"Kamu sudah tidak lagi menarik untukku. Aku bosan denganmu!"
Sepenggal kisah nyata yang dibubuhi banyak fiksi, seorang istri yang ditinggalkan sebab ia tidak lagi menarik. Gendut, kusam, tidak lagi enak dipandang, merupakan alasan sang suami menikah lagi dengan perempuan berstatus janda muda yang masih terlihat sexy dan cantik. Ia di poligami di saat ia tengah mengandung anak ke empat mereka. Dan pada akhirnya ditinggalkan.
Hingga ia berhasil move on dan kembali membangun rumah tangga bersama seorang dokter kaya dan tampan.
Namun saat ia telah berbahagia dengan sang dokter, ternyata sang mantan suami malah kembali dan memintanya untuk rujuk.
Genre : Romantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandrila Patilima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Tidak Ingin Hamil
Mentari semakin meninggi, hawa panasnya terasa bahkan menembus sampai dalam rumahku. Bisa aku pastikan, jika hawanya begitu panas seperti ini, maka sore ataupun malamnya, hujan pasti akan turun dengan sangat deras.
Sementara di ruang tamu rumahku, mas Hafizh terlelap dalam tidurnya. Ia tertidur di karpet bulu berwarna hijau muda tempat kami menyalurkan hasrat tadi. Ia tertidur setelah menggunakan lagi pakaian lengkapnya tadi. Ia bahkan seperti tidak terganggu dengan cuaca yang terasa sangat panas ini.
Tanpa membangunkannya aku segera berdiri dan berniat melanjutkan pekerjaanku tadi. Karena sebentar lagi mang Koko akan datang untuk mengangkut barang-barangku yang akan dipindahkan ke rumah mas Hafizh.
Aku beranjak dari tempatku dan berjalan kembali menuju kamarku. Memilih dan memilah kembali beberapa pakaian yang masih layak untuk aku pakai.
Sejenak teringat tentang kedatangan mas Galih tadi. Entah ada apa dengan lelaki itu, dulu ia begitu memuja Amira, tapi sekarang dengan gampangnya ia memintaku untuk rujuk kembali setelah hinaan demi hinaan yang ia lontarkan kepadaku dulu.
Tapi sudahlah, tidak perlu aku pikirkan lagi. Setidaknya aku cukup puas melihat ekspresinya tadi. Biar dia tahu bagaimana keadaanku yang saat ini sudah berbahagia dengan seorang lelaki baik yang telah berstatus sebagai suamiku.
"Sayang, kau sedang apa?" Suara mas Hafizh membuyarkan lamunanku. Ia kini sudah berdiri tepat di depan pintu kamarku. Berjalan dan mendekatiku dengan mata sedikit bengkak dan memerah.
"Melanjutkan pekerjaan, sayang. Jangan ganggu lagi loh!" Aku tertawa kecil saat menyampaikan hal itu pada mas Hafizh.
"Hehehe. Ganggu lagi ahh," ucap mas Hafizh bercanda. Ia kini langsung menolongku untuk menyelesaikan pekerjaanku yang tinggal sedikit ini.
Tapi sebelumnya, mas Hafizh sudah membantuku mengepak beberapa perabotan rumah tangga, sebelum tadi akhirnya ia diminta anak-anak untuk menemaninya bermain, kemudian mengantarkan anak-anak ke rumah mbak Brenda.
"Bercanda aja Mas." Aku sedikit mengusap lembut lengan kokoh suamiku yang saat ini sudah duduk bersila di sampingku.
"Aku sayang kamu," sahutnya, kemudian menciumku gemas.
"Aku juga sayang kamu!" Aku membalasnya dengan sepenuh hati. Sesungguhnya hatiku sudah mencintainya ketika ijab kabul terucap sempurna.
Ketika ikrar suci itu terucap, saat itu juga hati dan ragaku telah terikat pada mas Hafizh. Tidak ada manusia yang patut aku hormati selain suamiku. Ridhonya merupakan tujuanku saat ini, sebab dengan ia meridhoiku maka Allah pun akan sama meridhoiku. Bahkan Allah melaknat tidurnya seorang istri yang menyakiti hati suaminya. Nauzubillah.
"Teruslah seperti ini sayang. Jangan pernah mengkhianati hubungan ini," ujarku penuh keseriusan. Dan menggenggam erat tangannya.
"InsyaAllah sayang. Aku berjanji akan selalu menjaga dan memelihara hubungan ini dengan baik."
"Aku memulai hubungan halal ini dengan menyebut namaNya. Maka dari itu segala sesuatu dalam rumah tangga kita harus selalu berdasar semata untuk beribadah padaNya." Ia dengan lembutnya membelai rambutku. Kemudian menarik kepalaku bersandar pada dada bidangnya.
Aku tidak menolak perlakuannya. Bahkan saat ini tanganku sudah melingkar pada pinggangnya.
"Berdoalah selalu, semoga hubungan ini akan berlanjut sampai surgaNya Allah."
"Aamiin aamiin sayang." Aku mengamini setiap doa yang dilontarkan lelakiku.
Kami kemudian melanjutkan pekerjaan dengan obrolan-obrolan kecil tentang masa depan rumah tangga kami.
***
Dus-dus besar sudah berjajar rapi di setiap sudut ruangan. Dengan cekatan mang Koko bersama beberapa anak buahnya mengangkat dus-dus tersebut dan meletakkannya pada mobil pick-up miliknya yang berjumlah lima buah. Mengingat barang-barangku cukup banyak jika hanya diangkut satu mobil saja.
Tidak ketinggalan juga mas Hafizh membantu para pekerja yang sudah ia bayar di muka itu. Sesekali ia mengangkat sendiri dus-dus tersebut sampai meletakkannya pada mobil mang Koko yang terparkir tepat di depan teras rumahku.
"Maaf Pak Dokter, biar kami saja yang mengangkatnya." Beberapa kali mang Koko merasa tidak enak hati, ketika melihat mas Hafizh mengangkat sendiri dus besar menuju mobilnya.
"Ahh, nggak apa-apa Mang. Sudah biasa kok." Ia kemudian tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
"Tapi pak Dokter...."
"Sudahlah Mang, saya senang kok membantu. Setidaknya saya terlihat kuat dan perkasa di depan istri tercinta saya ini." Ia melirikku dan mengedipkan mata genit padaku.
Aku hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah lelakiku yang terlihat begitu mempesona dengan gayanya. Bahkan aku merasa ia terlihat bertambah tampan setiap saat.
"Haha. Baiklah pak Dokter. Tapi sebelumnya terima kasih karena sudah membantu."
"Sama-sama Mang." Mereka tertawa bersama. Selanjutnya mereka hiasi pekerjaan mereka dengan beberapa candaan yang dibuat mang Koko yang terkenal dengan orang yang suka membuat candaan.
***
Tidak terasa semua dus sudah teratur rapi di setiap mobil pick-up milik mang Koko. Tinggal menunggu aku dan mas Hafizh untuk ikut mengantarkan barang-barang tersebut ke rumah mas Hafizh, sebab mang Koko dan anak buahnya tidak ada yang tau alamatnya.
"Tinggal lima menit lagi waktu shalat Dzuhur. Sebaiknya kita shalat dulu yah Mang. Setelah shalat baru menuju rumah baru kami. Gimana Mang?" Cecar mas Hafizh pada mang Koko.
"Mana baiknya saja pak Dokter. Saya dan anak buah saya ikut saja," jawab mang Koko sungkan.
"Baiklah. Sepakat. Setelah shalat Dzuhur kita berangkat."
[Allahuakbar Allahuakbar]
Adzan Dzuhur sudah terdengar jelas. Para ummat muslim bersegera untuk menunaikan panggilan RabbNya. Terlihat para tetangga-tetangga laki-laki mulai keluar dari sarangnya dengan pakaian rapi, Kokoh, sarung, serta kopiah, yang merupakan pakaian khas ketika mau shalat. Ada juga beberapa wanita yang ikut shalat berjamaah ke masjid dengan mukena berwarna putih cerah yang menutupi sempurna bagian tubuh mereka.
Memang suatu kewajiban bagi setiap mukmin laki-laki untuk menunaikan shalat wajib berjamaah di rumah suci Allah yaitu masjid. Sementara bagi perempuan, bukanlah hal yang wajib untuk berjamaah ke masjid, namun ketika wanita ingin shalat berjamaah di masjid maka tidak ada hak bagi para suami untuk melarangnya.
"Alhamdulillah. Ayo ke masjid Mang," titah mas Hafizh pada mang Koko dan juga beberapa anak buahnya.
"Iyah pak dokter."
"Sayang, aku ke masjid dulu yah," pamit mas Hafizh padaku.
"Iyah Mas."
Mas Hafizh segera berjalan menuju masjid. Di belakangnya mang Koko juga anak buahnya mengikuti mas Hafizh.
Sementara aku bersiap-siap untuk beribadah di dalam musholla kecilku yang sebentar lagi tidak akan aku tempati. Menggelar sajadah dan mengumandangkan iqomat. Sebelumnya aku dan mas Hafizh sama-sama sudah mensucikan diri dengan mandi wajib Junub.
***
Sholat wajib sudah aku tunaikan. Di depan juga mas Hafizh dan mang Koko sudah berdiri sambil berbincang-bincang kecil.
Aku segera ke depan untuk bergabung bersama mereka.
"Kamu sudah siap sayang? Kita akan langsung berangkat," tanya mas Hafizh sambil menyambut tanganku yang hendak mencium punggung tangannya.
"Sudah Mas. Ayo berangkat!"
Kami pun sama-sama menuju mobil masing-masing. Mang Koko dan anak buahnya mengendarai masing-masing mobil pick-up mereka. Sedang aku satu mobil dengan mas Hafizh.
Sebelumnya kami singgah sebentar di rumah mbak Brenda. Untuk sekedar pamit pada mbak Brenda dan juga untuk menitipkan anak-anak padanya. Beruntung anak-anak sangat dekat dengan mbak Brenda, jadi walau ditinggal olehku mereka tidak akan rewel karena aku tinggalkan sebentar.
Setelah itu kami langsung melaju menuju rumah mas Hafizh.
Dalam perjalanan mas Hafizh menyetel musik islami dari grup nasyid Edcoustik. Ia bahkan sesekali bernyanyi untuk mengikuti para penyanyinya.
🎵🎵🎵
Duhai pendampingku, akhlakmu permata bagiku. Buat aku makin cinta....
Tetapkan selalu, janji awal kita bersatu.
Bahagia sampai ke surga....
#
Begitulah sedikit lirik lagu yang dinyanyikan mas Hafizh. Suaranya terdengar merdu sekali, sepertinya ia memiliki bakat di bidang seni suara. Begitu pikirku.
Dengan romantisnya ia menyanyikan lagu tersebut sambil sesekali menatapku serta mencium punggung tanganku. Ia berhasil membuatku tersipu malu dengan perlakuannya saat ini.
"Sayang. Aku bahagia sekali bisa memiliki istri solehah sepertimu."
"Aku juga bahagia Mas. Memiliki suami sebaik dirimu."
Mas Hafizh tersenyum padaku. Dan kembali menyanyikan lagu Edcoustik tersebut dengan syahdunya.
"Aku penasaran, anak-anak kita akan seperti apa yah sayang." Kembali ia berbicara.
"Apakah akan mirip wajahku ataukah lebih mirip dirimu?"
"Ahh, aku sudah tidak sabar menunggu kehamilanmu sayang." Ada guratan pengharapan yang begitu besar di wajah mas Hafizh, yang membuatku seketika tergugu mendengar pernyataannya.
Hamil? Aku bahkan tidak berniat untuk memiliki anak lagi. Bukan karena merasa di repotkan oleh tingkah anak kecil. Tapi, karena aku tidak ingin wajah dan tubuhku menjadi buruk lagi. Aku takut semua masa lalu kelam itu menimpaku lagi di kemudian hari.
"Sayang? Kenapa bengong gitu?" Mas Hafizh menggoyang pelan pundakku yang saat ini tenggelam dalam lamunan, sebab pernyataannya barusan.
"Eh tidak sayang. Aku hanya kecapean," balasku berbohong.
Entah bagaimana caranya aku menjelaskan pada mas Hafizh perihal keinginanku untuk tidak ingin hamil lagi.
"Mas. Kita jalani saja dulu yah. Kalau memang sudah rezeki, pasti aku akan secepatnya hamil," ujarku meyakinkan mas Hafizh. Padahal yang sebenarnya aku benar-benar tidak mau membahas perihal kehamilan dengannya.
"Iya sayang. Tapi kita sebagai hamba harus berikhtiar dahulu, sebelum memasrahkan segala keputusan padaNya kan?"
Aku terdiam. Apa yang dikatakan mas Hafizh adalah suatu kebenaran. Namun diri ini benar-benar tidak siap untuk hamil lagi.
"Iyah Mas," jawabku singkat saja, sebab tidak tau bagaimana menyampaikan pada mas Hafizh soal ketakutanku.
Saat ini biarlah semuanya berjalan dengan sebagaimana mestinya. Toh hamil bukan perkara mudah. Meski jika melihat riwayat perjalanan hidupku yang sudah memiliki anak lima. Aku masih tetap yakin bahwa untuk bisa hamil butuh usaha yang lebih lagi.
Ataukah aku harus segera memikirkan untuk memasang alat KB tanpa sepengetahuan mas Hafizh?? Ah rasanya aku seperti istri yang jahat dan durhaka jika melakukan hal itu.
"Apa kau tidak suka mengandung anakku sayang?" Ucap suamiku.
"Hmm, tidak sayang. Aku hanya ingin menghabiskan masa-masa romantis ini denganmu dulu. Kalau sudah memiliki anak akan beda suasananya sayang."
"Kan saat ini kita sudah memiliki anak lima sayang. Lantas apa bedanya jika kita menambah anak lagi?"
"Heh, tidak ada bedanya sih Mas. Hanya saja jika aku hamil, maka kamu tidak bisa dengan leluasa untuk menggauliku. Kita kan pengantin baru sayang, masa sih harus hati-hati jika ingin begituan." Aku tersenyum saat menyampaikan alasan itu padanya.
"Oh, jadi minta di sayang-sayang terus nih ceritanya. Baiklah, kalau itu alasannya, aku terima jika kau masih menunda untuk hamil." Mas Hafizh membalas tawaku dengan genit.
"Hahaha. Emang maunya kamu itu."
Mas Hafizh tertawa terbahak-bahak mendengar penuturanku. Akhirnya pembahasan kami seputar kehamilan tenggelam dan terganti dengan pembahasan hubungan di atas ranjang.
Bersambung 😁 😁
dan sangat betul...buah dari kesabaran adalah sesuatu yg manis...
karena memang sabar sejatinya adalah ujian yg amat sangat berat...maka Alloh pun akan menyiapkan hadiah yg ISTIMEWA....
banyak pelajaran. hidup yg bisadipetik dari novel ini...bagaimana sabar dan ikhlas seorang hamba ketika mendapatkan ujian Nya...bagaimana kasih sayang dan ketulusan ditanamkan...dan bagaimana kewajiban sebagai umat dijalankan...
keren thorr sayaaanngg novel ini...ceritanya lugas..layaknya kehidupan real..alurnya gak bertele-tele dan yg paling keren..pesan moralnya sampek dgn mudah ke pembaca...
lluuvv authoorr sayaaanngg...💝💝💝💝💝
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝