TAMAT
Visual Epis 69
Tania adalah gadis yang lugu dan polos, dia anak yatim piatu yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya akibat kecelakan mobil yang mengharuskan dia tinggal di rumah pamannya.
Tania bertemu dengan bos mafia serigala putih yang bernama Denis yang berhati dingin dan cuek
Setelah pertemuanya dengan Denis hidup Tania dalam semalam berubah total.
Pertemuan Tania dan Denis adalah awal hubungan yang dijalani tanpa cinta. Tanpa Denis sadari dia mulai mempunyai perasaan pada Tania sejak pertama kali bertemu.
Perjalanan hidup Tania yang berat dengan penuh rintangan hidup dimulai dengan perjuangan cinta mereka.
Dengan rahasia besar yang tersimpan antara Denis dan Tania, membuat hubungan mereka semakin sulit untuk bersatu. Dengan rahasia yang terbokar membuat kebencian muncul dalam diri mereka berdua.
Apakah Tania dan Denis bisa hidup bersama sama melewati kehidupan Mafia yang kejam, yang selalu berhadapan dengan kematian !!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Fitriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Epis 28 Siapa Pria itu
Setelah menunggu Arya mengobati Tania, Denis pergi mandi. Dia membiarkan Arya yang menemani Tania di kamarnya.
Setelah Arya memberi obat ke Tania, dia pergi dari kamar Denis tanpa memberitahunya.
Saat Denis keluar dari kamar mandinya, Denis yang berdiri di depan pintu dengan handuk kecil melilit di pinggannya, melihat ada Aleta yang sedang duduk di sofanya, menggunakan baju tidur yang transparan menunggu Denis.
"Apa yang kau lakukan di sini?" ucap Denis sambil menggosok rambutnya menggunakan handuk.
"Aku menunggumu." Ucap Aleta sambil memegang gelas yang penuh dengan bir.
"Aku mau tidur. Keluar!" ucap Denis sambil berjalan ke arah lemari pakaiannya dengan nada suara santai.
Aleta berjalan menghampiri Denis, dia memeluknya dari belakang.
"Temani aku tidur yah." Ucap Aleta membisikkan ke telinga Denis, sambil mengelus dada Denis dengan suara yang menggoda.
"Jauhkan tanganmu dariku." Ucap Denis sambil menyingkirkan tangan Aleta ke samping.
Denis menarik tubuh Aleta ke depan, sambil menyandarkan Aleta di depan lemarinya.
Denis mendekati Aleta, dia langsung menutup matanya.
"Kau memang cantik. Tapi kau terlalu mudah untukku miliki, " ucap Denis sambil membisikkan ke telinga Aleta dengan nada suara yang pelan.
Denis langsung berbalik arah setelah mengatakan itu pada Aleta.
Aleta yang mendengar ucapan Denis sontak langsung berteriak sambil menghentak-hentakkan kakinya.
"Apa yang kau lihat dari wanita itu, jelas aku lebih baik dan lebih unggul darinya. Dia hanya wanita rendahan yang kau pungut di jalan." Ucap Aleta dengan raut wajah yang marah.
"Dia lebih baik di mataku, dari pada dirimu." Ucap Denis dengan tatapan mata yang dingin.
"Belum tentu baik di matamu, maka baik pula di mataku, standarmu berbeda denganku." Ucap Denis dengan tatapan mata yang tajam menatap Aleta.
"Yang menilai dirimu bukan lah dirimu sendiri, melainkan orang lain yang melihatmu." Ucap Denis.
"Sebaiknya kau keluar dari kamarku, kalau kau masih punya malu." Ucap Denis dengan raut wajah datar.
Aleta yang marah mendengar ucapan Denis, langsung pergi dari kamar Denis sambil menutup pintu kamar dengan keras.
Ke esokan harinya.
Dari tempat tidur, terlihat Tania tertidur di bawah dagu Denis dengan kedua telapaknya menyentuh dada Denis, dengan wajah tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa. Tania merasa nyaman berada dekat dengan Denis.
Tiba-tiba Tania terbangun.
"Kepalaku pusing," ucap Tania sambil menaikkan kepalanya.
Tania tiba-tiba menurunkan kepalanya dan matanya.
"Apa aku bermimpi, kenapa aku melihat wajah pria brengsek itu." Ucap Tania, dengan raut wajah bingung.
Karena Tania yang masih tidak percaya dia melihat kedua kalinya, dia melihat wajah Denis, dengan Denis yang tidak memakai baju sontak Tania langsung berbalik.
"Kenapa aku bisa di sini?" ucap Tania dengan kebingungan sambil memegang kepalanya yang masih terasa pusing.
"Astaga, kemarin malam berarti pria yang samar-samarku lihat di toilet itu dia, yang menyelamat ku juga dia." Ucap Tania sambil menggoyang-goyangkan kepalanya, dengan raut wajah bingung dengan nada suara yang pelan.
Tiba-tiba dari belakang, tangan Denis memeluk erat tubuhnya, Tania kebingungan apa yang harus dia lakukan apa dia harus berpura-pura tidur, atau berlari dari tempat tidur. Tania memilih untuk berpura-pura tidur, dia takut akan membangunkan Denis yang tertidur dengan nyenyak. Mengingat Denis lah yang menyelamatkannya dari kejadian kemarin malam.
Di sisi lain di kediaman pria misterius, rumah besar berwarna putih bertingkat dua, lengkap dengan halaman hijau yang luas di halaman depan rumah, dengan basement mobil lengkap dengan mobil-mobil mewah yang tertatah rapi di dalamnya, dilengkapi dengan penjaga yang ketat yang mengelilingi rumahnya.
Dari halaman belakang rumah, ada seorang pria tinggi dengan wajah tampan berkulit kuning langsat dengan rambut berwarna hitam gondrong, yang sedang berdiri di halaman belakang sambil memegang pistol, mengarahkan ke kepala pria yang berada jauh dari hadapannya, di mana sasarannya adalah pot keramik yang ada di kepala pria itu.
Tanpa ragu pria itu melepaskan peluru pistolnya dengan satu tarikan yang berhasil mengenai sasarannya.
Tiba-tiba dari dalam rumah ada anak buahnya yang datang menghampiri pria itu dengan membawa sebuah amplop.
"Tuan Marsel, ini yang kemarin malam Tuan minta." Ucap anak buah sambil menyodorkan amplop itu
Marsel langsung membuka amplop yang diberikan anak buahnya yang ternyata adalah foto-foto Denis dan Tania.
"Jadi mereka yang membunuh pamanku," ucap Marsel sambil menunjuk wajah Denis dengan pistol yang dia pegang.
"Aku akan membalaskan dendam pamanku." Ucap Marsel sambil meremas foto Denis hingga tidak terbentuk lagi.
Di sisi lain di kediaman Denis, Tania yang masih berbaring di tempat tidur bingung bagaimana caranya dia bangun tanpa membangunkan Denis, sedangkan Denis memeluk dirinya begitu erat.
Tania mencoba melepaskan tangan Denis dari dirinya, dia menggeser tangan Denis, tiba-tiba dia terbangun.
"Kau mau ke mana?" ucap Denis dengan wajah yang masih mengantuk
"Aku mau mandi, " ucap Tania sambil duduk di atas kasur.
"Lukamu belum sembuh, kau tidak perlu mandi." ucap Denis beranjak bangun.
"Aku harus mandi, ini sudah jam 9 pagi aku harusnya sudah ada di tempat kerjaku." ucap Tania beranjak berdiri dari tempat tidur.
"Lukamu belum kering!" ucap Denis dengan nada suara yang tegas
"Lukaku cuman di kepala, bukan di seluruh badan." Ucap Tania berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Denis mengikuti Tania ke kamar mandi.
"Aku bilang tidak kau perlu mandi," ucap Denis mengendong Tania dari belakang.
"Turunkan aku!," ucap Tania sambil memukul-mukul punggung Denis.
Denis membawa Tania keluar dari kamarnya menuju ke lantai bawah, berjalan menuju meja makan.
Aleta yang berada di meja makan sedang menikmati sarapannya, kaget melihat Denis datang dengan mengendong Tania yang sedang marah-marah pada Denis.
"Duduk dengan tenang." Ucap Denis menurunkan Tania di kursi.
Aleta yang melihat perilaku Denis yang begitu lembut pada Tania, membuatnya kesal sampai sarapannya pun kena amarahnya, yang tadinya rotinya masih utuh, setelah melihat Denis dan Tania rotinya berubah bolong-bolong akibat Aleta yang menusuk-nusuk rotinya.
Denis memanggil Moris yang berada di dapur, Moris yang mendengar Denis memanggilnya bergegas menghampiri Denis.
"Kau ambilkan bubur untuk dia sarapan sekarang, jangan lupa dengan susu hangatnya." Ucap Denis sambil duduk di samping Tania.
"Makanan diatas meja sudah banyak, aku tidak mau makan bubur." Ucap Tania dengan raut wajah cemberut.
"Tidak usah bawel." Ucap Denis dengan tatapan mata yang dingin.
Moris datang membawakan bubur dan susu hangat, dia meletakan di hadapan Tania, Denis mengambil mangkok bubur Tania.
"Ayo makan," ucap Denis sambil menyendok bubur.
"Aku bisa makan sendiri," ucap Tania.
"Ayo cepat, buka mulutmu." Ucap Denis sambil menyuapkan Tania.
Denis menyuapi Tania sampai buburnya habis.
Aleta yang kesal melihat Denis dengan Tania bermesra-mesraan di hadapannya, pergi meninggalkan meja makan dengan keadaan yang marah.
Bersambung
Jangan lupa like dan komentar yah biar author semangat up nya 😊
Jangan lupa vote juga yah, 1 poin sangatlah berarti bagi author 🤗
membingungkan.
dah aku manut aja dngan alur ceritamu
bukan Denis ya kak....
patah jadi dua.
Denis, sini tak peluk aja
serasa nyata kita ikut bermain dlm adegan action.
moga anak buah Denis, biar bisa membuka sedikit tabir cerita masa lalu, to jangan back lg lho kak