sama — tenda medis — dengan jarak yang menunjukkan bahwa mereka tidak sedang menghindari satu sama lain, tetapi juga tidak cukup dekat untuk menunjukkan kenyamanan.
“Untuk warga lansia,” ucap Nara tiba-tiba, “mungkin kita perlu jadwal kunjungan yang lebih terstruktur.”
“Sudah ada,” jawab Nayla. “Saya keliling dua hari sekali sejak minggu pertama.”
“Oh,” Nara menoleh sebentar. “Bagus. Saya tidak tahu itu.”
“Karena Letda baru dua hari di sini,” Nayla menjelaskan, nada datarnya menyimpan ketegangan.
Nara tidak langsung membalas. Ia mengangguk kecil. “Benar. Saya masih perlu banyak update dari Dokter Nayla.”
Mereka melanjutkan langkah dalam diam, sampai Nara mengusulkan untuk bertemu sore ini guna membahas kondisi warga yang sudah ditangani.
“Saya akan senang kalau Dokter mau ngobrol sama saya nanti Soreh,” ucap Nara, suaranya tenang.
“Bisa,” jawab Nayla akhirnya. “Sore ini.”
“Terima kasih.”
Di belakang mereka, Dimas dan Aldi berjalan cukup jauh untuk tidak terdengar.
“lo lihat tadi?” bisik Dimas.
“Lihat apa?” Aldi menjawab tanpa menoleh.
“Cara Nayla bilang ‘karena Letda baru dua hari di sini.’”
Aldi tidak menjawab, hanya melanjutkan langkahnya.
“Dingin banget,” lanjut Dimas pelan. “Dan dia sendiri tidak sadar itu."
Aldi menoleh sebentar ke arah dua perempuan di depan, lalu kembali fokus. “Bukan urusan lo,” ucapnya.
“Tapi ini menarik letkol,” balas Dimas.
Aldi tidak melanjutkan. Namun langkahnya melambat sejenak, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang tidak diucapkan.
Sore itu, briefing antara Nayla dan Nara berlangsung di tenda medis. Dua kursi, satu meja, dan satu folder data pasien di antaranya.
Nayla menjelaskan dengan sistematis, tidak ada yang dilewati. Nara mendengarkan dengan cara yang membuat Nayla tidak menemukan alasan untuk keberatan: ia tidak memotong, tidak meremehkan, tidak mengambil alih.
Hanya mendengarkan. Mencatat. Bertanya di waktu yang tepat.
Dan itu yang membuat Nayla lebih tidak nyaman dari apapun yang terjadi hari ini.
Kalau dia menyebalkan, lebih mudah, pikirnya.
“Pak Darmo,” ucap Nara, mengangkat lembar terakhir. “Ini yang paling kompleks, ya, karena diabetesnya tidak terkontrol lama?”
“Iya. Lukanya sudah membaik tapi harus tetap dipantau.”
“Dokter Nayla yang rawat dari awal?”
“Dari hari ketiga saya di sini.”
Nara menatap data itu sejenak. “Penanganannya bagus,” ucapnya. Bukan basa-basi — nada suaranya datar. “Serius. Untuk kondisi lapangan dengan keterbatasan alat, ini di atas standar rata-rata.”
Nayla tidak langsung menjawab. “Terima kasih,” ucapnya akhirnya, pelan.
Nara mengangguk dan menutup folder.
Di luar tenda, langit mulai berubah warna. Jingga tipis di ujung barat, sisa hari yang perlahan menyerah pada malam.
Raditya melintas di depan tenda medis pukul lima lebih tiga puluh. Langkahnya seperti biasa, tetapi saat melewati celah tenda yang setengah terbuka, matanya melirik sekejap ke dalam.
Dua orang duduk berdampingan, folder terbuka. Salah satu kepala sedikit menunduk, yang lainnya tegak. Ia meneruskan langkahnya, tidak berhenti.
Namun tiga langkah setelah melewati tenda, langkahnya melambat — hampir tidak terasa — sebelum kembali ke ritme yang sama.
Sari yang berdiri di luar melihat itu. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menatap punggung Raditya yang menjauh, lalu menoleh ke dalam tenda di mana Nayla masih menjelaskan dengan suara yang terlalu teratur untuk seseorang yang baik-baik saja.
Sari menarik napas pelan.