NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Kebencian

Cinta Dalam Kebencian

Status: tamat
Genre:Romantis / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.8
Nama Author: La Sha

Canna adalah seorang gadis desa biasa yang di nikahi seorang pengusaha ternama secara diam-diam, setelah insiden memilukan. Bahkan tanpa sepengetahuan dirinya sendiri. Ia mulai menyadari sesuatu saat hatinya sudah mulai terbuka.

Namun, kesungguhan yang diperlihatkan Delano padanya tidaklah nyata. Lelaki tampan itu hanya menginginkan seorang bayi darinya. Setelahnya ia akan menceraikannya.

Rasa cinta yang mulai tumbuh dalam diri Canna, berbaur menjadi rasa benci.

Bagaimanakah nasib rumah tangga mereka kedepannya? Bercerai ataukah bertahan? Mampukah Canna melindungi buah hatinya dari orang-orang yang ingin mengambil keuntungan darinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Sha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernyataan Pinus

Pagi-pagi sekali Canna sudah berangkat ke kampus. Bahkan ia berangkat lebih awal dari Delano berangkat kerja. Membuat lelaki itu terheran-heran melihatnya, yang sangat bersemangat di pagi itu. Ia juga menolak untuk berangkat satu mobil dengan Delano, dan lebih memilih naik angkot. Tapi apapun yang dikatakan oleh Delano, maka tidak bisa dibantah. Dengan terpaksa Canna naik mobil sendiri dengan seorang sopir pribadi yang dikhususkan untuknya.

"Derris! Kamu tahukan apa yang harus kamu lakukan!" ucap Delano saat melihat Canna turun dari mobilnya dari kejauhan.

"Semuanya sudah saya siapkan."

"Bagus. Sekarang jalan!" Tatapan Delano kembali seperti semula.

Sedangkan Canna masih sibuk dengan langkahnya yang tampak ringan tanpa menyadari tatapan seseorang didalam mobil sedang mengawasinya.

"Canna! Kamu sudah sehat?" Daisy memeluk Canna erat bahkan mencium pipinya beberapa kali.

"Bagaimana kalau nanti siang kita merayakan kesembuhanmu dengan makan-makan?" usul Daisy.

Canna tersenyum manis mendengarnya, membalas pelukan sahabatnya. "Iya deh, tapi kamu yang traktir ya?" pinta Canna.

Daisy terkekeh mendengarnya. "Iya-iya. Aku yang traktir. Tapi__"

"Tapi apa?" sahut Canna cepat.

"Ini bukan uangku loh. Ada seseorang yang sudah mentraktir kita berdua."

"Siapa?" tanya Canna sambil mengerutkan dahinya.

"Ada deh. Rahasia!" sahut Daisy.

Siang harinya mereka sudah duduk di restoran yang sudah dipesan oleh orang yang dianggap oleh Canna sebagai orang misterius, karena Daisy benar-benar merahasiakan namanya.

"Canna, Daisy! Apakah kalian sudah lama menunggu?"

Canna mengangkat kepalanya menatap asal suara yang terdengar familiar ditelinganya.

"Kak Pinus?" Canna terkejut melihatnya dengan pipi yang sedikit merona. Rupanya perasaan senangnya tidak dapat dipungkiri saat melihat keberadaan Pinus dihadapannya. Tapi Canna tidak sesuci dulu lagi, bahkan sekarang benihnya sudah tertanam didalam rahimnya. Apakah pantas ia masih mengharapkan lelaki pujaannya dulu. Senyum manisnya langsung luntur dalam sekejap. Perasaan terluka kembali menghinggapi dirinya yang mengalami nasib sesial ini.

"Tidak kok, Kak. Kami baru saja duduk disini!" sahut Daisy sambil menyenggol tangan Canna yang sedang melamun.

"Ah oh iya-iya!" sahut Canna gugup. Menatap kearah Pinus yang menatapnya sendu. Entah kenapa tatapan lelaki itu terasa berbeda kali ini.

Pelayan datang menghidangkan makanan yang sudah mereka pesan. Beberapa kali Canna menatap sekelilingnya. Ia merasa takut kalau-kalau dirinya sedang diawasi.

"Tidak perlu takut, mereka tidak akan mampu mengawasimu. Restoran ini milikku dan kita sedang berada diruang pribadi." Pinus menjawab kegugupan Canna tersebut.

Ah lelaki yang sangat pengertian. Canna merasa lega mendengarnya. Memang saat ini mereka sedang berada diruang VVIP.

"Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu. Tapi setelah kita selesai makan!" Pinus kembali menatap Canna dengan tatapan sendu diiringi dengan s nyum manisnya.

Canna hanya mampu menduga-duga sesuatu yang ingin dikatakan oleh Pinus padanya. Berharap Pinus tidak mengetahui keadaannya yang sebenarnya. Lelaki ini terlalu sakit untuk ditinggalkan.

Selesai makan, Daisy langsung minta izin untuk pulang lebih dahulu karena ibunya menelpon dan meminta untuk diantarkan ke bandara.

"Ini bukan alasanmu sajakan untuk memberikan waktu berdua untukku dan kak Pinus?" bisik Canna curiga.

"Tidak. Ini memang benar-benar nyata!" sahut Daisy memperlihatkan handphonenya. Ia memang ada janji dengan ibunya sebelumnya, sebab itu ia mengambil momen ini diwaktu yang pas. Daisy mengerling kearah Pinus saat ia beranjak dari duduknya, berharap Pinus benar-benar berhasil kali ini.

Suasana tampak hening setelah kepergian Daisy. Canna tampak canggung dan menunduk sejak tadi. Entah apa yang akan ia katakan pada Pinus dan berharap Pinus lah yang mengusir rasa canggung ini terlebih dahulu.

"Canna."

"Kak Pinus."

Ucap mereka secara bersamaan. Mereka kembali terdiam secara bersamaan.

"Sebaiknya kamu saja yang bicara lebih dulu!" ucap Pinus mengalah.

"Terima kasih," ucap Canna membuat Pinus mengerutkan dahinya.

"Untuk apa?" tanyanya. Rasanya ia tidak pernah melakukan sesuatu yang berharga terhadap Canna.

"Untuk makan hari ini. Juga, kemarin sudah menjengokku walaupun kamu tidak melihatku secara langsung!"

Pinus tersenyum manis mendengarnya. Bahkan senyumnya menelan matanya hingga menyipit.

"Itu adalah hal yang biasa. Bagiku, kamu adalah orang yang paling berharga dalam hidupku ini. Jadi, apapun yang aku lakukan untukmu, semuanya berasal dari hatiku."

Senyum Canna langsung menghilang. Dulu, momen seperti inilah yang paling ditunggunya. Tapi sekarang, menatap dan mengagumi Pinus saja rasanya sudah membuatnya merasa begitu bersalah. Apalagi kalau dirinya juga mencintai Pinus, ia merasa tidak pantas untuk itu. Dirinya yang hina dan tidak pantas untuk dicintai oleh siapapun.

"Kenapa? Apakah kamu tidak senang mendengarnya?" Pinus meraih tangan Canna. Tetapi wanita itu sudah menarik tangannya terlebih dahulu.

"Kak Pinus. Aku tidak pantas untuk mendapatkan perhatian seperti itu. Itu_ terlalu berlebihan," ucapnya menggigit bibirnya. Menahan gemuruh didadanya, rasa sesak yang menghimpit dadanya. Rasanya begitu menyesakkan mengatakan hal itu pada orang yang masih dicintainya. Tetapi harapan untuk bersama sirna sudah.

"Kenapa kamu merasa tidak pantas? Apa sebenarnya yang kamu rasakan ataukah kamu membandingkan diriku dengan orang lain?" Tatapan Pinus langsung berubah, ia merasa tidak senang saat mengetahui kalau Delano sudah merebut hati Canna darinya.

"Eh. Bukan. Bukan itu yang kumaksud. Aku tidak pernah membandingkan kak Pinus dengan siapapun. Karena kak Pinus berbeda dari pria yang lainnya." Canna menunduk dengan pipi yang merona.

"Lalu, apa yang membuatmu merasa berat untuk mendengarkan pernyataanku dan perhatianku!" desak Pinus.

"Aku hanya...," Canna menatap kearah perutnya, tangannya merabanya dibalik meja yang mereka tempati.

"Tidak pantas untuk diperhatikan oleh lelaki sebaik kak Pinus. Masih ada wanita diluar sana yang lebih pantas untuk mendapatkan semua itu!" senyum manis terpatri dibibir Canna, senyum getir ditambah rasa sakit. Ia menggenggam tangannya erat, rasanya begitu perih saat mengatakan hal yang sebenarnya bertentangan dengan hati nurani.

"Apa yang tidak pantas darimu? Dan kenapa kamu menyimpulkan hal itu sendiri? Apakah kamu tidak mencintaiku sama sekali?"

Canna semakin menunduk dalam mendengarnya. Ingin ia berteriak mengatakan kalau dia juga mencintai Pinus. Ingin ia memeluk lelaki yang begitu hangat baginya. Tetapi pantaskah ia mencintai lelaki sebaik Pinus.

"Aku mencintaimu, bahkan sejak dulu. Sejak aku pertama kali melihatmu sedang duduk di tepi danau dengan sebuah sepeda disampingmu!" tegas Pinus, ia tahu semua kepahitan yang dialami oleh Canna dan ia ingin mengobatinya dengan segenap cinta yang dimiliki olehnya.

Canna menunduk dalam mendengarnya, memainkan jari-jrmarinya, memilin ujung bajunya. Sama sekali ia tidak mampu untuk menjawabnya. Ia kembali merasa patah saat Pinus mengingatkan masa-masa manis itu.

"Aku... aku minta ma'af." Canna berdiri dan berjalan meninggalkan Pinus dengan setengah berlari. Tak kuasa lagi ia menahan air matanya. Lelaki itu mengejarnya dan menangkap pergelangan tangannya.

"Jangan tinggalkan aku seperti ini. Aku benar-benar mencintaimu. Dan izinkan aku menjaga dirimu dan seluruh hidupmu." Pinus memeluk Canna dari belakang. Membuat air mata Canna jatuh dipipinya dengan deras. Ia melepaskan pelukan Pinus dan kembali berlari meninggalkan lelaki itu yang terpaku menatapnya.

"Aku harus bagaimana?" Canna terus melangkah menjauhi restoran yang ditempatinya tadi. Tidak memperdulikan teriknya matahari dan debu jalanan yang beterbangan. Ia terus melangkah tanpa tahu arah tujuan. Hingga ia merasa lelah dan berhenti tepat disebuah taman.

Ramai. Suasana taman tampak ramai, banyak orang yang sedang duduk sekedar bersantai ataupun berteduh sesaat.

"Nona. Apa yang sedang kamu lakukan disini?"

Canna memutar kepalanya saat mendapati suara yang asing ditelinganya. Ia terperanjat melihat seorang lelaki tampan menghampirinya. Dengan pakaian kasualnya.

Wajahnya tampak menawan dengan alis tebal, matanya yang tegas dan tajam, bibir tipisnya dan kulitnya yang bersih dan putih.

"Nona!"

Canna tersadar dari tatapannya saat tangan lelaki tersebut melambai didepan wajahnya. Ia merasa malu karena terpesona dengan lelaki muda itu. Membuat lelaki yang duduk disampingnya terkekeh.

"Kenapa kamu tertawa? Apakah ada yang lucu?" tanya Canna heran, berbicara tanpa sungkan.

Lelaki muda tersebut mengangguk. "Iya. Kamu sangat lucu dengan mulut menganga seperti itu!" lelaki tersebut kembali terkekeh.

"Oh iya. Perkenalkan namaku Ren," ucapnya mengulurkan tangan kanannya.

Canna terdiam sesaat menatap tangan tersebut, kemudian menjabatnya dengan segera.

"Canna. Panggil aku dengan nama Canna saja!" sahut Canna tersenyum manis.

***

1
ZrLee Darman
ceritanya bagus 👍🏻
ZrLee Darman
aahh sllu saja kmu dijebak sama orang yg sama..hedeehhh
ZrLee Darman
Lou seperti ulat Keket aja disini
Shifa Burhan
sesimple ini pertanyaan nya

kau anggap apa jika ada wanita lain kayak gini, saat kalian (author dan reader) berbuat salah pada suami kalian dan rumah tangga kalian ada masalah dan datang wanita lain yang mendekati dan selalu baik pada suami kalian, wanita itu selalu merayu dan selalu mencari cara mendekati bahkan wabita itu menyarankan suami kalian untuk bercerai dan suami kalian juga bersikap baik pada suami kalian,
jadi kalian anggap apa wanita kayak gini, setelah kalian menilai maka kalian bandingkan sikap kalian pada louis, disitu lah kalian bisa lihat sifat aslinya kalian?
epifania rendo
entalah
epifania rendo
saling terbukalaha
epifania rendo
pasti surat yang di tanda tangan buat urus surat nikah
epifania rendo
kasian canna
epifania rendo
Delano
epifania rendo
menarik
epifania rendo
bagai mana adiknya
epifania rendo
apa isi vidionya
epifania rendo
mampir
Azubair21
😁🥰🥰🥰🥰👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Yulia Rosmita
makanya ungkap semua thor jadi g ada egois salah paham dan kekerasan
Yulia Rosmita
lemot
Yulia Rosmita
kelamaan thor sampe sekarang canna aja masih belum tau dia udah nikah dan sekarang dia hamil delano juga masih gatau
Yulia Rosmita
apa aq kurang update ya di part delano nikah sama canna
Yulia Rosmita
maaf nikah ko g ada kata sah nya klo gitu cuma delano aja donk yg sah
Batara Zalzabil
bosan putar2 trs crtx
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!