NovelToon NovelToon
Suami Malaikatku

Suami Malaikatku

Status: tamat
Genre:Romantis / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa Modern / Rumah Tangga-Anak Genius / Tamat
Popularitas:110k
Nilai: 5
Nama Author: Marina Monalisa

Sebelum membaca di sarankan untuk membuka novel yang berjudul "Calon Istri Pengganti Tuan Abian" karena ini adalah lanjutan dari novel tersebut.

Cerita yang di angkat tentang perilaku suami yang bersosok malaikat selalu mampu membuat hati sang istri meleleh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28. Maureen Pengacau

Perjalanan hening. Mobil mewah itu melaju memecahkan keramaian kota menuju sebuah perumahan elit milik keluarga Maureen. Wajah manis itu terus cemberut sembari bersedekap dada.

Pandangannya kosong tak menghiraukan pemandangan yang tiap hari selalu ia lalui di kompleks itu.

"Hey, aku minta maaf. Aku bukan bermaksud melupakan mu." sahut Gibran yang berusaha selembut mungkin bersuara.

Mata khas kebulean milik Maureen memicingkan begitu tajam saat mendengar ucapan Gibran.

"Jadi benar kau melupakan aku?" hardiknya frontal bernada tinggi.

Wajah Gibran terkejut bukan kepalang melihat keganasan wanita yang selama ini ia kenal dengan baik hati lemah lembut.

Maureen yang semakin berasap kepalanya kembali membuang pandangannya ke arah jendela mobil. Gibran sengaja memperlambat mobil itu, ia ingin masalah mereka selesai dahulu baru tiba di rumah.

"Kak Indira masuk rumah sakit, jadi aku syok saat mendengar kabar itu-"

"Apa? lalu bagaimana Kakak Indira? apa yang terjadi? apa lukanya parah? Gibran mengapa kau baru beritahu sekarang sih?" Pertanyaan terus terlontar tanpa jeda dari bibir tipis milik gadis cantik itu.

Terdengar helaan nafas kasar dari Gibran, ia masih belum bisa menjelaskan karena Maureen sama sekali tidak memberikan ia kesempatan bicara.

Cukup panjang pertanyaan yang Maureen katakan saat ini, sangking geramnya ia beberapa kali mengguncang tubuh Gibran dari samping memaksa untuk menjawab sementara mulutnya masih berkicau bak burung beo.

"Sudah selesai lampiaskannya?" tanya Gibran begitu sabar menghadapi calon istrinya ini.

Maureen tergugup, wajahnya merah merona. Tatapan Gibran begitu membuatnya jadi kehilangan kata-kata.

"Apa mau pulang atau ke rumah sakit?" Gibran memecahkan keheningan yang kesekian kalinya.

"Ke rumah sakit saja, ak-"

"Sst. Nanti perkataan maafnya. Aku lagi mau mengingat berapa detik kamu menghabiskan ratusan bahkan ribuan kata tadi."

"Iiih Gibran!" Maureen kesal karena ejekan pria di sampingnya itu hingga ia kembali menyerang Gibran dengan pukulan sayangnya itu.

Teriakan gembira dan malu menemani perjalanan kedua pasangan yang tengah di mabuk cinta, mereka keluar dari area perumahan itu dan menuju ke rumah sakit tempat Nyonya Malik di rawat saat ini.

Senja mulai meninggalkan bagian barat bumi, purnama pun belum sampai di ujung langit gelap. Gerimis kecil mengisi kesendirian malam dengan penuh kemesraan.

Di ruangan rawat salah satu rumah sakit tampak begitu ramai. Abian tengah bermain di atas tempat tidur yang berbeda dari tempat tidur sang istri.

Rabian dan Abian berusaha membujuk Indira agar mengijinkan keduanya tidur dengannya lagi. Bocah kecil nan polos itu seakan mengerti dengan ajakan sang Papah.

"Sayang, biarkan kami ikut tidur di situ yah?" bujuk Abian.

"Tidak, Bi. Rafael sedang minum asi. Dia pasti sangat lelah. Kalian kalau tidur di sini juga pasti ribut." tolaknya.

"Mamah, Bian mau bobo sama Mamah sama Papah." Suara bocah itu kembali terdengar setelah lama ia memperhatikan percakapan kedua orangtuanya yang melakukan tawar menawar.

"Rabian sayang, nanti yah kita bobok bareng kalo sudah di rumah. Kan Mamah sebentar lagi boleh pulang." bujuk Indira lembut.

Bukan karena apa ia menolak sungguh Indira sangat tidak tega melihat Rabian memasang wajah sedih. Tapi keadaan saat ini sedang tidak bersahabat. Bisa saja Rabian yang tidur di tengah akan menindis tubuh Rafael bahkan Abian juga bisa melakukan hal seperti bocah itu tentunya.

"Asik Mamah sebentar lagi pulang. Yasudah oke deh, Mah." ucap bocah itu kegirangan.

Abian merasa kesal karena sang istri bisa membujuk putranya.

"Rabian, Mamah bohong. Mamah nggak mau bobo sama Rabian itu. Ayo minta Mamah bolehin kita." bisik Abian di telinga putranya.

Sayang seribu kali sayang, bisikan Abian sepertinya tak pandai menyembunyikan suara beratnya itu. Mata Indira sudah mendelik ke arah dua pria itu.

"Benarkah Papah?" tanya Rabian menatap wajah Abian tanpa bisa membalas dengan bisikan.

Keduanya saling berbisik tanpa memperhatikan tatapan kesal Indira. Tak dapat berbohong, wanita dua anak itu sebenarnya tengah menahan tawa demi tetap bersikap tegas pada dua prianya.

"Bi... berhenti mempengaruhi Rabian." pekiknya pelan setengah menahan suara karena takut Rafael terbangun.

"Sayang," Abian kaget.

Wajah kagetnya berubah tersenyum memelas mengharapkan belas kasih dari sang istri.

"Sayang, di luar hujan." tuturnya menoleh ke arah jendela yang terlindung korden putih tulang samar-samar mempertontonkan buliran air hujan yang berjatuhan.

"Lalu?" tanya Indira.

"Dingin." balas Abian sembari memeluk tubuhnya sendiri.

Di tengah-tengah penawaran itu, suara ketukan pintu kembali terdengar.

"Tok...tok...tok." Ketukan ketiga kalinya pintu pun terbuka pelan.

"Mami, Ibu." sahut Indira.

"Sayang, Mami mau temani Bi Qila di sebelah tidak apa-apa yah." ucap Nyonya Ningrum.

"Iya, Mami temani saja Bi Qila kasihan dia sendirian. Oh Iya Ibu berisitirahat lah di rumah dengan Ayah. Hari sudah malam." pintah Indira.

"Iya sayang, lagi pula Ibu tidak mau mengganggu keluarga bahagia ini. Ibu pulang saja dengan Ayahmu yah. Besok Ibu akan kembali ke sini."

"Ibu, Indira tidak terganggu sama sekali." sahutnya menolak pemikiran Nyonya Veren.

Wajah cantik wanita tua itu terkekeh, "Ibu bercanda sayang, Rabian Oma pulang yah sayang, emuah."

Setelah kepergian Nyonya Ningrum, Nyonya Veren dan juga Tuan Kriss kini ruangan kembali hening. Namun belum sempat Abian melontarkan ucapan pada istrinya lagi, tiba-tiba pintu kembali terdengar dua ketukan.

"Tok...tok."

Manik mata Abian berotasi lambat karena kesal. Tidak bisakah waktu yang dingin seperti ini ia di beri waktu mencari kehangatan pada tubuh sang istri? sepertinya keberuntungan sedang tak berpihak dengannya kali ini.

Indira terkekeh melihat kemarahan suaminya yang berusaha ia tahan.

"Gibran,"

"Kakak." ucapnya membalas sapaan sang Kakak.

"Kak Indira, bagaimana kabarnya? apa ada yang parah?" Suara Maureen terdengar di belakang Gibran yang baru hendak memasukkan tubuhnya ke ruang rawat itu.

"Eh Maureen. Iya baik-baik saja cantik. Seperti yang kau lihat." ucap Indira memperhatikan tubuhnya sendiri.

Pupuslah harapan Abian menghangat pada istrinya saat mendengar perkataan Maureen yang ingin berada di ruangan itu menemani calon Kakak iparnya.

"Kak, Maureen boleh yah tidur di sini? Biar Kak Indira aku temanin." tawaran Maureen tidak memberikan kesempatan siapa pun berbicara.

Gadis itu sudah meraih ponsel genggamnya, ia menempelkan benda persegi panjang itu pada daun telinganya.

"Ayah, Maureen ijin tidak pulang yah mau temani Kak Indira di rumah sakit."

"Apa yang terjadi dengan Indira, Nak?" tanya Tuan Fadil khawatir.

"Kakak Indira pendarahan, Ayah." ucapnya singkat.

"Yasudah kalau begitu baiklah. Sampai kan salam Ayah padanya dan Tuan Abian, Sayang. Besok Ayah dan Ibumu akan ke sana."

"Oke Ayah."

Seketika itu juga tubuh Abian ambruk ke kasur, ia memeluk tubuh Rabian yang masih duduk di hadapannya.

Indira terkekeh renyah melihat kekecewaan suaminya. Setidaknya ia tidak perlu khawatir dengan Rafael jika tidur bersamanya karena ada Maureen saat ini.

Dengan wajah polosnya Gibran ikut merebahkan tubuhnya di kasur yang sama dengan Abian.

"Astaga Kakak ipar." teriak Gibran sontak membuat tubuh Rafael bergetar hingga menangis.

"Ada apa, Gibran?" tanya Indira.

"Maaf Kak, Kakak ipar tadi memeluk saya. Jadi saya kaget. Kirain tangan hant-"

"Hantu? berani sekali mengataiku seperti itu." hardik Abian.

Suasana yang lucu itu menemani dinginnya malam itu di rumah sakit besar, namun berbeda hal nya di kediaman Malik.

Seorang pria yang tengah menyeruput kopi hangatnya tampak gelisah dengan beberapa kali ia menggaruk kepalanya kasar.

"Ada apa, Pak Mail?" tanya seorang pria yang sedang bersama dengannya menjaga keamanan.

"Ah tidak." sahut Pak Mail cepat.

Sejak tadi ia terus uring-uringan memikirkan wanita yang selama ini diam-diam terus ia perhatikan dalam diamnya.

"Apa dia baik-baik saja yah? Qila bagaimana keadaan mu? bagaimana caranya aku bisa mengetahui keadaan mu saat ini? Apa aku harus ke rumah sakit? tapi di sana ada keluarga Tuan dan Nyonya. Ahhh."

Wah wah ternyata ada yang diam-diam mengagungkan seseorang nih? bagaimana kisah Pak Mail selanjutnya?

Apakah bisa menemukan kabar tentang Bi Qila nantikan di episode berikutnya!

1
Heliati Mamonto
lanjut
bundan@ furqan
ika widya
lucky ma dita ja,, sprtiny lucky org yg baik
nhiena Ali
💖💖💖💖💖💖💖💝💝💝💝💝💝❤❤❤❤❤❤❤😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
sarianum manurung
bakalan kangen SM keluarga malik...Abian i love u
Retno Marsudi
sukses selalu thorrrr
Retno Marsudi
waduhhhh tamat deh,, padahal aku suka novelnya nih,,
Retno Marsudi
bucinnya dikau tuan abiannnnnn
Retno Marsudi
Bayiku,, bukan bayi kami 🤣🤣🤣🤣
Retno Marsudi
Baper akut diriku sama kamu tuan abian malik
Yuni Ati
Jauh-jauhin tuh si ular cobra afrah Thor
Lutfiati Puzz
ak gk bisa mve on dari Abian Malik😭😭😭
ig: monalisa_n28: Hehehe Terimakasih kak🙏🙏
total 1 replies
harap_tenang😌
bi qila mulai lagi deh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
may Saka
kak bikin versi mauren sama gibran don kepo kelanjutan cerita cita mereka berdu nihhh plissssssssssssss.....................
Aris Mamae Rakha
extra part nya dong kak thor...😁😁😘😘
ig: monalisa_n28: Hehehe udah mentok selesainya kak
total 1 replies
Ghea_yuni_Aprinsa
yg berikut'y pa thor.....?
semoga lbh seru y....😘
ig: monalisa_n28: amin kak terimakasih yah kak
total 1 replies
Sri Hendrayani
up lgi donk thor
Sri Hendrayani: buat bonus upnya kak..
cerita bagus banget... 😍😘🥰
total 2 replies
Aris Mamae Rakha
Indira wanita yang lembut, anggun bisa berubah menjadi wanita jadi2an 🤣🤣 bahkan seperti monster kata Bram, 🤭🤭🤭🤭
Aris Mamae Rakha
bener2 cari mati berurusan dengan Abian
ajiu jiu
tamat sdh cerita ringan yg tdk bkin stress , ap akhirnya kita "pisah" di sni Thor 🤔🤔 rasa ny ngk mau novel in tamat 😢😢😢
ig: monalisa_n28: hehehe terimakasih kak sudah setia sampai akhir
total 1 replies
Erna Watie AZ
buat kisah si rabian thorr,,,
ig: monalisa_n28: hehehe masih di pikir dulu yah kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!