Seorang pemuda titisan dewa dari dunia tiny, merangkak maju demi meminta ke adilan untuk keluarga nya hingga membawa pemuda itu ke pertarungan hidup dan mati bersama dewa penguasa tertinggi yang mengusai alam itu.
Qin yan, seorang pemuda tegar, jenius dan berbudi pekerti harus menerima kenyataan kalau diri nya adalah seorang cacat. Namun takdir berkata lain, dewa merencanakan kehidupan nya agar mampu mengalahkan Kaisar dewa sage yang menguasai ruang dan waktu. Hingga ia di bawa pulang oleh di mensi dan mengalami kebangkitan kedua.
Di sini ia akan membangun kembali semua nya dan merubah takdir semua orang termasuk diri nya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erwin Stayly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergian Sang Ibu.
Krak.....
Semua orang yang ada di kawah langsung kaget.
Qin yan berdiri dari sana, dengan wajah pitam dan tampak urat hijau menyala dengan terang menyelimuti tubuhnya.
Berusaha berjalan dengan sempoyongan menuju Qin Mo.
"Apa yang anak ini lakukan? Qin Mo sudah seperti ini dan dia tak mau berhenti?"
Mereka menatap Qin yan seperti menatap seekor monster.
"Cepat tahan dia, dia sedang dalam keadaan lemah. Seharusnya tidak bisa melawan."
Kemudian para tetua mulai menangkap Qin yan.
'Kyubi, bisakah berikan aku sedikit kekuatanmu.'
"Heheh... Bocah, akhirnya kau menyerah juga. Berapa banyak kekuatan yang kau mau? Jika kau mau semuanya juga tak apa apa."
'Setetes saja.'
"........." Kyubi terdiam.
"Baik kalau begitu."
Tiba tiba tangan gelembung tranparan mucul dalam diri Qin yan, menahan ke lima ahli.
"A-apa itu?" Mereka bertanya tanya apa yang terjadi sebenarnya.
Gelembung merah itu mulai menyelimuti tubuh Qin yan, sembilan ekor transparan juga tumbuh dan menari di belakang. Sebuah telinga panjang transparan juga muncul di kepalanya.
'Qin yan, itukah perubahan iblis yang kau maksud.' Gumam ibunya dalam hati.
Qin yan langsung membuka matanya yang sudah kemerahan, aura membunuh milik Kyubi langsung meledak seketika. Mengaum diatas langit.
Mata para tetua jadi membesar, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mereka saat ini berusaha ingin melepaskan ikatan.
"Tetua, kalian tenanglah. Aku bisa mengendalikan diriku, aku hanya ingin menyelamatkan Qin Mo. Itu saja, mohon ijinkan aku."
Semua langsung berhenti, tertegun dengan apa yang di dengarnya. Tapi setelah itu mereka hanya diam menonton.
Qin yan maju ke arah Qin Mo, kemudian meletakan telapak tangan ke dantian miliknya.
Setelah itu, energi kyubi mulai memasuki tubuhnya. Energi kyubi memang tidak bisa menyembuhkan, namun keberadaan energi kyubi dapat di salurkan dan itu mampu mempertahankan nyaawa orang lain.
Perlahan tapi pasti, para tulang yang bengkok perlahan di perbaiki kembali oleh energi Kyubi. Wajahnya yang hancur kini kembali putih bersinar. Energi kyubi juga memasuki inti energi miliknya, memaksanya agar tetap berputar dan kembali bekerja.
Beberapa menit kemudian, Qin Mo mulai sadar.
"Uhuk uhuk... ukh.."
Mata para tabib membesar, saling memandang dengan bingung.
Tidak mungkin, orang yang mati bisa dihidupkan kembali.
Setelah itu energi kyubi milik Qin yan menghilang, Qin yan langsung terjatuh dengan lemah.
Ibu Qin yan dengan cepat menangkapnya.
"Qin yan anakku, kau baik baik saja? Nak, jawab ibu nak?" Panggil Ibunya dengan khawatir.
"Ibu..... Qin yan baik baik saja kok. Ibu tak perlu khawatir. Qin yan hanya lelah saja." Jawab Qin yan dengan lemah.
Setelah itu, ia pingsan dalam dekapan ibunya.
.......
2 bulan berlalu....
Qin yan membuka mata, hal pertama yang lihat sekarang adalah kamarnya. Di sampingnya Qin yue sedang mencuci kompresan. Lalu meletakan kain itu di dahinya.
Saat melihat kakaknya sudah sadar, Qin yue tertegun. Namun tidak lama kemudian ia langsung memeluknya.
"Kakak.... Kakak... Hiks Hiks. Akhirnya kakak sadar."
Qin yan mengelus ngelus kepala adiknya.
"Yah, kakak sudah sadar. Jadi, dimana ibu?"
Qin yue tertegun mendengar perkataan Qin yan. Ia tetap diam tak menjawab.
Melihat Qin yue yang hanya terdiam, Qin yan merasakan ada yang salah. Ia cepat melepaskan pelukannya.
"Apa yang terjadi dengan ibu? Yue er."
Qin yan menatap mata besar Qin yue yang bergenang air mata.
Kemudian tanpa menunggu lagi, ia langsung berdiri dari ranjang.
"Kak, tubuh kakak belum sepenuhnya pulih. Ibu bilang Yue er harus menjaga kakak dengan baik." Teriak yue er.
Qin yan langsung berbalik, menatapnya dengan penasaran.
"Ibu bilang padamu untuk menjagaku? Memangnya ibu kemana?"
Qin yue menghapus air matanya.
"Ibu..... dia pergi sebulan yang lalu. Aku tidak tahu dia pergi kemana. Ia hanya bilang, akan mengambil apa yang menjadi haknya. Sebelum ia pergi, dia meninggalkan sepucuk surat padamu kak."
Qin yue keluar, pergi mengambil surat itu.
Untuk sesaat, Qin yan membeku disana sendirian. Matanya sedikit memerah, hampir mengeluarkan air mata. Di kehidupan sebelumnya, ibunya tidak pernah meninggalkannya. Tapi kenapa di kehidupan ini tampak berbeda.
Qin yue masuk membawa sebuah surat, memberikannya ke kakaknya. Dengan cepat Qin yan membuka surat itu.
"Qin yan, nak, ibu ingin pergi sebentar. Tolong kamu jaga Yue er dulu yah nak. Ibu akan pergi mengambil hak seharusnya milik ibu. Di masa lalu, ibu melarikan diri dari masalah bersama kalian. Ibu akhirnya bisa membesarkan kalian hingga sekarang. Qin yan, Yue er, ibu bangga sama kalian nak. Bisa mempunyai anak seperti kalian merupakan berkat buat ibu. Tidak perlu mencari ibu, ibu hanya berharap, kalian bisa tumbuh menjadi anak yang kuat, baik hati, saleh, dan gak boleh sombong. Jika kalian telah menjadi kuat, maka kalian bisa menemui ibu. Ibu sangat rindu dengan kalian. Semua kenangan kita bersama, akan ibu ingat seumur hidup."
^^^Salam.^^^
^^^Ibu.^^^
Tes.... tes... tes...
tes...
tes....
Air mata menetes membasahi kertas surat.
Hiks.. hiks... hiks... hiks...
Qin yan menggigit bibirnya, air matanya yang jatuh tak tertahankan. Sambil terduduk di atas kasur, ia memegangi matanya yang memerah. Tidak pernah mengharapkan kalau ibunya akan pergi tanpa persetujuan darinya.
Qin yue juga langsung memeluknya sambil menangis. Di dalam kamar, suasana menjadi lebih sepi. Ibunya yang biasa mengantarkan sup kari ayam untuknya kini sudah pergi. Mereka yang biasa makan bertiga dengan riang, kini hanya makan berdua dengan penuh kesepian. Padahal Qin yan baru datang belum lama, tapi ibunya sudah meninggalkannya. Padahal ia sudah berjanji untuk melindungi ibunya di masa kini. Padahal ia masih ingin merasakan kelembutan kasih sayang ibu, masih ingin merasakan makanan enak milik ibu. Kini semuanya berakhir.
"Bocah tengik, ayolah jangan bertingkah seperti anak kecil. Orang tua sepertimu kenapa juga harus menangis di depanku. Jangan membuatku merasa jijik padamu."
Kyubi mengejeknya dari belakang.
Namun Qin yan tidak menjawab sama sekali, ia perlahan menoleh kearah Kyubi.
"Kyubi, ibu pergi. Hiks.. hiks.. huhuhu..."
Kyubi langsung tertegun, sudah lama ia tidak pernah mendengar Qin yan memanggilnya sebagai kyubi. Selama ini ia hanya memanggilnya sebagai rubah tua, terkecuali saat sebelum dia mati. Untuk pertama kalinya saat itu, ia melihat Qin yan menangis untuk dirinya. Qin yan yang di sebut pembunuh berdarah dingin. Pemuda yang tak berekspresi, selalu membantai pasukan musuh. Tatapannya yang selalu tajam kedepan. Tidak di sangka menangis dengan keras.
Dan untuk hari ini, ia melihat sisi Qin yan yang sangat lemah. Bagaikan anak kecil yang telah kehilangan ibunya. Mungkin dimasa lalu ia telah di butakan dendam, tapi mungkin sekarang, ia hanya mau melindungi orang terdekatnya.
"Qin yan, hei, dengarkan aku. Apakah kau lupa dengan tujuan kita sebelumnya. Kau seharusnya tidak perlu menjadi terpuruk seperti ini. Ibumu hanya pergi, tidak meninggal. Itu hanya masalah kecil, jika kau seperti ini, bagaimana nantinya jika kau melihat anggota keluargamu mati nanti. Jika sifatmu seperti ini, bagaimana kita mengalahkan kaisar dewa sage. Jika kau seperti ini, maka kaisar sage akan mempermainkan perasaanmu."
Untuk pertama kalinya juga, Kyubi memanggil nama Qin yan, bukan bocah tengik. Tidak, seharusnya ia memanggilnya tuan. Karena ialah orang yang dipilih oleh tuannya (Zailong) untuk mengurus alam semesta ini. Namun itu belum waktunya, menjadi orang yang terpilih bukan berarti memberikan kekuatan dengan mudah. Tapi harus bisa bertahan hidup dengan kekuatan sendiri. Sebenarnya sistem bisa saja memberinya kekuatan lebih untuk menguasai alam.
Namun, itu terasa tidak seru. Orang dipilih oleh tuan, seharusnya kuat dari raga maupun mental. Tidak menerima kekuatan dengan mudah, karena ia bukan anak manja yang hanya bergantung pada sistem. Ini juga akan melatih diri, ketika nanti sistem akan hancur maka ia bisa mengandalkan diri sendiri.
Qin yan mengusap air matanya.
"Ia, aku tahu. Terimah kasih yah rubah tua. Kau sekarang sudah melihat sisi lemahku yah. Jadi kau bisa mengejekku kapan saja."
Tiba tiba mata Kyubi menunjukan aura permusuhan.
"Heh, bocah ini."
Kyubi kembali tidur.
Dan Qin yan kembali sadar di dunia nyata.
Qin yue menyadari kalau ada yang salah dengan kakaknya, jadi ia bertanya.
"Kak, ada apa?"
Qin yan hanya tersenyum padanya.
"Yue er, kau rindu ibu?" Tanya Qin yan.
"Um." Qin yue mengangguk dengan polos.
"Ibu bilang, kita harus menjadi kuat terlebih dahulu, baru bisa menemuinya. Jadi, ayo kita latihan." Qin yan berdiri.
"Ya." Yue er pun mengangguk dengan semangat, kemudian mengikuti Qin yan keluar.
..."Kyubi, apakah anda tidak merasa ragu, kenapa tuan Zailong memilih Qin yan sebagai reinkarnasinya?"...
Tanya Sistem.
"Huh, merasa ragu? Dari awal, aku sudah merasa kalau pertemuan kami saat itu bukanlah suatu kebetulan. Melainkan sebuah takdir. Dan jimat itu, aku yakin tuanlah sendiri yang memberikannya padanya. Dari awal aku memang merasa ragu, namun semua kehidupan yang aku alami bersamanya membuatku sadar. Walaupun ia bukan pilihan takdir, tetap saja aku akan mengikutinya sampai nyawa terakhir. Tekadnya yang kuat dan selalu bersemangat mengadapi masalah tanpa pantang menyerah, membuatku sadar kalau aku tidak mengikuti orang yang salah. Siapa yang menyangka kalau bocah ini merupakan reinkarnasi dari tuanku yang mulia. Sampai kapanpun, aku takkan meninggalkanya. Nyawaku ini adalah miliknya sepenuhnya."
Jawab Kyubi dimana Qin yan tidak bisa mendengar percakapan mereka.
tapi di komik menjadi alkemis dan bisa bertarung