Ali bin Abbas adalah seorang Pangeran dari sebuah Kerajaan di Benua Arab. Dengan bimbingan Sang Guru dia bertekad untuk mempersatukan semua Kerajaan yang ada di daratan Benua Gurun tersebut.
Seiring berjalannya waktu, terlepas dari usianya yang masih sangat muda, dia sudah menapaki puncak tertinggi kependekaran.
Akan tetapi dalam waktu yang singkat itu pula ternyata sudah banyak bermunculan aliran-aliran Sesat yang didalangi para pendekar tingkat tinggi.
Bersama Sembilan Muridnya mencoba mengumpulkan Lima Kitab tanpa tanding yang di percaya mampu membuat pemiliknya akan menjadi Penguasa nomer Satu di Dunia.
Akankah perjalanannya mampu mengubah perdamaian seperti yang diinginkannya? Ikuti terus ceritanya hanya di novel Pendekar Bintang Sembilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el kurdi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendapatkan Kekuatan Baru
"kau tak perlu sungkan, berkabunglah dengan mereka, nanti kita akan latihan bersama." ucap Ali sambil menoleh keempat murid nya.
Khanza menoleh pada keempat gadis yang berada di samping nya. "tapi pangeran... " ucap nya ragu.
"jangan sungkan, panggil aku kakak saja, sama seperti mereka. aku paham, nanti kau juga akan menyadari nya" ucap Ali yang menambah kebingungan di hati nya.
"bukan begitu pangeran, apakah mereka kuat berdekatan dengan cucu saya? " Syaikh Amr menjelaskan maksud cucunya.
"saya paham maksud cucu anda panglima, apa anda tidak merasakan perbedaan nya." tanya Ali sambil menatap gadis itu "sekarang dia sudah bisa mengontrol kekuatan nya, dia sudah tidak mengeluarkan hawa dingin lagi" ucap Ali tersenyum, karena tidak ada yang menyadari perubahan dalam gadis tersebut.
Syaikh Amr sangat terkejut mendengar perkataan Ali, mulut nya sampai menganga, dia sama sekali tidak sadar perubahan kondisi tubuh cucunya, dia menatap cucunya dengan tatapan kebahagiaan, begitu pula dengan yang dirasakan oleh Khanza, perasaan bahagia yang luar biasa.
"mulai sekarang kau akan mendapatkan banyak teman, dan tak perlu takut lagi untuk bersentuhan dengan mereka." kata Ali mantap.
Ali memberikan kode pada keempat murid nya, Shafia yang pertama kali memeluk Khanza, dia berpikir nasib Khanza agak mirip dengan nasib nya dulu, banyak teman sebayanya yang menjauhinya karena kekuatan yang dimiliki nya, Ruqayyah, Aisyah dan Laila juga ikut memeluk Khanza, menandakan persahabatan diantara mereka.
"baiklah, jika sudah tidak ada sesuatu yang lebih penting, lebih baik kita mulai latihan nya sekarang." ucap Ali pada murid murid nya.
"ya sudah kalian berlatih saja, tapi ingat jangan terlalu malam, kalian butuh banyak istirahat, karena besok akan bertanding lagi." ucap Syaikh Amr mengingatkan.
"terima kasih panglima, kami pamit undur diri " jawab Ali sambil mengajak kelima murid nya ke tempat latihan.
para gadis genius itu mengekor di belakang Ali, saat memasuki asrama putri yang asalnya adalah asrama pedang, banyak mata memandangi mereka, Ali tidak menghiraukan nya.
setelah sampai di tempat latihan Ali memanggil Ruqayyah. "Ruqayyah, aku ingin meminta tolong kepadamu. " kata Ali sambil memanggil gadis dari perguruan teratai putih tersebut.
"apa yang bisa saya bantu kaka guru?" tanya dia sambil berjalan mendekati Ali.
"kau ajak Syifa berlatih bersama disini." kata Ali.
"Syifa siapa kakak guru?" tanya Ruqayyah tidak paham siapa yang dimaksud oleh gurunya itu.
Ali mengangkat Alis nya, dia sangat heran, karena dia pernah sekamar dengan Syifa. "Syifa binti Abdullah dari perguruan Gagak Putih, pendekar senjata rahasia, yang pernah satu kamar denganmu, apa kau masih ingat? " Ali menjelaskan panjang lebar kepada Ruqayyah.
Ruqayyah belum menjawab, Aisyah sudah mendahului nya. "seperti nya kakak sudah sangat mengenal nya, apakah itu benar?" ucap Aisyah dengan nada kesal.
"kakak pangeran harus menghargainya, dia sejak tadi pagi menangisi kematian mu, lihat saja matanya sampai bengkak seperti itu, bahkan kakak tidak menghiraukan nya, walau hanya sekedar menyapa nya. " kini giliran Shafia yang memarahi sikap Ali terhadap Aisyah.
Ali memijat kepala nya yang terasa agak nyeri. sangat sulit memahami perasaan dan cara yang benar bersikap terhadap wanita. "maafkan kakak, diantara kalian semua, pasti berbeda beda rasa kehilangan nya kepada ku, tapi sebagai Musim sejati, kita harus tegar dan sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian, kembalilah kalian kepada Allah di awal perjalanan, maka kalian akan sampai kepada Allah di akhir perjalanan."
"apa maksudnya itu kakak guru?" tanya Laila kebingungan, dia tidak paham apa maksud perkataan Ali tersebut.
"suatu hari nanti kalian pasti akan memahami maksud perkataan ku, Aisyah ku harap kau tidak lagi bersikap seperti ini lagi." pandangan Ali begitu dalam, membuat hati Aisyah seperti di sayat sayat, dia sadar jika sikap nya keterlaluan.
"jadi bagaimana sekarang kakak guru? " tanya Ruqayyah mencoba mengalihkan pembicaraan.
"kau ajak dia kemari, aku akan mencoba kemampuan teman baru kalian." kata Ali menoleh pada Khanza.
"apa kita akan bertarung sungguhan?" tanya Khanza dengan wajah serius.
"ini hanya latihan saja, tak akan ada yang menang ataupun yang Kalah, tapi kau harus menunjukkan semua kemampuan mu padaku, agar aku bisa memberikan latihan yang tepat." Ucap Ali menjelaskan peraturan nya.
Khanza sudah bersiap di tempat nya, dia mencoba mengeluarkan sebuah teknik yang sudah sempurna dikuasai nya. dia membuat tombak dari es, dia terkejut dengan senjata yang dibuat nya sendiri, tombak itu lebih keras namun lebih ringan, dia mencoba melemparkan nya tepat ke arah Ali.
tombak itu melesat tiga kali lebih cepat dari yang biasa dia lakukan, namun Ali masih bisa menangkap nya dengan tangan kosong, semua yang melihat nya sangat terkejut, bahkan Khanza sempat berteriak karena khawatir Ali tidak bisa menangkis serangan nya yang sulit di ikuti oleh mata tersebut.
Ali penasaran ingin mencoba melakukan nya, walaupun dia tahu apa yang di lakukan Khanza bukanlah sebuah teknik yang bisa di tiru banyak orang.
pertama Ali memusatkan tenaga murni nya pada telapak tangan kanannya, lalu berkonsentrasi pada sebuah hawa dingin yang baru dia sadari keberadaannya, hawa dingin itu sekarang berpusat pada salah satu dari kelima titik sumber tenaganya.
tanpa terasa tangan kanan nya telah mengeluarkan sebuah cakram terbuat dari Es, Ali sendiri terkejut dengan kekuatan baru nya ini, bahkan yang lain tidak kalah terkejut nya, Ali beberapa kali mengucap Tasbih dan memuji muji asma Allah.
"Kakak guru juga bisa melakukan nya?... Apa ini adalah pertanda?" kata Khanza, matanya menerawang seolah ingatan nya di kembalikan pada kejadian yang telah lalu.
"Pertanda apa? " tanya ketiga gadis yang lain hampir bersamaan. Mereka telah salah paham dengan perkataan Khanza.
Khanza terkejut mendapatkan pertanyaan seperti itu, dia ragu untuk menjawab. Ali tersenyum melihat kelakuan murid murid nya.
"katakanlah, agar tidak terjadi kesalah pahaman. " kata Ali meyakinkan Khanza.
"Di dalam kitab leluhur di jelaskan bahwa suatu saat akan ada seorang pemuda dari luar benua biru yang akan menguasai seluruh isi kitab itu, dia adalah pendekar bintang 9." kata Khanza menjelaskan maksud ucapannya.
Tepat setelah Khanza menyelesaikan perkataan nya, Ruqayyah dan Syifa datang ke tempat latihan.
"Ada apa ini sebenarnya? Kenapa ada pemuda ini disini? " tanya Syifa kepada Ruqayyah.
"Assalamualaikum Syifa, maaf sebelum nya, apakah kau tidak keberatan untuk berlatih bersama kami disini? " sapa Ali kepada Syifa.
"Wa... wa'alaikum salam, bukankah kau pangeran yang meninggal dan hidup kembali.... " Syifa sangat terkejut melihat Ali. "Apa maksud sebenarnya kau mengumpulkan kami disini?" tanya Syifa penuh kecurigaan.
seperti biasa Ali selalu menghiasi wajahnya dengan senyuman khas nya "Jika tidak keberatan, aku ingin mengangkat dirimu sebagai muridku. " ucap Ali tanpa basa basi.
"Haaah, apa? Apakah aku tidak salah dengar? bahkan aku melihat sendiri kemampuan mu di pertandingan kemarin, dan kemampuan mu tidak lebih dari pendekar bintang 3, bagaimana kau akan menjadi guruku? " kata Syifa sambil tersenyum sinis pada Ali.
"Itu kemarin, sebelum aku mati dan hidup kembali, bagaimana jika kita beradu kemampuan, jika kau kalah maka kau harus menjadi muridku." tentang Ali.
"Baik, tapi jika aku yang menang kau akan menjadi pelayan ku seumur hidup bagaimana apa kau setuju?" ucap Syifa menerima tantangan Ali, dia sangat yakin dengan kemampuan yang dimiliki nya sekarang, bahkan untuk melawan sepuluh orang seperti dia.
~1125kata.