Hito diperlakukan secara tidak adil oleh keluarga istrinya. Segala hal buruk ia dapatkan, tetapi pria itu tetap setia demi cintanya.
Namun, seiring berjalannya waktu. Hito semakin tidak dianggap. Secara terang-terangan sang istri berselingkuh dengan pria lain.
Hito direndahkan, dan dianggap pria sampah yang hanya menumpang. Namun, mereka semua tidak menyadari jika Hito, adalah seorang penguasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miracle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Ke Rumah
Apa dia sudah gila dengan menyiksaku seperti ini? Apa kata karyawan lain jika aku baru kembali ke meja kerjaku?
Xava mengerutu dalam hati. Hito menjajah dirinya selama dua jam di dalam ruangan kerja. Keduanya melakukan kegiatan bulan madu seperti semalam. Kakinya terasa lunglai karena dibuat naik turun. Lunglai karena berbagai gaya mereka pratekkan.
"Apa sekarang dia menunjukan wajah aslinya? Benar-benar, Hito. Dia seperti kuda liar yang kelaparan," gerutu Xava.
"Kamu dari mana?" tegur rekan Xava. Wanita itu memperhatikan penampilan Xavera yang sedikit berantakan.
"Ah, aku dari kantor pak bos. Kebetulan dia minta dibantu untuk bersih-bersih berkas," kata Xava.
Dahi wanita itu berkerut. "Tuan Hito menyuruhmu bersih-bersih? Kamu yakin?"
"Kenapa? Apa kamu tidak percaya padaku?"
"Penampilanmu sedikit berantakan." Wanita itu mengucapkannya dengan nada mencemooh.
"Jauhkan pikiran buruk dari otakmu! Tidak pantas kamu mencampuri urusan orang lain." Xava duduk di kursinya, lalu bersiap untuk pulang. Tidak peduli pekerjaannya selesai atau tidak, yang jelas ia ingin pulang.
...****************...
"Kenapa wajahmu cemberut begitu? Kamu tidak senang punya suami kaya raya?" tanya Hito saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Yang membuat aku bekerja di tempatmu, itu kamu? Yang membuat kak Hilman bekerja, juga kamu? Yang membebaskan keluargaku dari Koh Alee, lalu utang-utang keluargaku di negara C, juga kamu?" tanya Xava beruntun.
Hito menghela napas, "Iya, Sayang. Kan, aku sudah jelaskan kenapa aku melakukan itu padamu."
"Sepertinya akan susah untuk bekerja. Aku takut jadi sasaran karyawan lain. Tadi saja sudah ada yang mencurigaiku diriku," ungkap Xava.
"Aku akan mengadakan acara resmi keluarga. Aku akan memperkenalkan dirimu ke seluruh negeri ini, jika kamu, adalah menantu dari keluarga Hutomo. Aku juga akan melepas topeng wajahku ini. Sudah cukup untukku berpura-pura cacat," tutur Hito.
Xava mengerutkan dahi ketika Hito mengendarai mobil ke jalan yang tidak ia kenali. Di daerah perumahan itu terdapat rumah-rumah mewah berjejer dengan pandangan bukit di sekitarnya.
"Kita mau ke mana?" tanya Xava.
"Rumah yang seharusnya keluarga kita tinggali. Papa sudah menyuruh papa Wito untuk pindah ke daerah bukit utara."
"Barang-barang milikku bagaimana?" kata Xava.
"Kita tidak tinggal di rumah itu. Kamu harus tinggal di rumah utama, tempat papaku tinggal. Kamu tahu, Xava. Papaku menginginkan kamu segera hamil. Aku harap kita segera memenuhi permintaannya kali ini," kata Hito.
Xava mengangguk, "Semoga kita segera diberi titipan."
...****************...
"Ini rumah baru buat papa?" tanya Xava ketika menatap rumah besar yang mereka datangi.
"Iya." Hito sudah diberi tahu oleh Cody jika mertuanya dipindahkan ke rumah baru lewat pesan singkat. "Ayo kita masuk."
"Papa!" seru Xavera yang langsung masuk ke rumah.
"Kalian sudah pulang rupanya," kata Wito. "Ya ampun Hito ... kenapa kamu menyembunyikan identitasmu? Kamu putra terkaya di negeri B ini, tetapi mau menikahi putriku yang bukan apa-apa."
"Jangan begitu, Pa. Kami berdua telah lama saling mengenal, dan kami saling mencintai," kata Hito.
"Papa sudah bertemu papamu. Dia mengajak untuk makam malam bersama."
"Papa bisa pergi sekeluarga. Aku siapkan sopir untuk di rumah ini," kata Hito.
"Papa juga berterima kasih karena kamu sudah membantu kami, dan membantu pengobatan istriku."
"Sudah tugas saya, Pa," jawab Hito.
Wito tersenyum senang, "Kalian di sini dulu. Papa mau kembali ke kamar."
Tepukan tangan terdengar. Hilman dan Zaya muncul menemui adik serta adik iparnya. Keduanya terlihat tidak senang mengetahui kalau Hito kaya.
"Kamu sengaja mempermainkan diriku, kan?" kata Hilman.
"Maksud Kakak ipar apa?" Hito tersenyum smirk.
"Kamu sengaja menghapus daftar hitam dalam riwayat kerjaku."
"Lalu kenapa? Bukannya bagus? Kakak bisa bekerja, kan?" kata Hito.
"Sombong!"
Hito mendekat pada Hilman. Pria itu menundukkan wajahnya, lalu berbisik di telinga pria itu. "Lantas kamu mau apa? Jangan jual harga dirimu terlalu tinggi. Bagiku kamu hanya kotoran seujung jari. Bersikap baiklah Kakak ipar!"
"Xava! Lihat suamimu. Dia mengancam suamiku," kata Zaya.
"Kakak ... kita, adalah keluarga. Kenapa saling bermusuhan? Hito membantu Kak Hilman agar dia tidak menganggur, dan bukan berniat menginjak harga dirinya," tutur Xava.
"Sudahlah, Sayang. Kita pulang saja. Ayo ... kita pamit kepada papa dan mama."
Hito membawa istrinya menemui Wito di kamar. Keduanya tidak mengerti akan pikiran dari Hilman dan Zaya. Dibantu salah. Kalau tidak bantu apalagi.
"Xavera pasti sengaja menyembunyikan identitas suaminya selama ini. Dia pasti ingin memperlihatkan kepadaku betapa suaminya penuh kuasa," kata Zaya.
"Aku kesal karena mendapat pekerjaan karena Hito," sahut Hilman. Awas saja kamu Hito. Jangan merasa senang dulu kamu.
...****************...
"Jadi kalian tidak akan tinggal di sini?" kata Wito.
"Karena semua sudah tahu Xavera menantu dari Hutomo, maka dia akan tinggal di rumah besar," jawab Hito.
Wito mengangguk paham. "Ya ... itu sudah seharusnya. Kapan-kapan kalian berkunjunglah ke sini."
"Papa jangan khawatir. Aku akan sering berkunjung," sahut Xavera.
Selesai berpamitan kepada mertua dan kakak ipar yang sangat menginginkan mereka pergi, Hito melajukan mobil menuju kediaman Hutomo.
Sesampainya di rumah besar, ternyata Hutomo sudah menunggu kedatangan keduanya. Pria berumur itu tentu sangat senang akan kehadiran dari menantunya.
"Papa sungguh tidak sabar rupanya," kata Hito.
"Sampai kapan kamu mau menyembunyikan identitasmu? Ayolah ... menyandang nama belakang Hutomo tidak semenakutkan itu. Aku akan menyuruh pengawal untuk melindungi menantuku ini."
Xavera baru tersadar dengan ucapan Hutomo barusan. Menjadi menantu seorang kaya raya, artinya nyawanya juga ikut dalam bahaya. Dalam arti musuh-musuh keluarga yang ingin menjatuhkan akan selalu mengintai.
"Papa menakuti istriku," ucap Hito.
Hutomo tertawa, "Apa menantuku selemah itu? Menjadi menantu keluarga Hutomo, haruslah seorang wanita pemberani. Kalian istirahat saja dulu. Kita akan bertemu pada waktu makan malam. Setelah itu aku akan ceritakan riwayat ibunda Hito."
Pria tua itu beranjak dari duduknya. Cody dengan setia mengikuti langkah atasannya itu. Hito mengusap punggung belakang Xava agar tenang.
"Jangan takut," kata Hito.
Xava mengeleng, "Tidak."
"Sebenarnya yang menakutkan itu, adalah perkataan merendahkan, dan menjijikkan dari kerabat Hutomo. Lidah-lidah tajam itu bisa membunuhmu hanya dengan ucapan yang mereka keluarkan. Ibuku seorang berhati lembut, tetapi dia akan menjadi kejam jika ada yang menyakiti dirinya."
Hito sendiri sudah menjadi korban. Betapa pedas mulut dari para kerabat yang mengaku keluarga itu. Mereka bahkan tidak segan untuk menjebak keluarga sendiri demi keuntungan pribadi. Orang yang paling berbahaya, adalah orang terdekatmu. Begitulah kira-kira pepatah yang Hito dengar, dan Hito sendiri pernah dijebak hingga menyebabkan hidupnya menderita.
"Aku mengerti maksudmu," sahut Xava.
Bersambung.