Alesya Ramania Syahreza, anak seorang pengusaha kaya yang cukup terkenal di kotanya.
Dia merupakan gadis yang sangat centil dan cerewet, tapi ia juga menjadi idola di kampus karena kecantikannya.
Alesya sangat sulit dia atur, bahkan dia sering melakukan hal hal yang seharusnya tidak ia lakukan.
Sampai pada akhirnya papahnya mencarikan supir untuk mengawasinya, awalnya Alesya tidak mau karena ia merasa tidak bebas kalau memiliki seorang supir.
Tapi setelah melihat supir yang begitu tampan ia pun langsung mau, dan pada akhirnya mereka jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putry Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku kekasihnya!
Sean semakin frustrasi karena Alesya tak kunjung sadar.
"Kasih nafas buatan saja Sean!." Seru Clarista.
"Hahh nafas buatan?." Sean sedikit terkejut. Kalau ia memberi nafas buatan sama saja ia menciumnya. Frist kiss?.
"Iya Sean cepat, kau kan kekasihnya." Seru Clarista lagi, yang semakin panik.
Wajah Cindy seketika berubah menjadi kesal, ia pun mendekati Sean dan Alesya. "Biar aku saja Sean."
"Dari pada aku harus melihatmu berciuman dengannya, akan membuatku semakin muak!." Gumam Cindy dalam hati.
Sean menatap Cindy dengan tatapan yang sangat membunuh. "Tidak usah! biar aku saja."
"Sudahlah Sean jangan di paksakan!." Ucap Cindy lagi.
"Aku kekasihnya! jadi ini tanggung jawabku." Tak butuh waktu lama, Sean langsung menjepit hidung Alesya, lalu tangan satunya lagi untuk membuka mulut Alesya. Ia pun mulai memberikan nafas buatan untuknya.
Cindy benar benar kesal atas pemandangan yang telah ia lihat, ia pun memilih pergi meninggalkan teman temannya yang masih berada disitu.
Sedangkan semua yang ada disitu, mereka senyum senyum sendiri sambil memandang Sean yang sedang memberi nafas buatan untuk Alesya.
"Uhhh so sweet banget sih mereka." Seru salah satu teman temannya yang masih berada di situ.
Sean terus berusaha, sampai ia tak tahu ini sudah ke berapa kalinya ia memberikan nafas buatan untuk Alesya.
"Uhuk!." Alesya terbatuk membuat air yang ada di dalam perutnya keluar semua.
Sean bernafas lega, akhirnya Alesya tersadar juga. Ia pun mendudukan Alesya pelan pelan. "Kau tidak apa apa? apa ada yang sakit?." Tanya nya dengan penuh kasih sayang.
Alesya menatap Sean dengan tatapan sendu, ia pun langsung memeluk Sean dengan sangat erat. "Honey aku takut, hiks hiks hiks." Sambil menangis.
Sean mengelus punggung Alesya dengan lembut. "Sudah jangan takut, kan ada aku disini."
Alesya melepaskan pelukanya, ia memandang wajah Sean dengan air matanya yang terus menetes.
Sean mengusap air mata Alesya dengan ibu jarinya. "Sudah jangan menangis, ayo kita kembali ke tenda."
"Tapi bajuku basah honey."
Clarista mendekati Alesya, ia mengelus lembut pundak Alesya. "Sudah tjdak apa apa, nanti kau ganti di tenda saja." Ucap Cindy dan di balas anggukan oleh Alesya.
Sean membantu Alesya untuk berdiri. "Apa perlu aku gendong?."
Alesya menggeleng pelan. "Tidak usah honey, jalanannya kan susah. Nanti kau malah terjatuh kalau menggendongku."
Sean pun menuntun Alesya untuk berjalan. Semua yang ada di situ pun ikut beranjak kembali ke tenda.
Setelah semuanya membersihkan diri, mereka pun beristirahat, karena kegiatan akan di mulai besok.
.
.
Jam menunjukkan pukul 21.00, semua para mahasiswa sudah terlelap dalam tidurnya. Terkecuali Sean, ia sedang duduk termenung di depan tendanya. Entah apa yang sedang ia pikirkan, wajahnya terlihat begitu cemas dan tidak karuan, setelah kejadian tadi sore.
Sean mengusap wajahnya dengan gusar. "Huhhh perasaan apa ini, kenapa aku begitu takut kalau Alesya kenapa napa. Apa ini karena aku itu supirnya dan dia majikanku? tapi perasaan ini sangatlah berbeda. Akhhh jangan bodoh kau Sean jangan sampai perasaan itu benar benar muncul." Ucapnya sendiri.
Di dalam tenda, Alesya pun tidak bisa tidur. Ia tidak terbiasa tidur bersama sama seperti ini.
Alesya memilih untuk keluar mencari udara segar, tapi ia malah melihat Sean yang sedang termenung sendirian. Alesya pun menghampiri Sean dan ikut duduk di sampingnya.
Sean melirik Alesya dengan ekor matanya. "Kenapa kau belum tidur?."
"Aku tidak bisa tidur honey, aku tidak terbiasa tidur bersama sama. Kepalaku juga pusing honey, karena kejadian tadi sore." Dengan gaya manjanya.
"Kenapa kau bisa terjatuh sih?." Tanya Sean dengan pandangan yang tetap lurus ke depan.
"Jalanannya sangat licin, padahal saat itu aku sudah minta tolong pada Cindy. Tapi sepertinya dia tidak mendengarku."
"Awas saja kau Cindy kalau sampai macam macam dengan Alesya." Gumam Sean dalam hatinya.
Sean menoleh ke samping dan memandang wajah Alesya yang begitu terlihat lelah. "Ini sudah malam sana tidur, kalau kau tidak bisa tidur bersama teman temanmu. Tidurlah di tendaku."
Alesya tersenyum lebar. "Maksudmu tidur bersamamu honey?."
Sean menghela nafasnya kasar. "Huhh, bukan maksudku begitu. Aku akan tidur di luar."
Alesya menyandarkan kepalanya di pundak Sean. "Mmm tidak usah honey, nanti kalau kau masuk angin bagaimana?." Tiba tiba Alesya teringat kejadian tadi sore saat Sean memberinya nafas buatan.
Alesya mendongakan wajahnya, dan menatap Sean dengan senyuman. "Honey, tadi sore kau memberi nafas buatan untukku kan? itu berarti kau menciumku?."
Sean terlihat gugup, ia pun berdiri dari duduknya. "Itu namanya CPR! bukan ciuman."
"Sudah sana tidur, ini sudah malam. Nanti ada hantu loh." Imbuh Sean lagi, kemudian ia langsung beranjak masuk ke dalam tenda.
Alesya celingukan. "Apa hantu??." Ia pun langsung berlari menuju ke tendanya dengan ketakutan.
aku nyicil baca dan like y thor, aku simpan jd favorite
salam dari aku dan mntan kekasih suamiku
aku tunggu feedbacknya
bisa aja cri visualnya
7clike buatmu.
Mari kita saling dukung.
Semangat up terus ya..