Lyra tak pernah menyangka akan masuk ke dalam sebuah drama pernikahan bersama seorang laki-laki bernama Wira. Impian Lyra hancur ketika statusnya berubah menjadi seorang istri. Karena suatu kejadian, Wira dan Lyra terpaksa menikah.
Lyra merasa aneh saat lelaki itu tidak pernah mengungkapkan cinta padanya, namun berkata tidak akan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RizkiTa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28
“Bukan apa-apa Mas, ini cuma buku!” teriaknya sambil berlari, dan Wira tentu mengejarnya.
Lyra kebingungan, walk in closet menjadi pilihannya untuk bersembunyi, namun siapa sangka suaminya juga sudah berdiri tepat di belakangnya.
“Kamu benar-benar mencurigakan, buku kamu bilang? untuk apa sementara skripsi kamu udah selesai?”
Lyra mundur beberapa langkah, demi menghindar. Dan paket baju kurang bahannya masih berada di tangannya, ia sembunyikan di belakang badannya.
Hingga mentok ke lemari, Lyra bersandar sambil memejamkan mata, Wira sudah menguncinya dengan kedua lengan.
“Mas kok cepet sih pulangnya?”
mereka sudah beradu pandang, cukup dekat hanya beberapa senti saja.
“Oh... atau jangan-jangan kamu mau ajak cowok masuk kesini? ada yang mau datang? Juna ya?”
cepat-cepat Lyra menggeleng, “Suudzon terus sih kamu Mas!”
“Jadi itu apa sayang? nggak pernah loh kamu sepanik dan gelisah begini, wajar kan kalau aku curiga?”
Lyra menggigit bibir bawahnya, tengah mencari cara bagaimana bisa melepaskan diri dari kurungan lengan Wira.
Sekuat tenaga, wanita itu menghempas kedua lengan suaminya, mendorong lelaki itu hingga keluar dari ruangan walk in closet.
Brugghh
Pintu di tutup Lyra dengan keras dan tentu saja sekaligus menguncinya. “Mas tunggu di luar kalau mau tau ini apa!” teriaknya dari dalam, sementara Wira hanya terbodoh saja entah apa yang di rencanakan istrinya.
Rencana hampir gagal, ya meski sudah di katakan gagal. Padahal dia inginnya beraksi nanti malam, sudah mandi dan sudah wangi. Bukan dalam keadaan seperti ini, masih bau matahari. Apalagi tadi ia berjalan kaki sekitar tiga ratus meter jauhnya. Bau keringat pasti masih tertinggal di tubuhnya.
Lima menit setelah mengamankan barang belanjaannya, Lyra keluar dengan memasang tampang tidak berdosa, sementara Wira benar-benar menunggunya di depan pintu.
“Mana?” tanya lelaki itu sambil menaik turunkan alisnya.
“Mas, mending mandi dulu gih bersih-bersih, pulang dari rumah sakit loh, nggak ngeri apa?” Lyra berjalan santai melewati suaminya yang tengah di rundung penasaran.
“Ntar malam deh, aku kasih tau itu apa.” Lyra mengedipkan matanya, sambil mengusap dagu Wira. Tidak bermaksud menggoda, hanya ingin bersikap manis sesuai anjuran dan saran dari gugel tadi.
Bak seorang penculik anak, Wira menggendong istrinya secara paksa, dan membawa istrinya ke dalam kamar mandi.
“Mas Wiraaaaaaa!! ampun deh punya laki hobinya bertindak sesuka hati,” Lyra berteriak, mendesah pasrah saat Wira sudah meletakkan tubuhnya di dalam bath up memutar keran dan mengisi air disana. Tak hanya itu Wira juga mengambil shower menyemprot istrinya hingga basah kuyup.
“Hukuman buat istri nakal yang udah nolak suami tadi malam, sekaligus menyimpan rahasia,” Sudah basah kuyup Lyra, kaos putihnya sudah menerawang hingga memperlihatkan braa berwarna hitam berukuran 34B disana.
“Mas kamu apa-apaan sih, KDRT ini namanya!!” Lyra berteriak lagi, membuka kaosnya, mencampakkan sembarang arah.
Memang itu yang Wira inginkan, istrinya membuka pakaiannya sendiri, saat mereka akan.... tapi Lyra tentu melakukannya bukan karena itu, melainkan karena sudah terlanjur basah kuyup. Kini hanya menyisakan dalaman saja yang menempel di tubuhnya.
“KDRT gimana? aku nggak ngelukai kamu, nggak nyiksa kamu, cuma mau ngajak mandi bareng.” Pembelaan tentu dilakukan oleh Wira.
Tak hanya Lyra, suaminya juga sudah setengah telanjaang, membuka kemeja dan celananya. Sepertinya Lyra tidak perlu lagi menggunakan saran-saran dari gugel, karena ia tahu saat ini Wira sudah tak lagi marah padanya. Lelaki itu menarik Lyra untuk berdiri di bawah guyuran shower, menikmati setiap air yang jatuh disana menghujam tubuh mereka, sambil menikmati cumbuuan panas.
🌸🌸🌸
Menu makan malam mereka malam ini di sponsori oleh Mamas Wira yang bersedia memasak untuk mereka berdua, meski dalam kondisi yang sedikit lelah, karena kegitan mereka di kamar mandi tadi. Kini keduanya jadi senyum-senyum malu saat saling berpandangan di meja makan.
Beberapa kali Wira meringis perih saat saus lada hitam terkena bibirnya yang sedikit terluka, Lyra hanya terkekeh pelan melihatnya dia cukup sadar hal itu karena ulahnya.
“Kamu yang KDRT,” celetuk Wira saat melihat istrinya tertawa mengejek.
“Ya aku kan cuma ngikutin Mas Wira, kalau kamu gigit, aku juga kalau kamu hisaap aku juga.” sahut Lyra dengan polosnya.
“Tapi aku nggak pernah sampe bikin kamu luka kan? apalagi sampe berdarah, diam-diam ganas ternyata.” Wira bangun dari duduknya hanya untuk mengacak-ngacak rambut wanita yang ada di hadapannya.
“Apaan nggak pernah, dasar pelupa. Perihnya dua hari dua malam, lukanya membekas seumur hidup, segelnya rusak.” Lyra meneguk air putih sebanyak-banyaknya setelah mengatakan itu, akal sehatnya entah dimana sebenarnya terlalu malu untuk membahasnya.
Gantian sekarang, lelaki itu yang tertawa cukup besar memecahkan keheningan malam ini. Tawa penuh kemenangan, mengerti kemana arah ucapan Lyra.
“Sakitnya dua hari dua malam, malam-malam berikutnya gimana? merem melek nggak kamu?”
Wira jelas-jelas meledeknya hingga wajah wanita itu merah padam, hampir saja tangan Lyra tergerak untuk mengambil segelas air di hadapannya lalu menyiram muka ganteng Mas Wiranya yang terus menerus menertawakannya.
Lyra menutup telinganya, menyudahi makannya. Ayam tumis lada hitam, buatan Mas Wira sudah ludes. Lelaki itu memang jago dalam segala hal sepertinya.
“Malam pertama, teriak sakiiittt Mas sakiittt... malam kedua juga masih protes, terus malam ketiga mulai diam, dan berikut-berikutnya...” Masih mengoceh, membahas hal itu. Lyra mendelik ke arahnya, napasnya naik turun. Rasanya sangat malu, mengapa Wira begitu hapal dan mengingat semuanya. Lyra melanjutkan kegiatannya, mencuci piring dan membereskan dapur sepertinys sudah menjadi tugas rutin untuknya ketika Wira selesai memasak.
“Malam berikutnya, aahh ahhh Mas ampun... ahhh aduh... ouhh... Mas Wira, nggak kayak orang tersiksa sama sekali, tapi justru sebaliknya.” Wira persis menirukan gaya mendesah Lyra saat mereka bertempur, itu desahan murni dan alami. Lyra tidak pernah terpikir untuk membuat atau berpura-pura.
Suami laaaknaat. Batin Lyra yang merasa di permalukan. Selesai di dapur, Lyra masuk ke kamar tak lupa mengunci pintu, tak peduli dengan Wira yang lima menit kemudian menggedor-gedor paksa pintu kamar mereka bahkan mengancam akan mendobrak. Lyra tetap tidak peduli. Dia tengah mencoba salah satu pakaian yang ia beli tadi, melepas bajunya satu persatu tanpa sisa, Lyra mulai mencoba yang pertama, dress bunga-bunga dengan aksen renda di bawahnya, tepat di atas lutut, warnanya hitam dengan motif bunga-bunga halus, bertali satu. Lyra menggeleng pelan, tak percaya jika yang ada di pantulan cermin itu adalah dirinya.
Aku nggak kalah cantik ternyata kalau penampilannya begini.
Tanpa ragu, ia membuka ikatan rambutnya dan tergerai hingga sepunggung. Rambut Lyra tidak benar-benar lurus, agak sedikit bergelombang di bagian ujung. Sebagian orang-orang sengaja membuat model seperti itu ke salon, dengan mengeluarkan uang. Sementara Lyra sudah mendapatkannya dari lahir. Maka nikmat mana lagi yang kamu dustakan, gumamnya.
Penasaran bagaimana reaksi suami mesumnya melihat dia berpenampilan seperti itu, Lyra keluar dan membuka pintu kamar. Tak lupa sebelumnya ia memoles lipstik sedikit di bibirnya.
“Lyra!!! buka pintunya atau ini beneran aku dobrak!!!” teriak Wira penuh ancaman.
“Mas Wira... nggak jadi dobrak pintunya?” tanya Lyra sambil membuka pintu selebar mungkin. Menampilkan dirinya yang terlihat sangat wow hingga lelaki di hadapannya tidak berkedip menatapnya, debaran jantung Wira mulai tak asyik. Padahl Lyra tak melakukan apapun, hanya berdiri namun menampilkan lekuk tubuhnya di balik kain chiffon hitam menerawang, Lyra nakal tidak mengenakan dalaman, itulah yang menyebabkan adik kecil Mas Wira yang kini mulai membesar, memeberikan reaksi berlebihan.
“Daripada dobrak pintu, kayaknya lebih asyik kalau mengobrak-abrik kamu,” Wira maju dua langkah. Masih di posisi berdiri, ia membenamkan wajahnya di leher Lyra.
Krekkkkkkkk
Apa daya, baju berbahan chiffon itu robek hanya dengan satu kali tarikan.
“Yah, Mas Wira ih ini baru aku beli loh kok di robek, kalau nggak suka ya bilang, tapi jangan di robek dong!!” Miris hati Lyra saat baju senilai dua ratus dua puluh ribu itu robek dan tergeletak di lantai, harusnya ia tak perlu mengkhawatirkan nasib baju itu. Nasibnya lah yang seharusnya ia pikirkan, apalagi kini ia tengah berada di gendongan suaminya tanpa sehelai benangpun.
“Jadi itu yang kamu beli tadi? banyak kan? sampe dua juta transaksinya?” Wira berbisik, bibirnya menyatu di daun telinga Lyra.
“Kok Mas bisa tau sih?” protes Lyra sambil menatap suaminya yang tengah melepas pakaian satu persatu.
“Berapa banyak? aku nanya. Kamu jawab.”
“Delapan.”
“Masih kurang, karena setiap kamu pake bakalan selalu aku robek, bukan karena aku nggak suka, tapi karena mata aku nggak mampu melihatnya, mata ku ingin menikmatinya, tapi yang bawah sini nggak kuat.” Wira menunjuk ke arah aset miliknya yang sudah cukup tegak, siap menyerang Lyra sampai pagi.
“Aaaaaaaaa !! dasar mesuumm !!” Lyra berteriak histeris saat penyatuan di mulai tanpa aba-aba ataupun pemanasan.
...Kalau ada yang mau komen, thor kok dikit amat? mending nggak usah komen ya hihihihhihihihi...
...Becanda deng...
duh bakal kangen ntar