Nantha, seorang CEO dari perusahaan ternama yang terkenal dingin dan enggan berdekatan dengan wanita manapun, karna menyimpan rasa pada gadis masa kecilnya dipaksa menikahi seorang gadis yang tidak ia kenal sebagai bentuk pertanggungjawaban.
Nada, seorang gadis cantik yang hingga saat ini masih memendam rasa pada seorang pria di masa lalunya. Diminta menikah dengan Nantha, seorang pria yang baru saja ia kenal karna suatu kejadian yang membuatnya harus rela dinikahi oleh pria yang menurutnya sangat dingin dan menyebalkan.
Hingga suatu hal terungkap yang tak pernah mereka duga sebelumnya.
Akankah pernikahan keduanya dapat bertahan? Kejadian apa yang menyebabkan mereka bisa dipertemukan hingga terjadi suatu pernikahan? Dan sesuatu apakah yang terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bertha Ryn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbongkar
Saat hendak menghampiri Nada di dapur, ternyata Nada tidak ada disana. Ia pikir mungkin Nada sedang sholat, karna ini sudah magrib. Akhirnya ia pun masuk ke kamar untuk sholat setelah itu akan keluar untuk makan malam dan berbicara dengan Nada.
Beberapa saat kemudian, Nada yang sudah selesai sholat langsung pergi ke dapur, karna memang dia sudah lapar.
"Nantha mana yaa? Apa lagi sholat di kamar?" gumam Nada celingukan mencari Nantha.
"Yaudah tungguin aja.." imbuhnya
Ceklek~
Nantha keluar dengan memasang wajah dinginnya. Nada yang melihat itu menjadi sedikit takut. Ia meremas tangannya di bawah meja.
"Nan, udah sholat?" ucap Nada, namun tak mendapat jawaban dari Nantha.
"Aku ambilin makanannya ya.." Nantha tetap daja diam, namun Nada tetap mengambilkan makanan untuk Nantha.
"Selamat makan.." ucap Nada, kemudian ia pun mulai makan.
"Enak?" tanya Nada
"Biasa aja.." jawaban Nantha membuat Nada sedikit kecewa, namun Nada berusaha menampakan senyumnya.
Akhirnya mereka pun makan dalam hening.
Saat sudah selesai, Nada membersihkan meja makan dan piring-piring kotor, ia bawa ke wastafel untuk di cuci. Sedangkan Nantha berlalu menuju ruang TV.
Selesai mencuci piring, Nada hendak pergi ke kamar, namun Nantha menghentikannya.
"Duduk.." ujar Nantha
"Ada apa, Nan?" tanya Nada
"Nan, kalo nggak ada apa-apa aku ke kam--" ujar Nada saat dirasa Nantha hanya diam saja, namun segera di potong oleh Nantha.
"Ngapain lo nggak jujur.." Nantha menatap tajam Nada
"Maksudnya..?" tanya Nada bingung
"Nggak usah pura-pura nggak tau. Kaki lo luka karna di serempet Alfa kan." ujar Nantha
"Terus kenapa lo nggak terus terang." imbuhnya
"Tapi kan aku udah bilang kalo jatuh." balas Nada
"Lo nggak bakal jatuh kalo nggak di serempet." ujar Nantha kesal, jengah dengan jawaban Nada.
"Maaf.." balas Nada lirih dengan menundukan kepala.
"Mulai sekarang, kalo mau kemana-mana lo harus izin ke gue. Dan satu lagi, jangan pernah ketemu sama Alfa." jelas Nantha tidak bisa dibantah.
"Kenapa? Kenapa ngelarang aku buat ketemu Alfa, dia baik kok." ujar Nada ingin tahu alasan Nantha melarangnya.
"Cihhh..Lo suka sama dia? Hehh, gampangan." ucap Nantha meremehkan Nada.
Plakk~~
Sebuah tamparan dari Nada mendarat mulus di pipi Nantha.
"Jaga ya kamu kalo ngomong. Sedari tadi aku diam liat kamu giniin aku. Aku nggak tau dimana letak kesalahanku sampe kamu berubah lebih dingin gini ke aku. Aku ngerasa keberadaanku disini nggak di anggep.." ujar Nada dengan mata berkaca-kaca.
"Bilang, Nan. Apa salah aku..?"
"Apa menikah dengan aku itu suatu penyesalan buat kamu?"
"Kalo bukan karna papi, aku gak akan sudi menikah denganmu!" ujar Nada dengan emosinya karna dia geram akan sikap dingin pria itu, apalagi sampai mengatainya wanita gampangan.
Nada pergi meninggalkan Nantha yang masih diam mematung, mencerna omongan Nada.
Nada menutup pintunya dengan kencang, lalu menangis sejadi-jadinya. Benteng pertahanan yang ia jaga sedari tadi, akhirnya runtuh. Ia memandangi tangannya yang secara spontan menampar Nantha.
"Hiks hiks...."
"Jahat kamu, Nan..hiks hiks.." Nada menangis tersedu-sedu.
Nada terus menangis hingga larut malam sampai dirinya tertidur.
Nantha yang sudah kembali ke kamarnya, tampak sangat menyesali ucapannya ke Nada. Sedari tadi ia hanya menggulingkan badannya ke samping kanan dan kiri, ia tidak bisa tidur padahal besok pagi ia sudah mulai kerja lagi.
Setelah beberapa saat ia mencoba tidur, akhirnya iapun terlelap.
🌻🌻🌻🌻🌻
Pagi harinya, Nantha sudah rapih dengan setelan kantornya. Ia melangkah keluar kamar, namun suasana tampak sepi.
"Apa Nada belum bangun?" gumam Nantha menoleh ke kamar Nada.
Ia pergi ke arah dapur, tidak ada makanan apapun. Akhirnya ia pun hanya memakan roti tawar dan di olesi selai bluberi.
Selesai sarapan, Nantha segera keluar dari apartemennya dan pergi ke kantor.
Sesampainya di kantor, Nantha di sambut oleh para karyawan. Banyak dari mereka mengucapkan selamat untuk Nantha atas pernikahannya dengan Nada. Nantha hanya menanggapi dengan senyuman saja. Ia berlalu menuju ruangannya.
"Selamat pagi pak Nantha. Selamat ya pak, atas pernikahan bapak dengan ibu Nada. Semoga bapak langgeng sampai selamanya." ucap seorang resepsionis.
"Terimakasih ya. Saya ke ruangan dulu." balas Nantha
"Silahkan, pak." balas resepsionis tersebut.
Setelah memasuki ruangannya, Nantha segera duduk di kursi kerjanya, ia menghela napasnya panjang. Seminggu sudah ia tidak menginjakkan kakinya di dalam ruangan kebanggannya ini dengan status yang berbeda dari sebelumnya, yaitu sudah menikah dan menjadi suami dari seorang wanita yang belum berhasil menembus hatinya namun sudah berhasil mengecoh pikirannya.
Sedari tadi ia terus-terusan memikirkan gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu. Ucapan Nada dan bayang-bayang wajah Nada dengan mata berkaca-kaca semalam membuat pikirannya sedikit terganggu.
*Tok Tok Tok*~~~
Suara ketukan pintu membuat lamunan Nantha buyar
"Masuk" ucapnya
"Pagi bos.." ujar seorang pria setelah masuk, yang ternyata pria itu adalah Devan sang asisten sekaligus sahabat sablengnya.
"Ck..lo ganggu aja.." decak Nantha kesal merasa terganggu.
"Weisss...pengantin baru masih pagi kok udah kusut aja sih lo, nggak ada seger-segernya. Kenapa? Nggak dapet jatah lo.." cerocos Devan
"Sialan lo.." kesal Nantha melempar pulpen ke arah Devan dan dengan sigap Devan menghindarinya.
Jika hanya berdua didalam ruangan, mereka memang tidak begitu berlaku seperti atasan dan bawahan.
"Apa yang lo bawa?" tanya Nantha yang melihat Devan membawa berkas di tangannya.
"Eh iya. Gue kesini mau ngasih ini. Lo cek, ini hasil penyelidikan terkait insiden di gedung kemaren." jelas Devan memberikan berkas kepada Nantha.
"Lo udah nemuin semua buktinya?" tanya Nantha sambil membuka berkas tersebut.
"Beres semua, itu lo baca. Dan ini flashdisk berisi rekaman cctv di gedung. Lo bisa lihat setelah ini." ujar Devan
Nantha pun membaca berkas tersebut dengan teliti, kemudian beralih ke rekaman cctv yang sudah disiapkan oleh Devan. Beberapa saat kemudian ia mengepalkan tangannya menahan marah.
"Jihan Bramasta.." gumam Nantha masih terdengar oleh Devan.
"Iya, Jihan anak pak Doni klien kita, dalang di balik insiden kemaren, dan motifnya kayaknya emang dia suka sama lo dan pengen ngehancurin hubungan lo dan Nada. Jadi, lo harus lebih hati-hati sama dia." jelas Devan
"Putuskan hubungan kerja sama dengan Bramasta Company, kalo ada complain suruh kesini nemuin gue langsung." ujar Nantha serius.
"Siap bos." jawab Devan melaksanakan tugasnya.
Siang harinya, setelah jam makan siang, kantor cabang Pradana Group kedatangan pemilik dari Bramasta Company, Doni Bramasta. Setelah mendapat kabar bahwa Nantha ingin memutuskan hubungan kerja, pak Doni yang terkejut segera pergi menemui Nantha untuk menanyakan kebenarannya.
"Selamat siang, pak Nantha" ucap pak Doni menjabat tangan Nantha.
"Siang pak Doni." balas Nantha
"Maaf pak Nantha, apa benar kabar yang saya dapat bahwa bapak memutus hubungan kerja sama kita? tanya pak Doni memastikan.
"Benar sekali, pak." jawab Nantha
"Ada apa pak Nantha, apakah ada sesuatu yang tidak berkenan sehingga anda memutuskan hal ini?" tanyanya lagi.
"Bapak baca ini, setelah itu lihat rekaman CCTV ini di layar depan." ujar Nantha memberikan sebuah berkas dan menunjukan sebuah video yang masih dalam mode Pause.
"Bagaimana bisa putri saya melakukan ini semua, pak" ujar pak Doni dengan ekspresi terkejut setelah membaca isi dari berkas dan melihat rekaman cctv.
"Saya tidak tau, mungkin anda sebagai orang tua lebih paham mengapa anak bapak melakukan ini semua. Sampai-sampai dia meminta orang suruhannya untuk mencelakai istri saya." ucap Nantha.
"Maafkan saya, pak. Saya benar-benar tidak menyangka anak saya melakukan hal ini." ujar pak Doni merasa tak enak hati.
"Bapak tau kan, ini sudah sangat membahayakan istri saya. Jika kemarin sedetik saja saya terlambat, belum tentu saat ini saya bisa melihat istri saya." jelas Nantha
"Saya sangat kecewa dengan hal ini. Untuk itu, saya memutus hubungan kerja ini, karna saya tidak ingin memiliki hubungan kerja dengan seseorang yang ingin mencelakai keluarga saya." imbuhnya dengan tatapan dingin.
"Baik, jika ini keputusan pak Nantha. Saya akan menerimanya. Saya minta maaf dengan kelakuan putri saya, pak. Dan saya mohon, jangan bawa hal ini ke jalur hukum, pak." ujar pak Doni, membuat Nantha iba dengan seorang pria paruh baya di depannya. Nantha tahu bahwa pak Doni adalah orang baik.
"Saya tidak akan membawa hal ini ke jalur hakum dengan satu catatan, jangan sampai hal serupa ini terjadi lagi. Jika saya tau anak anda melakukan ini lagi, saya akan langsung menindak lanjuti kasus ini dan akan menyebar luaskan bukti-bukti terkait tindak kriminal anak bapak. Cukup satu kesempatan ini, saya tidak akan memberikannya lebih." jelas Nantha.
"Saya mengerti, pak. Saya akan bicarakan hal ini pada anak saya. Sekali lagi saya minta maaf dan terimakasih atas kesempatan yang diberikan pak Nantha." ujar pak Doni
"Saya juga minta maaf, pak. Karna ulah anak bapak, ini berefek pada kelangsungan proyek kerja sama kita. Maaf jika saya harus melakukan hal ini." balas Nantha
"Saya mengerti, pak. Baik jika tidak ada yang dibahas lagi, saya pamit permisi, pak." pamit pak Doni
"Baik, silahkan pak. Terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk kemari." balas Nantha memjabat tangan pak Doni.
"Selamat siang, pak." ujar pak Doni hendak keluar dari ruangan Nantha.
"Siang, pak.." balas Nantha.
Huhhhh
Nantha menghela napas kasar.
"Gue tau. Ini nggak mungkin sampai disini. Jihan pasti akan merencanakan hal jahat lagi sebelum mencapai targetnya." ucap Nantha
"Gue minta bodyguard untuk jaga di depan apart. Kemanapun Nada pergi kalo nggak bareng gue, harus ada bodyguard yang mendampinginya." jelas Nantha pada Devan
"Gue setuju bos. Gue akan urus semuanya." balas Devan
"Thanks.." ucap Nantha menepuk bahu sahabatnya tersebut.
Happy reading gaessss🤗
semoga bisa up lagi besok ,sampai tamat ..
😁🙏
hehehe doain lebih rajin yaa🤗
jgn klmaaan lg thorr up ny yh seru bingittt nih pnsrn dg devan shena akn kh shena nerima cinta devan !?
lnjuttt smngttt up lg yh thorr
pepet trz devan shena nya gass full heher..
lnjutttt smngttt up lg yh thorr... pnsrn dech part slnjutnya