Namaku Hilya Nafisah. Lahir dari keluarga sederhana dipelosok desa. Mendapat jodoh diperantauan dengan orang kaya raya. Hidup berkecukupan, semua yang ku inginkan terpenuhi.
Namun hidup tidak selalu melulu tentang uang. Aku mendapat suami yang kaya harta namun miskin hati. Selalu cuek dan dingin serta selalu mengabaikan ku. Akankah aku kuat untuk terus bertahan? Memilih cinta atau harta?
dimanakah aku akan menemukan kunci bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon an-nashihah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang
Aku memilih pulang kerumah mas Faris dan diantar oleh Hamzah. Sebenarnya aku mau pulang sendiri dengan kendaraan umum, tapi dia memaksanya.
"Memang Faris nggk ngomong dulu kalo mau pulang?" Ucap Hamzah membuka percakapan, menghilangkan keheningan.
"Nggk. Dia nggk cerita apa-apa sama aku, dia juga nggk bilang ada masalah pekerjaan atau masalah apapun." Jawabku sambil melihat keluar jendela mobil, memperhatikan pohon-pohon dan rumah-rumah yang berderet.
"Mungkin dia memutuskannya juga mendadak." Simpulnya.
Aku memilih diam. Menormalkan emosi dan perasaanku sendiri agar tak mempengaruhi pahala puasa yang aku lakukan. Mencoba memejamkan mata untuk melupakan panas didada.
"Kok diam aja? Sabar. Selalu berpikir positif aja."
"Kamu sudah lama kenal sama mas Faris?" Tanyaku mencoba mencari informasi, sekalian mengalihkan pembahasan.
"Ya. Setelah setahun aku diadopsi sama kakek aku sudah kenal sama dia. Waktu itu aku baru berumur sembilan tahun."Ujarnya bercerita, agar tak sunyi didalam mobil menempuh perjalanan jauh. Mungkin mas Faris juga belum sampai rumah, tapi dia lebih berani mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dibandingkan Hamzah.
"Trus? Kamu asli orang mana? Orangtua kandung kamu?" Tanyaku memintanya melanjutkan cerita.
"Kamu ingin mendengarnya?" Melihatku sekilas sambil tersenyum, kemudian kembali fokus menatap jalanan.
"Nggk . Lupakanlah." Jawabku malas. Sudah tahu aku bertanya, masih juga tanya ingin mendengar atau tidak. Dia hanya terkekeh pelan.
"Jangan marah. Nanti cepat tua."
Aku masih diam tak menanggapi.
"Aku dulu bukan terlahir dari keluarga harmonis. Ayah dan ibuku sering sekali bertengkar,yang membuatku malas sekali dirumah jika ada keduanya. Aku sayang kedua orangtuaku, meskipun mereka sering bertengkar ,namun selalu bersikap baik dan lembut jika berbicara denganku.Semarah apapun ibu kalo bertemu denganku selalu berubah lembut." Menjeda cerita, menarik nafas perlahan. Selalu sakit mengingat kisah masa lalu bukan?.
"Maaf, kalo aku mengingatkanmu pada mereka." Merasa tak enak hati.
"Tak apa." Sambil menggeleng pelan dan tersenyum.
"Aku sayang sama mereka berdua, dan tak ingin membela salah satunya jika bertengkar. Suatu hari saat aku pulang dari sekolah, aku melihat rumahku terbakar. Aku berteriak memanggil ibuku yang saat kutinggal kesekolah mengeluh pusing dan sedikit demam. Namun, aku ditarik oleh salah satu warga yang berkumpul mencoba memadamkan api, melarangku untuk mendekati api. Berbahaya."Ternyata sedih juga kisah hidupnya.
Ku lihat dia bercerita tanpa air mata atau sedih, malah sedikit menyungging senyum dibibirnya.
"Saat pemadam kebakaran datang. Aku melihat ayah keluar dari kobaran api menggendong ibu. Aku senang melihatnya. Namun tepat ditempat lapang, jauh dari api, Ayahku ambruk masih sambil memeluk ibu, dan meskipun langsung dilarikan kerumah sakit namun orangtuaku tidak bisa diselamatkan. Tak ada yang bisa aku lakukan selain menangis. Tak tahu mau minta bantuan pada siapa selain pada tetangga-tetangga."
"Sedih sekali." Komentarku."Tapi kamu tahu apa masalah yang membuat orangtuamu bertengkar?"
"Dulu aku tak paham. Namun setelah pemakaman aku tau, dan sekarang aku baru paham."
"Kenapa?" Tanyaku penasaran.
"Orangtuaku menikah karna perjodohan, permintaan terakhir dari almarhum kakekku sebelum meninggal, karna kakek nggk suka dengan pacarnya. Dan saat pemakaman ayahku perempuan yang katanya pacarnya itu datang, dia menangis lama dipemakaman orangtuaku"
"Setelah itu aku nggk punya keluarga, mantan pacar ayah pernah datang menawarkan untuk ikut bersama dengannya yang saat itu sudah menikah juga. Tapi aku menolak."
"Perempuan itu baik juga." Kataku menyimpulkan.
"Aku tak tahu pasti. Belum kenal akrab, dan juga tak ada penjelasan kenapa kakek melarang ayahku menikah dengannya."
"Sejak saat itu aku sering bantu-bantu dikebun kakek Mario, agar mendapat makanan, dan akhirnya aku diajak kerumahnya dan diadopsi , dan sudah ada empat anak angkatnya dirumah."
"Trus dengan mas Faris?" Tanyaku.
" Saat itu dia jarang kesini. Dia mulai membuat rumah di kota ini setelah setahun aku tinggal bersama kakek. Dia tinggal di ibukota sebelumnya."
"Berarti mas Faris kecilnya tidak disini? Apakah dia dari dulu sudah bersikap dingin dan kaku begitu?" Dia menggeleng pelan, dan mukanya terlihat sedih.
" Dia dulu orang yang ramah, baik, dan humoris. Hingga satu kejadian merubahnya. Dia jadi pemarah, suka semaunya sendiri, dan aku sering melihatnya menangis saat sendirian, sering mengurung diri dikamar."
"Kejadian apa sih? Kakek juga bilang mas 'Karna trauma masalalu' emang ada masalah apa?" Aku memutar dudukku untuk melihatnya.
Dia meminggirkan mobil, dan menghentikannya. Aku jadi takut sendiri.
" Kenapa berhenti?" Tanyaku panik. Takut dihentikan ditempat sepi, dengan kanan kiri perkebunan.
"Dia berubah sejak meninggalnya pacarnya. Meninggal karna jatuh bunuh diri di sekolahnya. Aku tak tahu pasti apa penyebab keputusannya,Itu terjadi sore hari pada waktu libur sekolah." Menjawab penasaranku dan mengabaikan kepanikanku karna mobil berhenti.
"Apa ada hubungannya mas Faris dengan bunuh dirinya gadis itu?" Tanyaku menduga sesuatu.
"Namun Faris tetap menjadi orang yang baik. Bahkan sekarang dia jadi anak yang lebih agamis ,meskipun sangat dingin." Nilainya sambil kembali melajukan mobil.
"Emang dia dulu gimana?" Tanyaku. Kini akau tahu, memang ada sebabnya dari sikap acuhnya itu.
"Kamu dengar dia dulu pernah jadi pecandu? Dia memang tidak lama pakai barang itu, tapi kalo minuman beralkohol sudah lama. Tanpa sepengetahuan orangtuanya pastinya. Taukah, Bunda dan Ayahnya sibuk banget. Dulu meskipun dia anak yang ramah dan baik, dia terlalu bebas dalam bergaul."
Benarkah dulu mas Faris seperti itu?
Tanpa terasa aku sudah sampai didepan rumah asri milik aku dan mas Faris. Ku lihat mobil mas Faris terparkir sembarang di depan rumah. Mungkin orangnya ada didalam.
"Mampir dulu, Zah." Kataku basa-basi, padahal aku berharap dia langsung pergi. haha
"Lain kali aja, aku langsung balik." Menolak tawaranku.
"Ya udah hati-hati dijalan."
"Oke. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
"Loh, nona sudah pulang?" Sapa bibi heran diyang melihatku masih didepan rumah.
"Sudah ,Bi. Bibi nggk suka aku pulang?" Ucapku cemberut, dan berlalu masuk kerumah mencari keberadaan mas Faris."
"Mas." Panggilku saat sudah didalam rumah. Namun tak ada jawaban. Aku terus memanggilnya dan akan naik kelantai atas dimana terdapat kamarnya.
"Non, den Faris nggk ada dirumah." Kata Bi Siti yang baru masuk kerumah.
Apa-apaan ini? Mas Faris pulang meninggalkanku, dan sekarang sudah tidak ada juga dirumah. Badanku lemas sekali. Sia-sia aku buru-buru menyusulnya pulang, kalo akhirnya tak ketemu juga. Aku hanya duduk disalahsatu anak tangga.
"Tadi den Faris pulang, tapi belum sempat masuk rumah sudah pergi lagi " Lapor bibi yang sudah naik menyusulku, dan duduk disampingku. Itu sudah kebiasaannya, melaporkan tanpa diminta. Begitu juga saat dengan mas Faris,melaporkan kegiatanku yang dia tahu.
"Pergi kemana dia bi? pergi sama siapa? Mobilnya dirumah lo bi? " Berondongku dengan beberapa pertanyaan. Ku merogoh kantong mengambil hp. Ku tekan nomornya untuk memanggil, namun hanya operator yang menjawab. Nomer tidak aktif.
Aku benci, aku kecewa, aku marah, dan aku sedih.
"Katanya ada acara penting di pulau Samosir, Non. Kalo kawannya bibi nggk kenal."
Dia liburan di saat menjelang hari raya? dan dia pergi sama siapa? Kenapa bibik nggk kenal?
"Kawannya cewek apa cowok, Bik?"
"Yang jemput dua orang ,non. Perempuan dan laki-laki, tapi bibi belum pernah melihat sebelumnya. Dia juga datang langsung pergi lagi, tidak masuk rumah dulu."